
Luka di tubuhnya menghilang, seiiring juga dengan raganya yang telah terbakar menyisakan seonggok debu. Pemuda dengan pakaian hitam dan rambut panjangnya, terseret hingga alam bawah. Seluruh tubuhnya di rantai, terikat kuat di pohon yang telah hangus terbakar. Perbatasan alam tengah dan alam bawah, tempat jalan menunju neraka.
Mungkin perlu waktu ratusan tahun untuknya melepaskan satu persatu rantai. Hanya saja rantai di lehernya akan selamanya terikat, hanya dapat lepas kala membuat perjanjian darah dengan roh manusia yang dipanggil untuk dihidupkan kembali.
Terdiam dalam kegelapan, menatap satu persatu roh manusia yang hendak menerima penghukuman. Satu? Tidak ada beberapa roh disana. Pastinya terdiri dari orang-orang yang berbuat dosa.
Ada satu roh yang tersenyum pada dirinya yang tertunduk terikat. Junichi menyadari keberadaannya, tapi enggan menatap. Dirinya tidak dapat menerima semua ini.
Pintu gerbang neraka terbuka, roh seorang gadis yang sudah mengetahui hukuman berat yang akan dialaminya, karena menyia-nyiakan hidup. Tidak ada kebahagiaan dengan bunuh diri, ingin bahagia dengan kematian? Hanya neraka yang akan menantinya.
Memasuki gerbang, didorong oleh penjaga gerbang.
"Junichi, aku ingin bertemu lagi. Tapi tidak tau kapan..." Hanya itulah ungkapan yang tertahan. Melihat untuk yang terakhir kalinya, seorang pemuda dengan pakaian hitam dan rambut panjangnya, tertunduk. Tubuh terlilit rantai di sebuah pohon yang telah menghitam bagaikan arang.
Mungkin ini memory terakhirnya tentang Junichi. Tidak akan mengingatnya di kehidupan yang akan datang.
Pemuda yang masih terdiam, setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya, melewati area dagu."Fu..." gumamnya, kala air matanya terjatuh. Tidak dapat berbuat apapun untuk kekasihnya.
*
Apa yang terpenting dalam kehidupan? Entahlah Jun juga tidak mengetahuinya. Kabut yang menyelimuti hutan telah menghilang, bersamaan dengan disegelnya Junichi. Seorang anak masih terdiam disana, wajahnya berusaha tersenyum setidaknya adik dan kakeknya masih hidup.
Tangannya terangkat, mengingat bayangan dua orang yang sudah dianggapnya bagaikan orang tuanya. Gerakan perlahan menyapu permukaan keras. Bunga Peony yang di rangkai seorang gadis dengan seorang pemuda yang memeluknya dari belakang.
"Maaf..." hanya itulah kata yang diucapkannya.
Lukisan yang benar-benar indah. Namun ini belum selesai. Anak itu meraih beberapa buku yang dimiliki oleh Junichi. Satu-persatu dipadukan olehnya, mencatat dengan cermat.
Hingga dirinya membuat sebuah buku baru. Berisikan cara untuk menghidupkan orang mati. Cara untuk menghidupkan orang mati? Tidak, sejatinya buku itu hanya berisikan cara untuk menghidupkan kembali Junichi dengan menggunakan darah keturunannya yang sudah mati.
__ADS_1
Pemanggilan roh yang aneh, jika yang datang adalah pemilik roh dari pemilik tubuh asli, sejatinya akan bertahan hidup beberapa jam, kemudian kembali mati, karena seluruh organ dalam tubuh yang rusak akibat kematian. Tapi jika yang hadir adalah Junichi yang berhasil membuat perjanjian, maka siluman itu dapat mempertahankan tubuh yang telah rusak.
Buku yang disimpannya turun-temurun, jika beruntung suatu saat nanti Junichi akan kembali hidup.
"Sedang apa kamu disini?" suara Gwan terdengar.
"Gwan, kakak---" Kata-kata Jun disela.
"Bisa kakak membunuhku? Aku ingin menghidupkan kak Junichi kembali," ucap Gwan tanpa ekspresi, sempat membaca sekilas apa yang ditulis oleh kakaknya.
"Tidak, jangan sekarang. Biarkan keturunanku yang akan menembusnya. Jika segelnya dibuka paksa saat ini. Kak Junichi yang penuh dendam hanya akan menghancurkan apa yang dilihatnya. Tunggulah dengan sabar," pinta Jun.
