Greatest Husband

Greatest Husband
Pacar Orang


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain. Kara berjalan masuk ke dalam rumah orang tuanya setelah turun dari mobil putih miliknya. Hari sudah gelap, dirinya baru saja pulang dari restauran.


Haruskah dipanggil Junichi saja? Rupa pemuda itu sudah benar-benar berubah menjadi wajah Junichi. Bukan perubahan singkat, namun memerlukan waktu berbulan-bulan.


Sepenuhnya menjadi siluman kembali, kuku-kukunya hitam pekat. Benar-benar Junichi, mungkin perbedaan mendasar hanya ada pada model rambutnya.


Rambut Junichi kini pendek, tidak panjang seperti dahulu.


Shim tertunduk menatap ke arah Kara."Mereka ingin bertemu denganmu."


"Aku tau, salah satu keturunanmu membunuhnya banyak nyawa. Apa yang harus aku lakukan dengannya?" tanya Kara pada Shim.


"Kerrel dia---" Kata-kata Shim disela.


"Bukan Kerrel tapi Defan. Jadi kamu tidak tahu apa-apa?" tanya Kara menghentikan langkahnya.


"Defan seorang dokter, mungkin tidak sengaja saat melakukan operasi---"


"Dia memiliki niat membunuh yang kuat, bahkan pada saudara dan ayahnya sendiri. Itu tidak penting, aku juga belum dapat menghadapinya sepenuhnya. Bagaimana jika kita masuk, menjadi keponakan dan paman yang baik." Senyuman terlihat di wajah Kara. Shim mengangguk, memberikan kipas besar berwarna putih. Dan benar saja, pemuda itu mengipas-ngipasi dirinya sendiri bagaikan kaum bangsawan.


"Tingkahnya..." batin Shim menahan tawanya. Orang dari masa lalu hidup kembali, seseorang yang dianggap ayah oleh leluhurnya.


Sementara Kerrel sudah duduk, duduk di kursi meja makan."Shui tidak ikut?" tanyanya pada sang adik.


"Tidak dia terlalu sibuk di kantor." Jawaban dari Kara yang duduk berdampingan dengan Shim.


"Kara sebentar lagi kamu wisuda. Apa sudah ada rencana?" taya Farhan mulai memakan-makanan di hadapannya.


"Ada, rencananya aku akan membuat banyak penerus." Jawaban dari Kara tersenyum. Matanya menelisik menatap raut wajah tidak suka dari kedua kakaknya.


"Sejak kamu menikah, kamu sudah jadi semakin dewasa." Farhan tersenyum tipis, semua sudah diketahui olehnya termasuk nilai sang anak yang mengalami peningkatan pesat.


Kerrel yang awalnya memotong daging, menghentikan gerakannya."Kenapa ayah mengatur perjodohan Kara dengan Shui? Padahal ayah tau aku menyukai Shui sejak dulu. Kara tidak becus dalam segala hal, tapi malah mengandalkannya untuk masuk ke keluarga Murren." sinisnya.


"Sudah ayah bilang berapa kali, ini permintaan Atmaja Murren. Jika ayah tidak bersedia perusahaan yang sekarang kamu tempati sudah pailit!" Suara bentakan dari Farhan pada putranya. Pemuda yang mulai bangkit, hendak berjalan meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Aku sudah selesai," kata-kata dari mulut Kerrel, berjalan meninggalkan meja makan.


Farhan tersenyum tipis, kembali makan. Matanya sedikit melirik ke arah Kara. Perubahan wajah yang tidak biasa. Apa ini efek dari dihidupkan kembali? Entahlah Shim tidak memberikan penjelasan apapun. Anak dari sepupunya itu hanya mengatakan tubuh Kara dapat dihidupkan kembali.


"Ayah menyayangimu. Jangan mencoba bunuh diri lagi," pintanya tersenyum pada putranya. Kara hanya terdiam tidak menjawab, pemuda itu tersenyum tipis.


"Aku akan menjaga anakmu dengan baik. Menyayangi dan mendidiknya, lebih baik darimu." Janji Junichi dalam hatinya. Perjanjian darah yang mengikatnya dengan Kara. Sesuatu yang unik baru diketahuinya, mungkin dirinya harus mencatat segalanya.


Perjanjian darah yang membuat Kara yang asli akan terlahir menjadi putranya. Tubuh kecil yang tercipta karena keterikatan perjanjian darah.


Defan menghela napas kasar, kemudian tersenyum."Sebaiknya kamu lebih perhatian pada Shui."


"Dia Istriku, tentu saja akan aku perhatikan. Jika ada yang menggores tubuhnya sedikit saja, aku akan membunuhnya," jawaban dari Kara, memakan makanan di hadapannya.


