Greatest Husband

Greatest Husband
Nyaman


__ADS_3

"Anak...tapi..." Wanita yang masih ragu dengan segalanya.


Kini dirinya berdiri di hadapan cermin yang cukup besar. Rambut Kara terlihat basah, memeluk dirinya dari belakang. Jantungnya berdegup cepat.


"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," batin Kara, menghirup aroma wanita yang dicintainya. Mencium lekukan lehernya.


Bayangan mereka terlihat jelas, Shui menatap pantulan bayangannya di cermin. Kala pemuda itu memejamkan mata, menikmati ceruk lehernya.


"Apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Shui tiba-tiba. Kara menghentikan kegiatannya, membalik tubuh wanita itu agar menghadap padanya.


"Aku tidak tau," jawaban Kara ambigu.


Shui terdiam mengepalkan tangannya."Aku---" Kata-katanya terpotong, pemuda itu tiba-tiba mengecup bibirnya, hanya kecupan singkat.


"Tidak ada yang mengetahui masa depan." Kara tersenyum mulai duduk di tepi tempat tidur. Menepuk-nepuk pahanya bagaikan memberi perintah agar Shui duduk.


Dengan ragu wanita itu duduk di pangkuan suaminya. Kara kembali memeluk istrinya dari belakang, tepat saat Shui duduk di pangkuannya.


"Kamu tau saat apa yang terburuk bagiku?" tanyanya pada Shui. Wanita yang hanya menggeleng tanpa menjawab.


"Saat tidak dapat memenuhi keinginan wanita yang aku cintai. Tubuhnya terlalu muda, terlalu rapuh, aku takut melukainya, hingga menunggu untuk memenuhi keinginannya." Ucapnya berbisik di leher Shui, sesekali mencium daun telinganya. Sedikit memasukan ke mulutnya.


Wanita yang tiba-tiba mencengkeram jubah mandi milik suaminya. Darahnya berdesir hebat. Berusaha untuk bicara dan menghentikan segalanya."Wa ... wanita yang kamu cintai? Kamu dan Sonya bahkan berhubungan di hotel dan mo... mobil..."


"Dengannya? Aku tidak memiliki selera serendah itu. Lebih menyenangkan memiliki bunga Peony yang aku rawat sendiri. Benar-benar indah, tidak ada yang melebihinya," bisiknya kembali, jemari tangan yang menyusup ke dalam jubah mandi sang wanita. Hanya sentuhan di bagian kulit, tidak lebih.


Shui benar-benar merasa sudah dilumpuhkan. Fikirannya melawan, berusaha berbicara mengalihkan segalanya. Mencegah pun dirinya tidak bisa, perasaan yang benar-benar aneh baginya. Apa yang dilakukan Kara saat ini sungguh berbeda, membuat dirinya bahkan tidak dapat menggerakkan jemari tangannya. Untuk menghentikan sang pemuda.


"Ka.. kamu mencintai orang lain, ja... jadi hentikan," pintanya benar-benar kesulitan mengendalikan diri.


"Mencintai orang lain?" tanya Kara, menarik tali jubah mandi, hingga bagian punggung wanita itu terbuka sempurna. Bagian punggung yang dikecupnya perlahan. Terkadang menjilat, semakin turun dan turun, seakan memuja dan mengaguminya.


"Aku mencintaimu..." Kata-kata darinya lagi dengan hembusan napas menyapu bagian punggung Shui.


"Kara," wanita itu gelagapan, mencengkeram sprei. Masih duduk dalam pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Apa?" tanya sang pemuda, menggigit pelan area bahu istrinya.


Shui menatap ke arah cermin besar di hadapannya. Terlihat tubuhnya yang hampir terekspos sempurna, dengan pemuda yang masih menelusuri tubuhnya. Entah kenapa tubuhnya bergetar, tidak ingin menghentikan segalanya. Walaupun jemari tangan itu telah bertindak lebih jauh, menegang area sensitif bagian atasnya.


Shui memejamkan matanya, berusaha keras mengendalikan tubuhnya. Tapi tidak bisa, ini benar-benar sulit dihentikan. Mendamba untuk merasakan lebih.


Kuku-kuku hitam milik Kara kontras dengan kulit putihnya. Apa yang dilakukan pemuda ini? Shui hanya dapat mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Penampilannya benar-benar berantakan, bagaikan tokoh dalam novel yang sering dibacanya.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Kara padanya.


"A... aku... tidak---" Kata-katanya disela.


"Malam ini, lepaskan perasaanmu. Jangan fikirkan apapun. Apa kamu mencintaiku? Ingin memiliki anak dariku?" tanya Kara kembali.


Shui mengangguk, air matanya mengalir."Jangan pernah meninggalkanku,"


Sedangkan Kara hanya tersenyum wajah yang benar-benar dingin, mengingat sepintas segalanya. Kala dirinya hendak pergi meninggalkan Fu dalam pertapaannya. Gadis bangsawan itu menelan harga dirinya, membuka pakaiannya, memeluk tubuh Junichi erat dari belakang.


