
Kenapa dirinya baru sadar wajah pemuda ini benar-benar rupawan? Mungkin karena nama kampungan dan berselimut seragam security. Hingga langkah Warto terhenti di depan ruang rektor.
Matanya beralih menatap ke arah Cantika."Kita coba memperbaiki keran di ruang dosen dulu ya?" ucapnya ramah.
Dengan cepat Cantika mengangguk, kemudian masuk ke ruangan yang cukup terang tersebut. Lampu dinyalakan oleh Warto, bersamaan dengan itu mengunci pintu ruangan tersebut.
Perlahan Cantika mendekatinya."Kita tidak begitu saling mengenal, jadi perkenalkan namaku Cantika,"
"Kamu tidak mengenaliku? Kita pernah bertemu," Warto tersenyum sinis padanya. Mulai menunjukkan ekspresi wajah berbeda.
Cantika terdiam sejenak."Apa maksudnya? Kita memang sering bertemu kan? Kamu selalu ada di post security. Sedangkan---" Kata-kata Cantika terhenti, sang pemuda mulai duduk.
"Tidak ingat padaku? Jika tidak ingat tempat ini. Apa yang dilakukan otakmu dengan prasangka buruk dan mulutmu yang sering membuat cerita karangan," gumamnya.
"Pak Warto jangan bercanda tidak lucu. Aku---" Kalimat Cantika terhenti.
Pemuda itu hanya terdiam, sambil tersenyum."Ingat penjaga kantin kampus?"
Cantika termenung sesaat, kemudian wajahnya pucat pasi. Teringat dengan pemuda yang menangis satu tahun lalu di pemakaman salah satu pemilik stand kantin kampus.
"Ka...kamu pacarnya?" tanyanya dengan wajah pucat pasi.
"Shela menceritakan semuanya saat dia mabuk. Benar-benar secara detail, mulai dari eksekutor, diikat di pegangan tangga darurat, digiliri beberapa orang. Dilecehkan di matras ruang olahraga. Untuk menyamarkan kejadian, kalian bahkan gegabah menggores lehernya menggunakan pisau hingga kehabisan darah. Benar-benar hebat, aku kalah jauh," Warto mulai tertawa, duduk di sofa ruangan rektor.
Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Cantika. Namun rasa ego yang terlalu dimanjakan masih berada dalam dirinya."Aku tidak berbuat kesalahan! Dia yang mengadukan kami pada rektor! Jika orang tua kami tau, maka---"
"Apa pada akhirnya rektor memanggil kalian? Pacarku bukan orang yang suka ikut campur dengan kehidupan orang lain. Dia lebih suka belajar dan bekerja menyibukkan dirinya. Tapi dilecehkan kemudian dihabisi..." Ucapnya tersenyum, bahkan tertawa dengan air mata yang mengalir.
"Aku akan melaporkanmu! Kamu akan membusuk di penjara!" bentak Cantika, dengan sekujur tubuh gemetar. Urat di lehernya terlihat kala berteriak. Penuh amarah dan ketakutan.
"Tau kenapa kamu masih hidup? Shela yang mencekoki minuman serta obat p*rangsang padanya, menyewa pria-pria jalanan untuk melecehkannya, Agustin yang menyuruh untuk menyayat lehernya. Dan kamu? Orang yang paling tidak berdosa, tapi pangkal dari semua masalah. Kamu yang mengatakan pada kedua temanmu, dia mengadu pada rektor." Pemuda itu membuka tasnya, senyuman masih terukir di wajahnya, walaupun pipinya terlihat basah oleh air mata.
"Kalian begitu memuakan hingga setiap aku melakukannya harus meminum obat," gumam Warto, mengambil obat pembangkit gairah di tasnya.
__ADS_1
Cantika beringsut mundur, mengambil pajangan vas bunga. Mendekati pintu yang terkunci. Mencoba membukanya beberapa kali namun percuma.
"Sial!" umpatnya, mencoba membuka pintu terlihat putus asa.
"Kalian bertiga masih perawan, dapat menjaga batasan kalian. Tapi kenapa membayar orang untuk melecehkan kekasihku? Apa dia seperti *njing jalanan bagi kalian?" tanya Warto kali ini tidak meminum obat. Cukup malas rasanya, dua wanita sebelumnya, bukan menangis atau merasa terhina. Malah menggoyangkan tubuhnya, seperti wanita penghibur.
Memuakan, satu kata yang ada di benaknya. Ingin membuat mereka merasakan rasa sakit dan terhina yang dirasakan kekasihnya. Tapi percuma saja, hanya mengotori dirinya sendiri.
"Jangan mendekat!" teriak Cantika lagi, hendak memukul kepala Warto.
Prang!
Dengan mudah pria itu menghindar. Berjalan semakin mendekat dengan tatapan kosong. Meraih tingkat golf milik sang rektor.
