Greatest Husband

Greatest Husband
Takdir


__ADS_3

Sebuah takdir yang aku inginkan untuk menghilang. Tapi itu tetap terjadi.


Wanita dengan selang infus di tangannya, nyawanya masih dapat diselamatkan. Air matanya mengalir.


"Maaf, mayat Kara belum ditemukan. Tapi ayah akan tetap mencarinya." Atmajaya menggenggam jemari tangan putrinya. Hanya Shui yang dimilikinya saat ini setelah Sonya menghilang entah kemana.


Shui terdiam sejenak air mata tidak henti-hentinya membasahi pipinya. Ingin dihentikannya tapi tetap tidak bisa."Ayah, jangan mencarinya. Kara tidak akan pulang."


"Di...dia akan kembali, ayah akan menemukannya hidup atau mati. Lagipula kejadiannya di dermaga. Semua korban sudah ditemukan. Kara pasti---" Kata-kata sang ayah disela.


Shui menggeleng."Dia bukan manusia, ayah tau bukan? Dia bilang akan mati, dia memutuskan untuk mati."


Atmaja hanya terdiam memeluk erat tubuh putrinya yang mulai menangis lirih."Dia mati karenaku. Ayah aku membunuhnya..." ucapnya terisak, memeluk tubuh ayahnya.


"Ini adalah pilihannya. Sama seperti dulu," Kata-kata dari mulut sang ayah, menepuk punggung putrinya berusaha menenangkan.


Kelopak bunga Peony yang ada dalam vas kaca berguguran. Tertiup angin terbang entah kemana.


Begitu banyak kabar duka termasuk kematian Defan. Dengan begitu seluruh aset berupa apartemen dan villa milik almarhum mulai dibersihkan.


Beberapa orang yang disewa mulai membersihkan apartemen.


"Aku dengar tempat ini milik seorang dokter." Ucap seorang pekerja.


"Pantas saja tempatnya bersih dan rapi. Apa yang harus dibersihkan?" gumam pekerja lainnya.


"Sudah! Paling tugas kita mengosongkan isi kulkas dan membersihkan debu di bagian atas." Sang petugas menghela napas kasar menatap vakum cleaner yang bergerak otomatis berkeliling ruangan membersihkan debu.


Hingga sang petugas mulai membuka wadah alumunium besar, dengan bau bagaikan zat kimia. Tidak curiga sama sekali, mungkin ini obat-obatan, itulah yang ada di fikirannya. Hingga pada akhirnya tutup wadah tersebut dibuka.


"A...ada kerangka!" teriaknya gemetaran.


*


Pada akhirnya segalanya terlihat jelas, potongan puzzle yang terkuak. Beberapa orang menghilang, serta keterangan Kerrel yang sudah sadar. Pemuda yang sempat koma akibat diracuni kakaknya sendiri.


Kala itu Farhan hanya dapat memeluk dan menjaga satu-satunya putranya yang tersisa. Setelah pencarian oleh tim SAR berakhir, Kara dinyatakan meninggal, dengan mayat yang tidak ditemukan. Mungkin hanyut terbawa arus laut.


Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan hati? Hari ini Welan datang setelah enam tahun tinggal di luar negeri. Dirinya mencoba mendekati Shui, namun tidak membawakan hasil. Pada akhirnya menjadi pengajar di salah satu universitas di California.


Hanya dapat menghela napas kasar, cincin di jari manisnya tersemat. Pertanda dirinya sudah mengikat sumpah di hadapan Tuhan dengan seorang wanita. Tepatnya jaksa, memiliki seorang anak perempuan.


Takdir yang berubah? Tentu saja mungkin menjadi kearah yang lebih baik. Selama dua tahun mengejar Shui, wanita itu tidak merespon sama sekali, terhanyut dalam pekerjaannya. Hingga mereka hanya memutuskan memiliki status sebagai sahabat.


Kini sudah tahun ke 9 dari menghilangnya Kara.


Bug!


Pintu terbuka, terlihat Welan masuk tanpa sungkan."Aku sudah pergi selama 6 tahun. Tapi kamu masih belum menikah juga." Sindirnya duduk di sofa.


Shui mengangkat telponnya, menghubungi pantry."Bawa dua lemon tea ke ruanganku."


Wanita itu mengenyitkan keningnya, mulai bangkit, duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Welan."Anakmu perempuan? Aku yakin akan sama cerobohnya dengan ayahnya." Tawa terdengar dari mulut Shui.


"Iya! Iya! Yang mempunyai anak sempurna. Tapi aku heran, bagaimana cara kamu mengajarinya. Begini, tidak ada orang yang sempurna di berbagai bidang, olahraga, akademik, bahkan seni." Ucap Welan penasaran.


