
Herlan menelan ludahnya berkali-kali. Mengikuti wanita ini yang menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Matanya menelisik, benar-benar cantik, terlihat sempurna. Disaat seperti inilah kesetiaannya pada anak ibu kost diuji.
Berusaha dengan keras mengingat wanita ini. Namun, dirinya hanya pernah melihat Star di televisi. Akting yang begitu sempurna, di tambah suara merdu yang begitu indah.
"Mau menyewa kamar hotel? Akan lebih private untuk bicara," ucap Star tersenyum.
Kamar hotel? Jantung Herlan berdegup cepat, bukan karena jatuh cinta. Tapi membayangkan apa yang akan terjadi di kamar hotel nantinya. Apa wanita ini pengagum rahasianya?
"Kamar hotel? Kita akan melakukan apa?" tanya Herlan ragu, seorang perjaka yang masih malu-malu. Pura-pura tidak tahu.
Star sedikit melirik ke arah pemuda di sampingnya. Junichi biasanya lebih cerewet, tidak pernah bersifat malu-malu. Lebih tepatnya sifat Junichi terlihat bermartabat, ketika tidak bicara. Apa disegel selama 500 tahun membuatnya berubah?
"Be... begini aku tahu kamu seorang selebriti. Tapi membawa seseorang ke hotel, aku... apa sebaiknya kita membeli pengaman?" tanya Herlan. Bagaimanapun mana ada pria yang dapat menolak seolah selebriti ternama yang memiliki aura cantik tidak terelakkan.
Dirinya masih bimbang saat ini antara setia atau selingkuh selagi ada kesempatan yang tidak datang dua kali.
Kriet!
Star tiba-tiba menghentikan mobilnya, memijit pelipisnya sendiri."Kamu bukan orang yang ada di villa kan?" tanyanya memperlihatkan koran.
"Itu aku," dusta Herlan penuh senyuman.
Wanita itu menatap ke arahnya, mengeluarkan dua ekor berwarna putih. Serta api bewarna biru dari tangannya."Katakan itu kamu, maka aku akan membakarmu hingga menjadi abu,"
Herlan menelan ludahnya, mengapa di usia semuda ini dirinya bertemu dua spesies makhluk aneh."Bukan aku! Dia Kara! Pemilik restauran tempatku bekerja!"
Bug!
Bug!
Suara pintu mobil dibuka, dirinya dilempar dari mobil, hingga ke trotoar. Mobil kembali melaju meninggalkan Herlan yang duduk bersimpuh di atas trotoar. Masih ketakutan dan tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.
*
Matahari sore sudah hampir tenggelam. Seharian Kara berada di sana, membantunya, tidak membiarkannya duduk di kursi roda. Memapahnya terus menerus, tidak peduli dirinya terjatuh. Mengajarinya agar terbiasa sedikit demi sedikit. Kaki yang belasan tahun tidak bergerak, otot yang terlalu lemas.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke restauran." Ucap Kara, membawa file yang baru dikirimkan ke meja istrinya.
Shui tersenyum simpul, inikah yang dinamakan suami pembuat masalah tidak berguna? Pemuda yang tidak terlihat sama seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Mungkin dirinya mulai tersentuh dengan perilaku suaminya.
"Ada rencana rapat pukul 6 sore dengan investor asing. Keuntungannya cukup besar, ditambah nanti juga brand ambassador kita akan datang. Hasilkan uang lebih banyak," Kara mengedipkan sebelah matanya pada istrinya, kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Shui berusaha tersenyum, menghela napas berkali-kali. Seketika rasa kagumnya pada sosok suaminya lenyap. Benar-benar seorang pria tengil yang menyebalkan, ingin istrinya menghasilkan uang lebih banyak. Tidak bersikap romantis sama sekali.
Seperti pada jadwal, hari ini Shui bertemu dengan klien asing dan brand ambassador perusahaannya. Kursi rodanya didorong oleh Fahira, dan seorang asisten pribadi yang mengikuti mereka.
"Jadi sudah menemukan orang untuk mengelola restauran dan hotel?" tanya Shui.
"Sudah, omong-ngomong gaya restauran Eropa mewah milikmu dirubah. Hanya ruangan VVIP yang masih berupa restauran Eropa. Sedangkan lantai satu sudah menjadi restauran dengan konsep yang aneh." Fahira menghela napas kasar.
"Konsep aneh?" Shui mengenyitkan keningnya.
"Dua minggu ini, konsep rumah sakit dan bullying. Suamimu lumayan pintar dalam berbisnis, omset naik menjadi dua kali lipat. VVIP datang dan orang-orang dari kalangan menengah dengan usia muda juga datang," Jawab Fahira.
