Greatest Husband

Greatest Husband
Tidak Ingin


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, waktu terasa berlangsung dengan cepat. Kara menghela nafas kasar, memandang restoran di hadapannya yang telah tutup, membuktikan dirinya lebih baik daripada Arsa.


Kipas besar bagaikan bangsawan zaman dulu dipegangnya. Wajahnya tersenyum, memang hanya dirinya yang pantas untuk Fu.


Shui juga perlahan sudah dapat berjalan, walaupun masih duduk di kursi rodanya. Menyembunyikan kesembuhannya semuanya terasa berjalan baik-baik saja, terlihat sempurna. Tapi apa benar?


Kuku-kuku Kara mulai berwarna hitam pekat, bentuk wajahnya sedikit berubah. Terlihat lebih rupawan lagi, perlahan menyerupai Junichi. Namun, dengan rambut yang pendek.


Menyadari segalanya, dirinya memang bukan manusia dari awal. Menghela nafas kasar tetap tersenyum.


"Kita berangkat kuliah sekarang!" ucapnya pada Herlan.


"Kamu ganti penampilan? Melakukan operasi plastik?" tanya Herlan mengenyitkan keningnya. Wajah yang berubah sedikit demi sedikit dari hari ke hari.


"Ini memang wajah asliku. Tubuh ini akan menjadi milikku, orang yang ada di dalamnya benar-benar sudah mati atau mungkin sudah berinkarnasi?" jawabnya.


"Jadi Kara tidak bisa hidup kembali? Kamu akan hidup sebagainya selamanya?" Herlan beringsut mundur takut jika tubuhnya yang akan diambil oleh Junichi.


"Jika Kara belum reinkarnasi dan aku ingin dia kembali. Dia dapat kembali tapi takdir hidupnya memang sampai di sini, karena itu jika ingin dia hidup maka aku akan mati menggantikannya bereinkarnasi. Kenapa kamu takut selanjutnya tubuhmu yang akan aku ambil?" Kara tersenyum berjalan meninggalkan Herlan yang mengeluarkan keringat dingin ketakutan.


"Tunggu!" teriaknya menghentikan mobil sport putih milik kara.


Walaupun takut, ini adalah cara menghasilkan uang yang paling cepat. Beberapa bulan ini entah berapa orang yang telah dijebloskan Kara ke penjara. Sedangkan dirinya beberapa kali diliput oleh wartawan menggantikan Kara.


Pria yang cukup terkenal ketika turun dari mobil, tepat di depan kampus. Mereka, dua orang yang dulunya pecundang itu disambut beberapa wanita yang ingin berkenalan dan meminta akun media sosial.


Ini benar-benar hidup yang menyenangkan bagi Herlan.


Namun tiba-tiba Kara menghentikan langkahnya, matanya menelisik mengamati seorang pria yang mungkin berusia 2 tahun lebih tua dari usia Kara saat ini. Wajah yang sama, seseorang yang telah berbuat banyak kecurangan.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanyanya.


"Hah?" Sang dosen muda mengenyitkan keningnya tidak mengerti.

__ADS_1


Pria yang tersenyum ramah."Kamu mungkin salah mengenali, aku baru mulai mengejar hari ini di universitas ini,"


Kara tersenyum sinis. Mengapa pria ini lahir dengan wajah yang sama? Benar-benar aneh baginya."Jika saja bukan karenamu, aku tidak akan mati," batinnya.


Dua orang yang saling berpapasan tanpa kalimat lagi yang terucap. Sang dosen yang meninggalkan kampus, sedangkan Kara yang memasuki kampus. Wajah penuh senyuman yang memudar terlihat dingin tanpa ekspresi jemari tangannya gemetar, apa takdir yang sama akan berulang?


"Kara, aku sudah mendapatkan nomor beberapa wanita. Kamu mau? Jangan terlalu takut. Asalkan istrimu tidak tahu, tidak akan terjadi apa-apa." Ucap Herlan dengan niatan busuk untuk tidak bersenang-senang sendirian. Mungkin tanpa disadarinya dirinya sudah menganggap Junichi sebagai sahabat.


"Aku tidak tertarik. Shui lebih cantik dan sempurna mereka jauh di bawah standar." Jawaban dari Kara.


Brak!


Suara benturan terdengar dari tempat parkir kampus. Mayat seorang wanita terlihat remuk di atas sebuah mobil. Kedua orang yang menengok ke arah belakang, seorang mahasiswi bunuh diri. Darah menetes dari atas mobil kijang yang entah milik siapa. Atap mobil terlihat bengkok tubuh yang benar-benar remuk, mata yang terbuka benar-benar suasana yang mengerikan.


"Ada yang bunuh diri! Cepat telepon ambulance, hubungi polisi!' teriak seorang mahasiswa semua orang tiba-tiba berada dalam kepanikan.


Bukan kasus bunuh diri biasa, suara mobil polisi terdengar diiringi dengan suara ambulans. Kara menonggakkan kepalanya menetapkan ke arah atap gedung empat lantai tersebut. Tidak ada seorangpun di atas sana.


