Greatest Husband

Greatest Husband
Kasih


__ADS_3

...Bagaimana wujud kematian sebenarnya? Hanya sebuah perpisahan, kala sebuah pertemuan yang mengikat tercipta......


...Senyuman kebahagiaan terlihat, saat bertemu dengannya. Rasa syukur, sudah memilikinya, yang mengasihi dengan tulus, melihat wajah polosnya......


...Saat jemari tangan sedingin kelopak teratai itu menyentuh, rasa bahagia akan timbul......


...Terlalu banyak kasih sayang darinya, hingga dirinya terlupakan......


...Jika waktu dapat diputar, aku ingin lebih menghargai dan memeluknya......


...Karena saat perpisahan itu tiba, yang tertinggal hanya sesal......


Perdana menteri memacu kudanya dengan cepat, tidak pulang bersama pasukannya yang masih berkemas. Tempatnya berada saat ini, dekat dengan ibu kota, mengingat dirinya mengejar jendral yang melarikan diri hendak memasuki wilayah kota.


Tidak ada yang dibawanya untuk putrinya. Hingga menghentikan kudanya, kala melewati keramaian pasar. Gelang giok yang tidak begitu mahal mengingat dirinya yang belum sempat kembali ke kediamannya.


Giok putih yang mungkin akan terlihat cantik di pergelangan tangan putrinya. Kapan terakhir kali dirinya memberikan hadiah untuk Fu? Entahlah dirinya tidak ingat lagi.


Wajah yang tersenyum, ayah yang kali ini akan menghargai keputusan putrinya. Namun, ada hal yang aneh, terdapat keramaian di depan kediamannya.


"Tuan," seorang pengawal menunduk memberi hormat.


"Ada apa ini?" tanyanya melihat ke arah keramaian, di dalam rumahnya.


"Nona Fu hari ini resmi akan memasuki istana." Kata-kata dari sang pengawal membuat perdana menteri membulatkan matanya.


Pria yang kembali menaiki kudanya hendak menuju ke arah istana. Dirinya tidak mengerti sama sekali, putrinya menentang, mengatakan tidak bersedia memasuki istana. Tapi hari ini? Memasuki istana dan menjadi selir?


Situasi yang tidak dimengerti olehnya, hanya memacu kudanya secepat mungkin. Rasa yang benar-benar berat di dadanya, merasakan firasat aneh. Ada hal buruk yang terjadi pada putrinya.


Hingga memasuki gerbang istana, hal yang berbeda terlihat. Tidak ada pesta sama sekali, para dayang dan kasim terlihat benar-benar sibuk. Ada beberapa orang yang sudah memakai pakaian putih, tanda bela sungkawa.

__ADS_1


Dirinya berjalan tidak peduli dengan dinginnya salju yang mulai turun.


"Dimana Fu? Dimana putriku? Orang-orang mengatakan dia memasuki istana hari ini!" tanya sang perdana menteri dengan mata memerah, tidak mengerti dengan situasi saat ini. Tapi ada perasaan aneh yang melekat pada dirinya.


Sang Kasim yang dihentikannya tertunduk, seperti enggan berkata-kata.


"Dimana putriku?" tanya sang perdana menteri lagi.


Pria yang gemetar, tidak tau bagaimana harus mengatakannya."Sebaiknya ikuti hamba," ucapnya.


Pakaian perang yang masih berlumuran darah. Dirinya berjalan menelusuri lorong mengikuti langkah sang Kasim. Langkah yang semakin lama semakin berat saja. Mungkin mengetahui, mendekati sudut istana mana sang Kasim akan membimbingnya.


Pintu dibukakan oleh sang Kasim. Sang kaisar ada di sana masih memakai pakaian bersulam benang emas berlumuran darah, raut wajah tanpa ekspresi, duduk di lantai, dengan mata memerah, air mata yang menetes tiada henti. Beberapa Kasim dan dayang memohon padanya untuk bangkit dan berhenti duduk di lantai kayu yang ada di sana. Namun, sang kaisar muda hanya terdiam.


Pandangan mata perdana menteri beralih pada tubuh seorang wanita yang berbaring.


"Ini bukan Fu," batinnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri, menatap bagian wajah yang tertutup kain putih kecil. Sedangkan tubuhnya yang mendingin sudah dipakaikan pakaian putih sederhana.


Wajah itu terlihat dingin, terdiam tanpa ekspresi."Fu..." panggilnya dengan air mata mengalir."Bangun! Ayah sudah pulang!" ucapnya dengan suara bergetar.


Tapi tidak dapat dijawab oleh putrinya. Gadis itu tidak tersenyum lagi, berhenti memainkan kecapinya, atau datang meminjam berbagai buku di ruangan ayahnya. Wajah cantik itu kini mendingin, tidak ada nyawa yang tersisa disana.


