Greatest Husband

Greatest Husband
Kelopak


__ADS_3

Lantai yang benar-benar dingin. Dirinya dikurung dalam gudang, hanya beralaskan jerami kotor. Pakaian putih lusuh melekat di tubuhnya.


Samar-samar suara terdengar dari luar sana.


"Kamu sudah dengar? Nona besar menjadi gila setelah diculik siluman."


"Dia dikurung di gudang bukan? Nasibnya sungguh beruntung, akan masuk ke istana menjadi seorang selir. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tidak waras. Coba saja aku yang menjadi nona besar, pasti dengan senang hati aku akan memasuki istana,"


"Jangan mimpi! Matamu sipit, hidungmu besar seperti jambu, murkamu kotak. Tidak ada apa-apanya dengan nona besar yang seperti dewi,"


"Dewi? Nona besar sudah gila! Anak selir sekarang bahkan lebih baik daripadanya,"


Suara dua orang wanita dari percakapannya mungkin dua orang pelayan. Fu tertunduk, pandangannya kosong, beberapa luka terlihat di tangan dan kakinya, pakaian lusuhnya menutup bagian punggung. Beberapa kertas mantra entah apa tulisannya tertempel pada pintu dan jendela.


Dirinya terpuruk lagi, hanya sedikit celah cahaya yang masuk. Beberapa makanan dingin ada di sana, makanan yang hanya sekedar bubur dimasak dengan sayuran. Bukan seperti makanan putri keluarga bangsawan.


Air matanya mengalir, ingin tetap tinggal di hutan berkabut, Junichi akan membawakan buah-buahan untuknya. Bahkan makanan yang tidak pernah dikonsumsinya sebelumnya. Hidup yang menyenangkan, benar-benar merindukannya."Junichi," gumamnya, jemari tangannya terangkat meraih seberkas cahaya dari gudang yang gelap.


Hingga pintu di gudang tiba-tiba terbuka. Ibunya terlihat disana, menyiratkan tatapan menyedihkan melihat kondisi putrinya.


"Fu." Panggil sang ibu dengan nada lembut.


Fu menoleh pada wanita di hadapannya, menonggakkan kepalanya. Terdiam tanpa ekspresi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya sang wanita berpakaian sutra, berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan putrinya.


Fu menggeleng pelan, tidak memiliki tenaga untuk menjawab.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak makan?" tanya sang ibu.


Gadis itu hanya terdiam, lebih tepatnya enggan mengeluarkan suara.


"Jawab pertanyaan ibu. Jika kamu memang menyayangi ibu." Pinta sang ibu putus asa.


Bibir yang terlihat kering itu akhirnya berucap pelan. Suara yang bahkan tanpa tenaga."Aku menyayangi ibu. Apa ibu menyayangi ku?"


"Ibu menyayangimu, karena itu ibu ingin kesembuhanmu. Dengar! Kamu terkena sihir siluman. Terkena bujuk rayunya, kamu pasti bisa melawan pengaruh sihirnya." Sang ibu menyakinkan putrinya.


"Menyayangi? Kenapa ibu menggantikan posisi ku dengan anak selir?" tanya Fu mengingat kejadian masa kecilnya.


"Itu karena kamu sudah menghilang selama dua tahun. Ibu mengira hal yang buruk terjadi padamu. Karena itu, terpaksa ibu harus menggantikan posisimu," jawaban dari sang ibu dengan bibir bergetar.


Gadis itu mengangguk tanda mengerti."Setelahnya, apa ibu mencintaiku? Kalian memukulku dengan rotan jika tidak mengerti. Tertawa dan berkata anak selir lebih baik daripadaku. Usia anak selir itu lebih tua, tapi ibu ingin aku melebihinya, memukuliku, tapi tidak mengajarkan apapun padaku selain menuangkan arak dan menyenangkan pria. Ibu selalu membawa anak selir itu membeli pakaian, menghadiri perjamuan, memuji kecerdasannya setiap saat."


"Aku mencintainya. Karena dia yang selalu ada saat kalian membanggakan anak selir. Dia yang mengajariku, agar tidak tergantung pada pria. Ibu, aku mencintainya---"


Plak!


