
"Memanjakan di tempat tidur?" tanya Andrew menahan tawanya.
Kara mengangguk."Jika aku dapat barang-barang dengan harga yang lebih tinggi daripadamu. Shui akan memanjakanku di tempat tidur."
Wanita itu mengenyitkan keningnya menerka-nerka apa yang ada dalam pikiran suaminya. Hingga wajahnya tiba-tiba tersipu memerah, kembali menetap ke arah lain menahan malunya.
"Apa Kara benar-benar akan melakukannya? Aku belum siap," batinnya Ingin rasanya melompat dan berguling-guling saking malunya.
Benar-benar pikiran dan hati yang tidak sinkron. Pikirannya berkata Kara benar-benar playboy. Mungkin saja, hanya memanfaatkannya untuk kepentingan Sonya. Tapi hatinya berbeda bagaikan anak SMU yang polos baru merasakan jatuh cinta. Kita anggap saja drama Romeo dan Juliet di mana hatinya pacaran, namun pikirannya menentang sedangkan godaan pria itu benar-benar nyata.
"Akan memanjakan di ranjang? Jadi kalian belum melakukannya? Sudah berapa lama kalian menikah? Atau jangan-jangan kamu impoten?." Cibiran dari Andrew matanya menelisik mengamati perubahan wajah Kara.
Kamu bahkan melakukan beberapa operasi plastik?" tanya Andrew tertawa melihat perubahan bentuk wajah Kara.
Shui benar-benar tidak menyadari. Beberapa bulan ini dirinya tidur dengan Kara bangun juga dengan suaminya. Setiap hari melihat perubahan wajah perlahan, serta tinggi tubuh suaminya sehingga dirinya baru menyadari. Setelah Andrew mengatakan, memang perubahan yang cukup jauh. Dari hari pernikahan mereka.
Wajah yang mungkin lebih rupawan daripada sebelumnya, kulit putih kas keturunan Tionghoa, kini menjadi putih pucat. Rupa suaminya memang jauh berubah, wajah yang dulunya terlihat manis, kini menjadi lebih tegas dan dingin mata yang terlihat menatap tajam membuat jantung wanita manapun berdebar.
"Kamu tidak melakukan operasi plastik kan? Jika melakukannya kapan? Kita setiap hari bersama." tanya Shui pada Kara.
Kara menggeleng."Ini memang wajah asliku," Hanya itu jawaban darinya. Jawaban yang benar-benar ambigu.
"Kali ini aku akan menang lagi," gumam Andrew penuh senyuman, menatap ke arah depan. Terdapat sebuah gulungan dengan lukisan indah di dalamnya, seorang wanita cantik dengan bunga peony di tangannya.
Wanita yang mengenakan pakaian berwarna merah. Terlihat tersenyum dengan hiasan emas di rambutnya, gambar yang benar benar indah. Lukisan yang dibuat oleh seniman kerajaan.
Lukisan yang sebenarnya diselundupkan dari pedagang gelap negeri seberang.
"Lukisan ini berusia sekitar 500 tahun. dibuat oleh seniman kerajaan sebagai bentuk rasa cinta sang Kaisar pada selirnya. Dalam sejarah, Kaisar meninggalkan tahtanya setelah menghukum mati permaisurinya yang berkhianat. Mewarisi tahta pada keponakannya sedangkan dirinya tinggal dengan seorang selirnya di dalam sebuah kuil. Ini adalah lukisan wajah sang selir kesayangan Kaisar. Wajah yang cantik bukan? Jika ada di masa ini, mungkin sudah menjadi salah satu selebriti idola yang terkenal," candaan dari sang MC acara lelang.
Kara menghela nafas kasar, belum tentu semua yang tertulis dalam sejarah adalah kenyataan. Semua orang mulai berbisik tentang kisah cinta sang Selir dan Kaisar. Memuji mereka, di mana Kaisar rela meninggalkan tahtanya tinggal dengan sendirinya hanya hidup berdua dengan selirnya.Tidak mengetahui apa yang sejatinya terjadi.
Harga dibuka cukup tinggi, mengingat lukisan tersebut sudah di cek keasliannya, dirawat dengan baik dan rutin dilakukan peremajaan.
"Harga akan dimulai dibuka dari dua setengah miliar." Ucap sang pembawa acara.
"Kara naikkan papannya! Jika kita jual lukisan itu dapat berharga mahal!" Ucap Shui.
"Tidak perlu, kita tidak akan membelinya," jawaban dari Kara penuh senyuman.
"Kenapa? Lukisan ini asli! Sudah terbukti oleh pengamat! Kenapa tidak membelinya? Jika dibawa ke---" Kata-kata Shui terpotong.
__ADS_1
"Untuk apa membeli lukisannya? Aku sudah memiliki yang asli." Jawaban dari Kara jawaban yang tidak dimengerti oleh istrinya.
Pemuda yang menatap ke arah Shui mengingat kisah yang sebenarnya. Bagaimana kematian sang selir di hari pernikahannya. Bahkan belum sempat menikah sama sekali, bukan kisah cinta yang romantis bunga Peony putih miliknya yang telah dirawat, harus dikotori dengan darah.
Namun kini bunga itu kembali tumbuh berada di sampingnya. Kara menggenggam jemari tangan istrinya, tidak ingin kehilangannya lagi."Wajahmu lebih cantik daripada lukisan," rayuannya.
"Jangan mengatakan itu lagi! Kita rugi besar! Ayo tawar! Lihat Andrew sudah menaikkan tawarannya!" geram Shui sudah tidak sabaran.
"Kamu menginginkan lukisan itu?" tanya Kara dijawab dengan anggukan oleh Shui.
"Apa menurutmu wanita dalam lukisan itu bahagia?" Kara kembali bertanya.