"Putriku tidak sadarkan diri! Kenapa kalian diam saja! Panggil tabib!" teriak sang perdana menteri pada para dayang dan kasim, bahkan mengeluarkan pedangnya, mengacungkan ke arah para kasim. Tapi semuanya terdiam, tidak ada yang menjawab.


Tang!


Pedang dijatuhkannya, dirinya tidak dapat menerima segalanya."Panggil tabib..." lirihnya dalam tangisan, memeluk jasad putrinya. Tubuh yang terasa benar-benar ringan. Putrinya sudah tidak ada, putri yang selalu dibanggakannya di hadapan semua orang, karena dapat mengatasi permasalahan yang bahkan tidak dapat dipecahkan oleh para sarjana. Putri yang terkadang tersenyum kala memasuki ruangannya, memberikan tonik untuk kesehatannya.


Kini sudah tidak ada lagi.


"Nona Fu, menikam dirinya sendiri dengan pedang, tepat mengenai jantungnya." Seorang tabib menunduk, memberi penjelasan.

__ADS_1


"Ka...kamu ingin menikah dengannya kan? Ayah akan mencari keberadaannya, dia menyembuhkan ayah berkali-kali, jadi dia akan dapat membuatmu hidup kembali..." ucap sang perdana menteri pada putrinya. Namun, baru hendak mengangkat tubuh putrinya, pria itu terhuyung, kehabisan tenaga.


Tubuhnya terjatuh di lantai, bersamaan dengan gelang giok putih yang akan diberikannya pada putrinya, pecah hancur berhamburan di lantai. Kelelahan tidak makan atau tidur dengan teratur di medan perang menjadi penyebabnya. Ditambah menemukan sebuah kenyataan pahit. Kesadarannya yang menghilang.


*


Kala dirinya terbangun, kini berada dalam kediamannya. Matanya menelisik, menatap beberapa pelayan disana."Dimana Fu, aku akan membawanya. Dia dapat menyelamatkanku. Fu akan dapat dihidupkan olehnya." ucapnya menyingkap selimut hendak bangkit.


Namun, seorang anak yang diam tertunduk menghentikannya."Jika yang tuan maksud adalah kak Junichi. Kak Junichi tidak dapat menghidupkan orang mati, selain itu. Kak Junichi sudah tersegel, tidak akan dapat bangkit lagi." Ucap Gwan yang sudah dibebaskan sang kaisar.


Sang adik yang segera mencari keberadaan Fu untuk menyelamatkan Junichi. Tapi Fu telah tiada, sama dengan Junichi yang telah disegel oleh kakaknya.


"Ini adalah hari pemakaman kak Fu. Sebaiknya tuan mengantar kepergian putri anda. Setidaknya buat dia senang di alam sana, dia menyia-nyiakan nyawanya sendiri, mungkin berbagai hukuman akan menimpanya. Jangan menambah bebannya, jika ingin dia bahagia..." Kata-kata dari Gwan, dengan air mata yang mengalir. Bagaimanapun dirinya dirawat selama setahun oleh Junichi dan Fu, mungkin baginya mereka adalah orang tuanya.


*


Beberapa belas menit berlalu, perdana menteri berjalan memakai pakaian putih. Melangkah menuju tempat dimana peti jenazah putrinya berada.


Suara tangisan menggema. Istrinya terlihat kacau, berlutut menegang tangan Fu yang ditariknya dari dalam peti.


"Fu! Bangun! Setelah ini kamu tidak perlu belajar pelajaran etika lagi. I...ibu sudah membawa kue bunga hangat untukmu. Ibu akan mendengarkan kata-katamu. Kamu tidak perlu masuk ke istana untuk menjadi anak yang berbakti. Siluman itu? Ibu akan memanggil cenayang untuk memanggilnya, agar dia menikahimu. Ba... bangun! Fu bagun!" pintanya, tapi tidak ada yang terjadi. Wajah itu tetap diam tanpa ekspresi. Matanya terpejam, bagaikan terlelap dalam tidur panjangnya.


"Ibu sudah! Biarkan Fu tenang, ada aku yang menemani ibu." Ucap An, menarik tangan ibu sambungnya.


"Minggir! Kamu bukan darah dagingku!" bentaknya. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada putrinya yang telah tiada.


Air matanya mengalir."Ibu tidak akan menyayanginya lagi. Kamu harus bangun, seperti dulu saat kembali dari hutan berkabut. Kamu akan hidup, seperti dulu, saat perampok menyerang tandumu. Kamu akan kembali, ibu menyayangimu, akan hanya menyayangimu,"


Semuanya terbayang olehnya, kepingan memori yang tidak akan terlupakan. Kala gadis kecil itu tertunduk kecewa, karena dirinya memuji dan memeluk An.


Kini semua kasih sayangnya, hanya untuk putrinya Fu.

__ADS_1


__ADS_2