
Pemuda yang mengenyitkan keningnya, mulai bangkit. Matanya menelisik, para karyawan telah menghubungi ambulance.
"Aku yang akan mengantarnya ke rumah sakit. Sekaligus menghubungi prajurit berpakaian abu-abu (polisi)," ucap Junichi, bersamaan dengan karyawan memasukkan korban ke dalam mobil Junichi.
Mobil mulai melaju, meninggalkan area restauran. Kejadian keracunan di restauran J&W segera terdengar hingga restauran Diamond yang terdapat di seberangnya. Para pelanggan mencibir bahkan mungkin menggosipkan tentang restauran sebelah.
Azra tersenyum, segalanya berjalan sesuai kehendaknya. Menatap mantan pelanggan J&W restauran memenuhi restaurannya kini.
Menjadikan Kara sebagai tersangka yang bertanggung jawab. Segalanya dilakukannya, ada dalam kendalinya.
Salah satu orang bayarannya masih ada di J&W restauran, memantau dan menjerat kemudian mencuci tangan.
Siapa? Itulah pertanyaannya, koki? Pelayan? Kasir? Atau cleaning service? Banyak yang dapat menjadi tersangka disana. Yang jelas salah satu orangnya tinggal menyelinap dan baru akan berhenti bekerja setelah restauran ditutup total karena restauran tersebut dianggap melakukan keteledoran.
*
Sekitar satu jam setelahnya Kara datang bersama petugas kepolisian. Pemuda itu hanya diam dan sesekali menjawab.
"Ba... bagaimana? Apa dia mati?" tanya Herlan ketakutan.
Kara mengangguk."Dia sudah mati,"
Seketika Herlan terduduk di lantai, mengusap kasar wajahnya. Pekerjaan sambilan dengan gaji besar berakhir seperti ini? Mungkin itulah yang terlihat di wajahnya.
Bug!
Pintu terbuka, walaupun acara grand opening restaurannya masih diadakan, Arza memasuki area J&W restauran bersama seorang karyawannya. Wajahnya tersenyum."Pengusaha tidak berpengalaman hingga tidak menjaga kebersihan dan keamanan makanan. Saat aku kelola restauran ini berjaya, tapi begitu ada di tanganmu restauran ini hancur," sindirnya.
Kara mengenyitkan keningnya."Prajurit berpakaian abu-abu (petugas kepolisian) sedang menyelidiki siapa pelaku sebenarnya." Hanya itulah jawabannya.
Herlan mendekati Kara, jemari tangan pemuda itu gemetaran, sudah ada korban nyawa disini."Kara, kita hubungi istrimu ya?"
"Tidak perlu," Kara hanya terlihat tersenyum, tenang.
Polisi mulai berkeliling menggeledah di semua tempat termasuk dapur. Satu persatu laci dibuka, bahkan tempat sampah tidak ada yang terlewat. Rekaman CCTV diperiksa, walaupun tidak ada rekaman di area dapur.
Beberapa orang disejajarkan di sana, mengadakan interogasi di tempat. Bagaikan ketakutan akan kehilangan barang bukti. Menimalisir, pelaku membuang barang bukti di perjalanan menuju kantor polisi.
Police line dipasang di area dapur dan meja yang diduduki korban. Ada beberapa orang yang dijadikan tersangka, seorang pelayan yang mengantar pesanan, koki yang membuatkan order, teman yang satu meja dengan korban dan Herlan yang tidak sengaja ke dapur saat mengambilkan orange juice untuk Kara.
Barang bukti ditemukan, sebotol kecil racun yang kandungannya mirip dengan pembersih lantai namun dalam intensitas racun yang lebih tinggi. Sampel makanan dan minuman juga telah dibawa ke laboratorium oleh pihak kepolisian.
Bagaimana pun akhirnya, restauran ini tetap akan tutup. Walaupun pelakunya ditemukan atau tidak. Tetap saja sudah ada satu orang yang mati karena keracunan.
Arza tersenyum, menurunkan jemari tangannya diam-diam seolah-olah memberi tanda pada orang kepercayaannya untuk tetap tenang dan diam.
"Apa yang terjadi?" tanya petugas kepolisian duduk di atas kursi restauran yang telah tutup sejak satu jam lalu.
__ADS_1
Sang pelayan yang mendapatkan pertanyaan menjawab."Siang ini seperti biasa, saya mencatat pesanan dari meja nomor 8. Kemudian menyerahkannya ke chef di kitchen. Karena kami mengantar pesanan sesuai nomor meja yang dibawa. Jadi saya mengantar pesanan ke meja nomor 2, sambil menunggu pesanan di meja nomor 8 siap. Setelah itu saya mengantarnya, kemudian kembali ke tempat saya berdiri. Tapi beberapa belas menit kemudian, pelanggan meja nomor 8 roboh tidak sadarkan diri,"
"Apa saja yang kamu antar?" tanya sang petugas kepolisian mencatat.
