Greatest Husband

Greatest Husband
Manipulasi


__ADS_3

Pemuda yang tersenyum menghentikan tawanya. Perlahan wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Pemuda yang masih memegang pipa besi di tangannya, berjalan mendekat.


Seorang anggota kelompok mereka, mengangkat tubuh Shui yang tidak sadarkan diri ala bridal style. Mungkin bersiap mencari celah membawa putri kesayangan konglomerat itu pergi.


"Biarkan kami pergi! Atau teman dan istrimu akan mati!" teriak sang pria paruh baya berpakaian dokter.


Herlan yang tengah ditodongkan senjata api tepat pada pelipisnya gemetar."Kara, aku belum ingin mati," gumamnya, sesekali memejamkan mata.


Tang!


Tang!


Kara menjatuhkan pipa besinya. Apa yang terburuk darinya? Sifat posesif kala kecemburuan itu ada. Matanya menelisik, bagaikan bagaimana posesifnya seorang ayah yang membesarkan putrinya. Tapi kini putrinya di sentuh seorang pria br*ngsek?


Shui yang tengah tidak sadarkan diri masih berada dalam dekapan seorang pria, yang hendak membawanya pergi.


Dirinya yang membesarkan Fu, hanya dirinya yang menyayanginya, hingga berakhir menjadi kekasihnya. Apa hak orang ini menyentuhnya? Itulah yang ada dalam fikirannya.


"Bagus! kamu sadar juga." Ucap sang pria paruh baya berpakaian dokter, memberi instruksi agar mereka melangkah keluar.


"Menyentuh istriku? Lalu kalian ingin keluar dengan selamat?" Ucap Kara tersenyum dengan perubahan warna bola matanya dari hitam, menjadi merah sesaat.


"Ka...kamu bukan manusia?" tanya sang pria paruh baya.


Kara tidak menjawab, meraih dessert fork, bergerak cepat. Melempar desert fork tepat mengenai jemari tangan orang yang menodongkan senjata api pada Herlan.


Ada sekitar lima orang yang tersisa melindungi sang dokter. Orang-orang yang memegang senjata api. Tangan mereka gemetar dalam kepanikan, serangan jarak dekat yang tidak diduga.


Prang!


Suara benturan dan pecahan kaca terdengar, kala Kara membanting tubuh salah satu dari mereka, hingga sebuah meja kaca besar hancur berkeping-keping. Sang pria berpakaian dokter diam-diam mundur, dengan seorang pria berpakaian perawat yang membawa Shui.


Sementara Herlan yang telah terbebas, bersembunyi di dalam lemari kosong yang tidak terkunci. Ingin segalanya cepat berakhir.


"Kalian fikir dapat lolos?" tanya Kara tersenyum, wajah dingin yang terlihat tanpa belas kasih. Tingkat kemampuannya saat ini, memang jauh di bawah 500 tahun lalu.


Namun, ini sudah cukup untuk Junichi memakan mereka semua. Benar-benar membabi-buta, dengan tangan kosong, melumpuhkan tiga orang lainnya dalam waktu 10 detik. Memukul dengan tenaga yang tepat, melumpuhkan syaraf mereka.


Sang dokter meraih tubuh Shui dari perawat."Lawan dia!" perintahnya.

__ADS_1


Namun sang perawat terlihat gemetaran. Bersimpuh saking lemasnya tidak dapat berdiri. Menatap orang-orang bersenjata yang entah masih hidup atau sudah mati.


Krak!


Kara meraih, mematahkan kedua lengannya. Pria yang menjerit kesakitan, berbaring di lantai.


"Itu pantas untukmu. Berapa janin yang mati di tanganmu. Selain itu, kamu beruntung aku tidak memotong tanganmu." Ucapnya benar-benar kesal dengan pria yang berani-beraninya mengangkat tubuh istrinya.


Dirinya cemburu, tidak akan mengelak lagi.


Sementara sang pria berpakaian dokter memegang pecahan kaca. Bersiap melukai leher Shui Murren."Biarkan aku pergi! Jika tidak aku akan membunuhnya!"


"Bunuh? Maka kamu akan mati," Kata-kata dari Kara. Sang pria berpakaian dokter masih berusaha menjadikan Shui sebagai sandra, mundur beberapa langkah. Sedikit pecahan kaca kini menggores leher Shui.


"Melukainya?" gumamnya.


*


Dalam waktu yang begitu singkat, wajah pria paruh baya itu sudah lebam dengan banyak benjolan di wajahnya. Apa mungkin alergi krim pemutih? Entahlah.


Kara kini mengangkat tubuh Shui, meletakkannya di sofa. Mengecup bibirnya singkat."Jangan terluka atau mati," pintanya.


