
Shui menghela kasar, menatap suaminya yang berniat menjemputnya hari ini. Pemuda yang terdiam duduk, membaca beberapa buku di ruangan istrinya.
Shui mengenyitkan keningnya, kembali konsentrasi pada berkas di hadapannya. Tidak mungkin Kara membaca buku sebanyak itu bukan? Mungkin itulah yang ada di benaknya.
Namun sekitar 8 buku diletakkan Kara, hingga buku ke 9. Pemuda itu mengenyitkan keningnya, kali ini cara membacanya lebih perlahan. Matanya melirik ke arah Shui, kemudian menggeleng.
Kara perlahan berjalan mendekat rasa ingin tahu yang tinggi, membuatnya memberanikan diri bertanya."Shui apa itu roti sobek? Dan apa yang dimaksud dengan gunung kembar milik wanita? Wanita jaman ini dapat membeli gunung? Berapa banyak koin emas yang diperlukan untuk membeli gunung?" pertanyaan darinya. Membuat Shui membulatkan matanya, menatap sampul novel dewasa yang dipesan Shui secara online.
Benar-benar wanita lajang yang tidak terduga. Tidak memiliki kekasih namun membayangkan ada pria yang mencintainya. Hingga sampai ke tahap tidak terduga, tahap dimana jarak minus antara pria dan wanita, juga ada dalam imajinasinya.
Dengan cepat Shui merebut buku novel yang ada di tangan Kara."Roti sobek itu, nama makanan buatan pemeran utama. Di novel ini dia seorang koki,"
"Roti sobek itu, bentuk perutmu sendiri," batin Shui. Wanita yang berdoa dalam hati semoga suaminya yang aneh, cukup aneh untuk percaya kata-katanya.
"Jadi begitu? Lalu gunung?" tanya Kara lagi benar-bebar penasaran. Mengapa? Junichi memang selalu lebih tertarik pada ilmu pengetahuan baru.
"Gunung ya? Wanita dalam novel cukup kaya hingga dapat membeli gunung." Jawaban spontan darinya.
"Gunung? Itu yang setiap hari kamu lihat saat memandikanku." Hal yang ada dalam fikiran Shui, berusaha tersenyum.
"Tunggu! Aku ingin membandingkan dengan kalimat aneh pada buku itu, kenapa seperti tidak singkron." Ucap Kara, namun dengan cepat Shui memasukan buku novel ke dalam lacinya.
"Kamu sudah makan?" tanya Shui gelagapan menggerakkan kursi rodanya.
"Sudah, malam ini aku makan ayam goreng, rasanya lumayan enak. Terutama lapisan tepungnya, ditambah dengan minuman yang rasanya seperti petir (minuman bersoda)," jawaban darinya yang memang sejatinya banyak bicara.
"Begitu? Kamu menyukainya?" tanya Shui, menghela napas berkali-kali. Tidak ingin membahas tentang buku yang merusak citra baiknya lagi.
"Aku menyukainya," Kata-kata dari Kara.
Shui menghela napas kasar."Kara, semenjak menikah kita tidak pernah mengunjungi rumah keluargamu. Ayahmu ingin kita datang besok, sekalian menginap satu atau dua hari. Aku akan meminta mereka membuat makanan yang kamu sukai. Aku juga akan membawa dua orang pelayan pribadi, untuk membantuku mandi."
__ADS_1
"Akan menginap?" tanya Kara berusaha tersenyum. Sejatinya dirinya tidak mengetahui tentang rumah Kara. Terbangun di sebuah ruangan dalam kondisi tubuh rusak akibat keracunan. Dibawa ke tabib aneh (dokter), kemudian langsung di persiapkan untuk menikah dengan Shui Murren.
Tidak ada kesempatan untuknya, mempelajari tentang keluarga Kara. Orang-orang yang dikenalnya hanya Shim, Farhan dan Defan. Sedangkan Kerrel sang kakak kedua tidak pernah ditemuinya sama sekali.
Pemuda itu berusaha menenangkan diri. Bukankah ini juga permintaan Kara yang asli? Ingin membuat ayahnya bangga, seperti kedua kakaknya. Si bungsu yang tidak berguna? Begitulah orang-orang mencibirnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka jika menginap?" tanya Shui.
"Aku suka, tapi tidak perlu ada pelayan. Biar aku yang membantumu mandi," jawaban dari Kara, penuh senyuman. Wajah rupawan terlihat menggoda. Namun, tidak pernah menyentuh istrinya sendiri.
Terkadang Shui tidak mengerti, pria normal dalam novel yang dibacanya jangankan melihat tubuh orang yang dicintainya. Melihat tubuh wanita lain saja akan bereaksi. Satu hal yang tidak dimengertinya. Apa suaminya tidak normal?
