
"A...aku ingin ke dokter. Kenapa bisa seperti ini," gumamnya menangis dalam pelukan Kara. Pemuda yang hanya tersenyum tipis dengan wajah pucatnya.
Hanya dapat berdiri beberapa detik, merasakan kakinya. Namun syaraf yang telah merasakannya. Seorang wanita yang lumpuh selama belasan tahun.
"Kara..." ucapnya tersenyum.
Kara memeluknya erat, tidak membiarkannya terjatuh."Cobalah bergerak pelan,"
Benar-benar lemas, bahkan hanya untukmu berdiri, masih kesulitan mengangkat kakinya."Kara! Tidak bisa bergerak, tidak bisa!" ucap Shui.
"Sedikit saja..." pinta suaminya, yang kini memapahnya. Kaki Shui gemetar, sedikit terangkat.
Bug!
Tubuhnya terjatuh, tidak seimbang sama sekali. Tangan Shui gemetar, menitikkan air matanya."Kara aku---" Kata-katanya terhenti.
Pemuda itu memeluknya."Setiap orang memiliki kelemahan. Tapi berusaha sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih baik. Aku pernah bertemu seorang anak perempuan yang bodoh, dia tidak pintar tapi baik hati dan gigih. Pada akhirnya dia mendapatkan posisi yang mulia di hati banyak orang,"
Entah kenapa Shui membalas pelukannya. Menangis menumpahkan segalanya. Memiliki tempat untuk berlindung, apa ini perasaan memiliki seorang suami?
Sedangkan Kara hanya terdiam, mengeratkan pelukannya pada Shui, namun matanya menatap ke arah jendela yang menampakkan sinar matahari pagi. Wajahnya tiba-tiba tersenyum, wanita ini akan dapat berjalan lagi cepat atau lambat.
*
Tidak mengatakannya pada siapapun, Shui lebih memilih diam, tidak ingin Sonya mendengar tentang perkembangan kondisinya. Matanya menelisik ke arah Kara, sebelum tidak sadarkan diri, sebenarnya Shui sempat melihat Kara memasuki ruangan. Apa Kara yang menyelamatkannya?
"Kenapa aku bisa keluar dan sampai rumah? Apa ayahku memberi uang tebusan?" tanya Shui curiga.
"Tidak, Herlan dan para pengawal yang menyelamatkanmu. Aku hanya mengantarmu pulang. Kenapa? Kamu memimpikan aku? Ingin aku selalu dekat denganmu? Apa kamu mencintaiku?" tanya sang pemuda cerewet dengan cepat.
"A...aku tidak," Shui terdiam merasa salah bicara. Sementara Kara hanya tersenyum simpul melirik ke arahnya.
"Sebaiknya jangan ke rumah sakit. Kamu diracuni hingga tidak dapat berjalan. Mungkin orang yang meracunimu akan waspada jika mengetahui perkembangan kondisimu." Ucap Kara kembali fokus pada jalan raya.
__ADS_1
"Aku tidak diracuni! Dokter bilang---" Kata-kata Shui disela.
"Semua bisa direkayasa hanya dengan kata-kata. Mau aku ceritakan sebuah kisah?" tanya Kara pada istrinya.
"Cerita apa? Cinderella? Putri salju? Ultraman? Akatsuki?" cibir Shui tertawa.
Namun, Kara hanya terdiam sejenak."Kamu mungkin tidak akan menyukai kisah ini. 500 tahun yang lalu, putri seorang perdana menteri dijerat siluman. Dia digoda dan menemui siluman itu setiap malam. Kaisar yang jatuh cinta pada putri perdana menteri, mencoba segala cara menghilangkan pengaruh dari sang siluman pada putri perdana menteri,"
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Shui terlihat antusias kali ini.
"Tubuh siluman itu dibakar, jiwanya disegel. Sedangkan putri perdana menteri hidup bahagia dengan sang kaisar di istana." Jawaban dari Kara, melirik ke arah istrinya.
Namun tidak ada respon tiba-tiba. Shui hanya mengenyitkan keningnya."Kamu berbohong kan? Akhir cerita yang tidak masuk akal. Seperti aku sedang menonton film dimana seorang wanita diguna-gunai, kemudian datang pria tampan yang berhasil mengobatinya. Mengirimkan guna-gunanya kembali. Hingga si pria pelaku guna-guna dan dukunnya mati. Tidak mungkin, mulutmu akan menceritakan cerita tidak berguna seperti itu. Ceritakan akhir cerita versi aslinya!" tegas Shui pada suaminya.
"Yang jelas, putri perdana menteri hidup bahagia selama-lamanya. Dia hanya siluman, jadi---" Kata-kata Kara terpotong, Shui menatap tajam padanya.
