
...Sebuah takdir yang tidak dapat terelakkan....
...Apa kamu mengetahuinya....
...Kala bulan merah bersinar di atas kepalaku, aku hanya dapat menatapnya....
...Tidak dapat berbuat apapun, berusaha keluar dari kesendirian ini....
...Tapi menyadari segalanya, tidak akan berubah....
...Darah merah mengotori bunga peony putih yang aku cintai....
...Kala itu hanya penyesalan dan kerinduan yang tersisa....
...Aku ingin mati tapi tidak dapat mati, hanya dapat menunggu hingga akhir....
...Memelukmu mencintaimu, apa itu akhir yang akan aku dapatkan?...
...Jika pun tidak memilikimu melihat senyumanmu sudah cukup untukku....
Junichi
Mobil sport berwarna putih melaju, menuju sebuah gedung. Hari ini terdapat pelelangan benda-benda bersejarah untuk tujuan amal. Sebagai kalangan menengah ke atas Shui menghadirinya.
Mata Kara menelisik mencari keberadaan istrinya. Hingga wanita itu terlihat masih tetap duduk di kursi roda menyembunyikan kesembuhannya yang sudah ditutupi. Mengapa? Mungkin karena Junichi tidak ingin segalanya terulang. Hingga meminta Shui tetap berpura-pura lumpuh.
Benar-benar rasa takut yang tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. Gaun berwarna peach yang dikenakannya, dengan hiasan rambut terbuat dari silver. Senyuman yang benar-benar cerah, hingga pada akhirnya wanita itu melambaikan tangan padanya.
Langkah kaki Kara terhenti, senyuman yang mengembang di wajahnya memudar. Setetes air matanya mengalir terdiam mengingat segalanya.
*
500 tahun lalu.
Tangkai demi tangkai bunga peony dirangkai oleh Fu. Memakai pakaian berwarna peach, jemarinya bergerak cepat benar-benar terlihat anggun, berbakat dalam semua bidang.
Junichi melihat segalanya dari dahan pohon, tanpa ada yang menyadarinya. Gazebo di istana kekaisaran terlihat begitu luas. Area kolam ikan yang dipenuhi dengan tanaman teratai di sekitarnya terdapat beberapa pohon bunga sakura.
Menatap ke arah Fu yang tersenyum menjadi salah satu gadis bangsawan yang menyambut ratu dari negeri seberang. Terlihat akrab dengan sang wanita dari negeri yang jauh menjadi gadis yang paling diinginkan banyak pria.
Sedangkan mata Kaisar saat itu hanya tertuju padanya. Permaisurinya terlihat acuh, lebih banyak meminta untuk dihormati. Daripada membuat hubungan pertemanan dengan ratu dari negeri yang lebih kecil dari tempatnya tinggal saat ini.
"Fu," panggil sang Kaisar.
__ADS_1
Gadis itu melangkah mendekat hanya teman masa kecil, itulah hubungannya dengan kaisar tidak ada pikiran buruk sedikitpun.
"Hamba memberi hormat yang mulia Kaisar." Ucap Fu tertunduk berlutut memberi hormat.
"Sudah aku bilang tidak perlu resmi begitu di hadapanku," Sang Kaisar tertawa kecil.
"Maaf hamba tidak bisa seperti dulu. Jika tidak mungkin hamba akan dihukum cambuk," Fu ikut tersenyum simpul. Namun, dalam posisinya tetap memberi hormat.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Selain itu, ada beberapa buku yang ingin aku tanyakan padamu tentang isinya. Aku mendengar kabar, kamu dapat membaca huruf dari negeri asing," Sang Kaisar bangkit dari tempatnya duduk.
Sedangkan permaisurinya hanya sedikit melirik. Cemburu? Tentu saja tidak, perasaan terhadap suaminya sudah memudar seiring dengan ayahnya, sang jenderal yang mempertemukannya dengan Raja Yan. Pemberontakan yang akan segera mereka lakukan.
*
Tempat yang lebih sepi, tepatnya di sudut samping istana. Beberapa Kasim berbaris di belakang Kaisar beserta beberapa dayang.
Fu hanya tertunduk mengikuti sang Kaisar tidak mengerti dan tidak mengetahui tentang segalanya. Hingga pada akhirnya sang Kaisar membuka pembicaraan.
"Fu, apa kamu ingin masuk ke istana?" tanya sang Kaisar.
Gadis itu mengenyitkan keningnya, wajahnya yang awalnya tertunduk terlihat pucat pasi menatap ke arah sang Kaisar. Begitu juga dengan Junichi yang menyaksikan segalanya dari balik pepohonan yang tinggi.
"Hamba tidak tertarik masuk ke istana. Ada banyak putri bangsawan lain yang lebih pantas. Hamba mungkin terlalu rendah," jawaban dari Fu menolak secara halus.
Namun hanya sesaat."Hamba tidak dapat melakukannya, masih banyak yang ingin hamba pelajari. Tidak ingin tinggal di istana, ampuni hamba," hanya itu jawaban darinya.
"Fu sadarlah! Kamu sudah terkena pengaruh siluman! Dia bukan manusia! Menggunakan sihirnya untuk membuatmu seperti ini, kamu tahu sifat dasar siluman? Mereka akan membunuhmu atau mungkin memakan rohmu," Sang Kaisar memegang tangannya, berusaha meyakinkan gadis di hadapannya.
Fu kembali tertunduk,"Bukan karena alasan itu hamba menolak masuk ke istana tapi---" Kata-katanya disela.
