Greatest Husband

Greatest Husband
Alibi


__ADS_3

"A...apa yang kamu lakukan disini!" bentak Herlan berjalan mendekati Welan, dosen baru yang tidak begitu disukai majikannya.


"Aku tidak sengaja menghilangkan barang bukti. Tapi masih banyak barang bukti disini. Karena namaku dibawa-bawa aku jadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak..." ucap Welan penuh senyuman.


Cairan dengan sinar kebiruan terlihat di lantai walaupun samar. Mata Kara menelisik menatap ke arah pemuda di hadapannya."Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Hanya mempraktikkan ilmu kimia yang aku pelajari. Pihak kepolisian, masih memeriksa keadaan jenazah. Hanya beberapa yang ada di kampus meminta keterangan dari orang-orang. Sedangkan tidak semua ruangan dapat diperiksa petugas, mengingat gedung yang terlalu luas. Aku tidak sempat memeriksa toilet wanita tempat mayat ditemukan. Jadi yang bisa aku lakukan, memeriksa ruangan secara acak. Ruangan mana saja yang mungkin tidak terkunci saat kejadian." Jelas Welan, masih mengamati reaksi semprotan luminol yang digunakannya.


Jejak darah terlihat dari celah lantai."Ini lokasi eksekusi. Kita lebih baik melaporkan pada penyidik, agar sisa DNA darah korban bisa di indentifikasi."


"Cairan ajaib!" Kara merebutnya, wajahnya tersenyum. Sifatnya tidak berubah tertarik pada ilmu pengetahuan. Bau darah memang tercium menyengat dari ruangan ini. Pemuda yang sensitif dengan bau bangkai, merupakan sifat alamiahnya.


Matanya menatap ke arah Welan. Kemudian tersenyum."Buku di perpustakaan, yang mana saja terdapat ilmu tentang cairan ajaib (kimia)?"


"Kamu tertarik, cari saja yang ada sampulnya tentang ilmu Kimia." Jawaban dari Welan.


Kara mendekat, menghela napas kasar."Bisakah kamu tidak mengajar di kampus ini?" tanyanya.


Welan menggeleng, entah kenapa dia benar-benar tidak menyukai pria ini. Hanya dengan dua kali pertemuan ada kesan yang benar-benar buruk dalam hatinya."Tidak, kenapa? Ada harta karun yang kamu sembunyikan?"


"Mau berkompetisi? Kamu keluar dari kampus ini jika aku berhasil mengalahkanmu dan jika kamu menang kamu mendapatkan mobilku," tantangan dari Kara. Pemuda yang bagaikan tidak ingin masa lalu terulang kembali. Fu sudah menjadi miliknya kini.


"Tidak, aku tidak akan bertaruh jika aku tidak yakin akan menang. Lagi pula hanya mobil bukan? Sepertinya kamu salah paham, aku mengajar bukan karena kekurangan uang. Tapi untuk mengisi waktu senggang." Guratan wajah penuh rasa tidak suka dan kebencian.


Welan sampai-sampai mengepalkan tangannya. Seumur hidupnya pernah ditampar bahkan dibully di masa sekolahnya dulu. Tapi dirinya tidak pernah menyimpan kebencian. Namun, hanya dengan melihat wajah pemuda di hadapannya ini, entah kenapa rasa bencinya benar-benar timbul.


Aura permusuhan yang mendominasi. Tiba-tiba Herlan berdiri diantara mereka."Kalian saling pandang terlalu lama, nanti jatuh cinta. Apa kalian sudah belok?" tanyanya penuh senyuman mencairkan suasana.


Entah ada angin apa dua orang ini terlihat bagaikan jendral pasukan iblis yang berperang melawan jendral prajurit khayangan. Dua pemuda rupawan, satunya siluman yang terlihat menebarkan aura dingin mendominasi, satunya lagi dosen yang menebarkan aura cerah yang terasa hangat.


Dua orang yang memalingkan wajah, berjalan berlawanan arah.

__ADS_1


"Welan! Pintu keluarnya disini!" teriak Herlan pada sang dosen muda.


Welan segera berbalik."Aku tidak konsentrasi, mungkin kurang minum akua," ucapnya berjalan mendahului Kara.


"Sekarang ceritakan ada masalah apa kalian?" tanya Herlan pada Kara.


"Dia sembelit!" jawab Kara asal, berjalan menyusul Welan.


"Dasar dua orang yang sembelit," gumam Herlan yang malah mempercayai kata-kata Kara.


*


Mengadukan apa yang ditemukannya, hingga saat ini pihak kepolisian memeriksa ruangan olahraga dengan seksama. Perlahan mengumpulkan sampel DNA korban untuk dicocokkan. Cairan luminol disemprotkan pada matras, tapi tidak terlalu banyak. Menghindari rusaknya DNA korban.


