
Beberapa orang memuji sepasang adik dan kakak yang memiliki keahlian di bidang astronomi. Dari kaum rakyat jelata yang pandai menulis, satu lagi profesi yang dilakukan mereka, mengusir roh jahat. Berbagai buku yang ada dalam hutan berkabut telah dipelajari mereka dalam kurun waktu satu tahun.
Junichi sudah pergi beberapa bulan, dan Fu juga tidak kembali, hanya mereka yang bulak-balik menjaga rumah di hutan berkabut.
Nama yang termasyhur mereka miliki, pengobatan sang kakek juga dapat mereka lakukan. Hingga kini kakek mereka masih ditangani tabib termasyur di masa itu.
Beberapa cenayang diundang ke dalam istana tanpa alasan. Dan mereka salah satunya, tidak mengetahui tugas dengan bayaran tinggi yang akan diberikan kaisar.
Menginap di dalam istana hingga satu persatu dari para cenayang dipanggil. Malam ini adalah giliran mereka. Berjalan melewati lorong diantar oleh seorang Kasim dan dua orang dayang istana. Istana yang begitu megah, untuk pertama kalinya takjub melihat benda-benda yang ada disana.
Hingga langkah mereka terhenti di depan ruangan besar dengan banyak ukiran naga di sekitarnya. Seorang pria terlihat duduk di singgasana, berpakaian dengan sulaman emas. Menatap ke arah mereka, dengan cepat sepasang adik dan kakak itu berlutut memberi hormat.
Inikah sang kaisar? Mungkin itulah yang ada di benak mereka. Hingga pria itu tersenyum, memberi tanda pada seorang dayang untuk mendekat. Menunjukkan sebuah batal giok, bernilai tinggi.
Wajahnya tersenyum."Ini adalah bantal giok pemberian raja negeri seberang, katanya baik untuk kesehatan, diukir khusus oleh seniman di sisi sampingnya. Aku sangat menyukainya, bagaikan menurut kalian?" tanya sang kaisar muda.
Sepasang adik kakak itu gemetar, melirik ke arah batal giok.
"Mohon ampun yang mulia! Bantal giok ini hanya akan mendatangkan nasib buruk, hawa jahat ada di dalamnya. Ada juga tetesan darah manusia dan pernah dijadikan bekal kubur," Jun (sang kakak) menjawab dengan jujur. Sedangkan adiknya Gwan hanya tertunduk masih berlutut.
Sang kaisar tertawa, kemudian menghela napas kasar."Ini memang pernah dijadikan bekal kubur. Kalian yang pertama dapat mengetahuinya. Cenayang-cenayang sebelumnya hanya mengatakan ini adalah bantal giok yang indah, dipenuhi dengan energi murni. Sangat tidak disangka kalian lolos uji coba ku. Berikan imbalan pada mereka," perintah sang kaisar.
Satu kotak kecil berisikan uang emas ada disana. Jumlah yang bahkan cukup untuk membeli tanah subur yang luas.
"Terimakasih yang mulia!"
"Terimakasih yang mulia!"
__ADS_1
Jun dan Gwan berucap serempak, sepasang adik dan kakak yang tersenyum telah menerima hadiah mereka. Tanpa mengetahui tugas mereka yang sebenarnya.
Hingga dua orang pelayan membawa sekotak besar uang emas, diletakkan di hadapan mereka.
"Aku hanya menguji kalian. Kalian sepertinya benar-benar memiliki kemampuan, tidak seperti cenayang-cenayang sebelumnya. Karena itu, aku memberikan tugas ini pada kalian." Sang kaisar terdiam sejenak, menghabisi Junichi saat ini adalah tujuannya. Siluman rendah yang mendekati Fu.
"Putri perdana menteri terkena sihir siluman. Aku ingin kalian membunuh siluman itu. Dia tinggal di tengah hutan berkabut, sudah banyak prajuritku yang mati saat memasukinya." Jelas sang Kaisar muda.
"Maaf Yang Mulia, jika boleh tau siluman jenis apa? Karena hamba sering memasuki hutan berkabut," tanya Gwan.
"Memakai pakaian serba hitam, memiliki rambut panjang, kuku-kukunya juga berwarna hitam memiliki kemampuan untuk membuat kabut. Namanya Junichi." Jawaban dari kaisar, membuat sepasang kakak beradik yang tengah berlutut itu membulatkan matanya menatap ke arah kaisar.
