
"Jadi Fu sudah kembali?" tanya sang Kaisar penuh senyuman.
"Benar yang mulia," jawaban dari Kasim.
"Berikan titah padanya untuk datang ke istana. Hanya datang dan bertemu denganku." Sang kaisar tersenyum, meraih stempel untuk pengiriman stok makanan pada pasukan perdana menteri.
Dirinya terdiam sejenak kemudian mulai berfikir. Dirinya mungkin akan kalah dalam perang, ditumbangkan dari kekuasaannya. Jemari tangannya gemetar, semakin geram menatap permaisurinya dari hari ke hari.
Sang Kaisar terdiam sejenak, menghela napas kasar. Tangannya menulis dengan cepat, tentang keputusannya pada permaisuri yang telah berkhianat darinya.
*
Srash!
Sang perdana menteri menunggangi kudanya, membawa pedang yang tidak begitu besar. Menebas musuh yang terlihat, tetesan darah belum mengering dari pedangnya."Rapatkan formasi!" perintahnya.
Prajurit mulai mundur, menjadikan perisai mereka sebagai pelindung."Serang!" perintah perdana menteri lagi bersamaan dengan pasukan pemanah yang menembakkan panahnya ke udara. Dan prajurit-prajurit yang memegang tombak, mengarahkan tombak panjang mereka dari celah barisan perisai.
Tubuh pasukan lawan terkena satu, bahkan dua panah sekaligus.
Sang perdana menteri memang tidak berpengalaman dalam perang. Hanya mengandalkan otak untuk dapat bertahan. Suara teriakan dari beberapa orang yang membawa perisai terdepan terdengar. Tombak menghujam perut mereka, namun masih tetap bertahan. Tidak ada waktu untuk menangisi kematian rekan-rekan mereka disana. Hanya harapan ingin hidup untuk melihat keluarga sudah cukup. Keluarga yang mereka lindungi, tidak ingin pasukan jenderal bergerak masuk ke ibukota.
Burung gagak pemakan bangkai berterbangan, mencabik-cabik bangkai yang tidak sempat dikubur. Perdana menteri terdiam, untuk pertama kalinya menatap kematian sebanyak ini. Menyeka darah lawan yang terciprat di wajahnya.
Bau amis darah tercium menyengat. Tubuh-tubuh pemuda yang tidak utuh, jiwa yang pergi meninggalkan keluarga mereka yang menunggu kepulangan.
Kini dirinya tidak haus dengan kekuasaan. Mata-mata prajurit yang telah mati tidak menyiratkan untuk menginginkan kenaikan pangkat, namun menyiratkan keinginan untuk memukul pasukan pemberontak mundur, agar tidak membunuh penduduk tidak bersalah di ibukota.
Srash!
Dengan susah payah, perdana menteri menunggangi kuda berusaha membunuh lebih banyak lagi. Tidak memperdulikan perutnya yang lapar atau apapun. Jika pasukan pemberontak masuk dan berhasil menang, bukan hanya dirinya, tapi kepala seluruh keluarganya akan digantung di alun-alun. Itulah peperangan sesungguhnya.
"Aku ingin hidup, aku ingin seluruh keluargaku hidup," batinnya, menggerakkan kudanya. Sedangkan seorang penunggang kuda lain mengikutinya, membawa bendera merah, memberi kode untuk formasi, mengikuti perintah perdana menteri.
"Perdana menteri, pasukan mereka menaiki gunung. Tidak lama lagi kita akan terkepung dari depan dan belakang. Kita akan kalah..." salah seorang prajurit yang bertugas mengawasi posisi belakang terlihat putus asa. Menginginkan secercah harapan untuk hidup.
__ADS_1
"Serang!" perintah menggelegar dari jendral yang berkhianat dari kaisar. Formasi kacau, setelah berhasil dipecah, dirinya diambang kematian dan keputusasaan.
Bruk!
Kuda yang ditungganginya di panah beberapa kali hingga akhirnya mati. Dirinya terjatuh, mencoba bangkit dengan menjadikan sarung pedangnya sebagai tongkat.
Srash!
Tang!
Serangan pedang dan tombak berusaha di tangkisnya. Tapi percuma terlalu banyak, pasukan yang dikirimkan kaisar juga tidak mencukupi.
Srash!
Jenderal tiba-tiba datang menebas lengan sang perdana menteri, membuatnya tidak dapat begitu banyak bergerak.
Bug!
Tubuh lemah tersebut ditendang. Tersungkur di tanah berlumpur.
"Aku tidak sepertimu yang berkhianat pada negara. Bagaimana pun, ada orang-orang tidak berdosa disana---" Kata-kata perdana menteri disela.