Hingga hari menjelang sore. Usai menjalani perkuliahannya, Kara mendatangi ruangan rektor, bersama Herlan.


Keempat orang yang sebelumnya dipanggil sebagai saksi ada di sana. Beserta seorang penyidik, dan perwakilan dari mahasiswa. Mengapa? Tentu saja ini permintaan sang rektor tidak ingin mahasiswa berfikir pihak kampus angkat tangan atas kejadian ini. Mengingat sudah ada dua orang korban.


"Maaf, pak sebelumnya tapi pihak yayasan dan perwakilan mahasiswa ingin mengetahui perkembangan kasus ini tanpa ada yang ditutup-tutupi mengingat ini merusak reputasi kampus kami," sang rektor tertunduk pada penyidik.


"Sebenarnya ada larangan untuk membocorkannya. Tapi karena ini juga menyangkut kepentingan umum mau bagaimana lagi." Gumam sang penyidik.


"Kalian boleh menceritakan apa yang kalian ketahui satu persatu." Ucap sang penyidik membawa sebuah dokumen, hasil dirinya meminta keterangan sebelumnya.


Warto sang security yang baru berusia sekitar 30 tahun itu menghela napasnya."Hari itu pergantian tugas dengan security lain yang berjaga siang. Katanya CCTV rusak, aku juga sudah menghubungi tukang reparasi, hanya saja katanya baru bisa diperbaiki besok. Saat itu aku sempat berkeliling kampus, sempat melihat Agustin berdiri di area parkir."


"Kamu mengenal Agustin?" tanya Herlan penasaran.


Sang security menggeleng."Ada ratusan bahkan ribuan mahasiswa. Aku tidak mungkin mengenal semuanya. Aku tau namanya Agustin setelah semua orang membicarakannya."


"Ada berapa kendaraan disana?" tanya sang rektor.

__ADS_1


"Motor matic milikku, dua buah mobil dan satu motor matic lagi milik Agustin," jawabnya.


"Kamu mendengar suara senjata api?" tanya Kara.


Sang security menggeleng."Aku berkeliling dari jam 10 sampai 11. Kemudian kembali ke post. Dilanjutkan jam 3 hingga 4 pagi tidak ada suara yang mencurigakan. Aku cuma sempat keluar pukul 12 malam, untuk membeli makanan sekitar 15 menit."


Sang penyidik mencocokkan dengan keterangan sebelumnya di kantor polisi. Kemudian merenggangkan otot-ototnya kembali menatap ke empat orang yang masih berstatus saksi.


"Dahlan apa yang kamu lakukan hingga di kampus sampai pukul 1 dini hari?" tanya sang penyidik.


Pemuda itu tertunduk memilin jemarinya. Menghela napas berkali-kali kemudian bercerita."Malam itu aku mengambil beberapa materi kemudian membawanya dari perpustakaan hingga ruang praktek kedokteran. Aku belajar mati-matian agar tahun ini dapat wisuda."


"Ruang praktek berada di sebelah ruangan olahraga. Kamu tidak mendengar apapun? Atau ada yang bisa bersaksi melihat apa yang kamu lakukan?" tanya sang penyidik mengulangi pertanyaan saat di kantor polisi.


Pemuda itu terlihat gugup dan cemas."Aku tidak mendengar apa-apa," jawabnya, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.


Gerak-gerik yang mencurigakan bagi penyidik, namun memang keterangan yang serupa. Entah yang mana diantara para tersangka yang berbohong.


"Welan, sekarang giliranmu. Apa yang kamu lakukan saat malam kejadian?" tanya sang rektor.


"Aku tidak ada di kampus. Tapi kalian sama sekali tidak percaya. Mobilku tidak bisa menyala, karena terburu-buru aku meninggalkan mobilku dan menumpang mobil temanku. Kemudian pergi ke suatu tempat. Tepat pukul 3 pagi temanku mengantarku kembali ke kampus. Tapi sialnya temanku tadi pagi sudah kembali ke Kanada. Jika tidak dia bisa bersaksi untukku," jelas Welan.


"Kamu kembali pukul 3 pagi? Berarti saat security berkeliling?" tanya sang penyidik, mencocokkan keterangan Welan sebelumnya.


Welan mengangguk."Security tidak ada di postnya. Selanjutnya aku menunggu orang bengkel datang. Tepat pukul lima pagi,"


"Jam 10 hingga 12 malam kamu kemana dengan temanmu?" tanya sang rektor.


"A... aku..." Welan mulai tergagap, matanya terlihat tidak fokus. Menelan ludahnya berkali-kali.


"Dia memiliki alibi, kami sudah memeriksanya," ucap sang penyidik.

__ADS_1


Herlan menghela napas kasar."Apa Welan menyuap petugas untuk membuat alibi palsu?" batinnya.


__ADS_2