
Seorang pemuda berjalan menelusuri lorong, matanya menelisik mencari bukti yang mungkin tertinggal. Pembunuhan berantai yang kejam disertai pelecehan? Pelakunya harus benar-benar tertangkap.
Welan berjalan menelusuri lorong, hanya dua orang yang mungkin menjadi tersangka. Sang security dan Dahlan. Tidak memikirkan motif mengingat kedua korban sebelumnya begitu rupawan.
Hingga langkahnya terhenti di depan ruangan praktek kedokteran. Menggeledah tempat tersangka utama, beberapa buku yang memang seharusnya tersimpan di perpustakaan ditemuinya.
Tapi itu tidak dapat dijadikan alibi. Menggeledah lebih dalam lagi, tapi tidak ada apapun yang ditemukannya. Bukti maupun benda-benda mencurigakan.
Menghela napas berkali-kali, dari segi lokasi Dahlan memang lebih mungkin melakukan pembunuhan dari pada sang security. Gerak-gerik juga, Dahlan terlihat lebih ketakutan saat menjelaskan. Gestur tubuhnya menunjukkan sebuah kebohongan yang tersembunyi.
Apa yang dilakukan Welan? Tidak ingin pembunuhan ini terulang lagi. Bagaimana jika selanjutnya puluhan korban lagi yang akan dibunuh predator keji itu?
Diam-diam mendekati mobil Dahlan, pemuda ceroboh yang tidak mengunci mobilnya. Menggeledah satu persatu, namun hanya set pisau bedah dan peralatan kedokteran yang lain ditemukannya.
Bingung harus bagaimana, Welan pada akhirnya duduk di parkiran area depan kampus, menatap matahari yang mulai terbenam.
"Sedang apa?" tanya seorang pemuda menepuk bahunya.
"Duduk-duduk saja," jawabnya pada Warto. Menghela napas kasar tapi dirinya masih ingin membuktikan Dahlan sebagai tersangka utama.
"Em... begini, apa kamu tidak melihat yang aneh saat melewati ruang olahraga dan praktek kedokteran?" tanyanya ragu.
Warto tersenyum."Kamu masih memikirkan kasus itu?"
Welan mengangguk, benar-bebar penasaran bagaikan ingin memecahkan soal matematika yang sulit, menegakan hukum.
"Malam itu aku tidak melewati langsung, hanya dari halaman. Lampu di ruang praktek kedokteran dan ruang olahraga keduanya menyala. Kenapa? Kamu mencurigai Dahlan?" tanya Warto, kembali dijawab dengan anggukan oleh Welan.
"Dia itu pembunuh keji! Pantas untuk dimasukkan ke penjara kemudian di hukum mati!" Ucap Welan penuh semangat.
Warto tersenyum tipis menonggakkan kepalanya menatap ke arah langit sore."Setiap sore menjelang malam rasanya benar-bebar sepi dan menyakitkan. Seperti kehilangan orang yang kita cintai. Maaf jadi bicara omong-kosong. Kamu benar jika pelaku aslinya di tangkap lebih baik dia dihukum mati," ucapnya
__ADS_1
"Karena aku merindukannya, jika aku mati mungkin aku akan dapat bertemu dengannya. Memeluknya meminta maaf karena tidak dapat menjaganya. Aku sudah membiarkannya mati penuh rasa sakit, ini salahku," batin Warto masih tersenyum terlihat damai.
"Kamu terlihat bukan dari desa. Wajahmu seperti blasteran," Welan mengenyitkan keningnya menatap sang security.
"Nenekku orang Belanda, yang memutuskan tinggal di desa dengan kakekku. Sudah! Mau minum kopi sambil main catur?" ajakan darinya, terlihat tanpa beban penuh senyuman.
Dua orang yang memainkan bidak caturnya. Menggerakkan, saling menghina permainan mereka penuh senyuman. Sosok Warto merupakan orang yang menyenangkan bagi Welan. Benar-benar orang yang ramah, tidak sombong, dan memiliki banyak hal positif yang dikatakannya.
Memiliki teman? Mungkin itulah bagi Welan. Beberapa jam yang menyenangkan, menceritakan kehidupan mereka masing-masing. Pemuda yang tidak menghujat dirinya yang jatuh cinta pada wanita dalam sebuah lukisan.
"Mungkin dia hantu cantik yang menggodamu, keluar dari lukisan," candaannya.
Sedangkan Herlan yang sudah menemukan tersangka tunggal berjalan cepat ingin mendapatkan penjelasan lebih detail dari Warto. Hingga Kara tersenyum kini berada di hadapannya.
"Aku akan mentraktirmu dengan mie!" Ucap Kara penuh senyuman, menarik jemari tangan Herlan. Keluar dari area parkir kampus, menuju minimarket di seberang jalan.
*
Dua orang yang mulai memakan pop mie rasa soto dan ayam bawang. Aroma menyeruak, mie yang tidak begitu mengembang, ditambah asap yang sedikit mengepul kala hujan turun, menambah kehangatan ketika memakannya. Bal-bal yang gurih, irisan sayuran kering ada disana.
