
Suara dering phonecell terdengar. Shui masih berbaring di tempat tidurnya, menggeliat kelelahan. Walaupun hanya satu kali, ini pengalaman pertamanya dalam durasi waktu yang lumayan lama.
Pemuda yang mengendalikan napsunya sendiri dengan mudah, memberikan kepuasan, namun juga tidak ingin berlebihan dan menyakiti pasangannya.
Rambutnya basah pertanda baru saja membersihkan diri, meraih nampan berisikan sarapan dari pelayan.
"Tuan muda, teman-teman nona Sonya tidur tanpa pakaian lagi di ruang tamu," ucap sang pelayan.
"Dimana ayah dan ibu (orang tua Shui)?' tanya Kara.
"Tuan ke luar kota setelah dari acara pelelangan. Sedangkan nyonya menginap di rumah kerabatnya." Jawab sang pelayan.
"Shui masih tidur, ini bukan yang pertama kali mereka tidur tanpa pakaian di ruang tamu. Jadi kali ini, suruh supir dan security memindahkan mereka ke gerbang depan. Pakaian mereka masukkan ke tempat sampah saja. Dorong mobil mereka hingga gerbang depan juga." Perintah dari Kara.
"Tapi nona Sonya---" Kata-kata sang pelayan disela.
"Yang menggajimu siapa? Sonya atau Shui?" tanya Kara pada sang pelayan.
"Nona Shui!" ucap pelayan dengan cepat turun menuju lantai satu guna mengikuti kata-kata Kara. Sementara Kara membawa nampan kembali memasuki kamar, meletakkannya di atas meja.
Dering suara phonecell Shui terhenti. Kara yang hendak mengangkatnya mengurungkan niatnya. Kembali ke depan cermin mengeringkan rambutnya.
Wajahnya tersenyum, menatap seorang wanita yang tergeletak di tempat tidur. Untuk pertama kalinya nama aslinya disebut oleh Shui.
Suara dering suara phonecell kembali terdengar. Kara meraihnya, mengenyitkan keningnya menatap nama sang rektor tertera di sana.
"Halo! Nona Shui tolong kami, sudah ada dua kasus kematian mahasiswi. Pagi ini mayat ditemukan di toilet wanita, wartawan, polisi dan ambulance sudah ramai di depan kampus. Jika tidak dapat mengatasi maka---" ucap sang rektor gelagapan.
"Aku Kara, Shui masih tidur," jawabannya, menepikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Kara tolong bangunkan istrimu! Dia selaku setengah pemilik yayasan kampus pasti akan bertindak. Aku sudah kehabisan akal. Dosen dan semua pengurus yayasan sudah berkumpul. Ada beberapa mahasiswi yang ingin keluar karena merasa kampus ini sudah tidak aman. Jadi---" Kata-kata sang rektor disela.
__ADS_1
"Jadi istriku harus ke kampus mengikuti rapat. Dan jika bisa membantu penyelidikan. Itu berarti Shui harus di kampus seharian." gumamnya kesal. Benar-benar aroma kecemburuan yang menyengat. Dalam bayangannya Shui akan bertemu lagi dengan sang dosen baru.
Pemuda yang sejatinya masih kesal, mengingat betapa dekat dan akrabnya Fu dengan sang Kaisar.
"Iya, cepat bangunkan istrimu. Ini darurat!" pinta sang rektor.
"Istriku tidak bisa bangun. Dia sedang menjaga anakku," ucap Kara, masih saja mengelus rambut Shui yang tertidur lelap.
"Menjaga anak? Kalian baru menikah beberapa bulan. Mana mungkin sudah punya anak! Jangan main-main! Ini penting!" Tegas sang rektor pada mahasiswanya.
"Begini, atasanku adalah dosen, atasan dosen adalah rektor, atasan rektor adalah istriku dan atasan istriku adalah aku. Jadi untuk menangani masalah ini aku yang akan datang ke kampus. Dan jangan bangunan istriku, dia sedang sibuk menjaga anak kami!" Kata-kata tegas dari Kara, menutup panggilannya sepihak.
Pemuda yang tersenyum, tidak ada makhluk setengah siluman. Jika mereka memiliki anak ada dua kemungkinan yang akan terlahir manusia atau siluman. Kara mengelus perut istrinya, wajahnya tersenyum."Tentu saja harus mirip dengan ayahnya," gumamnya mulai membuka lemari pakaian. Memilih pakaian yang sesuai dengan seleranya.
Pemuda yang sudah cukup pandai menggunakan teknologi saat ini. Setelan jas menambah kesan kedewasaannya, wajah dingin dan acuh bagaikan CEO kelas atas.
Parfum yang terkesan maskulin tercium dari tubuhnya. Pemuda yang mengamati penampilannya di cermin. Mengambil tas koper milik istrinya, memasukan beberapa barang-barang miliknya.