Sang adik menghela napasnya. Berjalan meninggalkan sang kakak, tidak ada yang dapat dilakukannya. Tidak dapat marah pada kakaknya atau pada siapapun. Hanya menyimpan rasa dukanya, mengingat hutan berkabut yang kini telah menghilang. Menjadi tempat yang terjamah manusia, bahkan mulai ada beberapa pemukiman.
Siluman-siluman yang ada di hutan berkabut? Semuanya pergi, lenyap begitu saja setelah pasukan kerajaan sempat membakar wilayah hutan.
Akhir yang bahagia? Tidak, ada kalanya tinta emas terlihat begitu indah. Tapi sejatinya apa yang tertulis adalah dusta.
Sang kaisar muda yang telah turun tahta, tinggal seorang diri di sebuah kuil. Terdiam, kini menyadari apa yang ada di istana bukan hal yang membuatnya bahagia.
Masih teringat di benaknya kala ayahnya masih hidup. Beberapa kandidat calon putri mahkota diajukan, termasuk Fu kecil saat itu.
Dirinya tersenyum saat itu mempertimbangkan jendral yang menguasai militer, mungkin akan mudah mengendalikannya jika menjadikan putrinya sebagai putri mahkota. Pertimbangan politik, serta kecantikan putri jenderal yang tidak dapat diragukan.
Namun, tidak mengenal karakter manusia, tetap membuat dirinya merasa tidak aman. Mengangkat beberapa selir lainnya untuk mengamankan posisinya dalam pemerintahan. Putri dari para bangsawan, dimana keluarga mereka akan dapat dikendalikan, jika menjadikan mereka sebagai selir.
Tapi bukan pasangan, semua wanita sama saja. Berbicara menggoda dirinya, layaknya wanita murahan. Tidak ada yang benar-benar hangat untuk berbincang dengannya. Hingga dirinya bertemu kembali dengan Fu. Satu-satunya wanita yang menasehatinya, tersenyum hangat, tidak menjajakan tubuhnya.
Kini dirinya terdiam memakai pakaian putih sederhana, memakan semangkuk bubur. Lukisan seorang wanita cantik berada di sana, itulah lukisan Fu. Entah apa yang ada di fikirannya, segalanya masih terbayang kala pakaian bersulam benang emas miliknya, terkena noda darah.
__ADS_1
Disini lebih tenang, ada kalanya dirinya mentikan air matanya dalam tatapan kosong.
Sedangkan keponakannya, kaisar yang berkuasa saat ini, sering mengunjunginya. Keponakannya lah yang menulis banyak sejarah palsu tentang pamannya. Menuliskan akhir bahagia dimana sang paman hidup bahagia dengan selirnya, di sebuah kuil.
*
Saat ini...
Herlan mengenyitkan keningnya, menelan ludahnya berkali-kali. Kini Defan ada di hadapannya, tiba-tiba datang menemuinya.
"Mau apa kakak yang pura-pura baik ini?" batinnya mengingat perselingkuhan antara Sonya dan Defan, di belakang Kara. Bahkan Kara yang baik hati, pemalas, pecinta wibu harus mati, hanya untuk mempertahankan cintanya pada Sonya yang katanya cinta abadi.
"Bisa kita bicara berdua? Aku ingin membicarakan tentang Kara." Ucap Defan tersenyum.
Tempat mereka bicara saat ini adalah kantin kampus. Ada beberapa mahasiswi yang melirik ke arah Defan, bahkan meminta nomor phonecellnya. Pemuda rupawan yang bahkan belum sempat mengganti jas panjangnya. Begitu ingin tau, penasaran dengan sosok adiknya.
"Kamu sudah lama berteman dengan Kara? Maaf, aku bertanya karena Kara tidak pernah membawa temannya pulang ke rumah." Defan tersenyum, meminum jus alpukat di hadapannya.
"Aku sudah mengenalnya dari tiga tahun lalu! Walaupun selalu meminjam uang darinya. Kenapa kamu bisa tidak tau." Batin Herlan benar-benar kesal, menahan segalanya dalam senyuman. Mengingat bagaimana Kara yang asli mati.
"Aku tidak begitu dekat dengannya. Hanya belakangan ini saja," ucap Herlan terlihat ragu.
Bug!
Amplop yang dipenuhi dengan uang ada di hadapannya. Membuat Herlan membulatkan matanya.
"Uang kaget!" batinnya menelan ludah.
"Apa sifat Kara mengalami banyak perubahan pasca keluar dari rumah sakit?" tanya Defan, tersenyum dingin. Ingin mengetahui apa yang aneh dari adiknya, mungkin Kara harus dihabisi terlebih dahulu daripada Kerrel.
__ADS_1