Greatest Husband

Greatest Husband
Tersangka


__ADS_3

Kara menghela napas kasar. Menyandarkan punggungnya di sofa. Pemuda yang sudah dari awal menyadari pelaku sesungguhnya. Membunuh dan meniduri dua orang tapi tidak mengundang iblis datang? Itu tidak mungkin.


"Makanan..." batinnya menahan rasa lapar. Tidak ingin mengembalikan kemampuannya sepenuhnya. Wujud fisik tubuh Kara sudah jauh berubah.


Apa sebenarnya makanan siluman untuk menambah kemampuannya? Sejatinya tubuh, roh, energi atau bangkai. Namun, berbeda dengan Junichi, ibunya dibunuh oleh seorang biksu yang menyangka ibu Junichi, membunuh manusia. Sejatinya tidak ibunya hanya memakan sisa bangkai, sifat alaminya sebagai siluman gagak.


Dirinya masih kanak-kanak saat itu melihat ibunya dibakar menggunakan kertas mantra. Ada rasa dendamnya pada sang biksu, anak yang menangis, mengatakan ibunya hanya memakan bangkai, pembunuh aslinya adalah manusia lain.


Sang biksu mundur penuh rasa bersalah. Manusia, tumbuhan, hewan, bahkan siluman semuanya memiliki perasaan. Menatap ke arah Junichi saat ini, siluman kecil yang membawa beberapa ulat di tangannya mungkin hendak memakannya.


Wajahnya berusaha tersenyum."Aku akan mendapatkan balasan dari-Nya atas kesalahanku, balasan yang lebih buruk daripada yang aku buat pada ibumu. Tapi apa kamu mau mengubah jalan hidupmu? Tetap menjadi siluman karena itulah takdirmu. Tapi dapat melakukan lebih banyak hal, melakukan kebaikan. Mengirim iblis yang mengikuti manusia ke neraka. Dengan begitu akan lebih sedikit lagi orang-orang yang terbunuh."


"Iblis? Aku tidak bisa melihat iblis. Lagipula jikapun ada membunuh iblis. Tetap saja membunuh, ibuku hanya memperbolehkaku memakan bangkai dan ulat. Agar tidak membunuh---" gumam Junichi kecil saat itu masih dengan beberapa ulat dalam genggamannya.


"Mengambil jantung mereka tidak membunuh mereka. Hanya mengirim ke neraka tempat asal mereka. Mencabut akses mereka kembali ke dunia manusia. Kamu dapat hidup tenang dan mandiri tanpa perlu khawatir diburu oleh orang-orang sepertiku atau pembasmi siluman." Sang biksu yang merasa bersalah, masih menatap sang siluman kecil.


"Doakan ibuku. Maka aku akan mengikuti jalanmu," jawaban darinya saat itu. Memutuskan jalannya sendiri. Jalan yang mungkin menyimpang, menghilangkan sifat alaminya untuk memakan bangkai. Memiliki beberapa kemampuan yang diberikan sang biksu termasuk melihat keberadaan iblis.


Mungkin itulah yang membuat Junichi memiliki cara tersendiri dalam menatap makanan di hadapannya. Iblis yang berada pada tubuh salah satu dari keempat orang di hadapannya.


Sang penyidik menghela napas kasar."Cantika kamu berikutnya."


"Aku datang menggunakan taksi online. Agustin berkata akan memperkenalkan pacarnya padaku. Sebenarnya aku agak takut mengingat kematian Shela yang bunuh diri dari atas gedung. Aku punya bukti chatt darinya. Selain itu saat aku datang, dia sudah tidak ada. Aku menunggu dari pukul 10 hingga 10 lebih 45 menit di post satpam. Karena aku masih melihat ada motor milik Agustin di parkiran, aku memberanikan diri masuk ke dalam kampus. Berkeliling tidak jauh, mencari Agustin."


"Aku juga sempat berpapasan dengan Dahlan dia terlihat terburu-buru. Karena sedikit lega melihat keberadaan Dahlan aku berjalan lebih dalam lagi ke area kampus. Mendatangi ruangan siaran, mendengar beberapa lagu dan menonton film disana. Sambil menunggu pesanku dibalas oleh Agustin. Tapi sampai jam 12 malam pesanku tidak dibalas juga. Jadi aku memesan taksi online, kemudian pergi." jelasnya panjang lebar.

__ADS_1


"Apa kamu pernah diancam dan memiliki musuh?" tanya rektor mengingat mungkin saja sasaran selanjutnya adalah Cantika.


Cantika menggeleng dengan cepat. Wajahnya tersenyum."Kami tidak memiliki musuh, bahkan disekolah ini banyak yang kagum pada kami."


Jemari tangan salah seorang yang ada di dalam ruangan bersama mereka mengepal. Seolah-olah benar-benar membenci wajah memuakan itu.


