
Seorang ibu yang mengantar kepergian putrinya. Dirinya benar-benar bahagia hari ini, pada akhirnya putrinya mendapatkan kebahagiaan sejati.
Akan menyusul dengan tandu yang berbeda nantinya, setelah sang putri memasuki istana. Pakaian sutra yang akan dikenakannya sudah disiapkan olehnya. Hingga sang ibu melewati kamar putrinya.
Wajahnya tersenyum, semua teringat dalam bayangannya kala dirinya berdoa di kuil berharap mendapatkan keturunan. Hingga hamil dan melahirkan bayi kemerahan yang cantik, menggenggam jemarinya sambil mengerjapkan matanya. Kaki kecil yang diajarinya berjalan, terjatuh beberapa kali kemudian berusaha kembali bangkit.
"Ibu..." itulah kata pertama yang keluar dari mulut kecilnya saat itu. Anak yang dimanjakannya, bermain ayunan bersama dirinya, bahkan menata rambutnya agar terlihat cantik, bernyanyi bersama dengan sang anak.
Mungkin dirinya terlalu mencemaskan Fu. Hingga beberapa langkah kemudian dirinya menatap keberadaan An (anak sang selir). Wanita yang akan menghadiri pernikahan adik beda ibunya. Tubuhnya terlihat lebih gemuk, berbeda dengan Fu yang terlihat lebih kurus.
Dimanjakan oleh keluarga bangsawan lain yang meminangnya. An perlahan berjalan memasuki kamar Fu, langkah yang diikuti olehnya.
"An sedang apa kamu disini?" tanyanya.
"Ibu." Ucap An tersenyum pada ibu sambungnya, tepatnya ibu kandung Fu, istri sah perdana menteri.
"Ibu sudah lama disini?" tanya An.
Wanita itu menggeleng."Kamu sedang apa di kamar Fu?" tanyanya lagi.
"Fu sudah menikah dan menjadi permaisuri. Jadi aku ingin meminta perhiasan miliknya. Kaisar pasti juga akan memberikan perhiasan yang lebih indah lagi. Aku juga sebenarnya ingin kembali tinggal disini, bagaimana jika aku menempati kamar Fu?" tanyanya tersenyum bermanja-manja pada sang ibu.
"Tapi Fu akan pulang berkunjung sewaktu-waktu, lagi pula kamu sudah menikah jika kamarnya kamu tempati---" Kata-kata sang ibu terpotong.
__ADS_1
"Fu tidak akan pulang! Seperti dia dulu menghilang di hutan berkabut! Aku hanya meminta hakku sebagai anak sah! Andai Fu tidak kembali dari hutan berkabut, pasti aku yang dapat kesempatan menempati posisi selir kaisar! Tidak perlu menikah dengan pejabat rendah! Ini salah ibu, pasti karena aku bukan darah dagingmu kan? Kamu tidak menginginkan kebahagiaanku!" bentak An tiba-tiba.
Tangan wanita itu mengepal, bukan darah daging? Memang Fu adalah putrinya, tapi dirinya juga memberikan kasih sayang pada An. Wanita itu tertegun, mendengar bentakan yang bahkan tidak pernah Fu ucapkan.
"Ibu menyayangiku. Apa ibu tidak ingat selalu memelukku setiap guru memujiku yang pandai dalam filsafat?" tanya An.
Tapi wanita itu terpaku diam, dengan kata darah daging. Bukan pelukannya pada An dengan pujian yang kini diingatnya. Tapi Fu kecil yang terpaku diam kecewa, menyaksikan An dipuji semua orang.
"Aku tidak pernah mengecewakan ibu! Apa pernah aku mendapatkan penilaian buruk seperti Fu?" pertanyaan An, yang memang selalu dimanjakan.
Sang ibu masih saja terpaku dengan kata darah daging. Kala tangisan tertahan putri kandungnya diingat olehnya, saat menjatuhkan cawan di pelajaran etika. Pukulan rotan pada tubuh kecilnya, Fu menitikkan air matanya tanpa suara.
"Ibu hanya karena Fu dipuji beberapa tahun ini, kasih sayang ibu berubah. Ini pasti sudah ibu dan ayah rencanakan! Aku hanya dinikahkan dengan anak bangsawan, sedangkan Fu yang tidak bisa apa-apa, dapat menyelesaikan masalah pemerintahan hanya karena faktor keberuntungan, menjadi selir Kaisar tingkat pertama, bahkan akan menjadi permaisuri! Kalian hanya mencintainya! Aku hanya ingin kamar yang sudah ditinggalkan Fu. Apa itu salah?" Lagi-lagi An bertanya pada sang ibu.