Satu tamparan dilayangkan pada putrinya. Benar-benar kesal rasanya, wajah iba dari sang ibu berubah menjadi sebuah kemarahan."Ayahmu berjuang mati-matian di medan perang agar keluarga kita dapat hidup! Agar kamu dapat menaiki tahta menjadi permaisuri! Dan kamu hanya memikirkan makhluk rendah pemakan bangkai? Dia mungkin juga memakan jiwa-jiwa manusia! Makhluk nista sepertinya membuat pengorbanan ayahmu tidak ada artinya?" tanya sang ibu menjambak rambut panjang putrinya.


Fu terdiam, karena inilah dirinya tidak bersuara enggan menjawab. Tidak ada jalan untuk bersama. Kedua orang tuanya yang telah membuatnya ada di dunia ini dan Junichi yang selalu menemaninya. Dirinya tidak dapat memilih.


Tubuhnya terangkat dari tempatnya duduk, rambutnya dicengkeram erat."Apa kamu sudah sadar? Ini demi keluarga kita! Adikmu akan mendapatkan jabatan tinggi di pemerintahan nantinya. Anakmu nanti akan menjadi putri, pangeran, atau bahkan putra mahkota! Jika yang mendapatkan kesempatan ini An (anak selir, kakak tiri Fu), dia tidak akan menyia-nyiakannya! Jika bisa meminta aku tidak ingin anak sepertimu lahir dari rahimku!" bentak sang ibu, mendorong putrinya setelah melepaskan jambakan rambutnya.


Fu tersungkur, kembali membenahi posisi duduknya. Dirinya tidak gila, tapi ibu dan neneknya mengatakan dirinya gila. Apa dia gila? Apa mencintai Junichi adalah sebuah kegilaan?

__ADS_1


"Siang ini kaisar ingin mengundangmu ke istana. Bertindaklah sopan, jangan asal bicara, jika kamu masih menganggapku sebagai ibumu." Kata-kata dingin menusuk meninggalkan putrinya.


*


Dua orang pelayan menuntunnya secara paksa, bahkan tanpa ragu mencengkeram lengannya. Dirinya hanya terdiam, tidak ada yang dapat dilakukannya, bahkan pelayan pun kini tidak begitu hormat padanya.


Hanya wanita gila, itulah yang mungkin ada dalam fikiran mereka.


Rambut panjang tergerai, bak mandi kayu ada disana dengan taburan kelopak mawar. Wajah gadis itu masih tanpa ekspresi, enggan untuk bicara. Dua orang pelayan membantunya membersihkan diri.


Tubuh putih dengan banyak bekas memar, bahkan ada sedikit luka yang masih baru sedikit mengeluarkan darah. Rambut panjangnya mengambang dalam bak kayu tersebut.


Perlahan tubuh itu dipakaikan pakaian berwarna peach. Hiasan rambut dengan nilai tinggi berada di rambutnya. Wajah cantiknya tidak luput dari riasan para dayang.


Tidak ada yang dikatakan oleh Fu lagi. Terlalu jenuh untuk berucap, karena tidak ada yang dapat diucapkannya. Bakti pada orang tua, perasaan tulusnya pada Junichi. Dirinya mencintai kedua orang tuanya, namun hatinya telah dimiliki oleh Junichi.


Berjalan anggun menaiki tandu. Wanita itu bagaikan mayat hidup tanpa ekspresi. Cincin giok aneh berwarna hitam ada di jari telunjuknya.


Tidak dapat menangis sama sekali.


*


Hanya undangan biasa, sang nenek mengawasi gerak-gerik cucunya. Menatap Fu yang memainkan kecapi di hadapan kaisar. Wajah yang tidak tersenyum sedikitpun, begitu dingin bagaikan kelopak bunga teratai di pagi hari. Teratai putih yang indah.


Sang kaisar tersenyum, seorang gadis yang akan menggantikan posisi permaisurinya. Hingga permainan Fu terhenti, sang kaisar tersenyum."Bagaimana jika kita bicara di gazebo? Aku sudah lama tidak berbincang denganmu."


Fu hanya mengangguk."Hamba mengikuti keinginan yang mulia kaisar," ucapnya berlutut memberi hormat.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, jangan formal begitu. Kita adalah teman dari kecil." Sang Kaisar tertawa. Pemuda yang tidak menyadari, wanita di hadapannya tidak tersenyum sama sekali.


__ADS_2