Apa benar ini hanya bunuh diri?


*


Pintu mulai terbuka, dengan cepat sang rektor memegang tangan Herlan."Bisa kamu membantuku? Aku akan memberikan imbalan untukmu. Tolong cari alasan mahasiswi itu bunuh diri," pintanya memelas.


Bagaikan mencium aroma uang, pemuda itu terlihat antusias. Hanya mencari alasan seorang mahasiswi bunuh diri. Itu akan mudah, paling juga putus cinta atau broken home pemikiran yang sangat pintar. Hanya perlu mencari informasi dari orang-orang di sekitarnya.


"Aku akan mencari penyebab sebenarnya, ini sebagai wujud rasa kemanusiaan." Ucap sang pahlawan yang telah menyimpan banyak uang dari gajinya sebagai kasir, serta menggantikan Kara menerima banyak penghargaan serta wawancara eksklusif stasiun TV.


"Bapak akan percayakan padamu, sebenarnya kasus ini sedikit aneh. Sherla (mahasiswi yang bunuh diri) cukup berprestasi orang tuanya dari kalangan atas keluarga yang cukup harmonis, Sherla tidak memiliki pacar juga tidak memiliki begitu banyak sahabat. Hanya dua orang sahabat baik, keduanya pun mahasiswi berprestasi yang tidak pernah memiliki masalah. Tolong kamu bantu selidiki," pinta sang rektor.


Herlan menelan ludahnya sendiri sesuatu yang pada awalnya dianggapnya mudah, ternyata lebih sulit dari dugaan. Tidak memiliki kekasih, keluarga yang sempurna, memiliki sahabat yang juga tidak bermasalah. Bagaimana cara menyelidikinya? Mungkin seharusnya dirinya bertanya pada Kara. Lagi pula bukan kasus pembunuhan hanya kasus bunuh diri biasa akan mudah untuk menemukan penyebabnya.


Tapi apa benar? Saat ini Kara berada di atap. Menatap garis polisi yang melintang dari tempat sang mahasiswi terjatuh. Cukup membingungkan memang, tidak ada yang melihat persis, bagaimana mahasiswa itu terjatuh.

__ADS_1


Namun, terdapat bau yang tidak asing, cairan pria ada di dalam tubuh sang gadis samar-samar tercium oleh Kara, pria yang sensitif dengan bau b*ngkai. Pihak keluarga mungkin tidak akan mengadakan otopsi menginginkan putrinya tenang di sana dengan tubuh yang utuh. Tapi apa akan bisa tenang?


Penyebab kematian yang tidak pasti, Kara tidak dapat mendekati tempat tersebut hanya melihatnya sepintas dari keramaian orang-orang yang mengambil gambar untuk diunggah di media sosial.


Itulah keanehan orang-orang yang ada di sini, bukannya mengambil objek foto pemandangan, malah mengambil gambar bencana kebakaran atau hal-hal lain bagaikan wartawan dadakan.


*


"Kara ternyata kamu di sini," Herlan tersenyum tiba-tiba memukul bahunya.


Kara menatap tajam padanya benar-benar lancang pada majikannya sungguh budak yang berani.


"Berani-beraninya mau aku menghukummu dengan hukuman cambuk?" tanya Kara.


"Ampuni hamba yang mulia Kaisar," ucap Herlan tertunduk.


"Yang penting bos senang," itulah yang ada di benaknya saat ini. Tidak peduli hal gila apa yang dilakukan pemuda di hadapannya ini.


"Sekarang kamu akan menyelidiki kasus ini? Menurutmu kenapa mahasiswi ini bunuh diri?" tanya Herlan.


"Aku tidak mau terlibat, hanya iblis tingkat terendah. Mahasiswi ini dibunuh, bukan bunuh diri." Kara tersenyum sambil berjalan menuruni tangga.


"Tapi biasanya kamu tertarik pada kasus-kasus semacam ini. Kenapa jadi acuh? Kasus ini benar-benar harus dipecahkan. kemampuanmu akan bertambah menjadi semakin kuat," ucap Herlan antusias, penuh harap isi dompetnya akan menebal.


"Aku tidak memerlukannya lagi, semakin tinggi kemampuanku, wajah asliku akan kembali. Saat itu aku akan kembali menjadi siluman seutuhnya seperti dulu. Tidak bisa bersama dengan istriku, jadi aku akan berhenti. Memiliki anak lebih penting kan?" Ucap Kara tersenyum.


Bug!


Pintu mobil ditutupnya, di dalam mobil sudah ada beberapa buah persik, bunga Peony serta anggur. Menginginkan melewati malam yang menyenangkan walaupun wajah pemuda itu masih terlintas di benaknya.


Seseorang yang menjadi dosen baru di kampus tersebut, asalkan tidak bertemu dengan Shui tidak akan masalah.


Wajah pria rupawan yang dipercayakan untuk menjaga Fu. Mengingkari janjinya, lalu ketika dewasa dikuasai keserakahan untuk memiliki Fu sepenuhnya.

__ADS_1


Kara menghela napas kasar, menikmati hidup ingin mengetahui hal yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2