
Medan perang yang mulai terasa aneh. Sudah hari hampir hari ke 99 sang perdana menteri memacu kudanya tanpa ada luka sedikitpun. Seekor kupu-kupu hitam mengikutinya, tidak mengetahui semua luka dan rasa sakit akan dikirim pada Junichi.
Jumlah pasukan yang sedikit? Tidak, kondisi kali ini imbang. Banyak dari pasukan jenderal yang telah terbunuh di dalam kabut yang dipenuhi dengan ilusi.
Sang perdana menteri tersenyum, dirinya akan pulang, akan dapat pulang, semua orang di kediamannya akan hidup. Mengapa? Karena jika pemberontakan jenderal berhasil maka semua bangsawan yang berpihak pada kaisar harus dihabisi. Semua termasuk keturunan dan budak sekalipun.
Air matanya mengalir wajahnya tersenyum, semua tidak akan apa-apa lagi.
"Fu, maafkan ayah, karena setelah ini mengijinkanmu untuk menikahi makhluk itu," batinnya masih memacu kudanya, menuju cam jenderal. Tidak ada formasi atau apa pun. Karena begitu mereka mendekati tempat tersebut, kabut ilusi akan terbentuk hanya tertuju pada pasukan jenderal. Agar pasukan perdana menteri dapat menghabisi mereka dengan mudah.
Dengan gagah berani sang perdana menteri menyerang di garis terdepan membiarkan tubuhnya terluka, dan disembuhkan kupu-kupu hitam yang mengikutinya. Tidak menyadari luka yang langsung tertuju pada tubuh Junichi.
Darah menetes semakin banyak dari tubuh pemuda yang terdiam dalam gua yang sepi. Kunang-kunang masih ada di sekitarnya. Luka di tubuhnya bertambah lagi. Wajah itu masih terlihat tenang tanpa ekspresi, matanya terbuka memancarkan sinar putih aneh. Kali ini luka goresan di leher, darah hijau yang menetes tidak dihiraukan olehnya.
Rasa sakit yang teramat sangat. Namun, sedikit saja mencoba bergerak pergi maka tubuhnya yang saat ini rapuh tidak akan dapat bertahan. Air matanya menetes, mengetahui apa yang terjadi pada Fu.
Dirinya sudah merelakan segalanya, menginginkannya bahagia kala mengetahui tidak ada keluarganya yang melukainya lagi. Manusia dan siluman selamanya tidak bisa bersama, itu sudah disadari olehnya. Sang siluman dengan kasta terendah, tidak pantas untuk manusia, atau lebih tepatnya putri seorang bangsawan.
Wajah pemuda yang tiba-tiba tersenyum dengan bibir bergetar. Siluet bayangan wajah cantik itu di cermin terlihat, dirias sedemikian rupa dengan pakaian merah. Ini adalah hari pernikahan Fu.
"Aku bahagia, saat kamu menemukan kebahagiaanmu. Jika dia menyakitimu, aku akan tetap datang untuk melindungimu darinya," Kata-kata dalam hati yang tidak dapat terucap oleh Junichi. Hanya bibir terkatup dalam kebisuan.
__ADS_1
Tidak akan egois kali ini. Karena ini adalah keinginan Fu, tidak ada yang dapat dilakukannya selain menjaga dari jauh suatu saat nanti. Melihatnya bertahta dengan pakaian ratu penuh senyuman, memiliki seorang pangeran dari sang kaisar. Mengapa? Karena dirinya mengasihinya, menginginkan melihatnya tersenyum. Apa ini adalah pilihannya?
*
Hiasan rambut yang benar-benar indah terbuat dari emas. Gadis yang terdiam tanpa ekspresi. Siapa manusia yang akan tahan menerima siksaan mental setiap hari? Jika difikir-fikir mungkin anak selir memang lebih baik.
Ibunya selalu mengatakan hal itu kala dirinya kembali dari hutan berkabut. Seorang anak yang menderita banyak kekerasan fisik dan mental. Dituntut menjadi putri sah yang sempurna, lebih sempurna dari anak selir yang menerima pendidikan selama dua tahun lebih awal. Adakah orang yang tidak akan gila karenanya?
Ada saat dimana sang ibu menamparnya, mencengkeram pipinya hanya karena tidak dapat menjawab puisi balasan saat acara perjamuan. Tidak memiliki teman, atau sahabat, mungkin karena itulah setiap ada kesempatan dirinya melarikan diri ke dalam hutan berkabut, berharap Junichi datang membawanya.
