
Benar-benar kesal itulah yang Shui rasakan kini. matanya menelisik mengamati Kara dan Star yang terlihat bagaikan berciuman. Dengan cepat Kara mendorong tubuh wanita di hadapannya
"Shui!" ucapnya dengan wajah pucat pasi.
Shui menghela nafas kasar, matanya menatap ke arah suaminya. Mengepalkan tangannya, benar-benar tidak dapat diampuni olehnya."Jadi ini pacar barumu?" tanyanya.
"Tentu, baru saja tadi kami melakukannya di ruangan ini." Ucap Star dengan sengaja menyulut pertengkaran.
"Melakukan apa?! Dasar rubah br*ngsek. Fu akan salah paham jika---" Kata-kata Kara terpotong.
"Fu? Siapa lagi? Pacarmu yang lain?" Shui bertambah geram, ternyata suaminya seorang Casanova sejati. Dirinya memang tidak boleh mencintai Kara.
"Tidak bukan begitu, kami tidak memiliki hubungan hanya salah paham saja. Fu adalah kamu, jadi---" Ucapan Kara kembali disela.
"Fahira, aku ingin pulang," Shui berbalik. Tepatnya arah kursi rodanya di balik oleh Fahira melaju meninggalkan ruangan VVIP restoran.
"Shui dengar dulu penjelasanku. Kamu dan Fu adalah orang yang sama. Dan rubah br*ngsek ini, yang dulu sering bermain denganmu saat kamu kecil." Jelas Kara, benar-benar kata-kata yang tidak masuk akal. Istrinya terlihat acuh, tetap meninggalkannya.
Sedangkan Star kini tengah tersenyum."Memang kenapa jika kamu bertemu dengannya di usia yang cukup untuk bersenang-senang di ranjang? Kalian juga berakhir bertengkar kan?" gumamnya mulai tertawa memegangi perutnya.
Kara mengenyitkan keningnya menatap tajam ke arah Star. Kembali duduk memakan daging di hadapan.
"Kenapa tidak mengejarnya?" tanya Star.
"Dia adalah Fu, aku yang membesarkan dan tidur dengannya setiap malam. Dia akan benar-benar marah selama tiga jam, tidak akan pernah mendengarkan penjelasanku. Setelah tiga jam berlalu, fikirannya baru akan lebih jernih," jelas Kara menghela napas berkali-kali.
Mata Star menatap ke arah jendela. Terlihat Shui membanting botol air minum yang diberikan sopirnya. Terakhir menutup pintu mobil dengan kasar.
"Kamu benar, tidak baik mendekatinya di saat seperti ini. Mungkin sama seperti suamiku. Apa aku harus memainkan kecapi, bersandar padanya? Duduk di perahu kolam bunga teratai seperti dulu, malam harinya menatap cahaya bulan, lalu kami melakukannya." Ucap Star. Sungguh siluman yang tidak melupakan usia suaminya yang saat ini 5 tahun
kamu tetap berencana tidur dengannya dia hanya seorang anak berusia 5 tahun seharusnya kamu mendekatinya dengan memberikan permen dan bola es beku usulan dari Kara.
"Dulu dia tidak menyukainya, dia lebih menyukai sesuatu yang pedas daripada yang manis. Akan aku masakan sesuatu untuknya lalu kembali merayunya untuk tinggal bersama," ucap Star membayangkan sosok suaminya.
Kara memijat pelipisnya sendiri menghela nafas berkali-kali."Kamu sudah hidup di sini dalam waktu yang cukup lama. Aku saja mengetahui dari zaman dulu wanita dewasa yang mengencani anak-anak termasuk perilaku tidak bermoral,"
__ADS_1
"Tapi kami sudah menikah. Lalu bagaimana? Aku tidak salah kan? Dia begitu tampan sama seperti dulu, sifatnya juga lembut. Aku merindukannya." Star meminum minumannya tersenyum-senyum sendiri mengingat wajah sang anak yang berusia 5 tahun.
Siapa yang menyangka selebritis seperti Star akan menyukai seorang anak kecil dibandingkan dengan entah berapa pemuda yang mendekatinya mulai dari pejabat, kalangan pebisnis, maupun sesama selebritis. Pernikahan yang mengikatnya selama 400 tahun, hanya untuk mencintai satu pria.
Mengapa? Star juga tidak tahu. Tidak ada pria yang diinginkannya, kecuali suaminya. Selama ini hidup yang cukup sulit dijalaninya, setiap tahun sekali mendatangi makam suaminya yang berada di tengah hutan menangis hanya untuk merindukannya.
Setelah ratusan tahun, pada akhirnya Star dapat menemukannya, namun tidak dapat menyentuhnya.
"Sama saja sepertiku, Fu melupakanku walaupun bagaimana cara aku mengingatkannya dia tetap tidak akan menganggap sesuatu ini di luar logika. Hanya kembali merebut hatinya memulai semuanya dari awal karena makhluk seperti kita hidup abadi mencintai seseorang yang memiliki tubuh rapuh." Kara hanya tersenyum meminum minuman dingin di hadapannya.
"Herlan kemari!" panggil Kara tiba-tiba.
"Ada apa?" Tanya Herlan.
