Greatest Husband

Greatest Husband
Hobi


__ADS_3

Herlan menghela napas kasar, ada uang tentu harus diterima bukan? Tangannya merayap, mengambil amplop di hadapannya.


"Dia berubah, sifatnya benar-benar berubah. Seperti bukan Kara yang dulu," ucapnya tersenyum pada Defan, hendak menceritakan segalanya.


"Dalam artian apa?" tanya Defan pada pria di hadapannya. Dirinya hanya ingin mengetahui kebenaran tentang kecurigaannya.


"Kamu jangan mengatakan ini pada siapa-siapa." Bisik Herlan terlihat serius.


"Apa?" Defan semakin penasaran saja, pasalnya menurut ilmu kedokteran adiknya tidak mungkin dapat bertahan hidup. Selain itu perubahan sifat yang terlalu drastis. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa ada orang lain yang menyamar sebagai adiknya?


"Begini, sebenarnya Kara mengalami amnesia. Shui Murren mengendalikan dan merubah karakternya setelah menikah. Dia memanggil guru-guru profesional, bahkan pengawal Kara yang tersembunyi ada lebih dari tiga orang. Tidak heran juga, Shui Murren protektif padanya, namanya juga wanita lumpuh yang memiliki suami normal. Apa lagi kalau suaminya memuaskannya di ranjang." Kata-kata masuk akal dari bibir Herlan.


Pemuda penipu yang bertahun-tahun selalu memanfaatkan Kara yang asli. Berpihak pada Defan? Kara yang polos saja ditipu olehnya. Apalagi Defan yang terang-terangan mengkhianati adiknya sendiri.


Carilah majikan yang kokoh, karena ketika majikan terpuruk, kita akan terpuruk. Itulah prinsipnya ketika memutuskan untuk mengikuti Junichi. Kemampuan, kecerdasan, dan kekayaan, semua dimiliki olehnya, tidak ada yang kurang.


"Ganteng-ganteng gila," batin Herlan benar-benar membenci pria yang menjadi penyebab kematian Kara.


"Amnesia? Dia tidak mengingat hubungannya dengan Sonya?" tanya Defan lagi. Dengan cepat Herlan mengangguk.


"Dia tau aku yang menceritakannya, tapi Shui membayarku untuk mempengaruhi Kara. Menjelek-jelekkan segala hal tentang Sonya. Hingga sekarang Kara rela mengikuti Shui seperti seekor anak an*ing." Dustanya dengan mulut yang lemas, bagaikan ibu-ibu kompleks yang tengah bergosip tentang janda kaya yang rumahnya ada di sebelah tikungan.


"Jadi begitu? Tapi apa kamu merasa ada yang aneh dengan Kara? Misalnya kebal terhadap racun. Atau dia bukan Kara yang asli," Kata-kata, dari Defan membuat Herlan tertawa, tawa untuk menutupi fakta yang sebenarnya.


"Kebal dari racun? Kakak mengira dia itu Supraman? Harus memakai jubah hijau, setelan hijau, terbang menyelamatkan dunia. Tidak mungkin dia kebal dari racun. Kemarin saja sempat diare, gara-gara makan bakso mercon." Lagi-lagi pemuda itu tertawa dengan santainya.


Kala psikopat berhadapan dengan penipu ulung, manakah yang akan menang?


Defan menghela napas kasar, pemuda yang tidak disukainya sama sekali. Wajahnya tersenyum, memikirkan bagaimana jika tubuh itu digores dengan pisau sedikit demi sedikit, setelah di gantung dalam posisi terbalik?


"Bisa kamu pesankan hot dog untukku?" tanyanya. Herlan mengangguk, dan berjalan menuju tempat penjaga kantin berada.


Tidak menyadari tangan Defan merogoh ke dalam tasnya. Memberikan semacam botol kecil cairan, entah apa isinya ke dalam minuman Herlan. Tujuannya? Tentu saja membawa pria ini pergi dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Pemuda yang menjengkelkan baginya, tidak memberikan jawaban yang diinginkannya.


Tidak lama, Herlan kembali, memberikan hot dog yang diminta oleh Defan. Tidak ada kecurigaan sama sekali. Defan memakan hot dog yang diberikan padanya.


Sedangkan Herlan meminum orange juice pesanannya. Apa yang ada di dalamnya? Bukan racun, hanya obat tidur berdosis tinggi. Pemuda serakah yang mencoba untuk menipunya, menerima uang tapi tidak memberikan informasi.


Orange juice itu diminumnya. Melirik ke Defan yang makan dengan tenang. Dirinya berhasil mengelabui Defan, itulah yang ada di fikirannya.


Namun, pemuda ber-IQ tinggi yang enggan dihadapi Kara, Herlan malah mengantar nyawanya sendiri.