Menangis terisak."Aku mencintaimu. Ijinkan aku mengandung anakmu. Jangan pernah meninggalkanku." Itulah kata-kata Fu saat itu.


Pemuda yang kini tersenyum."Maaf, membuatmu menunggu terlalu lama. Sangat lama, aku menginginkan anak darimu."


Pemuda yang menarik tali jubah mandinya sendiri. Membuat tubuh mereka bersentuhan tanpa penghalang sedikitpun.


Tubuh Shui dibaringkannya di atas tempat tidur. Mencium bibirnya pelan, tidak menuntut maupun dipenuhi napsu. Dua pasang mata yang saling menatap sesaat, menerka apa yang ada di fikiran pasangan mereka.


"Kamu cantik, bagaimanapun rupa luarmu, kamu cantik. Jangan pernah takut dengan wajah keriput, karena aku akan mencintai semua rupamu." Kata-kata dari Kara, dengan jarak wajah sekitar tiga centimeter dari wajah Shui.


Deru napas yang tidak teratur, jantungnya berdegup cepat. Fikirannya kelu, tidak dapat berkata-kata. Namun, entah kenapa satu kalimat dapat terucap olehnya. Kala menatap wajah pemuda yang kini berada di atas tubuhnya."Aku merindukanmu,"


Air matanya mengalir, fikiran Shui terasa kacau. Hatinya merindukan pria ini? Mengapa? Kara selalu ada di sisinya. Mungkin hati Fu lah yang merindukannya, sejalan dengan hatinya. Takluk pada pemuda yang sama.


"Kamu fikir aku tidak? Ingin rasanya aku mati karena merindukanmu." bisik sang pemuda. Kata-kata ambigu yang tidak dimengerti oleh Shui.


Selimut menutupi tubuh mereka ditarik sang pemuda, dua pasang mata yang terpejam. Sentuhan dua bibir terasa.

__ADS_1


Bunga Peony putih masih berada di atas meja dekat tempat tidur.


Prang!


Jemari tangan Shui menjatuhkannya. Red wine yang tercecer di lantai menimbulkan aroma khas yang memenuhi ruangan. Membasahi bunga peony putih yang terjatuh tepat diatasnya.


Tidak mempedulikan apapun, bibir yang masih bersentuhan saling mendamba, sesekali terhenti hanya untuk mengambil napas.


Tidak menyakitinya, benar-benar berusaha untuk tidak menyakitinya. Menyayanginya, perasaan yang lebih besar daripada napsu.


Sepasang tubuh saling bergesek di tempat tidur. Tertutup selimut putih tebal.


Shui merindukannya, melepaskan perasaannya. Ini benar-benar aneh baginya, menginginkan pemuda yang selalu ada di sampingnya.


"Aku akan menyakitimu. Apa masih menginginkan anak dariku?" tanya Kara, pemuda yang seakan masih dapat mengendalikan napsunya.


Shui hanya mengangguk, entah kenapa wanita itu menitikkan air matanya tiada henti. Seakan benar-benar mencintai pemuda yang tengah berada di atas tubuhnya. Merindukannya, rasa aneh yang terlalu dalam.


Mencengkeram sprei dengan kuat, perlahan mencakar punggung pemuda yang tengah menciumnya perlahan. Begitu menyakitkan, namun entah kenapa begitu hangat dan nyaman.


Wanita yang kemudian menonggakkan kepalanya. Merasakan seluruh tubuhnya dinikmati, membiarkan Kara melakukan apapun, memilikinya sepenuhnya.


"Ju... Junichi," Hanya sekali satu kata yang tidak sengaja diucapkan oleh Shui. Nama, seseorang yang tidak dikenalnya.


*


Red wine masih berceceran di lantai mengotori bunga peony putih. Shui menggigit bibirnya sendiri merutuki hal yang baru saja dilakukannya.


"Aku bodoh! Kenapa menyebutkan nama pria lain saat melakukannya. Lagipula siapa juga Junichi?!" batin Shui menatap ke arah langit-langit kamar. Benar-benar malu dan canggung rasanya. Berfikir suaminya akan salah paham.


"Kamu mau lagi? Aku dapat melakukannya berapa kali pun kamu inginkan." Kara tersenyum menarik tangannya memeluk tubuhnya.


"Ti... tidak. A...aku mau tidur. Omong-ngomong, kamu pria yang pertama. A...aku tidak pernah punya pacar atau---" Kata-kata Shui terpotong.


"Tidurlah! Aku akan menjaga dan membahagiakanmu..." Hanya itulah kata-kata darinya.

__ADS_1


"Jangan sakit dan mati. Jikapun kamu mati, aku akan mencari cara untuk menemukanmu. Tapi, jika sebuah takdir kita datang kembali, aku hanya menginginkan kamu tetap hidup. Biarkan hanya rohku yang musnah dalam kegelapan. Asalkan kamu tetap hidup dan tersenyum..." Kata-kata yang tidak terucap dari bibir Kara. Lebih tepatnya Junichi, pemuda yang menatap ke arah cermin besar yang langsung menghadap ke tempat tidur. Merasa nyaman bersama wanita yang 500 tahun ini dirindukannya.


__ADS_2