"Aku melihatnya, siluman itu. Pria yang datang bersamamu ke festival lampion. Dia tidak bertambah tua, tidak berubah sama sekali. 9 tahun yang lalu kamu terluka karenanya. Dia datang menemuiku, memintaku untuk menjagamu karena dia tidak dapat menjagamu. Kamu mencintai pria sepertinya?" tanya sang Kaisar dengan mata memerah wajahnya terlihat tersenyum. Namun air mata bagaikan ingin mengalir keluar, sesuatu yang tertahan.
Entah sejak kapan dia mencintai wanita ini. Walaupun hanya melihatnya dari jauh, mungkin suatu penyesalan baginya memilih Putri jenderal yang terlihat lebih sempurna dahulu untuk menjadi permaisurinya. Melupakan janjinya, melupakan Fu yang dulu terlihat tidak berguna saat itu. Satu-satunya putri bangsawan yang menjadi bahan cibiran karena kebodohannya. Hingga terlihat berbeda beberapa tahun ini, kuncup bunga yang telah mekar.
"Hamba mencintainya, tidak ada orang yang dulu bersedia menemani hamba selain dia. Jika dia membunuh dan memakanku. Aku tidak akan menyesal dengan kematianku, karena mungkin jika dulu dia tidak ada, hidupku akan lebih buruk dari kematian," Sebuah jawaban dari Fu dengan air mata yang mengalir.
Junichi masih ada di sana mengetahui segalanya. Pemuda yang hanya terdiam dengan wajah pucatnya, merasakan rasa sakit yang bagaikan menghujam dadanya. Dirinya memang hanya beban untuk kebahagiaan kekasihnya.
Kaisar yang tidak menerima penolakan, menghela nafas berkali-kali berusaha untuk tenang. Merebut perhatian gadis di hadapannya,"Aku akan tetap menunggumu, pulanglah! Hari ini kamu terlalu lelah," ucap sang Kaisar menghapus air mata Fu.
Fu hanya tersenyum, perasaannya tidak berubah sama sekali, tidak mencintai sang Kaisar. Mungkin hanya kesan baik saja yang tertinggal. Pria berkuasa yang tidak memaksakan kehendaknya, tapi itu hanya di hadapan Fu.
*
__ADS_1
Brak!
Sang perdana menteri berlutut menemui Kaisar yang datang ke kediamannya larut malam.
"Hamba memberi hormat." Ucap sang perdana menteri berlutut.
"Fu menolak untuk menjadi selir." Hanya itulah kata-kata dari sang Kaisar.
Perdana menteri mengepalkan tangannya, masih tertunduk di hadapan Kaisar. Inilah saatnya untuk menyingkirkan sang Jenderal namun putrinya berani menggagalkan segalanya.
"Hamba akan bicara dengannya. Dia akan mengikuti kata-kata hamba." Ucap sang perdana menteri.
"Awasi FU baik-baik! Jangan izinkan satu pria pun mendekat padanya. Aku tidak suka bunga indah yang aku miliki, disentuh oleh orang lain," Suara yang penuh dengan penekanan oleh sang Kaisar muda menepuk-nepuk bahu perdana menteri.
"Dalam 3 bulan, Fu akan memasuki istana. Bertepatan dengan jenderal yang akan melakukan pemberontakan. Kerahkan semua pasukan, diam-diam bunuh pasukan jenderal dari belakang. Karena jika aku menikahi putrimu, cucumu akan menjadi putra mahkota." Lanjutnya, sudah memutuskan dari awal wanita yang pantas untuk melahirkan keturunannya.
"Akan hamba laksanakan sesuai titah Yang Mulia." Perdana menteri tersenyum, mulai bangkit menatap wajah rupawan sang Kaisar seseorang yang akan menjadi menantunya.
*
Brak!
Suara pintu terbuka terdengar membangunkan seorang gadis bangsawan yang tersenyum, menatap ke arah kekasihnya.
"Kita akan kemana malam ini?" tanya Fu pada Junichi.
"Aku menemukan sebuah bukit kecil untuk melihat seluruh kota. Aku hebat kan?" ucapnya tetap tersenyum ceria. Menyembunyikan segalanya, sudah mengetahui tapi berpura-pura tidak mengetahui.
*
Sinar bulan terlihat, junichi masih mendekat erat tubuh Fu perlahan turun, dengan kaki menyentuh tanah, bersamaan dengan sayapnya yang lenyap bagaikan tertelan kunang-kunang kecil berwarna biru.
Lampu-lampu lampion terlihat dari atas sana. Menerangi setiap rumah bangsawan maupun rakyat jelata.
Pemuda yang memeluk kekasihnya dari belakang. Memangkunya duduk di atas rerumputan yang basah, menyandarkan dagunya pada bahu Fu. Tangannya terulur memeluk perut kekasihnya.
"Junichi, bagaimana jika kita menghabiskan malam bersama. Seperti pasangan suami istri. Aku ingin kita menikah." Ucap Fu tiba-tiba berusaha untuk tersenyum.
"Kita akan menikah, jika kamu menginginkannya. Tapi tidak sekarang." Hanya itu yang diucapkan Junichi memeluk tubuh Fu lebih erat.
"Apa siluman dan manusia dapat hidup bersama? Apa kita benar-benar dapat menikah?" tanya Fu, dengan air mata yang mengalir.
Junichi hanya mengangguk."Kita akan menikah,"
__ADS_1
"Akan ada akhir bahagia untukmu," batin Junichi.