
Suasana yang masih terlihat ramai. Kepala berlubang akibat letupan senjata api, mata yang masih terbuka seakan menatap wajah pelaku sebelum kematiannya. Tubuh bersimbah darah dengan pakaian lengkap namun basah mungkin setelah dimandikan pelaku di dalam bilik toilet. Kuku-kukunya dipotong, mungkin benar-benar menghilangkan jejak DNA pelaku akibat cakaran.
Kasus pembunuhan yang benar-benar rapi bahkan jejak sp*rma pun tidak ditemukan. Kulit putih pucat, benar-benar terlihat mengerikan.
Krat...
Suara dari resleting kantong jenazah. Menutup tubuh sang mahasiswi, kematian kedua. Namun kali ini waktu kejadian pada malam hari. Sehingga mempersempit jumlah tersangka. Walaupun CCTV kampus mati, namun masih ada CCTV dari tempat parkir minimarket, seberang kampus. Memungkinkan mengetahui siapa saja yang masuk ke dalam kampus pada malam kejadian.
Kamera petugas kepolisian mengambil gambar di lokasi. Serta mengamankan barang bukti. Kasus yang benar-benar terasa ganjil. Mengapa? Sherla yang bunuh diri kemarin, merupakan sahabat baik dari Agustin mahasiswi yang ditemukan tewas hari ini.
Dugaan menguap, mungkin saja sejatinya Sherla juga meninggal akibat dibunuh sama seperti Agustin. Namun, sayangnya keluarga Sherla tidak mengijinkan kuburan putrinya dibongkar untuk tujuan otopsi.
Tidak ada jejak sama sekali kecuali rekaman CCTV depan minimarket. Semua orang yang ada di area kampus diantara jam 10 hingga 12 malam telah di periksa dengan status sebagai saksi oleh penyidik.
Hingga kini tepat pukul 12 siang. Barulah Kara datang, dengan Herlan yang berada di kursi penumpang bagian depan.
"Akhirnya kamu tertarik dengan kasus ini," ucap Herlan tersenyum, melirik ke arah pemuda yang baru saja melepas savety belt-nya.
"Agar Shui tidak pergi ke kampus. Bertemu dengan salah seorang saksi." Gumamnya, menatap informasi yang didapatkan Herlan. Informasi yang dikirimkan oleh sang rektor.
"Ada tiga orang pria dan seorang wanita yang ada di kampus kemarin malam. Warto security kampus, Dahlan mahasiswa jurusan kedokteran, Welan dosen baru yang kamu benci, dan Cantika sahabat karib almarhum Shela dan Agustin. Tapi sudah ada dua orang yang dicoret dari daftar tersangka. Cantika dan Welan, aku mendapatkan bocoran dari salah satu penyidik yang aku kenal. Welan memiliki alibi kuat, sedangkan Cantika memiliki tubuh yang terlalu kecil untuk memindahkan tubuh Agustin." Jelas Herlan, memberikan informasi yang dikumpulkannya.
Kara yang berjalan di lorong kampus menghentikan langkahnya, menghela napas kasar."Jadi Agustin tidak dibunuh dalam bilik toilet?" tanyanya.
Herlan mengangguk."Polisi masih menyelidiki tempat eksekusi sebenarnya."
Kara melangkah menuju toilet wanita, beberapa polisi masih berada di sana. Dengan garis kuning bertuliskan police line melintang.
__ADS_1
"Kita tidak bisa masuk..." Kara menghela napas kasar, melanjutkan langkahnya kembali.
"Kita akan kemana?" tanya Herlan.
"Mencari lokasi eksekusi," jawaban dari Kara.
"Apa akan ada hantu disana?" Herlan kembali bertanya.
"Terkadang hantu tercipta dari rasa takut manusia. Dalam artian hanya imajinasi atau ilusi. Tapi ada juga beberapa roh yang memang berkeliaran untuk menuntut balas atau masih ada beban yang tersisa sebelum kematiannya. Tapi itu tidak penting, lagipula yang kita cari bukti nyata bukan acara paranormal," jawaban dari Kara.
"Tapi kamu bisa bertanya untuk---" Kata-kata Herlan disela.
"Aku lebih tertarik berbicara dan membantu orang-orang seperti Kara. Kamu tidak akan tau betapa kejinya hati manusia." Ucap Kara, tanpa ekspresi, melewati wanita dengan bekas lubang peluru di dahinya. Wanita yang terdiam menatap padanya. Mata yang penuh dendam berlumuran darah segar.
"Berbicara dengan Kara?" tanya Herlan.