Satu tamparan mendarat di pipinya, terasa kebas. An menatap ke arah ibunya, untuk pertama kalinya dirinya ditampar.
"I...ibu?" tanya An tidak mengerti dengan tindakan ibunya.
"Aku selalu memukul darah dagingku agar dia menjadi pintar sepertimu. Selalu memukul nya, tapi dia tidak pernah meninggikan nada bicaranya padaku. Aku selalu mengagungkan dan memuji-mujimu sebagai contoh untuknya." Sang ibu menitikkan air matanya, mengapa tangannya bertahun-tahun dapat memukul darah dagingnya, bahkan membandingkan dengan anak selir?
"Bodoh..." hanya itu kata dalam benaknya, merasakan rasa sakit di hatinya.
"Apa ibu pernah menyayangiku?" kata-kata Fu saat dikurung di gudang dengan luka di sekujur tubuhnya diingat olehnya.
__ADS_1
Dirinya memang tidak pernah menghargai putrinya. Saat Fu menghilang di hutan, dirinya selalu berdoa di kuil leluhur menginginkan keselamatan Fu. Tapi itu hanya bulan pertama, sebelum An mengalihkan perhatiannya, membuatnya melupakan dukanya karena kehilangan anak kandungnya. Hingga dua tahun berlalu Fu kecil kembali, tidak ada rasa kasih sayang seperti dulu pada darah dagingnya. Anak yang dikandungnya, anak yang hadir karena doanya pada Tuhan.
Senyuman lirih putrinya diingatnya kala menyetujui untuk masuk ke dalam istana. Hanya senyuman, kata-kata maaf dan terimakasih diingatnya.
"Itu memang karena kalian tidak adil, menjadikan Fu sebagai permaisuri. Sedangkan aku menikah dengan putra bangsawan biasa. Aku hanya meminta perhiasan dan kamar bekas Fu, untuk aku tempati sesekali saat pulang ke rumah, apa aku salah?" An tidak terima.
Sang ibu meneteskan air matanya."Putra bangsawan yang kamu nikahi saat ini akan dijodohkan dengan Fu. Tapi kalian mengatakan saling mencintai, jadi ibu membiarkan kalian menikah. Apa ini salah ibu? Apa ibu pernah memaksamu menikah?"
"Tapi Fu lebih bahagia dariku! Dia menjadi permaisuri setelah ayah pulang dari medan perang---" Kata-kata An disela.
"Fu menangis, dia memohon pada ibu tidak ingin masuk ke istana, lebih nyaman tinggal di hutan berkabut dengan seekor siluman. Aku fikir ini adalah salahnya yang terpengaruh sihir. Tapi ini salahku, membuatnya tidak pernah merasa nyaman di rumah. Ini salahku karena membandingkan kamu yang bukan darah dagingku." Ucap sang ibu tiba-tiba, sudah bertahun-tahun lupa diri. Melupakan anak yang harus dikasihinya.
"Ibu, aku---"
"Kamu tidak pernah puas, rasanya seperti mengubur lautan, tidak akan pernah ada habisnya. Ini salahku sebagai seorang ibu, seharusnya aku menyadarkanmu sebagai anak tiri," kata-kata sang ibu berjalan pergi dengan cepat, membiarkan An tertegun diam.
Wajah sang ibu yang tersenyum, mulai saat ini dirinya akan lebih menghargai putrinya lagi. Memberinya rasa nyaman dan perlindungan sama seperti dulu, masa kecilnya. Darah daging? Benar darah daging, seorang ibu yang berusaha berbuat adil. Tapi berakhir menyakiti anak yang dikandungnya selama 9 bulan.
Sang ibu mulai merias dirinya dibantu beberapa dayang. Akan menyaksikan kebahagiaan putrinya, setelah itu hanya kasih sayang dan kata maaf yang akan diberikannya pada sang putri.
Matanya menatap ke arah langit yang perlahan mulai mendung. Hujan salju mungkin saja akan segera turun.
"Siapkan kue bunga hangat. Aku ingin membawanya ke istana. Fu akan menyukainya," perintahnya pada pelayan, tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin kala rambutnya di tata untuk bertemu dengan darah dagingnya.
__ADS_1
Seseorang yang baru menyadari betapa dirinya merindukan putrinya.