Greatest Husband

Greatest Husband
Anak Kecil


__ADS_3

Rumah kayu yang masih sama seperti sebelumnya. Jemari tangan Fu terluka, akibat memetik dawai kecapi hari ini.


Gadis berusia 15 tahun yang menatap kagum pada pemuda di hadapannya. Masih emosional dan mementingkan perasaannya. Jantungnya berdegup cepat, seorang pemuda yang mengobati lukanya, perlahan.


Wajah rupawan, menyayanginya dengan tulus. Tidak ada yang kurang, bibirnya tersenyum."Hari ini kita akan belajar apa?" tanyanya.


"Aku mendapatkan buku dari seberang gurun. Huruf-huruf yang tidak sama dengan kita. Ada yang disebut meriam, senjata yang menggunakan bubuk mesiu. Ada banyak senjata mengerikan di luar sana," ucapnya terlihat antusias.


Dengan cepat Fu meraih buku dengan tulisan aneh di tangan Junichi."Bagaimana membacanya?"


"Pelafalan huruf dimulai dengan---" Tangan Junichi menulis, namun matanya menatap lekat sang remaja. Sebentar lagi akan mendekati usia pernikahan. Entah kenapa jemari tangannya yang memegang kuas gemetar sejenak.


Fu akan menikah memiliki anak itulah kenyataannya. Perlahan dirinya akan terlupakan kembali tinggal di hutan berkabut seorang diri. Memilikinya? Dirinya menginginkannya. Namun, tidak akan bisa, bunga Peony indah yang dirawat olehnya.


"Kenapa berhenti? Ayo katakan bagaimana pelafalan hurufnya?" tanya Fu lagi, pada Junichi yang memangkunya. Bukan memangku gadis kecil lagi, namun memangku seorang remaja.


Waktu mereka berpisah juga akan semakin cepat. Jarak wajah yang dekat, Fu menatap lekat setiap inci wajah pemuda yang memangkunya.


"Junichi?" suara gadis itu terdengar. Menyadarkan Junichi dari lamunannya. Setetes air matanya terlanjur mengalir. Tapi wajah sang pemuda terlihat tersenyum.


Itulah yang digariskan. Menatap Fu menua dari jauh, bahagia dengan suami dan anak-anak mereka kelak.


"Bisakah kamu keluar dari hutan berkabut. Usiamu sudah 15 tahun, jangan melompati tembok lagi. Jangan---" Kata-kata Junichi terhenti, Fu mengecup pipinya.


"Apa kamu tidak menyayangiku lagi?" Sang remaja yang memeluk Junichi erat.


"Pria dan wanita tidak boleh bersentuhan sedekat ini. Kamu harus menjaga nama baikmu. Aku---" Junichi tidak melanjutkan kata-katanya. Tangisan Fu terdengar, memeluk tubuhnya erat.


"Aku sudah bilang. Aku tidak ingin kembali. Tidak ingin menikah dengan para bangsawan serakah! Aku ingin tinggal denganmu. Junichi..." ucapnya.


Junichi melerai pelukan mereka, menyeka air mata Fu."Ada saatnya akan sulit mengelak dari sebuah takdir," hanya itu kata-kata darinya.


Fu mengepalkan tangannya. Teringat tentang pelajaran dan nasehat khusus dari ibunya. Ada yang namanya hubungan pria dan wanita. Semakin banyak pria dan wanita saling menyentuh, maka sang pria tidak akan dapat lepas dari sang wanita.


Gadis pintar yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu Junichi. Dengan cepat pakaiannya dibuka olehnya. Gadis bangsawan tercantik incaran semua kaum bangsawan. Tidak akan ada pria yang tidak tergoda olehnya.


Diterkam? Dirinya sudah menahan malu dan menyiapkan diri hanya untuk menjadi istri seorang Junichi. Tidak ingin didorong oleh sang pemuda untuk mencari pria lain, atau diusir pergi dari hutan berkabut.

__ADS_1


"Kamu sedang apa? Apa ingin aku mandikan? Atau ada bagian tubuhmu yang terluka?" tanya Junichi dengan ekspresi wajah biasa-biasa saja. Seorang wanita yang hampir tidak berpakaian di pangkuannya, wanita dengan bentuk tubuh benar-benar menggoda. Namun, benar-benar siluman k*parat yang tidak memiliki napsu setelah hanya bertapa dan belajar ratusan tahun.


"Hatiku yang terluka karena kamu tidak peka," batin Fu, kembali mengenakan pakaiannya. Bangkit dari pangkuan Junichi terlihat benar-benar kesal.


*


Beberapa jam berlalu, Junichi duduk menatap ke arah sinar bulan, sedangkan Fu tiba-tiba datang membawakan arak dan beberapa buah berry.


Menuangkan arak, menyodorkannya pada Junichi penuh senyuman, bahkan untuk menuangkan arak pada sang kaisar pun ditolak olehnya. Tapi malah menuangkan arak pada siluman? Junichi mengenyitkan keningnya."Anak kecil, kapan kamu akan menikah?" tanyanya.


"Kapan kamu akan menikahiku?" Fu bertanya balik.


Junichi tertawa kecil."Dasar!" ucapnya, menarik Fu agar tidur dengan posisi kepala ada di pangkuan Junichi.


"Setelah kamu menikah, berhentilah mendatangi hutan berkabut. Carilah suami yang baik, pejabat rendah pun tidak apa-apa. Asalkan jangan memperbolehkannya mengangkat selir. Jangan berebut milik wanita lain. Apa kamu mengerti?" tanyanya cerewet. Bagaikan ibu-ibu kompleks menceramahi anaknya yang pulang larut malam.


Fu terdiam sesaat."Boleh aku memilikimu?" tanyanya sungguh-sungguh.