"Dahlan mungkin bukan pelakunya. Dia bermain solo karena itu berbohong," ucap Herlan memulai pembicaraan.
"Bermain solo?" tanya Kara tidak mengerti.
"Kamu tahu ketika hasrat memuncak dan tidak ada pelampiasan maka hanya satu hal yang dapat dilakukan. Mengeluarkannya sendiri. Memang kamu tidak pernah melakukannya?" Herlan balik bertanya.
Kara menggeleng."Itu keinginan dari napsu pada manusia normal. Aku memiliki napsu tapi dapat mengendalikannya. Jadi tidak pernah melakukan hal yang kamu katakan."
"Aku lupa kamu siluman. Jadi tidak pernah mengalami mimpi basah atau bermain solo," Herlan menghela napas kasar, meminum soft drink berwarna merah.
Mata Herlan tidak luput menatap Warto yang terlihat bermain catur dengan Welan di depan post satpam sekolah mereka."Pembunuh sebenarnya mungkin Warto."
__ADS_1
"Dia memang pembunuhnya," jawaban dari Kara, memakan mie tanpa dosa. Benar-benar terlihat ganas, matanya memerah sekejap, ingin memakan jantung iblis di belakang Warto. Benar-benar kelaparan yang dilampiaskannya dengan memakan mie instan, walaupun secara fisik kenyang tapi secara mental tidak.
Mata Herlan beralih pada Kara."Jadi dia?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Kara.
Dengan penuh semangat, demi uang dan nama baik. Membela sang calon dokter yang tidak bersalah Herlan bangkit. Namun, Kara menarik tangannya menghalanginya. Menatap senyuman wajah Warto dari jauh.
"Kenapa tidak kita hentikan seperti biasa! Jangan sampai ada korban lagi! Nanti---" Kata-kata Herlan disela.
"Ada kalanya, kita berfikir kitalah yang paling benar. Beranggapan seseorang benar-bebar buruk. Tapi ketika kita mengetahui alasannya dan membayangkan ada diposisinya, mungkin akan melakukan hal yang lebih gila dan mengerikan lagi. Karena itu aku tidak akan dapat menghakiminya. Mungkin Tuhan akan meminta pertanggung jawabannya, tapi dia mungkin juga sudah siap dengan konsekwensinya." Kata-kata dari mulut Kara menatap derai hujan yang turun.
"A ...apa maksudmu dia akan membunuh orang lagi! Jadi---" Kalimat Herlan lagi-lagi disela.
"Aku tidak akan melakukan apapun. Hanya diam dan melihat. Jika Tuhan ingin menghentikannya, maka dia akan berhenti. Tapi jika Tuhan ingin dia melakukannya, maka gadis berikutnya akan mati," gumam Kara, menikmati air hujan yang turun, sedikit membasahi lantai teras minimarket.
*
Beberapa orang masih ada di dalam kampus termasuk Cantika. Sedangkan Dahlan sudah pergi melajukan mobilnya meninggalkan kampus.
Welan menghela napas lega. Pemuda itu sudah pergi, berarti untuk saat ini Cantika aman di dalam kampus. Matanya menelisik ke arah Warto yang mengambilkan ubi rebus untuk mereka.
"Kamu tidak pulang? Di desa biasanya pria berusia 30an sudah menikah." Tanya Welan menjalankan bidak caturnya.
"Pacarku kuliah sambil bekerja di kota," jawabnya tersenyum seakan kekasihnya masih hidup.
"Bekerja apa?" tanya Welan penasaran.
"Dia punya usaha kantin di kampus tempat dia kuliah. Setiap aku menghubunginya aku selalu mengatakan jangan terlalu lelah. Tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan, berkata merindukan dan ingin segera wisuda untuk menikah," Jawaban dari Warto.
Welan menghela napas sembari tersenyum. Menganggap kekasih Warto memang kuliah dan memiliki kantin di universitas lain. Mengira wanita itu masih hidup dan merindukan sang security.
Warto tiba-tiba bangkit, meraih ransel yang tidak begitu besar."Aku lupa, tadi ada yang melapor keran di tempat penampungan air tersumbat. Lebih baik aku perbaiki, kasihan kalau ada mahasiswa yang tidak bisa cuci tangan atau buang air karenanya. Kamu bisa pulang atau menungguku di post. Lumayan lama, mencari salurannya. Mungkin sekitar satu jam atau satu setengah jam."
__ADS_1
"Aku akan menunggu, kebetulan tidak ada teman bicara di apartemenku. Sekalian aku, memeriksa materi, pinjam postmu ya?" Welan tersenyum, dijawab dengan anggukan oleh Warto yang berjalan memasuki gedung kampus. Tidak begitu banyak mahasiswa yang mengikuti kuliah malam.
Pria yang memasuki kampus dengan senyuman yang memudar.