Greatest Husband

Greatest Husband
Kepercayaan


__ADS_3

Masih dengan wajah Kara, memakai setelan piyama, sayap berwarna hitam ada di punggungnya, matanya memerah menatap ke arah Herlan yang langsung terduduk. Di tempat kost sempitnya.


Kara turun berjalan mendekatinya, sesaat kemudian sayap hitamnya terbuka, hanya sesaat, kemudian kembali tertutup dan menghilang.


"Robek lagi," keluh Kara menyadari bagian belakang pakainya yang robek. Tanpa malu dan canggung sama sekali, lemari pakaian Herlan di geledahnya. Mencari pakaian yang sesuai untuknya.


Herlan menelan ludahnya, tangannya mengepal memberanikan dirinya untuk bertanya."Kamu alien dari planet mana?"


"Alien? Apa itu alien?" tanya Kara, mencocokkan warna celana panjang dan pakaian Herlan.


"Jadi bukan alien? Apa robot? Tidak bukan, apa kamu hantu penasaran? Malaikat? Dewa kematian?" tanyanya kembali.


"Pernah mendengar siluman? Keluarga Kara berhutang padaku karena menyegelku 500 tahun lalu. Tidak disangka mereka menggunakan buku milikku untuk memanggil roh orang mati. Karena itu aku membuat kesepakatan dengan Kara, menggantikannya hidup kembali," jawaban dari Kara mulai mengganti pakaiannya.


Herlan tertawa, menertawakan dirinya yang mungkin sudah gila. Apa ini delusi? Mimpi? Atau imajinasinya saja? Pemuda yang kemudian menampar wajahnya sendiri, dan sialnya terasa sakit.


"A...apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya, ketakutan. Namun, tidak berani mengusir sosok di hadapannya. Berusaha terlihat biasa-biasa saja.


"Mampus!" hanya satu kata dalam hati Herlan saat ini. Mungkin dirinya akan dibunuh dengan mudah oleh makhluk ini.


"Nama asliku Junichi, aku hidup menggantikan Kara. Pria bodoh yang mati bunuh diri, hanya karena Sonya Murren." Jawaban darinya, menatap penampilannya saat ini di cermin.


"Kamu benar-benar bukan Kara?" tanya Herlan kembali memastikan. Apa dirinya sudah gila? Teori yang awalnya dianggapnya konyol, atas perubahan sifat dan kemampuan Kara yang terlalu drastis kini terbukti.


Pemuda itu hanya mengangguk kembali tersenyum. Duduk di kursi mengambil phonecellnya yang ada di saku piyamanya.


Seperti biasa hal yang dilakukannya hanya mencari keberadaan Fu di media sosial. Mungkin wajah akan berubah, ingatan akan menghilang, namun sifat, karakter, tidak akan berubah.


Mencari wanita dengan karakter yang tidak mudah bergantung pada pria, dapat memanfaatkan situasi, baik hati, namun juga tidak mudah tertipu. Itulah karakter Fu, kita sebut saja Junichi seorang pria yang tidak mudah move on setelah lebih dari 500 tahun.


Herlan menelan ludahnya. Apa rencana siluman modern di hadapannya ini? Apa mungkin mencari manusia dengan karakter kelahiran tertentu untuk makanannya? Atau mencari pengabdi untuk mencarikan tumbal seperti cerita misteri?

__ADS_1


Tidak, ini dunia modern, siluman ini mungkin sedang mempelajari teknologi jaman ini untuk membajak rudal-rudal milik negara besar. Kemudian meledakkannya, menyebabkan kehancuran dunia yang mungkin sulit diatasi power ranger atau Ultraman sekalipun.


"Kamu sedang apa? Boleh aku tetap memanggilmu Kara?" tanya Herlan mengintip apa yang sedang dilakukan Kara. Ingin menyelamatkan dunia, mungkin saja siluman ini akan bertindak lebih buruk, menyebabkan banyak korban.


"Tetap panggil Kara, karena mulai saat aku menempati tubuh ini, aku memang menggantikannya." Ucap Kara.


Herlan mengenyitkan keningnya, banyak wanita berpengaruh disana, bahkan orang yang sudah jauh lebih tua pun juga ada. Ditandai dan dibuatkan daftar oleh Kara.


"Kamu sedang apa? Mencari tumbal untuk dimakan hati dan jantungnya?" tanyanya penasaran.


"Aku dulu hanya memakan bangkai manusia yang sudah mati. Berhenti, menghilangkan sifat alamiku sekitar 900 tahun yang lalu. Sudah berhenti memakan daging manusia, tenang saja." Jawaban dari Kara membuat Herlan sedikit lega.


"Lalu kamu sedang apa? Selingkuh dari Shui Murren? Aku sarankan jangan, Atmaja Murren mungkin akan mengerahkan pembunuh bayaran untuk menembakmu. Jika berani mempermainkan putrinya." Nasehat dari Herlan, pemuda yang mengetahui sekilas, betapa mengerikannya sosok Atmaja Murren sebenarnya.