Defan tersenyum simpul, membayangkan hal yang lucu. Bagaimana tubuh pemuda ini akan menggeliat ketika digantung terbalik, disayat pelan-pelan.


"Kenapa tertawa?" tanya Herlan.


"Tidak, aku hanya mengingat serial komedi yang tadi pagi aku tonton." Jawaban tenang dari Defan. Berbeda dengan orang normal, psikopat lebih pandai memanipulasi, bahkan detektor kebohongan pun kerap tidak dapat efektif menebak kebohongan atau kejujuran yang diucapkan olehnya.


Seekor ikan koi yang ingin berhadapan dengan paus orca, benar-benar bodoh bukan?


Hanya selang beberapa menit.


Mata Herlan terasa gelap, rasa kantuk yang teramat sangat, membuatnya jatuh tergeletak di lantai. Orang-orang mulai terlihat panik, termasuk Defan.


"Herlan! Bangun Herlan!" Ucapnya pura-pura memberi napas buatan dan CPR.


"Bantu aku, angkat dia ke mobilku! Aku seorang dokter!" bentak Defan, terlihat panik.


"Bertahanlah!" pintanya melakukan CPR, tertunduk, tidak ada yang menyadari wajahnya diam-diam tersenyum.


*


Tubuh Herlan sudah diangkat menuju tempat parkir. Akan segera dimasukkan ke dalam mobil Defan. Setelah ini tinggal membawa pemuda itu ke apartemen miliknya. Atau mungkin membawanya ke gudang saja. Seringai tipis yang tidak disadari satu orang pun.


"Hentikan! Aku akan membawanya ke rumah sakit!" Kalimat yang terdengar dari satu orang, membuat semua yang membantu mengangkat Defan menoleh.

__ADS_1


"Kara! Kami sedang terburu-buru! Herlan kemungkinan besar, mengalami serangan jantung!" jelas sang kakak meyakinkan.


"Dia budakku. Jadi hidup dan matinya terserah padaku. Masukkan dia ke mobilku!" tegas Kara dengan aura dingin menyengat.


"Herlan tidak akan tertolong jika---" Kata-kata Defan disela, Kara menendang tubuhnya dengan cepat."Sebaiknya jangan melawan, biarkan aku membawa budakku. Karena jika kamu melawan sekarang, kedok busukmu akan tercium oleh mereka." Bisiknya, tertunduk mendekatkan wajahnya pada Defan yang terduduk di lantai.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Defan.


"Leluhur, kakek buyut, dari kakek buyutmu. Tugasku menghentikan cicit tidak berbakti sepertimu..." jawaban dari Kara.


Kemudian menyuruh beberapa mahasiswa yang mengangkat Herlan, membawanya ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi mobil sport putih milik Kara melaju meninggalkan tempat parkir. Seperti benar-benar kesal pada sang kakak.


Beberapa mahasiswa itu membantu Defan bangkit.


"Kara memang keterlaluan, kakak harus bersabar memiliki adik sepertinya."


"Kakaknya seorang dokter, tapi malah menganggap sebagai musuh. Sudah untung kakak mau menolong Defan."


"Tidak tau terimakasih, semenjak menikah dengan Shui Murren dia semakin sombong saja,"


Cibiran dari orang-orang yang membantu Defan bangkit.


"Tidak apa-apa, ini sudah biasa. Aku minta maaf atas nama adikku sudah membuat keributan. Tolong maklumi sifatnya, dia paling bungsu hingga dimanjakan dari kecil." Devan meminta maaf, terlihat tulus. Orang-orang mulai iba padanya, sang kakak yang sebaik malaikat, sedangkan adiknya jahat bagaikan iblis.


Manipulatif, merupakan sifat alami Defan. Semua orang memujinya sebagai kakak tertua yang paling baik dan ramah. Tapi apa benar? Tidak ada senyuman nyata dalam hidupnya. Hanya sebuah senyuman palsu, mungkin senyuman tulusnya tersungging hanya saat mendengar jeritan orang-orang kala kehilangan nyawa di tangannya.


*


Kara menghentikan kendaraannya, tepat di depan gerbang rumah keluarga Murren. Tubuh Herlan dibaringkan di atas tempat tidur. Pemuda yang tidak jadi ke kampus, meninggalkan Herlan yang hanya tertidur, lebih memilih pergi ke restauran, sambil menunggu budaknya sadarkan diri.


Hingga hari mulai sore, Herlan terbangun di tempat tidur mewah. Memeriksa seluruh pakaiannya yang masih lengkap.

__ADS_1


"Aku tidak dip*rkosa," gumamnya lega. Mengira dirinya menerima pelecehan dari Defan. Siapa tahu saja Defan hobi main pedang-pedangan.


__ADS_2