
Defan melangkah, perlahan menelusuri satu persatu ruangan. Hingga langkahnya terhenti bibirnya tersenyum menemukan hal yang dicarinya.
Seorang dokter yang ingin mengetahui rekam jejak medis adiknya. Matanya menelisik membaca satu persatu dokumen yang tersimpan di rumah sakit. Hingga dirinya terdiam."Tidak mungkin dia dapat hidup," gumamnya melihat kadar zat pemutih pakaian dalam darah Kara.
Jemari tangannya gemetar menjatuhkan senter yang dibawanya. Segera kembali meletakkan dokumen dalam rak rumah sakit.
Pemuda yang tidak mengerti sama sekali. Tingkah laku adiknya yang berubah drastis. Ada yang aneh, benar-benar aneh.
*
Kara membuka matanya, menatap pantulan wajahnya di cermin. Tubuh ini kini sepenuhnya miliknya, bukan tubuh manusia lagi tapi tubuh siluman. Tidak akan pernah dapat mengingkari takdirnya. Begitu juga anaknya yang ada dalam kandungan Shui.
Seorang anak yang terlahir dalam wujud manusia. Tapi sebenarnya adalah siluman sama seperti ayahnya. Rantai reinkarnasi yang mengikat, mungkin sudah puluhan tahun di alam baka. Tapi hanya beberapa bulan disini, wajahnya tersenyum, menatap Shui yang baru keluar dari kamar mandi.
Apa Kara sudah mengalami penghukuman? Mungkin saja hingga dapat terlahir kembali, atau ditarik oleh perjanjian darah yang melepaskannya dari segel? Entahlah, namun walaupun samar bau Kara yang asli ada dalam rahim istrinya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Shui, beringsut mundur menatap curiga. Dirinya ingin, tapi juga kelelahan, apa karena besok adalah siklus bulanannya? Tapi entah kenapa belum ada tanda-tanda akan datang bulan.
Kara meraih jubah mandinya berjalan mendekat. Pemuda itu tersenyum."Aku hanya berfikir, tidak disangka aku akan memiliki anak yang merepotkan. Jika sudah lahir nanti akan aku didik dia agar menjadi lebih pintar," gumamnya, membuat Shui mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
Apa benar dirinya hamil? Bagaimana dengan Sonya? Apa Kara tidak akan mengkhianatinya?
Pemuda yang berjalan ke kamar mandi, menguap beberapa kali.
Shui hanya dapat menghela napas kasar. Hingga saatnya pasangan suami-istri itu sarapan bersama di kamar. Atmaja dan istrinya masih di luar kota, Sonya juga entah bangun jam berapa, membuat mereka lebih nyaman sarapan di kamar.
Kara tertunduk dan berfikir. Fu kini sudah ada di hadapannya, dirinya tinggal merebut kekuasaan tertinggi hingga tidak ada yang akan memisahkannya dengan anak istrinya.
"Istriku apa yang harus dilakukan untuk menguasai dunia?" tanyanya tiba-tiba membuat Shui tersedak.
__ADS_1
"Kamu perlu uang! Ya harus kerja! Bantu aku di perusahaan!" bentak Shui memukul kepala Kara. Pemuda yang masih saja berbicara hal aneh.
Kara mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar, meraih sekuntum bunga dalam vas."Kamu cantik! Tidak ada yang lebih cantik darimu. Karena itu---" Kata-katanya terhenti menatap Shui yang mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu mau uang berapa?" tanya Shui meraih phonecellnya.
Sebenarnya Kara juga bingung saat ini. Fu biasanya menempel tanpa dirayu sedikitpun, bahkan dirinya lebih sering bersikap dingin. Tapi kini? Pemuda yang hanya dapat menghela napas kasar.
"Aku tidak perlu uang dari batu bersinar (handphone). Aku memerlukan hatimu." Ucap Kara membuat Shui terdiam.
"Makanlah!" Hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut Shui. Membuat Kara hanya dapat menghela napas berkali-kali.
Tidak mengetahui tangan Shui saat ini gemetar menahan rasa bahagianya. Wanita yang mudah tersipu hanya dengan rayuan si pembuat masalah.
"Apa dia serius?" batin Shui mencuri pandang menahan senyumnya.
*
Wanita yang mungkin tidak bereinkarnasi selama 500 tahun. Mengapa? Karena tidak ada pria yang menyentuh atau meniduri Fu. Tanda tato di belakang leher Fu menjadi penghubungnya. Dirinya bukan hanya dapat mempertaruhkan nyawanya untuk menjaganya. Namun berefek wanita itu tidak dapat dimiliki oleh pria manapun, semacam tanda kesetiaan.
