Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Leo


__ADS_3

*10 tahun lalu*


Saat itu, Leo tengah dikejar-kejar oleh sekelompok gangster hampir saja tertabrak oleh mobil Dirga-ayah Devan. Leo yang sudah kalang kabut masuk begitu saja ke dalam mobil Dirga.


"Tolong saya pak, saya mohon. Kalo enggak saya bisa mati." Leo memohon pada Dirga dengan wajah babak belur. Matanya sesekali menatap takut ke arah luar.


"Jalan saja, pak." Tanpa menjawab ucapan Leo, Dirga menyuruh sopirnya melajukan mobilnya kembali.


"Terimakasih." Ungkap Leo dengan nafas lega yang dibalas dengan senyuman oleh Dirga.


"Kita ke klinik di depan dulu, pak."


Dirga keluar dari mobil setelah sopir memarkirkan mobilnya.


"Ayo, kita obati dulu lukamu."


Leo diam sepersekian detik, tapi kemudian keluar mobil mengikuti langkah Dirga yang sudah masuk lebih dulu.


"Pak, saya pergi aja." Leo mengejar Dirga.


"Luka kamu keliatannya parah, kita obati dulu. Baru habis itu kita bicara."


Leo tidak menjawab lagi, dia diam saja ketika seorang perawat membersihkan dan mengobati lukanya.


"Sekarang kita cari rumah makan dekat sini, pak."


"Baik pak."


Leo hanya diam dan mengikuti kemana Dirga membawanya. Karena bicara pun percuma, Dirga sepertinya belum mau melepaskannya.


"Silahkan pesan apa saja yang kamu mau." Dirga menyerahkan buku menu.


"Tidak, bapak saja." jawab Leo dingin.


"Saya tau kamu lapar, dan saya bisa aja ngasih kamu ke temen-temen kamu yang tadi kalo kamu gak mau nurutin saya."


"Ck, yaudah saya pesen nasi ayam aja dua, sama minumnya es jeruk dua." Leo memesan dengan cuek, sementara Dirga tersenyum melihat sikap Leo yang menurutnya kekanakan. Itu juga mengingatkannya pada Devan, yang selalu bersikap cuek padanya tapi selalu peduli padanya.


Ketika makanan datang Leo langsung melahapnya. Dua porsi nasi ayam dengan dua gelas es jeruk ludes kurang dari setengah jam. Leo seperti tidak makan selama seminggu.


"Masih mau pesan lagi?" Leo seketika sadar kalo dia sedang bersama orang asing. Wajahnya sedikit merah karna malu.


"Enggak, saya udah kenyang."


"Kalo begitu, kita bicara sekarang."


Leo mengangkat alisnya.


"Kita kenalan dulu, saya Dirga." Dirga mengulurkan tangannya.


"Leo." Dia membalas Dirga.


"Jadi, boleh saya tau kenapa mereka ngejar kamu?"


Leo sedikit ragu saat akan membuka mulutnya.


"Mereka gangster paling berkuasa di daerah situ."


Dirga diam, menunggu Leo melanjutkan ceritanya.


"Dan saya mantan anggota mereka."


"Jadi kamu keluar dari geng itu?"


"Iya, tapi sepertinya mereka gak bakal lepasin saya. Karna gak pernah ada yang berhasil keluar hidup-hidup dari geng mereka."


"Terus kenapa kamu masuk geng kayak gitu?"


"Itu karna saya pernah hampir dibunuh oleh perampok dan mereka yang menolong saya. Jadilah saya anggota mereka karna mereka menjanjikan perlindungan."


"Lalu kenapa sekarang mereka ngejar kamu?"


"Karna saya gak mau jadi pembunuh."


"Pembunuh?"

__ADS_1


"Saya menolak tugas dari ketua, untuk membunuh anggota geng musuh."


"Kenapa?"


"Karna saya masih punya sedikit akal sehat, atau mungkin nyali saya tidak sebesar itu." Leo terkekeh saat mengatakannya.


"Orang tua?" tanya Dirga hati-hati.


"Tidak ada. Saya hidup di panti asuhan sejak lahir."


Dirga diam tak bertanya lagi. Dia mnyeruput kopinya, dengan mata menerawang.


"Gimana kalo kamu kerja sama saya?"


"Kerja?" Leo menaikkan alisnya.


"Ya, saya punya anak laki-laki yang sepertinya seumuran denganmu, ohya, berapa usiamu?"


"22."


"Anak saya berumur 20 tahun, sejak mamanya meninggal dia menjadi sulit bergaul. Saya ingin kamu jadi temannya, karna sepertinya sifat kalian cocok."


"Terimakasih sebelumnya, tapi saya tidak mau jadi pengasuh."


Dirga manggut-manggut.


"Lalu, mau kemana kamu setelah ini?"


Leo diam.


"Kamu yakin kalo geng tadi gak bakal nemuin kamu? Mungkin dalam beberapa hari kamu bisa sembunyi dari mereka. Tapi, cepat atau lambat mereka pasti akan membawa ajal ke hadapan kamu."


"Saya bisa pergi keluar pulau."


"Memangnya kamu punya uang?"


"Saya bisa merampok sebelum pergi."


"Lalu dimana akal sehat yang sebelumnya kau katakan?"


"Saya bisa berikan jaminan keselamatan jika kamu mau ikut sama saya."