Namun, hal itu ditepisnya. Tidak boleh mencintai atau peduli dengan Kara. Kara mencintai Sonya, bahkan dengan tegas mengatakannya sebelum pernikahan mereka. Apa tujuan Kara bersedia menikah dengannya? Pemuda ini akan menikamnya dari belakang. Berselingkuh diam-diam dengan adiknya yang cantik. Karena itu cepat atau lambat dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya mereka harus bercerai.
Shui meraih susu yang kaya akan kalsium di mejanya kemudian meminumnya, hingga tandas.
Kara mengenyitkan keningnya. Menatap bekas putih dari sisa susu yang tertinggal. Benar-benar mengganggu pemandangan. Sang pemuda meraih tissue, membersihkan sisa susu di bibir istrinya.
"Tahu rasanya susu yang aku minum?" tanya Shui pada pemuda yang berada di jarak terlalu dekat dengannya.
"Tidak, aku tidak pernah---" Kata-kata Kara terpotong.
Dorongan usia, wanita yang tidak pernah jatuh cinta, kini memiliki suami. Tinggal satu kamar dengan seorang pria aneh yang bahkan sering memandikannya. Tidak akan mencintai Kara? Apa bisa?
Shui mengalungkan tangannya, mengecup bibir Kara. Perlahan menjilatnya, sepasang bibir yang terbuka mulai menjelajah.
Ini benar-benar sulit dielakkan, otak mereka saling memanfaatkan dan berperang menyusun strategi. Sedangkan hati mereka pacaran, bagaikan hubungan Romeo dan Juliet yang ditentang keluarga. Hingga setiap ciuman terlepas yang tersisa hanya rasa canggung dan bersalah.
"Sial kenapa aku menciumnya lagi! Bibir bodoh!" batin Shui, mengalihkan pandangannya.
"Kenapa aku membalasnya? Fu benar-benar akan kecewa jika dia tahu. Tenang Junichi, jaga batasanmu, ini hanya bagian untuk menjadikan Shui batu pijakanmu." Hal yang ada dalam otak Kara, sama-sama mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Suami istri canggung yang tidak mesra sama sekali. Itulah mereka.
*
Sedangkan di tempat lain.
Deretan gedung pencakar langit terlihat. Mata seorang pria hanya menatapnya dari atas gedung apartemen miliknya. Pemuda yang tengah mengangkat panggilan dari ayahnya.
"Besok pagi Kara akan pulang?" tanya Defan pada orang di seberang sana.
"Iya, Shui Murren juga akan datang. Jangan membuat hal yang memalukkan. Dan jangan membahas betapa memalukannya masa lalu adikmu. Shui Murren terlihat menyukai Kara. Ini bagus untuk kerjasama beberapa proyek perusahaan kita," ucap Farhan pada putranya.
"Sampai sekarang aku tidak mengerti, diantara kami bertiga, kenapa ayah memilih Kara untuk menikah dengan Shui Murren?" satu hal yang tidak dimengerti Defan. Jika dirinya atau Kerrel akan lebih bermanfaat daripada Kara yang kekanak-kanakan, bahkan menentang pernikahannya dulu.
"Atmaja yang memilih. Dia mengetahui situasi perusahaan kita, menawarkan investasi tapi menginginkan Kara untuk menjadi menantunya." Jawaban dari Farhan.
"Begitu? Besok pagi aku akan pulang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku bereskan." Defan mematikan panggilannya. Matanya menelisik menatap seorang wanita penghibur yang tergeletak di ranjang dengan mulut yang berbusa.
"Terlalu cepat mati," gumamnya, melihat ke arah jam dinding, mengukur waktu kematian. Pemuda yang tersenyum mengenyitkan keningnya."Bagaimana cara membereskannya kali ini?" gumamnya.
*
Malam semakin menjelang, mungkin sekitar pukul 2 pagi. Mata Kara, tiba-tiba terbuka, pemuda yang berjalan membuka pintu balkon kamarnya. Melirik istrinya yang masih tertidur.
Perlahan menjatuhkan dirinya dari balkon lantai dua kamarnya. Robekan piyama terlihat, rambutnya terkena angin kala dirinya tertarik gravitasi bumi.
Sementara itu Herlan tidak dapat tertidur sama sekali. Berapa kali pun difikirkannya ini tidak masuk akal. Alien yang ingin menguasai bumi? Robot modern menyerupai manusia? Apa yang sebenarnya terjadi?
Perlahan matanya tertutup, hendak terlelap dalam mimpinya.
"Budak! Bantu aku mencari tempat dimana banyak orang yang tidak bermoral, tempat perjudian, penjualan wanita malam, tempat pembunuhan juga boleh," suara yang dikenal oleh Herlan.
__ADS_1
Pemuda itu membulatkan matanya menoleh ke arah asal suara. Seorang pemuda rupawan duduk di jendela, dengan mata memerah, sepasang sayap hitam itu terlihat, memantulkan sinar bulan yang redup.