"Aku memang sedang mencari selingkuhan. Aku akan berpisah dengan Shui, setelah mendapatkan kekuasaan, dia hanya batu pijakan." Ucap Kara masih sibuk mengutak-atik phonecellnya.


Tidak, tidak mungkin orang butapun bisa melihat, bagaimana posesifnya makhluk ini pada Shui Murren. Batu pijakan? Tidak mencintainya? Jangan bercanda.


Walaupun siluman, tubuhnya tetap manusia bukan? Pria ini akan mati, maka dirinya akan mampus. Kehilangan sumber pendapatan. Dompetnya sudah menebal sejak menjadi budak seorang Kara. Inikah yang namanya pesugihan? Entahlah.


Tapi yang pasti, jika berpisah dengan Shui Murren, itu akan merugikan dirinya.


"Kamu akan berpisah dengan Shui?" tanyanya berpura-pura antusias. Dengan cepat siluman tengil itu mengangguk.


"Kasihan dia, lumpuh sejak sekolah menengah pertama. Kemudian menjadi janda setelah menjadi batu pijakanmu," Herlan melanjutkan kata-katanya. Sedikit melirik ke arah Kara.


"Masalah itu, aku sedang membuat beberapa percobaan untuk menyembuhkannya. Mengeluarkan racun dalam tubuhnya." Dengan tenang Kara menjawab.


"Dia tidak pernah pacaran, kamu tega mematahkan hatinya?" tanya Herlan penuh harap.


Kara mengangguk."Tentu saja aku tega, wanita tidak tahu malu yang menyuruhku memijat punggungnya."

__ADS_1


Herlan kali ini benar-benar kesal, pada akhirnya mengeluarkan jurus terampuhnya."Jadi dia akan bisa berdiri lagi? Itu bagus, akan banyak pria dari kalangan atas yang mengincarnya. Menikah dan mempunyai banyak anak, menciptakan lusinan penerus keluarga Murren setelah kepergianmu dengan wanita lain."


Benar-benar ucapan asal. Lusinan penerus? Bagaimana caranya? Namun, kata-kata itu cukup ampuh membuat mood Kara berubah buruk.


"Shui Murren menikah lagi?" tanyanya tertawa ganjil, sambil berusaha tersenyum.


Herlan menelan ludahnya kemudian mengangguk."Cantik, pintar, tidak ada yang kurang. Walaupun menjadi janda sekalipun, mungkin akan menikah dengan konglomerat dari negara lain. Pria dari barat gagah dan tampan, dari Eropa begitu romantis, dari Timur tengah begitu kaya, dari Asia timur, walaupun wajahnya mirip denganmu, mereka begitu manis dan pandai menyatakan cinta. Bagi wanita sekelas Shui Murren, asalkan bisa berdiri calon suami akan mengantri."


"Dia tidak akan menikah dengan pria lain. Aku akan memberi pelajaran pada pria-pria br*ngsek yang mendekat." Tanda kemarahannya matanya kembali memerah, hanya sekelebat.


"Kalau begitu jangan ceraikan dia, jangan berselingkuh," saran dari Herlan.


"Tidak bisa, aku harus segera menemukan Fu. Dan bercerai dengan Shui, setelah mendapatkan kedudukan yang stabil." Kara mulai bangkit, membuka pintu kamar kost Herlan.


"Fu? Memangnya siapa Fu?" tanya Herlan, berlari mengambil jaket dan mengikuti langkah Kara. Yang mungkin akan mencari tempat dimana penjahat berkeliaran.


*


Benar-benar gajah di pelupuk mata tidak terlihat, tapi micro plankton di seberang lautan terlihat. Shui membuka matanya, menyadari ketidak beradaan Kara.


Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Wanita itu meraih gagang teleponnya. Memanggil pelayan pribadinya yang standby 24 jam.


Pelayan yang mengantarnya menuju toilet. Segera setelahnya Shui kembali diantar duduk di tempat tidurnya oleh dua pelayan wanita yang undur diri meninggalkannya.


Mata wanita itu menelisik, menatap dalam tempat tidur berukuran king size dirinya kembali seorang diri. Sudah diduga olehnya tidak akan ada pria yang mencintainya, setidaknya tidak akan ada yang mencintainya dengan tulus.


"Sama saja," cibirnya tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.


Nasib Fu mungkin seolah terulang kembali. Tidak pernah ada yang benar-benar mencintainya. Hanya mencintai kesempurnaan yang akan lenyap dimakan waktu.


Sifat dingin yang akan berubah pada suaminya. Tidak ingin dirinya terjerat dan tertipu lagi, oleh pemuda yang kini mungkin sedang menghabiskan malam di kamar adiknya.

__ADS_1


__ADS_2