
Wanita yang kembali mengendarai mobilnya, setelah membayar biaya rumah sakit dan menitipkan sejumlah uang untuk Welan pada resepsionis. Tidak ingin terlibat kasus hukum, mengingat dirinya yang tidak memiliki SIM.
Ingat! Shui mengalami kelumpuhan sejak sekolah menengah pertama. Dirinya hanya sering melihat supir atau ayahnya menyetir. Tapi tidak dengan hari ini, dirinya benar-benar ingin segera pulang. Memberi tahu suaminya tentang kehamilannya.
Malam yang begitu gelap, melewati area tebing curam bekas tambang. Seorang wanita yang ingin menunjukkan dirinya sudah dapat berjalan mulai saat ini.
Tidak menyadari ada mobil yang mengikutinya. Seorang yang ada dalam mobil di belakangnya, memakai earphone. Wajahnya tersenyum, memberikan instruksi pada seseorang yang mengendarai mobil yang berbeda.
Siapa? Entahlah.
*
Shui memasang earphone di telinganya. Beberapa kali dirinya hendak menghubungi Kara. Tujuannya, ingin membuat perayaan kecil-kecil. Sayangnya tidak ada yang mengangkatnya. Apa suaminya sudah tidur?
"Ayahmu tidak akan berselingkuh jika tau ibumu hamil. Dia tidak akan pernah meninggalkanku," gumam Shui bagaikan anak kecil. Sifat dinginnya sebagai pemimpin perusahaan kini tidak terlihat.
Hingga dari arah yang berlawanan ada mobil yang melaju. Shui hendak berpindah jalur, tapi mobil dibelakangnya menyalip tidak membiarkannya pindah lajur. Dua orang yang sebelumnya sudah merencanakan semua ini.
Brak!
Mobil miliknya dipaksa untuk menabrak pembatas jalan. Dengan segera meluncur ke jurang. Dua mobil yang segera pergi, meninggalkan mobil Shui.
Seorang wanita dengan luka di sekujur tubuhnya, membuka matanya. Mobilnya masih ada di bawah tebing, terhenti untuk membentur bebatuan di dasar jurang oleh pohon kecil yang sebentar lagi akan roboh.
Kala pohon kecil yang menghentikan laju mobil ini tumbang saat itulah hidupnya dan calon anaknya akan berakhir.
"Ju...Junichi---" Entah ingatan masa lalu, dirinya tiba-tiba menyebutkan nama tersebut. Air matanya mengalir, berusaha membuka pintu guna mempertahankan hidupnya. Tidak ingin jatuh ke jurang bersama mobilnya. Walaupun harus bertahan menegang akar, setidaknya dirinya tidak mati bersama calon anaknya.
*
Kara membuka matanya, seiiring dengan tanda tatto di leher Shui yang bersinar. Pemuda yang menyadari segalanya, berjalan menuju balkon. Kemudian menjatuhkan dirinya.
Tidak menyadari tepat saat Defan membuka pintu kamar adiknya. Pemuda yang melihat Kara menjatuhkan dirinya dari lantai 3. Dengan cepat Defan bergerak, mencari keberadaan adiknya, lebih tepatnya memastikan kematiannya. Namun, terlalu gelap untuk melihat keadaan di sekitar balkon.
__ADS_1
Tujuannya, turun ke parkiran tempat balkon kamar Kara menghadap. Seharusnya menjadi lokasi penemuan mayat adiknya. Segala sudut dicarinya menggunakan senter handphone. Tapi tidak jazad adiknya sama sekali. Ini aneh, benar-benar aneh.
Defan menonggakkan kepalanya, menatap balkon kamar Kara yang ada di lantai 3. Jika tidak mati, setidaknya patah tulang. Apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya? Kara adalah orang pertama yang harus disingkirkannya.
*
Shui masih berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Mencoba membuka pintu hendak keluar dari mobil.
Brak!
Pintu mobil ditarik hingga terlepas, wajah Kara terlihat di sana. Tapi bibirnya tidak berucap sesuai dengan fikirannya. Bukan nama Kara yang disebutkannya.
"Junichi..." lirihnya.
"Kamu mengingatku?" tanya Kara tersenyum. Tangannya terulur, menarik istrinya, memeluknya erat. Bersamaan dengan mobil yang terjatuh hancur masuk ke dalam dasar jurang terjal.
Wanita itu tertegun menitikkan air matanya. masih memeluk tubuh Kara. Perlahan dirinya menyadari, kakinya tidak menapak tanah. Pemuda itu melayang. Sayap aneh berwarna hitam pekat ada di punggungnya. Beberapa bulu dengan sinar kebiruan melayang di sekitar mereka. Sayap yang terkepak pelan, menurunkan dirinya dan Kara, di hutan karet yang terletak di dekat jurang.