"Kaisar yang begitu bodoh! Dia orang tidak berguna, sama sepertimu. Sebuah sampah, tikus yang menggerogoti lumbung padi bahkan lebih berharga dari kalian. Tutup matamu! Aku akan memenggalmu hari ini," ucap sang jendral tersenyum, benar-benar membenci saingan politiknya.
Tangan perdana menteri mengepal. Apa siluman si*lan itu akan menepati janjinya? Tapi hanya ini harapannya, untuk dapat pulang dan melindungi penduduk kota.
Siapa yang akan rela putrinya menikah dengan siluman. Namun, ini harus dilakukannya, jika jendral menang, bukan hanya dirinya tapi Fu juga akan mati.
"Kamu yang akan mati, mulai saat ini keadaan akan berbalik," gumam perdana menteri memuntahkan darah dari mulutnya.
"Masih juga bisa sombong," sang jendral mengayunkan senjatanya, hendak merobek wajah perdana menteri.
"Junichi," suara lemah dari perdana menteri, sebelum dirinya terkena hujaman pedang . Bersamaan dengan kabut yang memenuhi medan perang. Udara terasa benar-benar dingin. Seluruh burung gagak yang ada di tempat itu, terbang dengan mata berwarna biru pekat.
"Ada apa ini!?" gumamnya jenderal melihat keadaan di sekitarnya. Hingga seekor burung gagak tiba-tiba hinggap di pedangnya.
__ADS_1
Tubuh perdana menteri juga tiba-tiba menghilang dari penglihatannya. Tangannya mengayun menyerang seekor gagak di tengah kabut.
Apa yang terjadi sebenarnya? Ilusi, itulah salah satu kemampuan Junichi. Perdana menteri mulai berusaha bangkit memegang luka di perutnya, merintih meminta pertolongan prajurit yang ada di dekatnya. Sedangkan jenderal sendiri menebas ke sembarang arah meracau tidak jelas.
"Ini dimana!? Burung gagak sialan! Aggh!" teriaknya tidak jelas.
Hanya jenderal? Tidak, pasukan jenderal juga mengalami hal serupa. Sifat kabut yang tidak dimengerti perdana menteri. Tidak mengetahui prajuritnya tidak mengalami hal serupa, hanya berpengaruh pada jenderal dan prajuritnya saja.
"Kita mundur!" perintah sang perdana menteri, dipapah dua orang prajurit.
Sedangkan salah satu prajurit perdana menteri, mencoba menebas punggung jendral. Tapi jenderal yang memiliki ketajaman indra, menebas balik sang prajurit.
Langkah mundur diambil perdana menteri, sebuah percobaan yang membuatnya tersenyum. Junichi menepati janjinya. Kemungkinan menang menjadi lebih besar.
Kala pasukan perdana menteri mundur ke dalam hutan kembali menyusun strategi. Saat itu juga kabut itu lenyap. Membuat jendral benar-benar murka. Dirinya hampir memenangkan perang.
Sang perdana menteri di baringkan di bawah pohon. Luka serius dialaminya, perutnya benar-benar terluka terlalu dalam. Hingga tiba-tiba kupu-kupu aneh berwarna hitam pekat terbang menembus hutan. Kupu-kupu yang hinggap pada luka perdana menteri, perlahan melebur membuat luka itu pulih sepenuhnya.
Sang perdana menteri meraba perutnya."Apa ini juga perbuatannya?" gumam sang perdana menteri.
*
Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Kunang-kunang beterbangan dalam gua yang gelap. Sinar-sinar kecil indah yang berada di sekitar Junichi.
Matanya terbuka namun ekspresinya tenang, tidak ada bagian hitam dari matanya. Hanya putih menampakan sinar aneh.
Huek!
Pemuda itu memuntahkan darah hijau pekat dari mulutnya. Kembali menjaga posisinya mencoba untuk tenang. Luka di bagian perut jendral berpindah padanya. Pakaian hitam miliknya perlahan basah dengan darah hijau yang menetes.
Kulit putih pucat, sang pemuda yang terdiam, tidak mempedulikan tubuhnya yang perlahan rusak. Tidak memiliki pertahanan sama sekali, dirinya sama lemahnya dengan manusia biasa saat ini.
Setiap luka yang dialami kekasihnya diketahui olehnya. Dirinya tetap terpaku dengan wajah tenang, mata memutih mengeluarkan cahaya. Namun, entah mengapa setetes air mata mengalir, melewati pipinya. Setiap cambukan, pukulan, tamparan, segalanya dirasakan Fu diketahui olehnya. Tidak dapat, tidak boleh bergerak sama sekali.
Terpaku dalam rasa sakit untuk merindukannya.
__ADS_1