Berusaha tersenyum, hanya inilah saat-saat dirinya mendapatkan pujian dari ibunya. Selain kala dirinya berusia lima tahun, sebelum tandunya dirampok, semua pelayan dibunuh, kecuali dirinya yang dapat hidup karena melarikan diri memasuki hutan berkabut.
"Anakku yang cantik. Tidak ada yang melebihi kecantikanmu," ucap ibunya saat itu kala dirinya berusia lima tahun.
Tapi setelah kembali dari kematian, tepatnya kembali dari hutan berkabut, bukan pelukan yang didapatkannya. Tapi wajah dingin ibunya yang menginginkan kesempurnaan. Tidak ingin dirinya mempermalukan nama keluarga. Dirinya sudah berusaha, sudah berusaha.
Mungkin hanya kali ini dirinya kembali merasakan wajah hangat ibunya. Memeluknya erat kala wajah rupawannya selesai di rias.
Mengapa dirinya memilih mengakhiri segalanya? Mengapa tidak mengambil jalan melarikan diri saja ke dalam hutan berkabut?
Karena tidak ada jalan untuk membuat lautan kering. Kala dirinya menjadi permaisuri, keluarganya akan menginginkannya untuk memiliki seorang putra, seperti kakak tirinya, seorang anak selir yang menikah dengan bangsawan dan memiliki putra.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi kemudian? Putranya harus menjadi putra mahkota. Posisinya juga harus kukuh, setiap hari menjadi wanita penghibur yang menggoda kaisar agar kaisar tidak berpaling pada selir lainnya. Jika sedikit saja kaisar berpaling pada selir, maka ibunya akan kembali membencinya. Apa kehidupan seperti itu yang diinginkannya? Lebih rendah dari wanita penghibur?
Kata-katanya tidak didengarkan lagi oleh sang ibu atas nama meninggikan status keluarga dan bakti pada leluhur. Karena itu, remaja yang berfikiran pendek di usianya saat ini, tidak peduli dengan hukuman Tuhan padanya, tidak menghargai nyawanya lagi.
"Ibu, terimakasih dan maaf..." hanya itulah kata-katanya dalam pelukan sebelum memasuki tandu menuju istana kaisar.
"Tidak perlu minta maaf, kamu terpengaruh sihir siluman yang hanya akan memanfaatkanmu! Ingat! Setelah ini kehidupanmu akan lebih baik, dapatkan seluruh kasih sayang kaisar dengan berbagai cara. Kamu sudah tau kan? Setelah permaisuri diturunkan dari tahta kamu akan menjadi permaisuri. Jika ada selir yang menarik perhatian kaisar, nantinya kamu dapat menggunakan berbagai macam cara, termasuk menyulitkan keluarganya. Mengerti? Jangan menjadi perempuan yang lemah! Rendahkan harga dirimu di hadapan kaisar, kamu harus selalu menyenangkannya." Nasehat dari ibunya, menyiratkan semua yang akan terjadi di masa depannya.
Kata-kata yang harus diikutinya nanti. Tangannya semakin gemetar, mungkin Junichi memang satu-satunya tempatnya bersembunyi. Namun, tempat itu sudah tidak ada lagi, menguap dan menghilang bagaikan buih.
Dirinya tidak memiliki apa-apa, mengelus pelan cincin giok hitam pemberian kekasihnya kala menaiki tandu. Wanita yang tidak menangis sama sekali.
"Aku ingin hidup, tapi juga lebih ingin mati. Tidak dapat menentang segalanya, tapi juga ingin menentangnya. Tidak ada jalan kembali setelah ini. Menjadi wanita penghibur atau anak durhaka? Tidak ada satupun dari jalan itu yang ingin aku pilih." batinnya kala memasuki tandu. Tubuhnya terangkat, suara orang-orang terdengar dari luar sana memuji kecantikan, kecerdasan dan betapa beruntungnya dirinya.
Bunga Peony yang akan layu pada akhirnya, jika terlalu banyak menerima air hujan.
*
"Jadilah putri yang berbakti. Ini jalan yang kamu pilih, saat pernikahanmu aku akan melepaskanmu. Menghilangkan tanda keterikatan kita, menjagamu dari jauh. Tersenyumlah..." pinta Junichi tanpa kata yang terucap. Dapat mengetahui apa yang dialami Fu. Dirinya tidak pernah mengendalikan hati kekasihnya. Hanya ingin menjaganya tetap tersenyum, walaupun senyuman itu terlihat aneh kini.
Tidak mengetahui hati manusia, tidak mengetahui keputusan sebenarnya dari kekasihnya.
__ADS_1