Greatest Husband

Greatest Husband
Ketakutan


__ADS_3

Sang pria paruh baya mengenyitkan keningnya. Sedikit melirik ke arah Herlan yang terlihat begitu tegang. Bisnis yang tetap aman, itulah yang dipegangnya.


"Maaf, kembali bertanya apa yang kamu sukai dari Shui Murren, hingga bersedia berselingkuh dengannya?" tanyanya tersenyum.


"Dia? Aku membayarnya agar bersedia tidur denganku. Hanya untuk membalas Kara. Tapi anak ini aku tidak menginginkannya. Karena itu aku akan menggugurkannya. Omong-ngomong sebelum melakukan aborsi, boleh aku makan siang disini?" tanya Shui masih terlihat tenang.


"Aku ingin bicara lebih banyak dengan Herlan. Bukan denganmu, lagi pula lebih baik aborsi dilakukan sekarang. Setelah itu kamu bebas makan di restauran manapun," ucap sang pria paruh baya.


Jemari tangan Shui mengepal, bibirnya masih berusaha tersenyum. Sungguh pria yang pintar, tidak dapat dianggap remeh olehnya. Bahkan tidak dapat mengulur waktu hingga petugas kepolisian tiba.


"Bawa nona Shui Murren ke ruangan VVIP." Ucap sang pria berpakaian dokter pada dua orang perawat yang baru saja keluar.


Herlan menelan ludahnya, berusaha mengikuti langkah Shui. Ingin berlindung pada sang wanita lumpuh. Benar-benar sial, di saat seperti ini siluman k*parat itu entah dimana.


Tapi apa bisa menolong mereka? Puluhan pengawal bersenjata lengkap. Beberapa orang perawat dan seorang dokter. Bagaimana ini? Apa harus menghubungi Atmaja Murren? Mungkin pria itu akan membawa pasukan khusus, menyewa tentara bayaran. Setidaknya itulah yang ada dalam imajinasi Herlan, menatap Shui yang begitu tenang, bagaikan memiliki rencana lain.


Hal yang sebenarnya terjadi? Ingin rasanya Shui menangisi saat ini, tapi tidak bisa. Begitu ketahuan dirinya tidak hamil maka nyawanya akan melayang. Atau mungkin organisasi ini akan meminta tebusan pada ayahnya.


Berbagai hal di fikirannya. Tapi hanya jalan buntu yang tersisa. Jika tahu akan begini, dirinya akan menghubungi polisi lebih awal, tidak mengandalkan belasan pengawal miliknya.


Mungkin dalam anggapan Shui, ini hanya tempat aborsi ilegal biasa. Tapi kenyataannya tidak, mungkin terhubung dengan jaringan mafia.


"Kamu tidak boleh ikut," ucap sang pria paruh baya berpakaian dokter, masih duduk tenang di sofa.


"Tapi aku---" Kata-kata Herlan disela.


"Kalian bukan pasangan kan? Herlan tidak mencemaskanmu, tapi terlihat ketakutan akan nyawanya sendiri. Kalian ingin menjebakku? Petugas kepolisian, akan sampai sekitar 30 menit lagi. Lokasi tempat ini terlalu terpencil. Tapi itu bagus, kalian melanggar perjanjian. Jadi kami berhak melakukan apa saja. Bawa Shui Murren, suntikan obat tidur padanya. Atmaja akan memberikan bayaran yang besar untuk putrinya." Perintah dari sang pria.


"Aku tidak melanggar perjanjian. Aku benar-benar hamil. Inikah cara kalian memperlakukan pengguna jasa?!" bentak Shui masih berusaha tenang.


"Bius dia!" perintah dari sang pria.


"Lepas!" Herlan ditarik menjauhi Shui, berusaha meronta. Setelah ini dirinya akan dibunuh. Semua sudah diduga olehnya, air matanya mengalir. Impian hidup kaya tidak akan terwujud di kehidupan ini. Dirinya bahkan belum sempat membayar hutang 35.000 pada pacarnya. Apa dirinya akan menjadi roh penasaran karena belum membayar hutang.

__ADS_1


Tangan Shui ditarik, dipegangi, bersamaan dengan tubuhnya di diberikan obat bius. Kesadarannya perlahan hampir pudar. Entah ini imajinasi akibat penggunaan obat bius atau bukan. Namun pintu besar di bagian depan tiba-tiba terbuka. Seorang pemuda membawa pipa besi, pipinya terkena cipratan darah segar. Tatapan matanya kosong.


"Kara..." gumamnya, memejamkan matanya, terjatuh dari kursi rodanya. Terbaring di lantai.


