Greatest Husband

Greatest Husband
Menjadi


__ADS_3

Suara sirene mobil kepolisian terdengar, hari sudah mulai senja. Kara berjalan melewati hutan yang ada di sekitar villa. Wajahnya masih terkena cipratan darah yang belum kering, menonggakkan kepalanya sejenak menatap ke arah langit sore yang perlahan menjadi gelap.


Terdiam dengan wajah pucatnya. Racun yang selama belasan tahun dalam tubuh Shui telah dikeluarkannya. Namun, racun yang bercampur dengan darah dan daging? Tenaganya terkuras. Cairan merah kehijauan kembali keluar dari mulutnya.


Kara menurunkan Shui sejenak membaringkannya di bawah sebuah pohon besar, terbatuk-batuk mengeluarkan lebih banyak cairan dari mulutnya.


Mungkin perlu beberapa hari memulihkan dirinya. Perlahan berusaha bangkit, kembali mengangkat tubuh istrinya, meletakkannya pada punggungnya. Langkah demi langkah yang dilaluinya dibawah langit yang berubah menjadi gelap, menginjak dedaunan dan ranting kering. Jutaan bintang terlihat di atas sana.


Wajahnya tersenyum, dirinya tidak sendiri lagi. Seseorang sudah kembali berada di sisinya.


Wajah Shui terlihat masih tertidur lelap, mungkin merasa nyaman di punggung sang pemuda.


Tidak pernah bahagia? Itulah hidup yang dijalani Fu. Kara terdiam mengepalkan tangannya, mengetahui dan merasakan setiap detik tubuh Fu dilukai oleh keluarganya karena menolak untuk memasuki istana.


Tanda yang dibuatnya di belakang leher Fu penyebabnya, dirinya dapat mengetahui dan merasakan segalanya. Cambukan rotan, bahkan diikat dalam gudang tanpa makan dan minum mengikuti perintah cenayang palsu, berkata ingin mengusir siluman yang menggoda putri sah sang menteri.


Dirinya mengetahui, namun tidak dapat berbuat apapun. Hanya diam dalam pertapaannya, telah berjanji akan kembali pada hari ke 118. Namun, pada hari ke 99 adalah hari kematian Fu.


Pemuda yang ingin menyelamatkan kekasihnya, menggagalkan pertapaannya sendiri. Membuat tubuhnya rusak, hingga pada akhirnya disegel oleh anak yang diselamatkan olehnya.


Kara terdiam, Fu telah terlahir kembali. Namun, apa dapat bahagia dengannya? Atau menemukan hasil serupa? Dirinya hanya menginginkan kebahagiaan kekasihnya.


Apa Fu akan menemukan akhir bahagia jika dirinya menghilang?


Entahlah, terlahir kembali sebagai Shui, dan kembali membuatnya jatuh cinta.


"Shui, bagaimana jika suatu hari nanti aku menghilang?" pertanyaan darinya penuh senyuman pada wanita yang masih tertidur lelap. Memasuki hutan lebat, menikmati setiap detik kebersamaan mereka, hingga dirinya lelah.


"Pak boleh saya menumpang? Kami kecelakaan dan jatuh ke jurang saat mendaki. Makanya wajah saya berlumuran darah. Lengan saya terluka, pacar saya pingsan," alasan Kara penuh senyuman pada supir truk yang dihentikannya saat melintasi jalanan beraspal yang membelah hutan.

__ADS_1


Sang supir mengangguk, membiarkannya menumpang di bagian belakang. Pemuda yang tersenyum naik tanpa ragu. Menyadarkan punggungnya di bak truk, sedangkan Shui dibaringkannya dengan menjadikan pahanya sendiri sebagai bantal istrinya.


Wajah tengil yang tersenyum, tidak mungkin dirinya menghabiskan tenaga untuk berjalan kaki menuju rumah keluarga Murren, hanya agar terlihat keren.


*


Sedangkan di tempat yang berbeda, sirine mobil polisi dan ambulance terdengar. Beberapa pengawal Shui diperiksa sebagai saksi. Semua sudah diberi perintah oleh Herlan agar bersedia mengarang cerita bersamanya.


"Satu orang di sini tewas, sebenarnya bagaimana kejadiannya?" tanya sang petugas.


"Begini aku meminta bantuan sahabatku Kara, karena aku prihatin pada teman praktek aborsi yang tadinya ada di dekat rumahku. Aku menemukan jika mereka kembali membuka jasanya melalui situs internet. Kemudian Kara meminjamkan pengawalnya untuk membantuku, menjaga sekaligus menjebak mereka agar tidak melarikan diri. Sebelum kalian (petugas kepolisian) datang."