Tangan keduanya gemetaran, keringat dingin terlihat."Maaf kami tidak dapat membunuhnya," jawaban dari Gwan.
"Kamu tidak bisa? Mungkin kakakmu bisa," ucap sang kaisar.
Tapi jawaban yang sama, Jun menggeleng."Hamba tidak dapat mengalahkannya,"
"Ampuni hamba yang mulia!"
"Ampuni hamba yang mulia!"
Ucap mereka bersamaan, bukannya tidak bisa tapi Junichi lah yang membuat mereka dapat hidup, membuat mereka memiliki rumah pondok kecil untuk merawat sang kakek yang mungkin sudah mendekati ajal. Dua orang kakak beradik dengan mata yang memerah menahan air mata. Mengetahui hukuman menolak titah kaisar.
"Kalian tetap tidak mau?" tanya sang kaisar. Keduanya hanya tertunduk, dengan tangan gemetar.
"Eksekusi adiknya terlebih dahulu." Hanya itulah perintah dari sang kaisar muda yang mereka dengar. Sang kakak menatap adiknya yang diseret bersamanya. Jika mereka dieksekusi siapa yang akan merawat sang kakek.
__ADS_1
"Kak Junichi, maaf..." hanya itulah kata-kata yang tidak dapat diucapkannya.
"Yang mulia! Hamba bersedia! Jangan eksekusi adik hamba! A...ada cara membunuh Junichi! Hamba akan melakukannya..." pintanya melepaskan dirinya dari pengawal, seorang anak yang pada akhirnya mengkhianati makhluk dengan kasta rendah yang mengajarinya membaca dan menulis. Bahkan memberikan banyak pengetahuan padanya. Berlutut tidak ingin adiknya mati.
"Kakak! Br*ngsek! Jangan! Si*lan! Setelah ini kamu bukan kakakku lagi! Biarkan aku mati!" teriak Gwan yang tetap dibawa kedua orang pengawal.
Namun Jun tetap berlutut di hadapan sang kaisar, menangis terisak.
"Kamu mengetahuinya? Kita ada di pihak yang sama saat ini. Aku akan menepati janjiku untuk membebaskan adikmu, sekaligus memberikan gelar bangsawan pada keluargamu." Kata-kata dari sang kaisar penuh senyuman. Sedangkan Jun hanya berlutut dengan air mata membasahi lantai.
*
Dirinya kali ini kembali memasuki hutan berkabut, tangannya gemetar kala memasuki pintu depan. Hingga berjalan lebih dalam menelusuri kamar Junichi.
"Bodoh! Kalian taunya hanya makan! Racik dan perhitungkan dengan benar!"
"Ini salah! Salah! Salah! Ulang!"
"Hari ini aku membawakan semangka. Makan pelan-pelan jangan seperti b*bi!"
Semua fatamorgana masih diingatnya kata-kata kasar dari Junichi. Namun tetap berusaha tersenyum, membelai pucuk kepala mereka ketika belajar seperti seorang ayah.
"Maaf!" hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Menggeledah kamar sang pemuda. Laci demi laci, satu persatu buku dibacanya. Hingga menemukan jalan untuk mengakhiri nyawanya sekaligus menyegelnya.
Hanya sebuah peningkatan kemampuan, meninggalkan kemampuan tubuh, hingga menjadi rapuh seperti manusia. Saat itulah tubuhnya dapat di hancurkan, jiwanya dapat disegel di pertengahan jalan antara alam bawah, dalam hal ini neraka.
Isi dalam buku itu dicatatnya, tangan yang memegang kuas gemetar, tulisannya sedikit basah akibat air matanya. Hanya dapat menangis, tidak tau harus apa lagi. Kertas khusus penyegelan jiwa, pembakaran semua harus disiapkan sedemikian rupa.
__ADS_1
Guru? Junichi lebih dari itu baginya. Bukan manusia? Lalu kenapa? Para bangsawan bahkan tidak menghiraukan dirinya dan adiknya yang hampir mati kelaparan. Namun, hal yang lebih berharga baginya hanya sang adik, tidak ada yang lain. Berjalan meninggalkan hutan berkabut, mencari tempat Junichi berada saat ini.
Menggigit tangan orang yang memberinya makan? Itu akan dilakukannya. Asalkan adiknya dapat tetap hidup.