"Sebotol red wine, dua buah gelas, dua ice lemon tea dengan diet sugar, dua porsi spaghetti carbonara, hanya itu," jawabnya tertunduk ketakutan.
"Apa ada yang mencurigakan diantara mereka yang pernah berdekatan dengan makanan?" tanya sang polisi.
"Tidak tau, semuanya sempat berdekatan dengan makanan dan minuman. Teman satu meja dengan korban juga sempat sendirian karena korban ke toilet," hanya itulah pertanyaan pada sang pelayan. Bersamaan dengan seorang petugas lainnya membawanya ke toilet, guna menggeledah tubuhnya.
Hanya interogasi singkat sebelum penggeledahan. Interogasi selanjutnya akan dilakukan di kantor polisi. Penyidik beralih, menanyakan keterangan dari tersangka kedua teman korban.
"Bagaimana kalian dapat makan di tempat ini?" tanyanya pada rekan korban.
"Dia klienku, kami hanya pernah bertemu beberapa kali. Profesiku sebagai EO dan dia ingin memesan paket untuk acara pernikahannya. Tadi aku menunjukkan beberapa set model pakaian pengantin," jawab wanita yang bersamaan dengan korban yang notabene seorang pria.
Sang penyidik menghela napas kasar."Korban yang mayatnya ada di rumah sakit memiliki cincin dengan inisial namamu di cincin yang menjadi bandul kalungnya."
"Dia sebenarnya mantan pacarku kami menjalin hubungan selama 3 tahun. Tapi akhirnya dia menikah dengan orang lain, bahkan menggunakan jasa EO-ku." Ucap wanita itu tertunduk.
Beberapa orang sekitar yang lewat di depan restauran menghentikan langkah mereka menatap kasus yang bagaikan misteri sulit dipecahkan. Bahkan ada beberapa pelanggan dari Diamond restauran yang sengaja keluar dari sana hanya ingin menyaksikan interogasi langsung dari petugas kepolisian tentang kejadian pembunuhan.
Mobil kepolisian masih terparkir di tempat parkir restauran. Sedangkan bagian depan restauran yang tutup, ramai dengan orang-orang mencuri dengar dari kaca etalase.
Mereka menunjukkan kecurigaan pada keempat tersangka seolah-olah ingin menebak siapa tersangka sesungguhnya. Dan apa yang sebenarnya terjadi.
"Geledah!" perintah penyidik bersamaan dengan seorang polwan membawa sang wanita ke bilik toilet.
Kini giliran tersangka paling mencurigakan, sang koki.
"Apa saja yang kamu siapkan malam ini untuk order meja nomor 8?" tanya sang penyidik. Karena hanya pesanan sama jadi pesanan dibuat sekaligus oleh seorang koki. Walaupun ada koki lainnya disana, namun hanya koki ini yang berinteraksi dengan makanan.
"Seperti order, spaghetti carbonara dan ice lemon tea." Itulah jawabannya pelan dengan suara berat, penuh senyuman, bagaikan mengeluarkan aura seorang psikopat.
Beberapa orang yang berkumpul di depan restauran mulai mengambil gambar. Bahkan merekam dari awal, membuat video live di media sosial. Bagaikan bara api yang diberikan bensin, banyak like bahkan komentar yang membanjiri, sekedar menanyakan nama restauran dan asumsi mereka tentang si pelaku.
Semakin lama menjadi semakin menarik. Wajah Azra tersenyum, setelah ini J&W restauran benar-bebar akan gulung tikar, ditutup, bahkan ijin operasionalnya dicabut.
Banyak asumsi yang menyatakan pelakunya adalah sang pelayan, ada juga yang mengatakan jebakan dari mantan yang sakit hati, serta teori konspirasi tentang koki rupawan yang menjadi seorang psikopat.
Sang penyidik, kembali menghela napasnya."Jadi tidak ada yang aneh? Apa ada orang lain yang berinteraksi dengan makanan dan minuman?"
"Hanya aku, dan kasir yang baru bekerja beberapa hari. Kasir yang benar-benar menyebalkan, kekanak-kanakan, bahkan menumpahkan orange juice di dapur." Gumam sang koki mengeluarkan aura intimidasi.
"Geledah dia!" perintah penyidik.
Dengan cepat seorang petugas membawa koki menuju toilet. Hingga kini tiba giliran Herlan.