Shui menatap penuh keseriusan."Akan aku katakan sebuah rahasia. Tapi berjanjilah akan menyimpannya seumur hidupmu." Dengan cepat Welan menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Menelan ludahnya, ingin menerapkan cara Shui mendidik Han (anak Shui berusia sekitar 8 tahun).


"Sebenarnya anakku bukan manusia, dia itu siluman," lanjutnya.


"Kamu sudah gila! Sejak kematian suamimu! Dasar!" geram Welan melempar bantal ke arah Shui.


"Aku serius, entah kamu percaya atau tidak." Ucap Shui enteng.


"Omong-ngomong, kamu tidak berniat menikah lagi? Sudah 9 tahun. Walaupun aku sudah tidak bisa, tapi aku bisa mengenalkanmu dengan seorang pria mapan." Welan menatap intens, menghela napas kasar. Setelah kematian Kara wanita ini memang menutup hatinya.


Shui tersenyum, meraba cincin yang tersemat di jari manisnya."Kamu dapat menemukan orang tengil sepertinya lagi? Jika iya aku akan pertimbangkan." Gurauannya tertawa kecil, namun guratan kesedihan terlihat di sana.


*


Di tempat lain, seorang anak tengah melarikan diri dari supirnya. Dirinya ingin lebih bebas, malas untuk belajar, yang terpenting bermain game online.


"Mereka tidak ada kerjaan apa? Aku sudah pintar! Tidak perlu belajar." Geram sang anak, bersembunyi di atas tiang listrik. Dijadikan pijakan olehnya.


"Dimana tuan muda!?" tanya sang supir pada bodyguard. Benar-benar anak berusia 8 tahun yang merepotkan.


Pada akhirnya sang supir dan dua orang bodyguard menyebar. Sang anak tersenyum melompat turun dari atas tiang listrik."Aku selamat..." gumamnya mengendap-endap.


Hingga...


Bug!


Seorang pemuda ditabraknya. Sang anak segera menonggakkan kepalanya."Paman jangan menghalangi jalanku. Atau---"


Tapi belum sempat berbuat apapun sang pemuda mengangkat bagian belakang kerah pakaian sang anak, hingga kaki anak berusia 8 tahun itu tidak memijak tanah."Atau apa?" tanyanya tersenyum menyeringai.


"Turunkan aku! Turunkan aku! Aku adalah Han Murren! Ibuku tidak akan mengampuni mu, jika kamu---" Kata-kata sang anak disela.


"Aku akan membunuhmu! Aku akan---" Kata-kata dari bibir Han terhenti, kala dirinya yang hendak menyerang dihentikan dengan mudah. Hanya dengan mengarahkan jari telunjuknya pada dahi Han. Tenaganya melemah.


"Paman, lepaskan aku. Aku ingin pulang," ucapnya menangis terisak.


"Pulang?" Sang pemuda berambut panjang tersenyum."Bagaimana jika aku mengunjungi rumahmu, apa boleh?"


"Lepaskan aku..." pinta sang anak mulai menangis.


"Dengar, ayah yang baik harus mendidik putranya. Karena itu, ayo kita berkunjung ke rumahmu." Pria itu masih setia tersenyum, mengangkat anak kecil bandel yang bahkan dapat menghajar bodyguard yang menjaganya.


"Aku mau turun." Pinta Han.


Pria itu mengangguk."Mulai sekarang belajarlah bersikap yang benar."


Dua orang yang bergandengan pergi berjalan entah kemana."Nama paman siapa?" tanya Han menonggakkan kepalanya.


"Junichi,"


*


Terkadang ada hal tidak akan diketahui bagaimana ujungnya, termasuk jalan yang dilaluinya untuk sampai. Terdiam terpaku akan kematian, sesuatu yang membuat rohnya hancur.


Menyisakan seekor kupu-kupu hitam yang tidak disadari siapa pun meninggalkan kapal Ferry yang karam. Terbang dengan sayap lemahnya, sisa energi kehidupan terakhir yang dimilikinya. Setelah menghancurkan diri dalam ledakan.


Sinar matahari yang begitu indah, sayap kupu-kupu hitam telah rusak. Terjatuh di dermaga, kala kupu-kupu kecil itu akan lenyap, sayapnya berubah menjadi putih. Tidak ada seorang pun yang menyadari, kupu-kupu yang kembali terbang entah kemana.

__ADS_1


Hingga kini selama 9 tahun dirinya baru dapat kembali. Menonggakkan kepalanya menatap ke arah langit.


"Aku adalah makhluk dengan kasta terendah. Terimakasih, sudah menunjukkan cinta kasih-Mu pada ku." Batinnya, kembali menggandeng jemari kecil sang anak.


