
Defan menghela napas kasar, memang selalu seperti ini. Di rumah ini hanya Kerrel yang mengetahui sifat buruknya. Menyingkirkan Kerrel? Lebih tepatnya mereka ingin saling menyingkirkan.
Pintar, licik, itulah seorang Kerrel. Mungkin satu-satunya kelemahannya adalah Shui Murren. Bukan hanya menyukainya, tapi juga kagum, karakter yang tidak mudah ditindas pria, penyebabnya. Berbeda dengan wanita lemah lembut, gemulai yang mengejar-ngejar Kerrel selama ini.
Semua alat makan ditukar menggunakan bahan perak oleh Kerrel. Menghindari Defan meletakkan racun. Rumah ini sejatinya benar-benar medan perang, dengan adik mereka yang sederhana hanya menumpang lewat. Hal yang terjadi sebelum Kara dijodohkan dengan Shui oleh Atmaja.
Kediaman yang lumayan besar, dengan dua orang tidak normal. Satunya memakai setelan putih, tersenyum ramah (Defan), satunya lagi memakai setelan hitam (Kerrel) hanya tersenyum pada Shui, selebihnya menunjukkan aura mendominasi.
Pecahan kaca masih dibereskan pelayan. Dengan cepat Kara melangkah mendekati dua orang di hadapannya."Dia istriku, biar aku saja," ucapnya meraih pegangan kursi roda.
"Memangnya kamu mempunyai bahan pembicaraan apa dengannya? Animasi? Komik? Mungkin hanya itu. Banyak hal yang harus aku bicarakan, termasuk kerja sama bisnis." Kata-kata dari Kerrel.
Benar-benar pria menyebalkan, tidak memiliki niatan busuk sama sekali, selain lebih dekat dengan Shui. Kara menghela napas kasar menekan amarahnya.
"Jaga batasanmu, hanya sebagai kakak ipar. Terkadang ada garis yang sama sekali tidak boleh dilewati." Ucap Kara, mendorong kursi roda Shui.
*
Tidak banyak yang bicara, hanya sarapan seperti biasanya. Pelayan telah meletakkan koper Shui di dalam kamar Kara.
"Apa saja kesibukanmu sekarang? Ayah harap kamu bisa segera lulus kuliah," gumam Farhan, menatap ke arah putra bungsunya.
"Kara mengelola salah satu restauran milikku, belajar tentang bisnis sedikit demi sedikit menunggu liburan semester berakhir. Nilainya yang tertinggi semester ini." Shui menyela, menjawab pertanyaan Farhan.
Farhan membulatkan matanya. Pada akhirnya putranya dapat diandalkan untuk mengerjakan sesuatu.
Ingatannya sepintas tentang sosok Kara, putra bungsunya yang tidak keramas berhari-hari, memakan kacang sambil membaca komik seharian.
Tidak pernah membuat masalah, tapi juga tidak pernah menunjukkan prestasi. Mendatangkan guru les juga percuma, Kara akan tertidur di kelas. Tapi saat ini berbeda, mungkin karena sudah menikah putranya menjadi lebih dewasa.
Memakai pakaian yang benar-benar senada, mau bekerja di liburan semesternya, bahkan mendapatkan nilai tertinggi saat ujian. Benar-benar tidak diduga olehnya. Walaupun terkadang Farhan merindukan putra bungsunya yang pemalas dan manja.
__ADS_1
Pemuda di hadapannya ini terasa asing baginya. Ada yang berbeda, benar-bebar berbeda, apa karena tinggal terpisah dirinya jadi merindukan sosok Kara? Atau karena hampir kehilangannya saat melihat mayatnya?
"Kara masih hidup," mungkin itulah yang ada di hati Farhan. Walau bagaikan terasa ganjil, setetes air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Wajah putra bungsunya ada di dekatnya, tapi bagaikan sosoknya ada di tempat yang begitu jauh.
*
"Shui, nanti malam aku akan bertemu dengan Yori pemilik perusahaan penyuplai tekstil asal China. Kamu mau ikut?" tanya Kerrel antusias.
"Tidak, aku masih ada banyak pekerjaan," jawaban dingin dari Shui.
Kecewa? Siapa bilang, pemuda itu menyukainya. Ketegasan dalam memimpin perusahaan. Andai saja dirinya yang menikah dengan Shui Murren, mungkin anak-anak berkwalitas tinggi yang akan tercipta.
Matanya menelisik, tidak ada tanda keunguan di leher Shui. Pengantin baru yang tidak harmonis, itulah yang ada di benaknya.
"Kara, apa kamu belum pernah berhubungan badan dengan Shui?" tanyanya menatap pasangan itu.
"Tidak baik membicarakan---" ucapan Farhan disela.