Tubuh itu dipukulinya hingga roboh, diinjak injak olehnya."Pacarku seperti sampah di mata kalian. Karena itu aku akan menginjak kalian seperti sampah!"
"Aggh! Tolong! Aaa... sakit!" suara teriakan Cantika menggema, menonggakkan kepalanya menatap ke arah Warto yang tetap mengayunkan tongkat besi dengan wajah tanpa belas kasih.
Sekujur tubuhnya memar, tidak luput di bagian wajahnya. Wanita yang merangkak, tidak dapat berdiri sama sekali. Kesadarannya semakin lemah."Hentikan..." pintanya ketakutan, suara lirih yang benar-benar lemah.
Membunuh? Mungkin hanya itulah satu kata yang ada dalam benaknya.
Brug!
Suara pintu dibuka secara paksa."Warto! Hentikan! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Welan, menatap sang security memukuli Cantika hingga mungkin hampir meregang nyawa.
Tangannya bergerak cepat untuk menghentikan sang security. Namun, Welan yang tidak begitu pandai bela diri, dengan mudah dibanting oleh Warto.
Kembali memukuli Cantika tanpa belas kasih.
Welan mencoba bangkit, menyelamatkan gadis itu adalah prioritasnya. Mencari sesuatu yang dapat dijadikannya senjata. Hingga terlihat senjata api milik Warto lengkap dengan peredam suara.
"Warto! Hentikan!" ucap Welan ketakutan, tangannya gemetar memegang senjata api. Namun, tidak sedikit pun Warto menoleh, tangannya masih memukuli tubuh Cantika.
__ADS_1
Welan yang ingin menghentikan pergerakan Warto membidik pada tangan.
Dor!
Namun, bahu pemuda itu yang terkena. Peluru bersarang di sana. Darah mengucur tidak dipedulikan oleh Warto yang masih saja, menginjak dan memukuli Cantika.
"Warto hentikan!" teriak Welan kembali, tangannya masih gemetar, pemuda yang tidak memiliki pengalaman menegang pucuk senjata api, kembali membidik tangan Warto.
Dor!
Kali ini menyasar ke bagian punggung, menembus dari punggung ke arah dada. Darah mulai keluar bahkan dari mulut Warto. Mungkin saja bagian lambungnya yang terluka parah.
Pendarahan yang tidak dapat dihentikan. Seketika tubuh itu roboh, menatap ke arah Cantika yang sudah tidak sadarkan diri.
"Aku belum menuntaskan dendammu. Bolehkah aku mati? Jika aku mati nanti aku tidak berharap untuk mendapatkan surga. Mungkin aku hanya akan memohon pada-Nya untuk dapat bertemu denganmu sekali saja. Hanya untuk mengatakan maaf, tidak dapat menjagamu," batinnya pemuda yang menitikan air matanya.
Matanya menatap ke arah Welan yang tidak mempedulikannya. Mengangkat tubuh Cantika yang dianggapnya sebagai makhluk tidak berdosa yang terluka.
Tidaklah mengapa, ini hidup yang cukup menyenangkan baginya. Menjalani beberapa tahun dengan kekasihnya, tidak ada yang istimewa, hanya memanen semangka, membakar ubi dekat sawah.
Tidak akan ada surga untuknya dirinya menyadari segalanya. Namun, merasa lega, jika di kehidupan yang akan datang kembali bertemu dengan kekasihnya. Walaupun dengan rupa yang buruk dan tidak memiliki kekayaan, dirinya dapat berucap tanpa beban,'Aku selalu mencintaimu,'
Tidak ada sebuah kesadaran dan penyesalan telah membunuh Shela dan Agustin sebelum kematiannya. Memejamkan mata, dengan tubuh yang terasa dingin akibat terlalu banyak mengeluarkan darah.
Hingga Kara yang diikuti Herlan mendekati tempat tersebut. Menatap ke arah Warto, hanya mendoakannya agar dapat tenang si sana.
"Kara, kenapa kita kemari, menunggu yang akan terjadi? Seharusnya kita yang menyelamatkan Cantika dan---" Kata-kata Herlan terhenti, menatap Kara yang tersenyum dengan air mata mengalir.
"Ini adalah pilihanmu. Aku tidak akan mencegahnya, karena aku dapat menjadi lebih gila darimu. Karena itu, aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal," hanya itulah kata-kata dari Kara. Pemuda yang melangkah pergi.
"Kara! Tunggu!" teriak Herlan.
Langkah Kara terhenti, menatap ke arah parkiran dimana polisi sudah berdatangan. Tubuh Cantika yang masih hidup dimasukkan ke dalam ambulance.
__ADS_1
Hujan masih deras saat itu. Tidak sedikitpun senyuman terlihat di wajah Kara. Apa keputusan yang diambil Welan salah? Tidak, itu merupakan keputusan yang benar. Tidak dapat menyalahkan siapapun. Di kehidupan ini dan kehidupan sebelumnya mungkin dirinya ditakdirkan selalu bertentangan dengan Welan.