Greatest Husband

Greatest Husband
Bagaimana


__ADS_3

Tak! Tak! Tak!


Suara langkah sepatu seorang wanita menelusuri lorong yang gelap. Matanya menelisik, mencurigai semua orang sebagai pelaku pembunuhan kedua sahabatnya.


Musuh? Mereka tidak memiliki musuh, karena selama ini membayar orang-orang untuk melakukan kejahatan. Walaupun mereka sendirilah juga menyaksikan, tapi tidak ada satupun bukti yang tertinggal. Mengingat orang tua mereka bertiga menghilangkan jejak setiap kali anak kesayangan membuat ulah.


Tubuhnya merinding, sejatinya berpura-pura tenang. Bahkan cleaning service yang memegang kemoceng pun dalam bayangannya memegang parang besar. Rasa takut mengintainya. Dirinya sempat berpapasan dengan Dahlan di lift. Pemuda yang hendak menuju lantai satu.


Tersangka utama, tidak ada orang lagi yang tersisa. Penyidik yang bertugas dapat dipercaya dan tidak menerima suapan, itu berarti Welan benar-benar memiliki alibi. Hanya saja terlalu memalukan untuk mengungkapkannya.


Sedangkan satu tersangka lagi Warto, walaupun terlihat memiliki darah campuran, almarhum Agustin yang memiliki impian menjadi bagaikan putri tidak mungkin menyukai pria desa.


Itu berarti hanya satu kemungkinannya Dahlan yang merupakan putra tunggal seorang politikus adalah pelakunya. Wajah Cantika pucat pasi, berdoa dalam hati ada orang lain yang memasuki lift, orang yang dapat melindunginya.


Tapi kala telah berbuat banyak kebusukan, fikiran hanya prasangka dan fikiran negatif yang tertinggal. Saat itu uluran bantuan tangan Tuhan, melalui umat-Nya hanya akan ditepisnya menjadi prasangka.


Dahlan menghela napas kasar melirik ke arah Cantika yang berada di pojokan lift terlihat ketakutan dengan wajah pucatnya.


"Aku Dahlan, kita satu universitas tapi jarang menyapa. Kamu kelihatannya masih ketakutan dengan hal yang menimpa kedua temanmu. Tidak aman bagimu, bagaimana jika aku mengantarmu pulang saja?" ucap Dahlan berbalik, mengutarakan niat baiknya. Benar-benar tidak tega pada wanita yang kini ada di hadapannya.


Wanita yang mungkin menjadi sasaran pembunuhan berikutnya.


"Kamu! Jangan kira aku tidak tahu kamu yang sudah melecehkan dan membunuh Shela dan Agustin!" bentaknya benar murka, sekaligus ketakutan dengan tindakan Dahlan berikutnya.


"Aku tidak memaksa, hanya menawarkan tumpangan. Lagipula jika tidak mau tidak apa! Katakan dengan halus jangan menolak secara kasar!" bentak Dahlan yang memang dari keluarga terpandang. Memiliki arogansi tinggi, namun hati yang baik.


Dahlan berjalan keluar dari lift kala pintu terbuka di lantai satu. Meninggalkan Cantika yang lebih memilih tinggal di kampus. Mengingat Dahlan yang keluar dari kampus, berarti keadaannya untuk malam ini aman jika tetap tinggal di sini. Mungkin itulah pertimbangan gadis itu, benar-bebar mencurigai Dahlan sebagai pelakunya.


Sedangkan Dahlan melangkah dengan cepat menatap sekilas ke arah depan pos security. Terlihat sepintas Welan dan Warto berada di sana. Meminum kopi sambil bermain catur. Dua orang yang dicurigai Dahlan sebagai pembunuh. Tapi masa bodoh, wanita yang menuduhnya sebagai pembunuh, tanpa memiliki bukti.


mobil miliknya mulai melaju meninggalkan parkiran kampus. Fikirannya tidak tenang mengingat tetang Cantika. Hingga sekitar 30 menit perjalanan, pemuda itu sampai di gerbang besar rumahnya. Merebahkan dirinya di tempat tidur setelah mencapai kamar.

__ADS_1


Jiwa kemanusiaannya membuat otaknya terasa berat. Pada akhirnya dirinya menghubungi pihak kepolisian untuk mengecek kondisi Cantika di kampus malam ini.


*


Wanita yang benar-benar ketakutan, berjalan menelusuri lorong. Semua orang adalah pembunuh di matanya.


Bug!


Hingga dirinya menabrakan sang security di dalam lorong kampus. Pemuda yang terlihat rupawan, bertubuh tegap, berkulit putih. Menggendong sebuah ransel.


"Pak Warto?" gumamnya.


Warto tersenyum lembut."Kenapa berlari? Nanti terjatuh, lantainya lumayan licin,"


Cantika mengangguk, memang hanya pria ini yang tidak mungkin menjadi tersangka. Memberikan keterangan pada penyidik dengan tenang, orang miskin yang berasal dari desa, tidak mungkin menjadi kekasih sahabatnya yang materialistis.