Apa iblis yang jantungnya diambil akan mati? Tidak, mereka akan menghilang, kemudian kembali ke neraka. Mengumpulkan kemampuan untuk membutuhkan jantung baru, hingga dapat kembali ke dunia manusia.


Matanya menelisik menatap ke arah sang pria berpakaian dokter yang sudah tidak sadarkan diri. Iblis yang dapat mengendalikan sepenuhnya tubuh manusia. Itulah yang ada di dalam tubuh sang pria paruh baya.


Hawa menyengat tercium. Barang-barang beterbangan kala sang iblis berteriak. Gigi-gigi runcing, rambut hitam panjang.


Krak!


Bug!


Kara memegang kepala sang iblis saat hendak keluar dari tubuh sang pria berpakaian dokter. Tanpa basa-basi jantungnya dikeluarkan, menyisakan asap hitam yang menghilang.


Langsung bantai? Tentu saja, itulah yang dilakukannya tidak ingin sang iblis sempat mengeluarkan kemampuannya. Aroma yang diketahuinya, menyerap jantung berwarna biru itu.


Kemampuan untuk mengendalikan cairan, itulah yang didapatkannya. Melangkah mendekati tubuh Shui, perlahan mencium bibir wanita yang masih dalam pengaruh obat bius.


Sedikit demi sedikit racun terurai dari darah. Bergerak lebih dalam lagi, racun yang benar-benar sulit untuk dibedakan. Hingga pada akhirnya.

__ADS_1


Huek!


Kara memuntahkan darah merah kehijauan dari mulutnya. Setelah berusaha membersihkan racun dalam tubuh Shui. Metode yang benar-benar menyakitkan baginya.


"Kara, apa yang sudah kita lakukan? Kamu membunuh mereka," ucap Herlan gemetaran.


"Mereka masih hidup, yang mati hanya satu orang di rantai dua. Itupun saat aku menjadikannya sebagai perisai. Menurut putusan hukum di negara ini, seharusnya kamu tidak akan ditahan sebagai bentuk perlindungan diri, menyerang mereka. Selain itu orang yang ada di lantai dua mati bukan karenamu. Tapi mati karena, rekan-rekannya sesama penembak jitu yang menembaknya." Jawaban Kara tanpa ekspresi.


"Oh begitu ya?" Ucap Herlan, menghela napas lega. Namun, hanya sesaat."Tunggu dulu! Kenapa jadi aku?! Kamu yang melukai mereka! Jadi kamu yang seharusnya." Kata-kata Herlan terhenti, Kara memberikan jam tangannya.


"Shui mengatakan harganya sekitar 50 juta. Apa cukup? Hanya tinggal tiga hari di kantor polisi, untuk memberi keterangan," ucap Kara.


Dengan cepat Herlan mengangguk, membayangkan membeli motor second dengan warna pasangan. Satu untuk dirinya satu lagi untuk kekasihnya, anak ibu kost.


Tubuh Shui diangkatnya, meninggalkan villa. Luka akibat pecahan kaca di leher Shui diliriknya. Mencium kening wanita yang ada dalam dekapannya."Benar-bebar rapuh," gumamnya tersenyum.


*


Pagi mulai menjelang, sinar matahari menyilaukan mata seorang wanita yang mungkin kesadarannya mulai kembali. Shui membuka matanya. Menyadari ada tangan yang melingkar di tubuhnya.


"Kara?" ucapnya.


Kara membuka matanya, tersenyum lembut kearahnya."Sudah bangun? Kamu membuatku cemas."


"Kenapa cemas?" Shui kembali bertanya.


Kara tidak menjawabnya, hanya mengeratkan pelukannya."Shui, mulai hari ini kamu akan bahagia bagaimanapun caranya,"


"Bahagia? Bagaimana aku bisa bahagia jika kamu terus membuat masalah yang---" Kalimat Shui terhenti, Kara perlahan mencium bibirnya. Tidak memberikan jeda sedikitpun.


Ini benar-benar nyaman. Entah kenapa wajah pemuda yang pernah ada dalam mimpinya terbayang. Shui mengalungkan tangannya pada leher Kara. Pemuda yang memejamkan matanya. Hanya mengikuti keinginannya, membiarkan napasnya, membelai tubuh Shui.


'Aku ingin menjadi istri yang baik untuk Junichi. Aku tidak sabar menunggu usiaku 22 tahun.'


Kata-kata yang masih diingat oleh Junichi. 22 tahun? Fu meninggal di usia 16 tahun. Tidak dapat menemaninya lagi.


Kara menghentikan ciumannya yang telah menjalar ke area leher Shui."Bisa kamu mencintaiku?"


Pemuda yang menyadari dirinya telah dilupakan.

__ADS_1


__ADS_2