Greatest Husband

Greatest Husband
Human?


__ADS_3

Apa yang sebenarnya terjadi?


Beberapa hari sebelumnya, Herlan memang bekerja untuk membatu Kara. Mengingat banyaknya karyawan yang pindah dan direkrut Arza.


Hanya berasal dari kalangan bawah? Arza seakan mengetahui semuanya. Herlan menghela napas berdiri di belakang gedung restauran J&W. Orang yang paling dipercayai Kara. Sehingga Kara tidak akan pernah menduga atau mencurigainya.


"Namamu Herlan? Teman kuliah Kara?" tanya Azra.


Herlan mengangguk, mengetahui sosok pria yang baru akan membuka restauran di seberang jalan beberapa hari lagi. Musuh dari majikannya.


"Perkenalkan namaku Azra. Apa Kara memperlakukanmu dengan buruk? Sampai sekarang aku hanya melihatmu naik bus. Tidak punya motor? Sedangkan Kara sendiri selalu membawa mobil sportnya." Tanya Azra.


"Memang tidak punya, tapi bukan urusanmu," jawaban tegas dari Herlan. Bagaimana pun dirinya terikat menjadi budak seorang Kara, dan semenjak itu, beberapa keberuntungan aneh menghampirinya.


"Dia tidak benar-benar menganggapmu sebagai sahabat. Bagaimana jika menjadi temanku saja? Aku akan memberikanmu uang cash dan pekerjaan. Kita dapat menjadi partner." Azra memberi tawaran.


Langkah Herlan terhenti, pemuda yang mengenyitkan keningnya. Pecinta uang? Tentu saja, tapi dirinya tipikal orang yang setia kawan. Lagipula ini hanya usaha sampingan Shui Murren. Wanita itu jauh lebih kaya dari pada Azra, berpihak pada Azra itu artinya bunuh diri. Satu-satunya cara mendapatkan keuntungan, menerima tawaran Azra. Kemudian mengadu pada Kara.


"Nenekku di kampung sakit, kakakku menjual diri menjadi wanita penghibur. Apa aku mungkin dapat membantu mereka, dengan uang pemberianmu?" Dusta Herlan yang sejatinya anak sulung, dengan nenek yang sudah meninggal. Air matanya mengalir seakan benar-bebar memerlukan uang.


Azra tersenyum, memberikan uangnya pada Herlan. Menjelaskan rencananya, memberikan racun yang kandungannya mirip dengan cairan pembersih lantai, membuat seolah-olah koki atau pelayan teledor meletakkan pembersih lantai, menyebabkan keracunan bagi pelanggan.


*


Rencana yang sempurna bukan? Herlan tidak akan dicurigai itulah yang ada di fikiran Arza. Tapi satu hal yang tidak diduganya. Segera setelah memasuki restauran, Herlan menemui Kara, mulut ember pemuda itu bercerita dengan cepat. Bahkan menunjukkan uang pemberian Azra.


Sungguh hal yang rumit, Kara terdiam, memikirkan solusi sekaligus serangan balik. Menatap ke arah televisi dimana menyiarkan acara animasi seorang detektif cilik yang membongkar sebuah kasus.


"Apa cerita yang ada di kotak ajaib bersinar (TV) itu?" tanya Kara pada Herlan.


"Itu? Itu animasi detektif yang cukup populer, tentang kasus pembunuhan. Tersangka yang sulit ditebak, dan cara pembuktian membuatnya populer. Animasi ini sudah ada puluhan tahun, tidak disangka masih disiarkan berulang kali di TV," gumam Herlan.


Kara tersenyum menyeringai, mendapatkan cara membalikkan situasi."Hubungi Fahira, aku ingin dapat bekerja sama dengan prajurit berpakaian abu-abu (polisi). Apa kamu kenal beberapa orang penipu? Orang-orang yang dapat berakting seperti pada opera?" tanya Kara.

__ADS_1


Dengan cepat Herlan mengangguk, tidak mengerti dengan jalan pemikiran Kara. Hingga segera setelah restauran tutup petugas kepolisian diundang. Berlatih dialog, untuk membuat keramaian, semuanya sudah diatur oleh Kara dan Fahira. Bahkan beberapa orang yang berkeliaran di sekitar restauran menyebarkan berita terjadi keracunan di restauran tersebut pada orang-orang yang lewat. Tentunya semua promosi aneh ini juga telah mendapatkan ijin dari petugas kepolisian.


Menarik masa dengan pertunjukan teater diakhiri dengan kegiatan viral, untuk beberapa petugas menjelaskan tentang keamanan berkendara.


Event yang aneh di restauran mewah tapi terlihat ampuh.


Kembali saat ini, Kara mengenyitkan keningnya. Dengan Azra yang ada di hadapannya."Aku benar-benar jarang salah menilai orang. Herlan walaupun tidak begitu pintar, tapi dapat diberi kepercayaan. Ini hanya saran dariku, istriku belum turun tangan tapi acara pembukaan restauranmu sudah kacau balau. Ingin Shui turun tangan? Mungkin dia akan membawa seorang pejabat, mencari masalah dengan restauranmu..." bisik Kara tersenyum menyeringai.