"Baguslah," hanya itulah jawaban ambigu dari Defan. Dua orang yang mulai saling mengancam. Hanya kata-kata biasa tapi memiliki makna lain.


*


Malam ini Kara merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Apa yang ada dalam fikirannya? Sejatinya hanya Shui. Sebentar lagi dirinya dan Fu akan memiliki keturunan.


*


Jantung seorang wanita berdegup cepat dalam toilet. 10 alat tes kehamilan dimasukkannya sekaligus, padahal dirinya baru terlambat datang bulan tiga hari.


Dua garis merah terlihat bersamaan. Wajahnya tersenyum, dirinya hamil? Benar-benar hamil? Sebentar lagi akan menjadi seorang ibu?


Tidak sabar lagi rasanya untuk memberi kabar pada suaminya. Ke-10 alat tes dibawa olehnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sang sekretaris memindahkannya ke dalam mobil. Berakting jika dirinya masih lumpuh.


Bahagia? Tentu saja, dirinya sudah bertekad, hari ini dirinya akan menunjukkan pada dunia, bahwa dia dapat berjalan. Tidak akan menyusahkan suaminya lagi, akan melindungi anak, ayah dan ibunya sepenuh hati.


"Aku hamil!" teriaknya dari dalam mobil, benar-benar aneh tapi menyenangkan baginya.


Tapi terkadang ada beberapa takdir yang tidak dapat dicegah. Bagaimana pun cara membelokkannya, bagaikan tetesan air hujan yang turun, akan menemukan jalannya untuk mencapai tanah.


Brak!

__ADS_1


"Sakit! Kalau jalan pakai mata!" teriak seorang pria yang baru saja ingin menyebrang jalan dari tempat parkir sebuah pertokoan.


Shui berjalan turun dari mobil. Dirinya tidak memikirkan apapun lagi. Dirinya benar-benar menabrak orang.


"Sakit! Aku minta kamu---" Kalimat Welan terhenti. Wanita cantik dengan kulit putih tersenyum. Memakai pakaian kantor apa wanita karier, terlihat baik kemudian tersenyum.


"Maaf, aku tadi sedang melamun saat menyetir." Ucap Shui, mengulurkan tangannya.


Welan tersenyum, wanita yang benar-benar cantik. Sesuatu yang ada dalam dirinya merasa aneh. Dirinya seakan tidak tertarik lagi pada lukisan yang dianggapnya sebagai cinta pertama."A...aku..."


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Shui masih setia tersenyum, membimbingnya menuju mobil. Melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Sesekali Welan melirik ke arah Shui. Ini benar-benar aneh baginya. Untuk pertama kalinya bertemu dengan gadis ini. Tapi entah kenapa rasanya sudah akrab. Sesekali dirinya tersenyum-senyum sendiri, merasa nyaman, bagaikan anak ayam yang bersembunyi mencari kehangatan di bawah tubuh induknya.


Tapi memang begitu bukan? Sebuah awal akan ada ujungnya.


"Kita sudah sampai," Kalimat Shui membuat Welan terkejut, membuyarkan lamunannya yang baru sampai ke tahap menikah dan melakukan adegan celap-celup. Belum sampai punya anak dan menua bersama.


"I...iya sayang!" ucap sang dosen cepat, kemudian memukul bibirnya sendiri, merasa salah bicara.


"Jangan memanggilku sayang, nanti suamiku salah paham. Aku sudah menikah." Gumam Shui menunjukkan jari manisnya.


Seketika saat itu juga Welan kecewa. Tapi tetap saja, cinta harus diperjuangkan bukan.


Entah sejak kapan pemuda yang tengah mengubah imajinasi, menjadi adegan suami tukang selingkuh, istri teraniaya, kemudian bercerai, menikah dengan dirinya, hidup bahagia hingga menua. Hanya imajinasi sejatinya, para suster dan perawat yang cekatan sudah memindahkannya ke dalam tempat tidur dorong.


"Di ... dimana wanita itu?" tanya Welan.


"Siapa? Yang mengantar anda?" sang perawat yang mendorong tempat tidur kembali bertanya.


"Iya!" bentak Welan.


"Dia pergi setelah memberikan deposit biaya perawatan anda!" geram sang perawat, berusaha tersenyum.


"Dia pergi?" Welan tertunduk kecewa, namun tidak akan menyerah pemuda yang menghubungi ayahnya untuk membantu mencari keberadaannya.

__ADS_1


"Ternyata aku normal!" teriaknya bahagia, pada akhirnya ada wanita yang membuatnya tertarik.


__ADS_2