"Manusia harus menikah dengan manusia." Jawaban ambigu dari Junichi.


"Apa kamu akan menikah dengan sesama siluman?" tanya Fu dengan mata berkaca-kaca, seakan ingin menangis.


Perlahan Fu bangkit menatap pemuda di hadapannya."Tidak akan pernah jatuh cinta? Apa benar?" tanyanya menelan ludahnya sendiri.


Junichi mengangguk."Seberapa cantik pun, aku tidak akan tergoda."


Gadis itu menatap ke arahnya, mengamati setiap sudut wajah rupawan sang pemuda yang tidak pernah menua."Jangan menganggapku murahan,"


Fu memberanikan dirinya mencium bibir pemuda di hadapannya. Hanya ciuman singkat."Apa kamu dapat memastikan aku akan bahagia menikah dengan pria yang baik?"


Junichi tertegun diam, menatap ke arah Fu."Carilah pria yang baik. Aku akan mengajarimu lebih banyak lagi. Agar tidak tergantung pada pria dan dapat dibanggakan."


Fu kembali mencium bibir sang pemuda, benar-benar sebuah ciuman pertama untuk mereka. Dan sialnya Junichi tidak dapat, tepatnya tidak ingin melawan, pemuda yang memejamkan matanya menahan tengkuk sang wanita, kuku-kuku hitam beracunnya kontras dengan kulit putih sang gadis.


Sepasang lidah yang bermain-main, tidak tentu arah. Melewati batas? Mengapa dapat seperti ini? Junichi seakan tidak dapat mengendalikan dirinya. Menyayanginya, merasakan wanita ini adalah miliknya.


Gruk!

__ADS_1


Prang!


Sura cawan arak menggelinding, terjatuh, terlihat retak. Berhubungan layaknya suami-istri? Tidak, Junichi tidak akan melakukannya.


"Aku mencintaimu," ucap Fu, menyatakan perasaannya. Pemuda yang mengetahui ini kesalahan, melanjutkan ciumannya. Menurunkan sedikit bagian pakaian Fu hingga ke bahu. Mata pemuda itu sekelebat berwarna ungu. Menggigit leher Fu, gadis yang menonggakkan kepalanya. Benar-benar mencintai pemuda di hadapannya.


Mengapa? Hanya pemuda ini yang tulus padanya, tidak melihatnya dengan napsu. Tanda tato aneh berada di belakang leher Fu, hanya sekitar lima detik, kemudian menghilang.


Menyerahkan kesuciannya? Jika Junichi menginginkannya akan diberikan olehnya. Mengapa? Dirinya tidak menginginkan pria lain yang akan mencampakkannya suatu hari nanti. Setetes air matanya mengalir, mungkin lebih baik Junichi melakukannya, agar pemuda ini terikat, agar orang tuanya tidak menikahkannya demi kepentingan politik. Namun pemuda itu merapikan kembali pakaian Fu yang sedikit disingkapnya.


"Aku juga mencintaimu. Puas?!" Junichi tersenyum, memeluk tubuh Fu. Sudah diduga olehnya, Junichi tidak akan meminta apapun, berbeda dengan pria lain yang menatapnya dengan napsu.


Merasa nyaman dalam pelukannya. Tidak memerlukan status keluarga bangsawan. Hanya menghabiskan waktu dengan pemuda ini, seorang pemuda yang benar-benar menyayanginya. Tidak ingin memanfaatkan atau mengambil keuntungan darinya.


"Kapan kita menikah dan punya anak?" tanya Fu saat itu.


"Kamu masih terlalu kecil untuk punya anak. Banyak wanita muda di dunia manusia yang mati saat melahirkan. Tunggulah dengan sabar!" Junichi mengenyitkan keningnya kesal, menarik telinga Fu.


Bagaimana perasaan Junichi yang sebenarnya? Menyayanginya tidak ingin kesepian di hutan berkabut ini lagi. Namun, apa bisa? Mungkin hanya bahagia selama puluhan tahun. Hingga manusia rapuh ini mati, puluhan tahun yang tidak ingin disia-siakan olehnya. Wanita yang mungkin akan menjadi tua dan tidak cantik lagi?


Namun, bukan wajahnya yang rupawan dicintai oleh Junichi. Pemuda yang tidak terikat dengan napsu, tidak terpaku dengan hal-hal indah, mencintainya tanpa alasan. Merasa tenang kala berada dengan wanita ini.


Namun dirinya tetaplah hanya siluman? Apa yang harus dilakukan olehnya? Mengapa dapat begitu mencintai wanita ini?


*


Kembali ke masa depan.


Perasaan Dejavu yang serupa. Kara terdiam sesaat, perlahan kembali mengangkat tubuh Shui berjalan di tengah hamparan padang ilalang.


"Kenapa kembali? Aku menyukai tempat ini," ucap Shui.


Dirinya hanya terdiam, mulai mencintai Shui? Sesuatu yang tidak boleh dilakukannya. Mengapa? Tidak ingin mengecewakan Fu, kekasihnya.


"Kara! Kita tinggal disini satu jam lagi! Atau besok aku akan datang kemari bersama temanmu Herlan!" tegas Shui.


Kara mengenyitkan keningnya baru sesaat rasanya ingin mengurungkan niatnya memanfaatkan wanita ini. Tapi wanita yang benar-benar membuatnya kesal setengah mati.

__ADS_1


"Coba saja! Aku akan menjadikan Herlan seorang kasim!" Jawaban dari Kara, bertengkar dengan istrinya. Membuat ratusan kunang-kunang terbang di sekitar mereka. Mungkin terusik dengan pertengkaran yang tidak ada habisnya.


__ADS_2