"Tapi sialnya, mereka semua bersenjata. Kami terkepung dan terpaksa harus menggunakan jurus bela diri kami. Karena tidak ingin mati sia-sia mengingat kalian (petugas kepolisian) yang belum datang. Para pengawal Kara mengalahkan sekitar 15 orang, sedangkan aku sendiri sekitar 9 orang. Mereka menembak dengan cepat. Aku sudah berusaha menghindar, tapi mereka malah tidak sengaja menembak rekan mereka sendiri hingga tewas di tempat. Kalian boleh memeriksa tidak ada sidik jari kami di senjata api." Ucap Heran bagaikan seorang Rambo yang baru saja menghancurkan markas musuh seorang diri.


Sang petugas menghela napas kasar, dirinya mungkin akan naik pangkat jika kasus ini diangkat ke publik. Menangkap jaringan praktek aborsi ilegal akar cabang dari jaringan mafia. Untuk selanjutnya mungkin akan sulit, menangkap komplotan mereka. Tapi dengan adanya pemuda ini, mungkin saja bisa.


Orang yang sudah dua kali terlibat dalam penangkapan kasus besar, pertama narkotika dan kini praktek aborsi ilegal.


Herlan menggeleng."Cita-citaku menjadi pengusaha kaya. Membantu orang sebagai warga masyarakat yang baik hanya sekedar hobi bagiku," jawabnya tersenyum.


"Walau bagaimanapun sudah ada korban, kami akan meminta keteranganmu dan pengawal dari keluarga Murren di kantor polisi. Walaupun kemungkinan kalian hanya akan menjadi saksi, mengingat mereka semua bersenjata." Sang petugas tersenyum bangga menepuk bahu Herlan.


"Tidak apa-apa, bahkan jika harus diintrogasi lima hari pun, sebagai warga negara yang baik saya akan melakukannya." Ucap Herlan, penuh kesungguhan.


"Aku sudah dibayar dimuka oleh Kara untuk menjadi Superman. Walaupun terkurung lima hari di kantor polisi juga tidak apa-apa. Lima puluh juta sudah di tangan. Benar-benar pesugihan tanpa tumbal," batin Herlan penuh senyuman, mengikuti sang petugas kepolisian ke dalam mobil.


*


Dua pasang bola mata beradu, bibir mereka masih berpangut, bergerak perlahan dengan mata sedikit demi sedikit terpejam. Seakan tidak mempedulikan sinar matahari pagi yang memasuki jendela.

__ADS_1


Tubuh Kara masih berada di atasnya, seakan tidak ingin melepaskan Shui. Begitu merindukannya, mendekap erat tubuh wanita yang ada dibawahnya kala menelusuri lehernya perlahan. Shui hanya dapat menonggakkan kepalanya, membiarkan Kara bergerak semaunya.


Tidak mengerti dengan dirinya sendiri, jantungnya berdegup cepat, darahnya benar berdesir. Ingin menghentikan segalanya, tapi juga menginginkan lebih banyak.


"Ka...Kara..." racaunya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Nona, tuan muda, sarapan sudah siap!" ucap seorang pelayan membuat Kara menghentikan kegiatannya. Duduk di tepi tempat tidur.


"Kami akan turun 20 menit lagi!" ucap Kara dari dalam kamar.


Tidak ada suara lagi mungkin pelayan sudah melangkah pergi. Shui menelan ludahnya menatap kekasih adiknya. Walaupun sudah menjadi suaminya, tapi bayangan Sonya menjadi momok besar yang tidak akan dilupakan Shui.


"Kara, kita...aku... kamu. Aku tidak bisa mencintaimu." Ucap Shui menjawab kata-kata suaminya, sebelum mencium dirinya.


Tidak bisa? Tentu saja, dirinya tidak begitu bodoh. Tidak ingin hanya dimanfaatkan oleh Sonya melalui Kara. Mungkin saja, pemuda ini suatu saat akan mengkhianatinya, setelah merebut semua miliknya. Menjaga jarak adalah hal yang terbaik.


Tidak menyadari saat ini wajah Kara pucat pasi, akibat mengeluarkan racun dalam tubuh Shui. Wajah pemuda yang tersenyum.


"Aku punya kejutan untukmu." Ucap Kara memaksa Shui turun dari tempat tidur.


"Aku tidak bisa berjalan! Kara!" teriaknya kesal, berusaha bertahan dengan kakinya.


Kaki yang gemetaran, kesulitan menahan tubuhnya. Shui terdiam air matanya mengalir, dirinya dapat merasakan kakinya? Hanya berdiri selama sekitar lima detik.

__ADS_1


Bruk!


Kara menangkap tubuhnya yang terjatuh."Kamu akan bahagia, dapat berjalan sedikit demi sedikit. Jadilah Shui yang sempurna,"'


__ADS_2