Sayap berwarna hitam menghilang, dua robekan di piyama yang dikenakan suaminya terlihat, pertanda sepasang sayap itu memang pernah ada.
Entah darimana kunang-kunang bertebaran di sekitar mereka.
"Ka...kamu bukan manusia?" tanya Shui beringsut mundur, segera setelah Kara menurunkan dirinya.
"Aku bukan manusia. Duduk!" perintah Kara tegas, membuat Shui terdiam dan menurut ketakutan. Mau melarikan diri pun tidak bisa mengingat kakinya serta beberapa anggota tubuhnya yang terluka.
"Ja... jangan membunuhku. Aku mohon, bawa aku ke rumah sakit, beberapa kali perutku terbentur. Jika kamu punya sedikit saja belas kasih---" Kata-kata Shui terpotong. Kara, mengusap perut wanita itu pelan.
"Dia tidak akan apa-apa. Dia adalah putraku." Kata-kata dari Kara penuh keyakinan, yang ada di kandungan Fu saat ini adalah putranya. Anak yang sepenuhnya adalah siluman, walaupun wujudnya saat dilahirkan adalah manusia. Terbunuh karena ini? Tidak akan bisa.
Tiba-tiba tangan wanita itu ditariknya, dipeluknya erat."Tubuhmu rapuh, jangan pernah mati lagi..." Kata-kata darinya.
Ingatan yang membekas pada dirinya, kala dirinya terikat oleh rantai. Menatap Fu ditarik ke dalam gerbang neraka. Tidak dapat menghentikan sama sekali, manusia memiliki batasan umur, tapi apa boleh dirinya serakah?
__ADS_1
Matanya menelisik, menatap luka di sekujur tubuh Shui. Beberapa kupu-kupu hitam keluar dari tubuh Kara. Mengobati luka Shui. Tidak ada yang gratis bukan.
"Lu... lukaku?" gumam Shui melepaskan pelukannya, mengamati luka gores di tangannya memudar, menghilang dengan cepat.
Namun, hal yang aneh darah hijau keluar dari jemari tangan Kara. Tempat luka yang benar-benar berpindah pada suaminya. Pemuda yang hanya tersenyum, bersikap seolah-olah tidak kesakitan sama sekali.
"Kara, kamu---" Kata-kata Shui terhenti, pemuda itu mencium bibirnya, hanya ciuman singkat.
Perlahan mata mereka terbuka, saling menatap. Banyak pertanyaan dan rasa takut dalam hati Shui. Tidak tahu dirinya harus bagaimana saat ini. Luka di tubuh Kara di tatapnya.
"Kamu takut?" tanya Kara berusaha tersenyum, benar-benar menyakitkan jika wanita ini menganggapnya menjijikkan. Namun, mungkin saja benar.
"Aku akan pulang duluan, meminta supir untuk menjemputmu." Kara berbalik hendak pergi.
Punggung yang ditatap oleh Shui kala Kara memalingkan wajah darinya. Entah bagaimana, dirinya bagaikan pernah mengalami hal serupa.
Ingatan aneh, seorang wanita yang menangis memanggil nama Junichi. Memegang pakaiannya yang sempat terbuka. Punggung yang sama, tapi wajah yang berbeda.
"Jangan pergi..." pinta Shui tiba-tiba menitikkan air matanya, memeluk tubuh Kara dari belakang. Kejadian yang sama bagaikan terulang, dirinya tidak akan pergi kali ini.
"Aku tetap mencintaimu," lanjut Shui, menatap ke arah suaminya yang berbalik.
Tangan dengan kuku hitam beracun tajam itu membelai area dagu Shui."Tidak takut?"
Wanita itu menggeleng, entah kenapa begitu merindukan suaminya. Seolah-olah ratusan tahun tidak bertemu.
Ratusan kunang-kunang ada di sekitar mereka. Shui mengalungkan tangannya, mencium pelan pemuda di hadapannya.
Setetes air mata mengalir di pipi Shui entah kenapa. Sebuah memori kembali terbayang, kala seorang wanita memohon pada kekasihnya agar tidak meninggalkannya, membuka seluruh pakaiannya agar disentuh. Tidak ingin berpisah dengannya, pemuda yang pergi pada akhirnya, meninggalkan sang wanita yang terduduk di lantai. Hanya berkata dirinya akan pulang, meminta sang wanita untuk menunggunya.
"Aku pulang," batin Junichi, memejamkan matanya. Menikmati setiap detik yang mungkin akan memudar suatu hari nanti.
Setelah 500 tahun dirinya dapat bertemu. Pertemuan yang mungkin akan menemukan ujungnya.
__ADS_1