"Konsep bullying seperti apa?" tanya Shui penasaran.
"Pelanggan menyukainya?" tanya Shui.
"Ajaibnya iya! Mereka bahkan berfoto-foto memposting restauran kita di media sosial. Kamu harus memberikan pujian untuk suamimu. Bahkan restauran milik Azra yang ada di seberang jalan tidak begitu ramai."
Shui terdiam sejenak, masih duduk di kursi rodanya, wajahnya tersenyum."Mungkin aku harus sedikit lunak dan memberikan hadiah padanya."
*
Jalanan yang benar-benar sepi, mobil sport berwarna putih melaju dengan seorang pemuda yang ada didalamnya. Sebuah lagu terdengar, seiiring dengan kecepatan laju mobilnya.
Lagu nostalgia tahun 80-an, dengan ritme yang pelan. Jangan lupa jiwa yang ada dalam tubuh anak muda rupawan adalah sesepuh tua berusia lebih dari 1000 tahun.
Kriet!
__ADS_1
Sebuah mobil hitam menghentikannya. Kara mengenyitkan keningnya, harus bersabar dan berprilaku seperti manusia.
Bug!
Bug!
Bug!
Seorang wanita turun dari mobil, memukul mobil milik Kara. Jalanan yang sepi membuatnya lebih leluasa, dua buah ekor berwarna putih keluar dari belakang tubuhnya.
"Wanita ini!" geramnya berusaha tenang menghela napas berkali-kali.
Perlahan Kara berusaha terlihat gugup, keluar dari mobilnya."Ka...kamu, hantu!" teriaknya keluar dari mobil berpura-pura melarikan diri.
"Tunggu!" sang wanita terlihat ragu, kembali menghilangkan ekornya. Mengejar langkah kaki Kara, menarik tangannya.
"Maaf, sepertinya aku salah orang. Aku selebriti namaku Star, kamu mungkin sering melihatku di TV, ekor tadi hanya sepesial efek. Ini seperti reality show, mengerjai seseorang." Jelasnya, tidak ingin identitasnya terbongkar.
"Ja... jadi begitu? Aku fikir benar-benar hantu atau siluman. Kalau begitu, aku pergi dulu, harus melanjutkan perjalananku," ucap Kara penuh senyuman.
"Bagaimana jika kita makan malam bersama? Sekalian tidur bersama?" Sebuah tawaran dari sang wanita.
"Aku sudah menikah," Kara tersenyum menunjukkan cincin di jari manisnya. Kemudian kembali hendak menuju mobilnya.
"Tidak tergoda? Junichi..." sang wanita tersenyum menyeringai. Tidak ada pria yang dapat menahan personanya bahkan siluman sekalipun. Tapi ada pemuda yang menolaknya?
Hanya perlu satu tetes darah untuk membuktikan pemuda ini benar-benar Junichi. Star mengeluarkan cutter, wajahnya tersenyum."Aku tidak ingin kuku-kuku kotor saat menggores kulitmu. Sebaiknya katakan saja identitasmu,"
Kara menghentikan langkahnya. Benar-benar wanita yang tidak bisa di beri pengertian."Aku hanya manusia biasa, keturunan seorang cenayang. Aku dapat sedikit bertarung melawanmu," dustanya.
Pemuda yang tidak menyadari fisiknya berubah sedikit demi sedikit setia dirinya menggunakan kemampuannya. Tubuh yang sedikit lebih meninggi, padahal usianya sudah mencapai 28 tahun. Kuku-kuku yang menghitam. Benar, semakin hari tubuh Kara akan tertelan menjadi Junichi seutuhnya.
Namun, Star belum bisa memastikannya. Hanya kuku dan kulit yang pucat tidak membuktikan apapun.
Dengan cutter masih ditangannya, wanita itu bergerak cepat menyerang Kara. Tempat minim penerangan, berada dihapit area pekuburan yang luasnya hektaran membuat tempat tersebut jarang dilewati orang-orang.
__ADS_1
Tinggal sedikit lagi, satu tetes darah sudah cukup untuk memastikan identitas Junichi. Jarak cutter sekitar lima centimeter dari pipi Kara. Pergelangan tangan wanita itu dihentikan dengan mudah. Mata Kara memerah, wajahnya tersenyum. "Apa kamu mau berbaring di ranjangku?"
Sang wanita membulatkan matanya. Wajahnya seketika pucat pasi. Gerakannya benar-benar terhenti seketika. Ini bukan Junichi, sama sekali bukan.