"Tapi dia bodoh dan---" Kata-kata Herlan disela.
"Apa Kara pernah menyusahkan orang lain? Atau ingin merebut milik orang? Malah orang-orang yang memanfaatkannya karena sifat tidak pedulinya. Sama sepertimu, berapa banyak kamu sudah menipu Kara?" tanyanya.
Herlan hanya terkekeh, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika saja Kara mendapatkan didikan yang tepat. Tidak dicemooh dan dibanding-bandingkan dengan kedua kakaknya. Dia akan menjadi lebih baik dan berjuang untuk hidupnya. Bukan hanya pasrah dan mengikuti alur, berakhir mati dalam penyesalan." lanjut Kara.
"Jika kamu iba, kenapa tidak mengembalikan tubuhnya?" tanya Herlan, membuat langkah Kara terhenti.
"Dia mengetahui dapat hidup kembali, tapi memilih untuk mati. Tidak ada orang yang menyayanginya, ayah, saudara, bahkan sahabat, kekasihnya bahkan lebih keji lagi. Berharap dapat bahagia dengan perjodohannya? Tidak akan terjadi, Shui tipikal wanita yang bahkan lebih sempurna dari Kerrel. Kara akan merasa lebih terintimidasi dengan tekanan orang-orang. Juga setiap hari menahan amarah melihat perilaku Sonya sebenarnya. Karena itu dia lebih memilih kembali ke akhirat menerima penghukuman sebelum terlahir kembali." Jawaban dari Kara.
__ADS_1
"Kara, jika kamu mati apa Kara yang asli akan dapat hidup kembali? Aku sedikit merindukannya. Aku merasa bersalah padanya." Tanya Herlan tiba-tiba hingga langkahnya pemuda itu terhenti.
"Kalian akan bertemu. Jika bertemu kembali, perlakuan dia dengan baik. Jadilah budaknya..." Hanya itu kata-kata dari pemuda yang kini berada di depan ruang lab jurusan tata boga.
"Tapi jika kami bertemu, itu artinya kamu akan mengembalikan tubuh Kara." Tiba-tiba saja Herlan menitikkan air matanya."Aku sayang padamu. Aku sayang pada kalian! Hanya kalian yang mau berteman dengan mahasiswa miskin, materialistis, pengecut sepertiku!" teriaknya memeluk tubuh Kara, membuat semua mahasiswi yang ada di dalam ruang lab tata boga melirik kearah mereka berbisik-bisik membicarakannya, dua orang pemuda yang belok tidak lurus.
Kara memijit pelipisnya sendiri, mendorong Herlan."Dengar! Kamu adalah budakku! Jadi turuti semua perintahku,"
"Kamu bukan majikan! Jika bisa serakah aku ingin Kara hidup kembali dan kamu tetap ada!" Ucap Herlan lagi memeluk Kara. Menginginkan Junichi tetap ada, tapi juga Kara yang asli kembali hidup.
"Gadis-gadis yang meminta akun media sosialmu sedang menertawakan dan mencibirmu," Kara menghela napas tersenyum pada Herlan. Herlan melirik ke arah belakangnya. Terdapat lab tata boga, yang dipenuhi mahasiswi jurusan food & beverage produce. Menertawakan kedua orang mahasiswa terkeren di kampus.
"Citraku hancur..." gumam Herlan dengan suara kecil, tersenyum, melepaskan pelukannya dari Kara. Tangannya melambai ke arah para mahasiswi yang membicarakannya.
Kara menggeleng pelan, berjalan pergi. Namun itu malah membuat para mahasiswi semakin penasaran dan menginginkan Kara. Mahasiswa yang bahkan mengalahkan kecerdasan dosen, wajah yang bertambah rupawan, ditambah dengan merupakan orang dari kalangan atas.
*
Satu persatu ruangan mereka telusuri. Namun tidak ada jejak bekas lokasi eksekusi sama sekali.
Bahkan buku-buku di perpustakaan, benar-benar sulit tidak ada CCTV untuk menyelidiki segalanya.
"Ini sulit..." gumam Herlan. Hingga langkah mereka terhenti, melihat salah satu orang yang memberi keterangan sebagai saksi.
Seorang dosen muda dengan senyuman yang cerah. Terlihat menyemprotkan sesuatu di lantai ruangan olahraga. Wajah yang sama rupawannya seperti dulu, kala mengenakan pakaian sutra bersulam emasnya. Dan kini memakai pakaian formal.
"Apa dia pelakunya?" bisik Herlan pada Kara.
__ADS_1