Namun mengapa Fu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Itu karena tanda itu tidak berfungsi kala Junichi dalam pertapaannya. Hanya dapat mengetahui, tapi tidak dapat melindungi. Menyiksa bukan?
Sonya kini berdiri di hadapan mereka beserta Rita (ibu Sonya).
Kara hanya berjalan melewati mereka sambil tersenyum, mendorong kursi roda milik istrinya.
"Kara," panggil Sonya tiba-tiba.
Sedangkan jemari tangan Shui mengepal, menunggu reaksi dari suaminya. Baru akan murka kemudian, enak saja berselingkuh terang-terangan di depannya.
__ADS_1
"Apa? Sudah berapa kali aku bilang anak selir sepertimu sebaiknya diam dan tau diri." Hanya itulah kata-kata darinya dengan nada malas.
Tidak memiliki status, miskin, wajah juga dipenuhi tepung(makeup) bagaikan topeng, apa kelebihannya hingga Kara yang asli menyukainya. Junichi menghela napasnya.
"Kara, ada yang mau aku bicarakan. Nanti siang kita bicara di cafe ya?" pintanya sedikit melirik ke arah Shui yang cacat. Wanita yang pastinya tidak akan memuaskan Kara di ranjang.
Sama seperti rencana semula, merebut perhatian Kara. Kemudian Kara dapat menjalin hubungan dibelakang Shui, dengannya. Pelan-pelan menguasai harta wanita itu, lalu dirinya dapat bersama Kara, mengingat Defan yang semakin sibuk belakangan ini. Entah kenapa rupa dan sifat dingin Kara membuatnya tertarik pada pemuda yang dulunya kekanak-kanakan tersebut.
"Tidak! Jangan dekati aku atau calon anakku!" tegas Kara mendorong kursi roda Shui dengan cepat. Meninggalkan tempat tersebut.
Mengapa? Putranya yang ada di perut istrinya tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Dirinya akan mendidik anaknya dengan baik setelah lahir nanti. Namun sejenak dirinya terlihat ragu, teringat dengan masa kecilnya yang memakan bangkai dan ulat. Apa putranya juga akan sama?
Apa akan memiliki sifat alami siluman? Tidak apa dirinya akan mengajari perlahan, seperti sang biksu mengajarinya dulu.
Pintu mobil dibukakan olehnya, mengangkat tubuh istrinya agar tidak ada yang menyadari Shui sudah dapat berjalan dengan normal.
"Yang mulia istri..." ucapnya tersenyum menyodorkan sebotol air mineral. Shui meraihnya memasang wajah dingin, tapi ingin sekali rasanya tertawa berguling-guling melihat suaminya yang semakin hari semakin aneh saja.
Mobil melaju melintasi gerbang besar yang terbuka sendiri. Kara menyetir mobilnya seperti manusia biasa. Mulai beradaptasi dengan kehidupan manusia saat ini seperti kata Star (siluman rubah). Harus berusaha berbaur agar tidak terlihat kikuk.
"Kara, apa kamu mau bergabung di perusahaan, setelah lulus nanti?" tanya Shui ragu. Dirinya belum yakin, tapi hanya Kara yang menjaganya saat ini.
"Membantu pekerjaanmu? Akan aku lakukan, tapi dengan satu syarat, jangan pernah memasuki kampusku lagi," pintanya dengan nada serius. Mereka tidak boleh bertemu lagi, mungkin itulah yang ada dalam hatinya.
Welan bukanlah orang yang jahat, seperti putra mahkota dahulu. Namun, tetap saja ini untuk menjaga agar masa lalu tidak terulang kembali.
Tapi apa bisa? Terkadang Kara berfikir, bagaimana jika dirinya melepaskan Fu dahulu. Apa takdir kematian kekasihnya juga akan berubah. Salah satu tangannya memegang setir, namun satu tangannya lagi menggenggam jemari tangan Shui erat.
"Kecantikanmu seperti matahari, membuat bunga-bunga mekar hari ini," rayuan ala orang jaman dulu keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Mulutmu bagaikan lato-lato tidak berhenti berbunyi dimanapun." Shui menghela napas kasar berusaha menanggapi dingin namun sejatinya melihat pantulan wajahnya di kaca spion mobil.
"Apa itu lato-lato?" tanya leluhur angkatan 1000 tahun lalu.