Pemuda yang baru pertama kali mengetahui bagaimana menyenangkannya sesi membuat anak. Sampai saat ini dirinya masih menginginkan mengulangi lagi. Mungkin nanti malam, atau menunggu Shui tidak kelelahan lagi.
"Batu bersinar!" gumamnya menyadari phonecellnya yang tertinggal. Kembali berjalan menuju kamar, lagi-lagi mengecup kening istrinya. Meraih phonecell miliknya sendiri dan roti isi.
"Nanti malam aku minta lagi," Kara berjalan kembali meninggalkan kamar. Tempat istrinya yang masih tertidur lelap. Benar-benar pemuda tengil, memiliki stamina tinggi tapi mengendalikan sesuai kemampuan istrinya.
Seharusnya dirinya melakukannya 500 tahun lalu. Tapi tetap saja Fu masih berusia 16 tahun saat itu, terlalu muda untuk memiliki keturunan. Walaupun pada masa itu banyak wanita yang menikah di usia jauh lebih muda. Mempertaruhkan nyawa mereka untuk melahirkan.
Dapat dikatakan tindakan Junichi 500 tahun lalu menerima Fu sebagai kekasihnya merupakan perilaku pedofil dari seorang kakek tua pada remaja. Maaf salah lebih tepatnya sesepuh pada seorang remaja.
Dan kali inipun sama parahnya. Melakukan hubungan badan dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Bisa dibilang bahkan buyut dari buyut dari buyutnya Shui pun lebih muda dari Junichi.
Benar-benar sesepuh tua yang tidak menua. Mengencani wanita muda.
__ADS_1
Mobil sport putih milik Kara hendak meninggalkan gerbang. Beberapa warga telah berkerumun di depan gerbang keluarga Murren mengamati dan mengambil gambar lima gadis kalangan atas yang hampir tidak mengenakan pakaian. Bahkan Sonya juga ada di sana.
Tin!
Tin!
Suara klakson disertai suara gas mobil sport yang cukup keras membuat ke enam wanita itu terbangun. Dengan sengaja, Kara membuka sedikit jendela mobilnya.
"Kalian jalan sambil tidur? Istriku sudah bilang berdoalah sebelum tidur agar tidak mimpi buruk." Cibiran dari Kara penuh senyuman, mengedipkan sebelah matanya. Di telinganya masih melekat earphone hendak menghubungi Herlan sambil mengemudi.
Sonya membulatkan matanya, menyadari dirinya di luar rumah tanpa memakai atasan. Hanya rok pendek dan dalaman. Sedangkan teman-temannya ada yang lebih parah tidak mengenakan sehelai benangpun.
Keenan orang yang berlari kembali ke dalam rumah setelah sekitar 20 menit menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu dan pembantu rumah tangga yang membeli sayuran di depan rumah. Bahkan penjual sayuran sudah mengantongi beberapa gambar mereka. Mungkin sebagai bahan fantasi liarnya.
Dengan kesal Sonya kembali ke ruang tamu, kembali memakai atasannya."Siapa yang memerintahkan kalian memindahkan kami?!" teriaknya pada seorang pelayan.
"Tuan muda Kara," jawaban salah seorang pelayan.
Sonya mengepalkan tangannya. Pemuda yang pada awalnya mudah dikendalikan olehnya kini berubah menjadi sosok yang benar-benar tengil.
Jemari tangannya mengepal, berusaha menghubungi Defan. Namun, panggilannya tidak tersambung. Ini benar-benar tidak dapat ditolerir olehnya.
Jika saja dapat menjerat Kara, semuanya akan lebih mudah. Bibir Sonya mulai tersenyum, mungkin Defan sudah tidak begitu menarik lagi untuknya. Rupa dan keahlian? Semua sudah didengar olehnya termasuk restaurant milik Shui yang kini dikelola oleh Kara.
Tidak mengetahui aset apa saja yang dimiliki kakaknya. Namun, jika bekerja sama dengan Kara untuk menghancurkan Shui itu akan lebih baik.
Wanita yang tersenyum menyeringai."Sonya kamu mau kemana?" tanya salah seorang sahabatnya yang masih berusaha memakai pakaian.
"Kampus! Aku akan menemui pacarku," jawaban darinya tidak menyadari Shui yang sudah dapat berjalan berdiri di lantai dua. Memakai piyama pendek berbentuk kimono.
Tampilannya saat ini? Benar-benar mengenaskan. Wajahnya pucat, dengan beberapa bekas keunguan."Aku melakukan sekali dengannya sudah seperti ini. Dan sekarang Sonya ingin kembali mendekatinya? Aku kehabisan energi untuk merebutnya kembali." gumam Shui kembali memasuki kamar dengan langkah lemas bagaikan pinguin.
__ADS_1
Suaminya hanya sekali memberikan pasukan kecebongnya. Tapi dirinya entah berapa kali mencengkeram merasakan tubuhnya berdenyut tidak karuan. Dirinya benar-benar tidak dapat menghitung.