"Menurutmu, apa yang paling disukai wanita muda ketika sedang merajuk?" Kara kembali bertanya.
Herlan berpikir sejenak."Yang paling disukai wanita ketika merajuk adalah bakso," jawabnya.
Star membulatkan matanya menatap ke arah Herlan."Dia berbohong, yang paling disukai wanita saat sedang merajuk adalah tas tangan keluaran terbaru kalau bisa yang limited edition."
"Tenang saja berikan Fu banyak perhatian seperti satu set perhiasan, pakaian bermerek terkenal, dan juga mungkin jam tangan pasangan. Biar aku saja yang membantumu," Star terlihat antusias
"Jujur saja sebagai sahabat, bukan budak. Aku memberikanmu saran yang paling bagus karena istrimu lebih kaya daripada dirimu, jadi lebih baik belikan dia bakso," Saran yang lebih aneh lagi dari Herlan berusaha meyakinkan Kara dengan deduksinya.
Kara hanya terdiam berfikir sejenak wajahnya tersenyum sudah mendapatkan sesuatu yang mungkin akan membuat istrinya berhenti marah.
*
Masih tinggal di kediaman milik Farhan suara sendok dan piring porselin terdengar terbentur semua orang berada di sana Defan Kerrel tentu saja Farhan juga hadir. Hanya untuk membicarakan masalah bisnis dengan Shui.
Hanya dapat tersenyum membicarakan beberapa hal yang terjadi hari ini. Hingga pintu tiba-tiba terbuka, terlihat Kara datang dirinya dan Shui hanya satu hari pulang ke kediaman keluarga Murren. selebihnya kembali ke rumah Farhan seperti janji mereka menginap selama 3 hari.
"Kara kamu baru pulang?" tanya Farhan.
Pria itu hanya mengangguk duduk di dekat istrinya. Mata Shui menelisik, mengalihkan pandangannya ketika Kara menoleh. Masih kesal? Tentu saja namun pandangannya tetap tidak bisa beralih dari Kara entah kenapa.
__ADS_1
"Kara bagaimana restoran yang kamu kelola?" tanya Kerrel.
"Yang pasti lebih baik daripada keadaan perusahaan yang kamu pegang," Sindiran telak dari sang adik.
Kerrel mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan perubahan sifat adiknya. Sangat bertolak belakang, seperti orang lain, namun tidak juga membenarkan alasan Atmaja memilih Kara.
"Bagaimana? Kapan kalian akan berpisah?" tanya Kerrel.
"Tidak akan, setelah ini kami akan mempunyai anak. Shui kamu setuju kan?" tanya Kara mulai menikmati makanannya tanpa sungkan sedikitpun.
Wajah Shui berusaha tersenyum, benar-benar kesal rasanya setelah melihat keberadaan Star. Matanya menelisik, tidak ada bekas keunguan pada leher suaminya? Apa benar tidak terjadi apa-apa? Siapa yang akan percaya?
"Iya," hanya itu jawaban dari Shui terlihat lebih renggang lebih menjauh dari Kara. Karel dapat melihat semuanya wajahnya tersenyum menghela nafas berkali-kali.
Sedangkan Defan hanya dapat tetap diam merencanakan segalanya menikah dengan Sonya Murren kemudian membunuh Shui Murren dan Karel hanya itu tujuannya.
Kara tersenyum makanannya sudah ada di depan mata. Tepatnya di belakang kakaknya makanan yang tidak dapat disantapnya. Setidaknya tidak dapat disantapnya dengan kemampuannya saat ini, mungkin nyawanya dapat berakhir dengan sia-sia jika memaksakan berhadapan dengan iblis yang ada di belakang kakaknya.
*
Bug!
Suara pintu kamar tertutup, seorang pelayan mulai masuk.
"Keluar!" teriak kara mengusirnya.
"Aku memerlukan bantuannya untuk---" kata-kata shui disela.
"Untuk apa? Belajarlah berjalan ke kamar mandi! Hanya beberapa langkah kamu sudah tidak bisa?" tanya Kara berlutut di hadapan Shui memakaikan sebuah gelang kaki berbentuk peony dengan bahan silver
"Kamu akan dapat berjalan sekarang," Kara mulai memapahnya. Walaupun sulit."Gelang ini adalah gelang ajaib yang akan membantumu dapat berjalan," dustanya.
Shui hanya tersenyum, tepatnya berpura-pura tersenyum. Atau sudah mulai tulus? Logika dan hatinya berperang merasa nyaman dengan keberadaan Kara matanya menetapkan ke arah kara. Entah mengapa ada perasaan aneh yang terlintas seperti akan kehilangannya
Sedangkan Kara hanya tersenyum memapah tubuh istrinya. Tidak akan ada yang tahu, apa dirinya dapat tinggal? Apa Shui akan bahagia dengan kepergiannya? Menjadi Kaisar adalah tujuannya hanya untuk mendapatkan Fu.
__ADS_1
Setelah bertemu dengan Fu pada akhirnya entah kenapa junichi hanya menginginkan kebahagiaannya. Apa dirinya yang dulu gagal membahagiakan Fu? Dirinya akan dapat membahagiakannya kali ini.