
Kediaman yang tiba-tiba berkabut. Sebuah gazebo indah yang terletak di tengah kolam ikan. Perlahan sang perdana menteri membuka matanya benar-benar aneh tidak ada satupun penjaganya di sana.
Matanya menelisik mengamati seorang pemuda yang berpakaian hitam terdiam di tengah kabut, dengan rambut panjang tergerai."Kamu siapa?" teriaknya.
Pemuda dengan wajah rupawan dan kulit pucat itu hanya menengok ke belakang. Menatap ke arah sang perdana menteri, wajahnya tiba-tiba tersenyum simpul.
"Pengawal! Ada penyusup!" teriak sang perdana menteri. Namun, tetap tidak ada yang datang, matanya mulai menelisik kembali semua pengawalnya telah tertidur
"Kamu siapa?" tanya sang perdana menteri kembali.
"Mau minum bersamaku?" Junichi tersenyum, balik bertanya, mulai duduk. Meletakkan botol kecil minuman yang memang dibawanya, terdapat berapa cawan disana. Memang diletakkan di gazebo untuk menyambut tamu.
Dengan ragu sang perdana menteri duduk di hadapan Junichi. Matanya mengamati sang pemuda. Ini bukan orang biasa, kuku-kuku yang berwarna hitam tajam, wajah putih pucat bagaikan mayat. Apa tujuan pemuda ini?
Junichi menuangkan arak untuk sang perdana menteri."Minumlah!" Ucap Junichi.
Dengan ragu sang perdana menteri meminumnya, begitu juga dengan Junichi.
"Jadi, apa tujuanmu?" tanya sang perdana menteri.
Junichi terdiam sejenak, menyentuh bibir cawan di hadapannya menetap pantulan bayangannya pada arak, samar."Aku mengetahui segalanya. Apa kamu dapat mengalahkan pasukan jenderal yang digabungkan dengan pasukan kerajaan lain? itu hal yang mustahil dapat dilakukan."
Sang perdana menteri mengenyitkan keningnya kemudian tertawa."Tentu saja itu hal yang sulit. Tapi, apa bedanya jika aku berpihak pada jendral, aku juga akan berakhir mati. Hubungan politikku dengannya tidak baik. Satu-satunya harapanku hanya berpihak pada Kaisar mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan hasil yang besar walaupun benar-benar cukup sulit."
"Aku bisa membantumu membuat kabut, persis seperti ini. Dalam ruang lingkup yang luas, menidurkan semua pasukan jenderal, membuatmu menang dengan mudah," Junichi menghentikan kata-katanya sejenak.
__ADS_1
Sang perdana menteri membulatkan matanya, menghela nafas berkali-kali."Apa tujuanmu? Kamu bukan manusia kan?" tanyanya.
"Aku memang bukan manusia." Pemuda itu tertunduk wajahnya tersenyum, tepatnya dipaksakan tersenyum kembali meminum arak di hadapannya.
"Kamu siluman? Apa tujuanmu membantuku?" tanya sang perdana menteri kembali.
"Seorang anak lahir karena berkat dari kedua orang tuanya, tentunya juga karena pemberian-Nya. Aku bisa saja membawa putrimu ke hutan berkabut, tinggal di sana dan menikahinya. Tapi tetap saja Fu tidak akan bahagia. Meninggalkan orang tuanya tanpa berkata apapun, karena itu aku menginginkan putrimu. Aku akan membantumu mengalahkan pasukan jenderal." Junichi menatap ke arah perdana menteri yang terlihat bimbang.
Matanya menatap sinis siluman yang bisa saja mengingkari janjinya, mempertaruhkan putrinya sedangkan sang Kaisar juga meminta putrinya. Jika mengikuti semua kata-kata Kaisar dirinya hanya akan mati sia-sia di medan perang. Tapi apa pemuda ini dapat membantunya?
Namun, tetap saja apa tujuan utamanya ke medan perang? Tentu saja untuk menjadikan putrinya sebagai permaisuri. Jemari tangannya mengepal."Apa kamu mengenal putriku?" tanyanya.
Junichi mengangguk kemudian tersenyum."Saat usia Fu 5 tahun, dia menghilang di hutan berkabut selama 2 tahun, bukan? Dia tinggal bersamaku, hanya anak yang tersesat karena semua pengawal dan dayangnya telah mati dibunuh perampok gunung,"
"Kamu sudah mengembalikannya ke rumahku. Kenapa kembali menemuinya?" tanya sang perdana menteri.
Perdana menteri terdiam sesaat, mengingat segalanya selama 4 tahun putrinya memang diacuhkan olehnya. Hingga pada akhirnya Fu menunjukkan banyak bakat aneh padanya."Apa kamu yang selama ini mengajarinya?"tanyanya.