Kara mengenyitkan keningnya."Aku bukan orang yang berfikiran sempit. Sebaiknya kamu katakan saat ini juga. Atau orang yang membunuh teman-temanmu. Berikutnya, akan mendatangimu."


"A...apa maksudmu?" Tanya Cantika berusaha tersenyum.


"Tidak ada, tapi ini hanya peringatan dariku. Sebuah hutang akan ditagih sekaligus. Harus dibayar lunas. Atau kamu ingin membayarnya pelan-pelan di kantor polisi," jawaban dari Kara pada wanita di hadapannya.


"Jangan mengintimidasinya! Dia jadi ketakutan kan?" Welan menghela napas kasar, apapun yang dilakukan Kara benar-benar buruk dimatanya entah kenapa.


"Gadis manis, sekarang ceritakan padaku. Apa ada yang pernah kamu perlakukan buruk? Security atau Dahlan misalnya?" tanya Welan pelan.


*


Semua orang meninggalkan ruangan dengan hasil nol besar. Dengan cepat Herlan melangkah mengejar sang penyidik yang kebetulan dikenalnya. Dirinya beberapa bulan ini memang sering bolak-balik ke kantor polisi menggantikan Kara menerima penghargaan, mungkin karena itulah dirinya mengenal sang penyidik yang bertugas.


Tidak dapat menerima alibi Welan yang tidak diungkapkan oleh sang penyidik."Pak! Maaf, ada yang ingin aku tanyakan. Apa boleh?" tanya Herlan.


Sang petugas kepolisian mengangguk."Ada apa? Mau main ala Superman lagi?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya ingin tahu tentang alibi Welan. Apa kamu tidak menyadari dia lumayan aneh? Tidak mau mengungkapkan alibinya. Apa jangan-jangan dia melakukan hal aneh dengan temannya. Karena itu tidak mengungkapkan alibinya. Atau mungkin dialah tersangka yang asli?" Pemuda itu kembali bertanya benar-benar mencurigai sang dosen.

__ADS_1


Sang penyidik mendekat ke arah Herlan setelah menyadari tidak ada satu orangpun disana."Pacarnya datang..."


"Pacarnya datang?" Tanya Herlan mengenyitkan keningnya.


"Aku tidak tau ini penyakit mental atau apa. Tapi dia terobsesi pada sebuah lukisan. Dia tersipu ketika menceritakannya di kantor polisi. Mengatakan cinta pertamanya adalah gadis cantik dalam lukisan kuno. Sewaktu SMU dia pernah melihat lukisan itu di museum saat sekolah di luar negeri. Sejak saat itu dia terobsesi, setiap libur akan mendatangi dan memandang betapa cantiknya wanita dalam lukisan. Tapi pada suatu hari lukisan itu dicuri saat dalam peremajaan," Sang penyidik terlihat serius, masih dalam posisi berbisik.


"Lalu apa hubungan dengan alibi Welan?" tanya Herlan semakin yakin penyidik sudah disuap.


"Awalnya aku berfikir dia mengarang cerita dan mengalihkan pembicaraan. Setelah canggung beberapa lama pada akhirnya dia melanjutkan ceritanya, tapi menyuruhku berjanji untuk tidak menceritakan pada siapapun. Mesin mobilnya saat itu rusak, jadi di menghubungi temannya untuk mengantar. Menawar lukisan yang kembali muncul. Lukisan yang sudah lama diincarnya. Dia bahkan membelinya seharga 15 miliar. Karena tidak ingin ada yang berani menawar lagi."


Sang penyidik menghela napas kasar, memperlihatkan foto Welan di tempat pelelangan. Bahkan pengiriman lukisan ke rumahnya diabadikan. Berikut foto tempat kaca khusus untuk meletakkan lukisan kesayangannya.


"Jadi hanya karena tidak ingin terlambat ke pelelangan dia meninggalkan mobilnya?" tanya Herlan dijawab dengan anggukan oleh penyidik.


"Kalau begitu pelakunya---" Kata-kata Herlan terhenti. Pemuda itu berlari dengan cepat tidak ingin kehilangan sosok Dahlan.


*


Sementara itu Kara menghentikan langkah seorang pemuda. Pria dengan iblis dibelakangnya. Semua kebetulan yang terlalu terencana.


Adakah security yang berkeliling namun tidak sempat bertemu dengan satu orang pun yang ada di kampus?


"Ada apa?" tanyanya. Mereka kini berada di atap gedung. Tidak ingin pembicaraannya terdengar.


"Bagaimana caranya memastikan waktu tepat untuk membuat alibi sempurna. Tidak bertemu satu orang pun disana?" tanya Kara

__ADS_1


"Kamu mengetahuinya? Tentu saja menggunakan handycam,"


__ADS_2