__ADS_1
"Kamu berinteraksi dengan makanan dan minuman saat di dapur?" tanya petugas kepolisian.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukannya. Aku teman suami pemilik restauran, aku tidak mempunyai motif." Ucap Herlan berlutut ketakutan.
Seorang petugas menarik paksa Herlan yang terus saja menangis guna tubuhnya di geledah.
Rombongan orang-orang di depan J&W restauran semakin padat saja. Video live di media sosial, kasus aneh yang menarik menjadi penyebabnya, ingin mengetahui pelaku sebenarnya, bahkan orang-orang kelas atas dari Diamond restauran, kini ada di depan J&W restauran.
Pada akhirnya keempat tersangka dikumpulkan. Cukup aneh memang polisi akan menentukan pelaku yang sebenarnya diantara keempat orang yang berinteraksi langsung dengan makanan.
Orang-orang yang menyaksikan mungkin di video live, semakin banyak memberikan komentar konspirasi. Bahkan dengan sengaja, terburu-buru datang mencari lokasi restauran. Mungkin hendak menjadi detektif Conan dadakan.
"Motif, bukti semuanya tertuju pada satu orang. Kami menemukan sidik jarinya pada botol racun, bahkan terdapat bekas racun di area sakunya. Pelaku memberi racun, kemudian tersenyum seolah-olah tidak mengetahui apa-apa." Ucap sang penyidik.
Suasana depan restauran semakin padat, apa yang tidak dapat tertahankan dari manusia? Yaitu rasa ingin tahu, kita sebut saja Kepo.
Azra mengepalkan tangannya, orang suruhannya sudah diberikan perintah olehnya agar tidak meninggalkan bukti. Dan sekarang ada banyak bukti yang tertinggal.
"Saudara Herlan! Apa motifmu melakukan semua ini?!" bentak sang petugas.
Tangan Azra langsung lemas, sahabat Kara itu merupakan orang suruhannya. Hanya berharap Herlan tidak membongkar dan mengungkit namanya itulah yang ada di harapannya.
Herlan tertunduk membulatkan matanya."Aku ingin Kara celaka. Aku ingin membunuhnya pelan-pelan. Aku berselingkuh dengan istrinya, tidak apa-apa bukan? Hanya membunuh beberapa orang secara random," ucapnya tertawa, bagaikan seorang psikopat sesungguhnya.
Semua orang terkejut, bahkan ada yang sampai menjatuhkan phonecellnya.
"Aku ingin membunuh Kara, meniduri istrinya setiap malam! Kemudian mati bersamanya di tempat tidur, mati bersama wanita yang aku cintai..." Herlan, tertawa nyaring, masih tertunduk.
Semua orang menatap ke arah Kara. Pemuda yang tiba-tiba bertepuk tangan.
Dua orang pelayan berjalan membuka pintu depan, memberikan akses orang-orang diluar yang sebelumnya menjadi penonton untuk masuk. Tanda tutup dibalik kembali menjadi tanda buka.
"Maaf membuat keributan, hari ini kami mengadakan event drama pertunjukan dari universitas. Bekerja sama dengan pihak kepolisian yang akan memberikan keterangan tentang keamanan berlalu lintas." Ucap Kara, penuh senyuman, menyambut orang-orang yang penasaran memasuki area restauran.
"Pertunjukan?" Azra mengenyitkan keningnya.
Kara tersenyum, kemudian mengangguk."Iya, pertunjukan, terimakasih sudah memberikan uang pada Herlan dan ide cemerlang padaku,"
Herlan menahan tawanya, mulai kembali ke meja kasir. Sungguh plot twist yang aneh. Bahkan seorang pria yang berakting menjadi korban kini tengah melayani pelanggan.
Beberapa orang bertanya sambil memesan, masih penasaran tentang hal-hal menarik yang ada di restauran ini. Menu hari ini juga, diantarkan oleh para pelayan berpakaian napi.
Konsep misteri dan kriminal, semuanya sudah mendapatkan ijin dari petugas kepolisian yang kini diberikan microphone menjelaskan tentang keamanan berkendara.
Azra hanya dapat terdiam, bukan hanya pelanggan dari kalangan atas yang ada di sini. Tapi juga dari kalangan menengah, mengantri memesan meja, maupun take a way, hanya agar mendapatkan hasil akhir dari kasus yang viral di media sosial.
Pertunjukan drama yang sempurna. Azra melirik ke arah Diamond restauran miliknya yang ada di seberang jalan. Hanya setengah dari restauran terisi dengan pelanggan. Sebagian kemari, bahkan mengantri.
__ADS_1
"Menjadi suami Shui Murren? Aku lebih rendah darimu? Bocah, kamu hanya anak kecil..." gumam Kara pada pria yang seusia dengannya.