Shui terdiam, menatap ke arah lukisan. Entah kenapa walaupun lukisan wanita itu tersenyum terdapat guratan kesedihan di sana.
"5 miliar!" teriak Andrew mengangkat papanya.
"6 miliar!" Kara ikut mengangkat papannya.
Shui masih terdiam, dalam lamunannya ada perasaan sakit menatap lukisan tersebut. Entah perasaan yang benar-benar tidak mengenakkan.
"7 miliar!" ucap penawar lainnya.
"9 miliar!" Andrew kembali memberi tawaran.
"15 miliar!" Tawaran dari seorang pemuda. Membuat semua orang terdiam, tidak ada yang berani menaikkan tawarannya lagi.
Seorang pemuda yang terlihat lebih dewasa memakai kacamata yang terkesan simpel namun modern. Tersenyum ke arah lukisan tersebut, penerangan yang redup membuat tidak ada yang dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Kecuali orang yang duduk di dekatnya hanya papan putih dengan tulisan kode angka dari sang penawar yang terlihat di sana.
Andrew mengela nafas kasar, 15 miliar bukan merupakan jumlah uang yang besar. Namun untuk dijual kembali atau koleksi. Lebih baik menunggu barang selanjutnya. Hanya untuk sebuah lukisan harga tersebut memang terlalu fantastis.
"Kenapa menghentikanku menaikkan tawaran?" tanya Kara.
"Apa mungkin lukisan itu ada hantunya? Kenapa aku menangis?" tanya Shui mengelap ingusnya menggunakan lengan jas suaminya.
"Hantunya kamu," batin Kara menahan tawanya.
Namun rasa penasaran sedikit menghinggapi dirinya. Siapa yang berani menaikan tawaran setinggi itu? Matanya menelisik tidak mengetahui siapa yang menaikkan tawaran. Kara yang tadinya hanya fokus pada wanita di sampingnya.
*
Pertarungan yang sengit untuk membeli barang-barang di pelelangan menunjukkan tawaran mereka atas barang-barang di sana. Hingga pada akhirnya acara pelelangan selesai.
__ADS_1
Barang-barang yang dibeli oleh Kara hanya hiasan rambut, sebuah kunci kecil bermotif bambu dengan bulan sabit di langitnya yang dianggap biasa, serta sebuah lukisan bunga sakura.
Sedangkan Andrew lebih banyak membeli barang bernilai tinggi, yang pastinya berharga fantastis.
"Kamu kalah!" ledeknya pada Shui ketika hendak meninggalkan ruangan tempat pelelangan.
Hingga langkah mereka terhenti di lobby depan gedung. Seorang pengamat seni dan peninggalan bersejarah ada di sana, seorang pria yang dikenal oleh Andrew.
"Frozt!" panggilnya pada sahabat yang tengah berbicara dengan sesama pengamat benda-benda bersejarah.
Pemuda berdarah Asia timur bercampur dengan barat itu, berjalan mendekati mereka.
"Apa kabar? Lama tidak bertemu," Ucap Frozt berjalan mendekati mereka, memeluk Andrew, menepuk bahunya.
"Baik, omong-omong aku membeli beberapa peninggalan. Hari ini rencananya, aku akan membawanya ke luar negeri sekalian untuk urusan bisnis." Ucap Andrew.
Shui masih duduk di kursi rodanya menunggu Kara mengambilkan minuman untuknya.
"Apa saja yang kamu beli?" tanya Frozt bersamaan dengan Kara yang baru datang mengambil minuman dari mesin minuman kaleng untuk Shui.
Andrew menunjukkan foto-foto barang yang baru dibelinya pada sahabatnya."Ini guci yang sudah lama aku incar. Bagus kan? rencananya aku akan membawanya juga."
"Guci dengan lukisan ini?" tanya Frozt kembali, menatap ke arah foto yang ditunjukkan.
Andrew mengangguk menunjukkan foto tersebut dengan bangga, beserta profil guci tersebut sekilas.
"Usianya 600 tahun lumayan juga. Tapi ada yang aneh, aku menemukan guci dengan motif yang sama di sebuah pelelangan di Eropa. Dan dianggap sebagai peninggalan biasa." Gumamnya tidak yakin.
Kara berjalan mendekat."Maaf, guci itu memang diproduksi masal. Oleh beberapa pengerajin. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh filsuf, si pembuat guci yang asli mengatakan guci yang diberikan pada kekasihnya hanya memiliki motif bambu dan bulan sabit sebagai tanda kerinduannya dan kesepian hatinya."
"Kamu jangan bicara sembarangan! Mana mungkin kamu mengerti tentang sejarah! Yang ada di otakmu paling hanya Doraemon!" bentak Andrew.
Kara mengenyitkan keningnya. Junichi memang selalu menyukai tentang ilmu dan sastra, buku-buku tentang filsuf tersebut merupakan salah satu dari koleksinya dahulu.
"Ada salah satu buku puisinya yang berjudul bambu di bulan sabit," Kara penuh senyuman.
Frozt membulatkan matanya, membuka ranselnya mengambil salah satu dari beberapa buku jurnalnya. Matanya membaca buku jurnalnya satu persatu."Filsuf tersebut memang membuat buku tersebut, dengan puisi yang berisikan kerinduan pada kekasih,"
"Kamu tahu dari mana?! Seharusnya ini---" Kata-kata Andrew terpotong.
"Kalian masih terlalu muda! Dasar anak kecil!" cibir Kara.
__ADS_1
Kali ini Andrew membulatkan matanya tidak dapat menjawab seperti tokoh animasi, India populer,'Aku bukan anak kecil paman'. Dirinya tidak dapat menjawab seperti itu, wajahnya pucat pasi menatap temannya yang terlihat kagum pada Kara.