*


"Kamu siapa?" tanya sang pria berpakaian dokter mulai bangkit. Menatap pemuda yang membawa pipa besi di tangannya, ujung pipa besi terdapat darah segar. Sedangkan dua pengawal di bagian depan terlihat sudah terkapar berlumuran darah.


"Kara, suami dari Shui Murren," ucapnya masih tanpa ekspresi. Beberapa pengawal yang ada di dalam ruangan mengarahkan senjata padanya. Membidik tepat di jantung, kepala, dan kaki serta tangannya.


"Aku melupakan wajahmu. Tapi Farhan tidak akan mau menebus untuk anak tidak berguna sepertimu. Habisi dia! Hanya memerlukan Shui Murren!" perintah sang pria pada para pengawalnya.


Herlan memejamkan matanya ketakutan, kepalanya masih ditodongkan senjata api. Sedangkan Kara akan dibunuh terlebih dahulu.


Dor!


Dor!


Dor!


Masih memegang pipa besi di tangannya. Bagaikan pedang miliknya 500 tahun lalu. Kala mengalahkan pasukan siluman yang ingin memasuki hutan berkabut.


Kasta terendah? Tapi tidak dengan kemampuan dan teknik bertarungnya. Menghindari peluru, bergerak sedikit mundur, kemudian menjadikan tiang penyangga sebagai pijakannya. Memiliki kecepatan gerak yang sulit dielakkan, menuju lantai dua.


Srash!


Pipi Kara tergores sedikit proyektil yang hendak dihindarinya. Proyektil yang pada akhirnya memecahkan kaca jam dinding yang besar.


"Dimana dia?" gumam salah seorang penembak jitu di lantai dua. Menyadari objek sasarannya menghilang.


Bug!


Tanpa banyak bicara, atau mengeluarkan suara, sang penembak jitu tiba-tiba terjatuh. Dengan bagian punggungnya yang dipukul menggunakan tongkat besi.

__ADS_1


Para penembak jitu yang berada di lantai dua mulai mendekati Kara. Pemuda dengan mata masih memerah. Berjalan menyeret penembak jitu yang dirobohkannya pertama.


"Kalian mau mati? Atau hidup cacat?" tanyanya tersenyum.


"Ka...kamu siapa? Iblis!" teriak salah seorang dari mereka gemetar.


"Bukan, aku tidak serendah orang yang menjual saudaranya sendiri, tidak serendah orang yang m*mperkosa banyak wanita, atau meludahi orang tuanya hanya untuk mendapatkan uang. Membunuh demi kepentingan tidak jelas." Gumamnya bagaikan mengungkapkan dosa-dosa orang-orang di hadapannya.


Dor!


Dor!


Dor!


Penembak jitu yang panik menembak Kara dengan membabi buta. Pemuda yang menjadikan pria yang diseretnya menjadi perisai.


Hingga mendekati beberapa penembak jitu. Tidak ada satupun yang selamat, tendangan dilayangkannya. Memukul mereka menggunakan pipa besi, bergerak anggun, namun dengan kecepatan yang tinggi.


Bagaikan seorang Junichi 500 tahun lalu. Mengusir kawanan harimau yang mengepung hutan berkabut. Tidak mengenal belas kasih, mata yang tidak peduli dengan nyawa. Mengapa? Dirinya sudah memberikan kesempatan. Para manusia yang jika dibiarkan hidup dalam keadaan sehat olehnya, mungkin akan membunuh orang lebih banyak lagi.


Hingga pada akhirnya keadaan di lantai dua benar-benar kacau tidak ada yang tersisa. Beberapa orang mungkin mengalami cacat permanen tidak sadarkan diri.


Tang!


Tang!


Tang!


Suara pipa besi diseret di tangga terdengar. Beberapa orang pria bersenjata yang ada di lantai satu melindungi sang pria berpakaian dokter.


Wajah dingin yang tersenyum, dengan lebih banyak cipratan darah yang mengotori pakaian serta sedikit bagian leher dan wajannya.


Begitu mengerikan, Herlan menelan ludahnya sendiri. Sampai saat ini dirinya benar-benar ketakutan dengan sosok Junichi yang kini telah menjadi Kara.

__ADS_1


"Berhenti! Dan biarkan kami pergi! Atau Shui Murren dan temanmu akan mati!" ucap sang pria berpakaian dokter gugup. Petugas kepolisian akan datang sekitar 25 menit lagi. Dirinya harus melarikan diri membawa Shui Murren. Tangannya gemetar, menelan ludahnya berkali-kali. Pria mengerikan yang tiba-tiba menertawakannya.


__ADS_2