Pemuda yang menepuk bahu Azra berjalan menembus keramaian. Beberapa pelanggan wanita terlihat kagum padanya, pemuda rupawan pemilik restauran.


Sedangkan tangan Azra gemetar, benar-bebar merasa kesal. Pemuda yang bagaikan bakteri membandel sulit untuk dibersihkan. Bahkan hingga sekarang masih lumayan sulit untuknya bergerak dengan bebas, akibat tulang ekornya yang terkena benturan keras.


*


Beberapa jam berlalu, kini saatnya restauran tutup, langkah Kara berhenti di depan meja kasir. Merogoh sakunya memberikan uang pada Herlan.


Mata pemuda itu berbinar menelan ludahnya, menatap Kara menghitung sekitar 20 lembar uang bergambar tokoh proklamator. Namun kekecewaan menyertainya hanya dua lembar yang diberikan padanya.


"Pakai yang hemat," ucap Kara.


"Kamu sudah dapat banyak dari Azra. Kita ini hanya mahasiswa harus hemat." Jawaban aneh dari Kara yang mulai beradaptasi.


Herlan menghela napas kasar memasukan uang ke dalam sakunya. Mungkin lumayan untuk tabungan melamar anak ibu kost nanti.


Sedangkan, Kara meminum segelas air mineral, segalanya berjalan sesuai rencana. Sudah cukup untuknya.


"Untung aku pintar mengganti dialognya," gumam Herlan, mengganti alasan membunuh menjadi perselingkuhan dengan istri Kara. Dan berusaha menghancurkan nama baik sahabatnya.


Isi dialog awal? Alasan membunuh karena Herlan iri dengan ketampanan dan kekayaan Kara. Benar-benar tidak masuk akal bagi Herlan, membunuh orang, menjadikannya kambing hitam hanya karena rasa iri?


Karena itu, dengan segala pertimbangan, dirinya berinsiatif mengganti dialog.


Prang!

__ADS_1


Kara mencengkeram gelas di tangannya hingga pecah berkeping-keping, tertawa kecil, tawa yang terdengar aneh dan ganjil. Mungkin pemuda itu baru ingat dengan dialog memuakkan terakhir yang diucapkan Herlan.


Herlan menelan ludahnya, menatap gelas yang pecah hanya karena cengkraman tangan.


"Kamu bilang apa? Meniduri istriku?" tanya Kara kembali tertawa, bagaikan sebuah lelucon. Namun tawa yang terdengar begitu ganjil.


Sras!


Pecahan kaca di jari Kara dilempar bergerak dengan cepat. Beberapa milimeter hampir mengenai leher Herlan.


Herlan melirik ke arah belakangnya lemari kaca kayu jati yang kokoh. Bagian kaca etalasenya berlubang bagaikan tertembus peluru. Pemuda yang begitu mengerikan baginya.


Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Pecahan kaca dapat menjadi mengerikan bagaikan peluru?


Mata pemuda di hadapannya sekelebat memerah. Ada yang tidak beres dengan Kara, itulah yang ada di fikiran Herlan saat ini.


"I...itu hanya dialog. Aku sudah punya pacar. Lagi pula apa kamu mulai menyukai Shui Murren?" tanyanya.


Sejenak Kara membulatkan matanya, mengalihkan pandangannya. Berusaha membohongi dirinya sendiri."Aku tidak menyukainya, sudah ada seorang wanita yang aku sukai."


"Siapa? Sonya?" tanya Herlan.


"Bukan," hanya itulah jawaban Kara.


"Siapa namamu sebenarnya?" pertanyaan dari Herlan. Cara bicara yang berbeda, tidak mudah ditindas. Tidak, dia bukan Kara.


Mengapa? Kara begitu mencintai Sonya. Hingga Sonya menjadi wanita pertama yang ditidurinya. Berjanji menikahi Sonya, walaupun saat menghabiskan malam Sonya sudah tidak perawan lagi.


Wallpaper di handphone Kara dahulu adalah Sonya. Mencium fotonya diam-diam bagaikan orang bodoh. Tapi pria ini? Tidak peduli Sonya tidur dengan Defan. Posesif terhadap Shui, cara bicara, memiliki kemampuan aneh, tidak dia bukan Kara.


"Kamu tahu? Aku bukan Kara, kelurga Kara memiliki hutang padaku. Aku Junichi," hanya itulah yang diucapkannya tanpa menjelaskan sedikitpun.


Pria yang berbalik, meninggalkan Herlan membawa kunci mobilnya. Meninggalkan restauran, hendak menjemput istrinya yang bekerja lembur.

__ADS_1


Sementara Herlan terduduk di meja kasir. Jemari tangannya masih gemetar hingga saat ini. Yang pasti orang yang ada di hadapannya tadi bukan manusia. Benar-benar bukan manusia.


__ADS_2