Shui menghela napas kasar terdiam sejenak, sedikit melirik ke arah Kara yang makan dengan tenang. Tidak pernah menyentuhnya, namun bahkan harus ditarik pergi kala berhubungan badan dengan Sonya.
"Kami tidak pernah melakukannya. Aku yang tidak ingin, aku tidak ingin memiliki anak darinya." Jawaban tiba-tiba dari Shui sembari kembali memakan sarapannya, membuat Defan tersedak. Terbatuk-batuk meminum air mineral.
Ini tidak diduga olehnya, berita yang menyebar dengan cepat dimana Shui begitu mencintai Kara, saat lebih mempercayai Kara saat pesta resepsi. Tapi, tidak ingin memiliki anak dari Kara?
Seketika suasana hening. Kecuali Kara dan Shui yang tetap makan dengan tenang. Tidak ada yang mereka bicarakan.
Tangan Kara gemetar, menahan amarahnya. Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Semuanya memang benar, dirinya dan Shui tidak boleh memiliki keturunan. Hanya akan ada perceraian suatu hari nanti.
Sedangkan Kerrel mengenyitkan keningnya tersenyum. Sudah diduga olehnya, Shui tidak akan mentolerir suami yang berselingkuh. Benar-benar menyesalkan keputusan Atmaja menjodohkan Shui dengan Kara. Ada saat dirinya bertanya mengapa Atmaja mengambil keputusan tersebut sebelum pernikahan. Bahkan meminta agar dirinya yang menikah dengan Shui.
Apa jawaban Atmaja? Pria itu hanya tersenyum, mengatakan dirinya lebih menyukai Kara menjadi menantunya. Benar-benar aneh baginya, memilih Kara yang tidak mencintai Shui sebagai menantu.
__ADS_1
*
Mobil Kara mulai melaju menembus jalanan perkotaan. Tidak ada yang mereka bicarakan hanya terdiam di tengah hujan lebat yang mulai turun.
"Kenapa hanya diam? Apa aku berbuat kesalahan?" tanya Kara padanya.
"Tidak, kamu tidak berbuat kesalahan. Hanya saja kita harus menjaga batasan. Suatu hari nanti kita akan berpisah jadi---" Kata-kata Shui disela. Mobil itu tiba-tiba berhenti di dekat sebuah lahan kosong. Kara segera keluar dari mobil.
Pemuda yang kemudian berjalan mendekat Membawa seikat bunga liar."Jangan marah, dan katakan apa kesalahanku,"
"Kamu tidak salah aku---" Kata-kata Shui terhenti, sebuah kecupan singkat terasa di bibirnya.
"Hari ini hubungi Fahira, katakan kamu berlibur sehari untuk berbulan madu. Tunda pekerjaan penting, pekerjaan lainnya, biar dikerjakan oleh Fahira." Ucap Kara mulai duduk di kursi pengemudi.
"Tapi---"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," Kara kembali melajukan mobilnya, entah kemana tujuan mereka.
Sama seperti sebelumnya, tidak ada banyak pembicaraan. Hanya dua orang yang terpaku diam dalam keheningan. Sebuah hotel berbintang terlihat. Perasaan Shui saat ini benar-benar kacau. Kara mendorong kursi rodanya, memesan kamar pada resepsionis, serta makanan untuk mereka.
Apa yang dilakukan Kara? Apa benar akan berbulan madu? Tidak, dirinya harus menolak, bagaimana pun, tadi pagi suaminya menghilang dalam keadaan mobil yang masih ada di garasi. Mungkin saja suaminya dan Sonya mencari tempat berselingkuh di salah satu sudut rumah.
Pintu kamar hotel mulai dibuka, Kara membuka sweater yang dikenakannya, menyisakan celana jeans hitam dan kaos putih, meraih air mineral dalam ice box, kemudian meminumnya dengan cepat.
Sang pemuda kemudian berjalan mendekati Shui. Menghela napas berkali-kali.
"Kita harus menjaga batasan. Kamu mempunyai wanita yang kamu cintai. Sementara aku---" Kata-kata Shui terhenti, Kara tiba-tiba memeluknya, mendekap tubuhnya erat.
"Apa jika melakukannya kamu tidak akan marah lagi padaku? Berhenti berkata untuk meninggalkanku?" tanya Kara, perasaan yang bagaikan serupa kala Fu berbalik meninggalkan hutan berkabut.
Tidak mengenali rupanya, hanya sebuah perasaan yang mengendalikannya. Dua pasang bola mata yang terpaku saling menatap, tidak bicara sedikit pun. Sepasang wajah yang mulai saling mendekat, dengan mata yang terpejam perlahan.
__ADS_1