"Katakan akhir ceritanya," tegasnya pada suaminya.
"Putri perdana menteri bunuh diri di harinya memasuki istana. Mati di hadapan Kaisar, bertepatan dengan saat siluman itu disegel," Jawaban dari Kara.
"Shui kamu kenapa?" tanya Kara.
"Jangan lihat aku! Lihat ke arah jalan sana!" bentak Shui tiba-tiba dengan suara parau.
"Kamu menangis?" Kara mengenyitkan keningnya.
"Iya! Aku menangis! Biasanya aku tidak sensitif seperti ini! Tapi karena kamu menceritakan CLBK, aku jadi menangis!" Shui kembali membentak, meraih sehelai tissue kemudian mengeluarkan ingusnya.
"CLBK?" Kara mengenyitkan keningnya.
"Cinta Lama Belum Kelar! Anak perdana menteri, aku yakin dia benar-benar mencintai siluman. Karena itu bunuh diri di hadapan kaisar! Lagipula jaman dulu benar-benar keterlaluan perjodohan yang---" Kata-kata Shui disela.
"Kita dijodohkan," ucap Kara.
__ADS_1
"Aku tau, tapi situasinya berbeda. Kaisar---" Lagi-lagi, entah kenapa Kara menyelanya.
"Satunya kaisar yang kaya raya, satunya lagi seekor siluman yang menjaga hutan berkabut. Secara logika, kaisar akan dapat membahagiakannya. Wanita manapun akan lebih memilih kaisar." Ucap Kara berusaha tersenyum.
Shui menggeleng."Kaisar akan mengangkat banyak selir. Lagipula kaisar hanya menemani anak perdana menteri di akhir cerita. Yang selama ini bersamanya siluman itu kan?"
"Anak perdana menteri akan---" Kata-kata Kara yang kali ini dipotong.
"Dia tidak akan pernah bahagia. Pria yang dicintainya dibunuh oleh kaisar, dipaksa memasuki istana. Seumur hidupnya akan memikirkan bagaimana caranya untuk mati. Tersiksa dalam istana dengan puluhan selir bersaing untuk mendapatkan kasih sayang Kaisar. Apa kamu fikir kehidupan seperti itu akan membuatnya bahagia?" tanya Shui. Bersamaan dengan Kara yang menepikan kendaraannya.
"Dia tidak akan bahagia. Tapi itulah akhir ceritanya." Ucap Kara tersenyum, menghela napas kasar.
"Tidak ada lanjutannya? Mereka mati? Hanya itu?" tanya Shui pada suaminya.
"Ada, bagaimana jika kita berencana mempunyai anak? Usiamu sudah 25 tahun kan? Satu? Dua? Atau tiga orang?" Kara tersenyum, kata-kata yang benar-benar memprovokasi.
Sedangkan Shui beringsut mundur. Suaminya semakin aneh belakangan ini.
*
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti di depan area restauran. Seorang wanita rupawan keluar dari sana, mengenakan kacamata hitam, pakaian yang benar menampakan lekukan tubuhnya.
Ideal, bagaikan manekin, tentunya dengan bagian depan yang tidak berukuran kecil. Benar-benar membuat semua orang menoleh padanya. Kulit putih dengan senyuman yang meneduhkan. Tanpa riasan wajah sama sekali.
Star? Itulah nama inisialnya. Menjadi selebriti ternama, bahkan artis yang jauh lebih terkenal dari Sonya. Kaki yang jenjang, rambut panjang terurai rapi, benar-benar ciri khas seorang idola.
Wanita yang mendekati meja kasir."Aku ingin bertemu dengan Herlan." Ucapnya pada sang kasir memperlihatkan koran dengan foto seorang pemuda tengil di samping petugas kepolisian.
"Herlan sedang istirahat. Tunggu! Itu dia datang," ucap sang kasir, menunjuk ke arah pemuda yang sama-sama berpakaian kasir.
Star berjalan mendekat, kemudian berbisik pada Herlan."Kita perlu bicara berdua, tentang masa lalu yang terlupakan," ucapnya tepat di samping leher sang pria.
Tujuannya datang? Menemukan Junichi, setelah membaca berita di koran dan mendatangi lokasi kejadian. Sedikit darah Kara ada disana dengan kekuatan roh Junichi yang melekat. Mungkin dalam anggapan Star, Herlan yang diberitakan melakukan semuanya adalah Junichi.
__ADS_1
"Ma...masa lalu apa?" tanya Herlan gugup.
"Ya, Tuhan aku didatangi selebriti ternama. Apa aku dulu pernah hilang ingatan dan melakukan one night stand dengannya ya?" batin Herlan menelan ludah berkali-kali.