"Anda yakin mau menampung seorang mantan anggota geng seperti saya? Gimana kalo nanti saya malah merampok rumah anda dan kabur begitu saja?"


"Saya tau kamu tidak akan melakukan itu."


"Kenapa?"


"Karna saya yakin kamu orang baik."


"Jangan terlalu percaya diri, pak. Saya tidak sebaik yang anda kira."


" Selama 30 tahun saya menjadi pembisnis, sudah sering saya ambil resiko yang bahkan lebih berbahaya dari ini. Dan kalopun memang saya salah menilai, kamu pikir saya gak bisa nangkap kamu? Saya bisa nyari kamu kemana pun dalam waktu kurang dari 24 jam."


***


Leo ternganga melihat pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Ternyata Dirga tak main-main saat bilang tidak akan sulit menemukannya, karna memang dia sekaya itu. Meskipun memang sejak awal merampok hanya alasan Leo untuk menolak Dirga.


"Kita langsung ke ruang kerja saya." ucap Dirga.


"Bi, tolong suruh Devan ke ruang kerja saya."


"Baik, tuan."


Leo dan Dirga masuk ke ruang kerja yang masih di lantai bawah, sementara pelayan tadi pergi ke lantai atas untuk memanggil Devan di kamarnya.


Ceklek,pintu dibuka oleh Devan. Leo langsung menoleh ke arah sana dan tatapan keduanya bertemu, namun segera dialihkan oleh Devan.


"Ada apa, pah?" Devan bertanya tanpa menghiraukan Leo.


"Ada yang mau papa kenalkan padamu."


"Ini Leo, yang akan menemanimu pergi kemanapun."


"Papa mau ngasih aku pengasuh?"

__ADS_1


"Bukan. Papa cuma khawatir membiarkan kamu pergi sendirian setelah kecelakaan minggu lalu."


Devan memandang Leo dari atas sampai bawah, lalu tersenyum mengejek.


"Oke. Jadi dia cuma nganterin aku kan?"


"Dia juga akan kuliah di tempat kamu, dengan fakultas dan kelas yang sama, sama kamu."


"Ck, kenapa sopir juga mesti sekolah?"


Leo melotot mendengar ucapan Devan, dia tak menyangka anak dari seorang yang sopan sperti Dirga ternyata mulutnya begitu kotor.


"Dia bukan sopir Devan, dia nantinya yang akan jadi asisten kamu kelak saat menggantikan posisi papa."


"Oke, terserah."


"Nah, Leo semoga kita bisa jadi teman baik." Devan mengulurkan tangannya pada Leo, namun saat Leo hendak menjabatnya Devan pergi begitu saja.


"Maaf, Leo. Seperti itulah sikap Devan setelah mamanya meninggal. Dia membentengi dirinya dengan sikap kurang ajarnya."


"Tidak apa, saya bisa menghadapinya."


"Bagus. Nanti, pelayan akan menunjukan kamarmu."


"Iya, pak."


***


Hari pertama Leo menjadi pengawal Devan, dia hampir saja ditinggalkan oleh Devan. Karna ketika dia sedang menghidupkan mesin mobil yang ditunjuk Dirga untuk digunakan, Devan membawa kunci mobil lain, untuk dia gunakan. Untung saja Leo gesit dan berhasil menahan Devan yang sekejap lagi melaju.


"Biar saya yang menyetir, Tuan."


"Ck," Devan keluar dari balik kemudi kemudian pindah ke jok penumpang. Mobil yang dikendarai adalah mobil sport yang hanya tersedia dua kursi.


Selama perjalanan tak ada percakapan antara keduanya.


Ketika keluar dari mobil, pesona keduanya tak bisa dilewatkan begitu saja. Dengan perlahan Devan menurunkan kacamata hitamnya lalu mengaitkannya pada kemejanya. Gayanya yang cool, namun dengan raut wajah yang dingin membuat para wanita hampir menjerit saking terpesonanya.


Sedangkan Leo, raut wajahnya memang datar tapi tetap terlihat lebih bersahabat dibandingkan Devan yang sudah mendapat julukan Ice Prince sejak tahun pertama.


Mereka jalan beriringan menuju kelas yang 10 menit lagi akan dimulai. Leo sudah tak perlu lagi mengurus apapun di kampus, karna semuanya sudah diatur oleh Dirga. Dia hanya tinggal masuk kelas saja.


Bisik-bisik mengiringi langkah mereka, terutama Leo yang baru kali ini muncul di kampus.


"Dia siapa?"


"Apa itu sodara Devan?"


"Semoga saja tidak sedingin ice prince itu biar aku bisa kenalan."


"Tapi masih gantengan Devan, ah."


Kira-kira begitulah beberapa ocehan dari para mahasiswi yang dilewati oleh Leo dan Devan.


"Lo udah populer dihari pertama." ucap Devan saat mereka berada di lorong yang cukup sepi.


"Tidak sepopuler anda, tuan."


"Jangan panggil gue, tua."


"Tapi anda tuan saya."


"Cukup panggil gue Devan!"


"Baik,"


"Harusnya lo gak usah sesopan itu, bukannya lo mantan gangster. Jadi udah biasa kan ngomong kasar?"


"Saya hanya menempatkan diri."


"Oke terserah."


Devan mendahului Leo untuk masuk ke kelasnya.


***

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2