Junichi kembali mengangguk."Dia lebih menyukai sastra dan ilmu-ilmu dari negeri seberang, daripada belajar menuangkan arak, atau cara menyenangkan suaminya. Aku hanya meminjamkan beberapa buku dan mengajarinya, selebihnya hanya bakatnya,"
"Aku berterima kasih karena semua yang kamu lakukan untuk Fu. Tapi untuk menikahkan putriku dengan siluman, kamu pikir aku bersedia? Cucu seperti apa yang akan aku miliki? Sepertimu yang siluman? Lebih beruntung, jika cucuku manusia," ucap sang perdana menteri terlihat mencibir.
"Aku hanya menginginkan kebahagiaan Fu. Medan perang adalah area yang luas, aku akan menciptakan area berkabut hanya jika kamu menerima bantuanku. Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya. Kamu tidak akan menang dalam perang jumlah pasukan 1 berbanding 2. Saat itu kamu dan Kaisar akan mati di tangan jendral. Aku hanya akan menyelamatkan Fu. Akhir yang sama dan serupa, aku akan tetap memilikinya. Hanya saja dia tidak akan bahagia jika kamu tidak ada, mati di medan perang. Ini hanya tawaranku, kamu ingin bertaruh menang melawan pasukan jenderal, memegang kemungkinan yang mustahil?" tanya Junichi.
Sang perdana menteri tertunduk, berpikir sejenak matanya menelisik menatap keadaan pengawal dan dayangnya yang tertidur di tengah kabut. Dirinya memang tidak mungkin menang, akan berakhir dipenggal oleh Sang jenderal. Mungkin pemuda ini dapat membantunya. Tapi tetap saja, tawaran dari Kaisar untuk menjadikan putrinya sebagai permaisuri. Dirinya benar-benar bingung saat ini.
__ADS_1
Junichi mulai bangkit."Untuk membuat area berkabut yang luas dan menidurkan pasukan jenderal. Aku memerlukan lebih banyak energi karena itu aku akan melakukan pertapaan selama kamu berperang, kamu boleh bertaruh pada kemungkinan akan menang dan menjadi mertua dari kaisar. Tapi jika kamu memerlukan bantuanku dan menyetujui syarat ku untuk menyerahkan Fu sebagai istriku panggilah namaku. Maka aku akan membantumu untuk menidurkan pasukan jenderal dalam ilusi."
Junichi bangkit berjalan meninggalkan area gazebo. Kabut yang tebal masih ada di sana di sekitar kediaman perdana menteri perlahan menipis menyisakan para budak dan pengawalnya yang mulai bangun.
Pria yang bimbang saat ini. Junichi mungkin satu-satunya orang yang dapat membantunya. Tidak dirinya harus berusaha hingga titik darah penghabisan. Meyakinkan putrinya untuk menjadi selir kaisar. Mengalahkan musuh tanpa bantuan siluman yang juga menginginkan putrinya.
Tapi ada kalanya sang perdana menteri benar-benar putus asa. Kala melihat pasukannya hampir habis terbunuh di medan perang. Mungkin, saat itulah dirinya meminta bantuan pada Junichi. Tidak ingin dirinya dan prajuritnya terbunuh. Junichi memang menolongnya perang yang terjadi selama sebulan saat pertapaan siluman itu menginjak hari ke 60 hingga hari ke 99. Lautan kabut tercipta, melemahkan energi pasukan jendral, bahkan setengah diantaranya tertidur. Sang perdana menteri menang kembali dari medan perang.
Pada awalnya menolak bantuan dari sang siluman. Tapi pada akhirnya menerimanya. Setidaknya putrinya menikah dengan pria yang dicintainya, itulah yang ada di fikirannya. Mengingat seberapa kerasnya Fu menolak untuk memasuki istana.
Tapi kepulangannya dari medan perang, akan menjadi rasa bersalah terbesar dalam hidupnya. Siluman yang menolong dirinya, mengirimkan kabut dari tempatnya bertapa dan putrinya sudah mati. Putrinya yang mencintai sang siluman.
Mati di hadapan Kaisar, yang memeluk tubuh Fu. Pakaian berbalut benang emasnya berlumuran darah memeluk tubuh Putri kesayangan sang perdana menteri.
Saat pedang yang dipegang perdana menteri terjatuh, kala itu juga sang perdana menteri menitikan air matanya tidak pernah dapat membahagiakan putrinya. Pada akhirnya memilih tinggal di pegunungan memutuskan hubungannya dengan hal duniawi.
Mungkin hanya satu sesalnya menepati janjinya dan membahagiakan putrinya.
Pria indigo yang kini dapat melihat sedikit kilasan masa depan dan mengingat kehidupannya yang dulu. Seperti itulah dirinya akan terlahir. Beberapa kehidupan telah dijalaninya bereinkarnasi berulang kali.
*
Kembali ke masa kini.
Atmaja tersenyum simpul menatap ke arah putrinya yang melambaikan tangan pada Kara. Apa alasan Atmaja bersikeras menikahkan Shui dengan Kara?
__ADS_1
Mungkin mengingat hutang di masa lalunya, membayangkan masa depan dalam mimpinya, mengetahui Junichi akan kembali menemui Fu.