"Pak saya takut. Bisa saya ikut bapak malam ini? Besok orang tua saya mengatur kepindahan, akan mengirim saya kuliah di luar negeri," pintanya. Mengikuti pria ini mungkin akan membuatnya aman, untuk malam ini saja. Mungkin begitulah dalam fikirannya.


Jika dipaksakan pulang dirinya mungkin sudah diintai Dahlan dalam perjalanan.


Cantika menegang erat tangan Warto. Menyukai wajah rupawannya, hatinya berdebar-debar benar-bebar tipenya. Lebih dewasa dan penyayang, wanita yang tidak menyadari pemuda ini pernah ditatapnya sekilas dalam acara pemakaman gadis yang membuka kantin di kampus.


Apa yang terjadi malam itu? Cantika yang melihat wanita itu memasuki ruangan rektor mengira gadis kampung itu mengadu. Tidak mengetahui yang sebenarnya, hingga merencanakan membuat pembalasan.


Sensasi film-film kekerasan yang biasa mereka tonton ingin dilihatnya dalam kehidupan nyata. Terlebih lagi gadis yang berasal dari desa itu berani membuat masalah dengan mereka.


Tiga orang wanita yang masih perawan. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, gadis desa itu digiliri dalam dua tempat yang berbeda. Tangga darurat dan ruang olahraga, terakhir karena sudah tidak sadarkan diri, lehernya disayat dalam tempat kostnya, mengenai pembuluh darah, menyebabkan gadis itu kehabisan darah. Membuat seolah-olah ini kasus bunuh diri, bahkan menghalangi kepolisian untuk menyelidiki.


Selama ini tidak ada yang berani membuat masalah dengan ketiga tuan putri dari keluarga kaya itu. Hingga sifat arogan untuk menjaga citra mereka sekaligus mempermainkan nyawa manusia tumbuh.


Beberapa orang sudah menjadi korban mereka. Tapi gadis desa itu yang mengalami terburuk.

__ADS_1


Cantika mengikuti sang security yang masih terbilang muda berusia 31 tahun. Sang security yang berkata akan memperbaiki saluran air.


Wajah tersenyum Warto memudar tanpa disadari Cantika. Dalam lorong yang gelap menuju lantai tiga.


*


Sedangkan di tempat lain, Welan tengah menyusun materi kuliahnya nanti. Melepaskan kacamata bacanya sejenak menghapus rasa lelahnya. Matanya menelisik, sudah lebih dari 30 menit kepergian Warto.


Pemuda yang tersenyum-senyum sendiri meraih phonecellnya. Sekali lagi menatap foto dari lukisan yang terpajang di kamarnya. Wajahnya tersenyum-senyum sendiri entah kenapa."Pantas saja kaisar memilih meninggalkan tahtanya di usia muda untuk tinggal bersama selirnya di kuil. Selirnya secantik ini," gumamnya.


Welan menghela napas kasar, membuka satu persatu laci yang ada di post satpam. Ingin mengetahui seperti apa wajah kekasih sang security.


Hingga dirinya menemukan sebuah handycam. Untuk apa seorang security memiliki handycam? Lagipula barang yang terlalu mewah bagi seorang security.


Perlahan dibukanya. Tidak terdapat banyak video disana. Hanya pemasangan sawah, juga sang security dengan wanita desa rupawan tengah membakar ubi.


"Pacarnya cantik, tapi lebih cantik lukisan yang baru aku beli," ucap Welan. Hingga pemuda itu mengenyitkan keningnya.


Video pemakaman terlihat, dirinya mencium kening wanita yang akan dikuburkan. Merekam mayat wanita cantik itu lumayan lama, bagikan meninggalkannya untuk sebuah kenangan.


"Pacarnya meninggal?" gumam Welan, kembali melihat beberapa video. Tidak ada video yang aneh. Hingga satu video ditemukannya.


Rekaman di hari pembunuhan. Tepatnya mengarah ke area parkir dari post security. Welan membulatkan matanya, membuat sebuah asumsi.


"Ini caranya membuat alibi untuk tidak bertemu dengan kamu?" gumam Welan.


Pengaturan waktu yang tepat. Dimana Warto tidak bertemu dengan satu orang pun, sebuah kebetulan dimana setiap pria itu berkeliling. Akan ada orang di parkiran.


Tidak, Warto memang tidak berada di post dari jam setengah 10 hingga 12 malam. Pria yang membuat kesaksian hanya berkeliling dari jam 10 sampai 11. Sedangkan jam 11 sampai 12 di post. Hingga keluar untuk membeli makanan selama 15 menit.


Sebuah pengaturan waktu kesaksian menggunakan handycam hingga dapat menjawab dengan jelas saat penyidik bertanya.

__ADS_1


Jemari tangan Welan mengepal, tidak dapat membiarkan monster seperti ini membunuh lebih banyak korban, pintar dan mengerikan. Seolah-olah sosok Warto yang baru saja bermain catur dengannya menghilang. Yang ada di fikirannya adalah Cantika, keselamatan sang gadis malang. Berlari menekan-nekan tombol lift dengan cepat


Berlari dengan cepat meninggalkan post security.


__ADS_2