*


Ada beberapa hal yang sulit dipahami. Terutama ketika hari ini, putranya menghilang dan kembali ke rumah dengan seorang pria? Pria yang bahkan, berani menyuruh putranya tercinta. Sesuatu yang didengarnya dari kepala pelayan yang baru bekerja dua tahun padanya.


Dengan cepat Shui pulang ke rumahnya. Tidak terima ada orang luar yang mengatur-atur putranya. Mengapa? Hanya Han yang ditinggalkan oleh Kara padanya.


Dengan segera memarkirkan mobilnya. Berjalan cepat memasuki rumah. Matanya menelisik, menatap punggung seorang pemuda yang memberi perintah pada putranya untuk mencuci baju seragam sendiri. Ditambah tumpukan buku aneh yang ada di atas meja.


"Ibu!" Han berlari ke arah Shui, memeluk tubuh ibunya yang terdiam sejenak. Punggung seseorang yang dikenalnya.


"Jangan terlalu memanjakannya, atau dia akan mengulangi kesalahan yang sama. Mau bola manis beku," Ucapnya membawa nampan berisikan tiga porsi ice cream dari dapur.


Wanita itu tersenyum, bibirnya bergetar, air matanya mengalir."Kara..." gumamnya.


Sang pemuda yang hanya tersenyum, menyambut hari yang tidak diketahuinya kapan akan berakhir. Perlahan Shui menghapus air matanya. Duduk di meja makan.


"Minta ayahmu membuatkan banana split!" Shui tertawa kecil, tawa kebahagiaan. Apa ini mimpi? Entahlah dirinya ingin menikmati saat-saat ini lebih banyak lagi.


"Jadi dia ayahku?" tanya Han, yang segera mendekati Junichi, terlihat benar-benar gengsi.


"Ay..." Kata-katanya terhenti, Junichi berjongkok mensejajarkan tinggi badannya, memeluk tubuh putranya.


"Maaf, ayah terlalu lama," ucapnya.


"Ayah..." sang anak yang mengeratkan pelukannya."A...aku menyayangi ayah,"


*


Apa yang terjadi di masa depan? Bukankah manusia dan siluman tidak dapat bersama? Sepasang ayah dan anak memakai pakaian hitam tanda berkabung.


Lebih dari 60 tahun kebersamaan bukanlah waktu yang singkat. Ayah dan anak yang terlihat seumuran, mungkin karena dari awal mereka bukan manusia.


"Ibu meninggal di usia 90 tahun. Ayah pasti tertekan kan?" tanya Han pada ayahnya, bermain catur bersama. Ini adalah tahun enam Shui tidak hadir lagi diantara mereka.


"Awalnya akan terasa menyakitkan, tapi itulah siklus hidup manusia. Berani mencintai, artinya berani kehilangan. Kamu sendiri sudah berumur lebih dari 70 tahun tapi tidak punah pacar." Geram Junichi menatap ke arah putranya.


"Aku masih ingin sendiri, tinggal berpindah-pindah membesarkan status finansial dari keluarga Murren." Jawaban santai dari Han.


"Jadi setelah ini apa yang akan ayah lakukan?" lanjut Han.


"Mengadopsi anak, kemudian menikahinya jika sudah cukup umur. Sudah! Aku harus mengadopsi ibumu." Kata-kata dari Junichi mulai bangkit, menghentikan permainan caturnya.


Pemuda yang tersenyum, terikat dengan istrinya di setiap kehidupan. Menemaninya dari kecil hingga keriput kemudian mati. Menunggunya terlahir kembali, kemudian.


Kehidupan adalah siklus pertemuan dan perpisahan baginya. Bagaikan bulan bertemu dengan matahari. Berharap dapat bertemu dengannya lagi. Hanya dapat mencintai dan merindukannya.


"Aku tidak akan pernah jatuh cinta. Terutama pada manusia," Kata-kata yang terlontar dari bibir Han, menatap ayahnya yang pergi sembari tersenyum bahagia.


Pemuda yang kembali memakai earphonenya, membaca berkas perusahaan keluarga Murren. Tidak akan jatuh cinta? Apa benar? Sekelebat mata pemuda rupawan yang tengah membaca dokumen memerah.


"Wanita br*ngsek!" gumamnya yang diam-diam telah melakukan perjanjian dengan seseorang.


*

__ADS_1


Tidak ada yang tau tentang kehidupan, namun setiap pertemuan akan memiliki perpisahan. Apa yang tersisa? Mungkin sebuah kenangan untuk menunggu dan mencintainya.


Tamat


__ADS_2