
Mia tiba di rumahnya dengan perasaan yang tak menentu. Bagaimana bisa? Tidak. Bukan itu pertanyaan yang tepat. Tapi, benarkah Devan itu adalah Arka? Kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya? Meski sempat sedikit curiga, tapi Mia tidak benar-benar berpikir kalau Arka adalah Devan, CEO Astra Group.
Mia ingat saat Arka pertama kali membantunya mengerjakan pekerjaannya, lalu bantuan-bantuan selanjutnya. Harusnya saat itu dia menyadari bahwa Arka bukan orang sembarangan. Tidak, harusnya Mia menyadarinya saat tau fakta tentang cincin ini. Cincin yang masih tersemat di ibu jarinya.
Lalu apakah Devan mengingat dirinya? Tidak. Apakah Devan ingat dia pernah menjadi Arka? Rasanya itu tidak mungkin, karena saat tadi berkenalan pun Devan tidak terlihat mengenalnya sama sekali.
Astaga, bagaimana caranya dia bekerja nanti? Bagaimana caranya agar bersikap seperti tidak ada apa-apa? Memikirkan semuanya membuat otaknya lelah, dan kepalanya seperti mau pecah. Mia pun tertidur saat matahari sedang tinggi-tingginya.
***
*Devan POV*
Mia tampak sangat terkejut saat melihatku. Apa dia mengenaliku sebagai pengunjung yang selalu ada di setiap tempat kerjanya atau..? Entahlah, yang jelas aku yakin kalau Mia pulang cepat itu karena diriku. Entah bagaimana aki bisa merasakannya.
Ingin sekali rasanya aku bertemu dengannya sekarang juga. Tapi, tidak mungkin bukan jika seorang atasan yang bahkan baru bertemu sekali langsung menemui sekretarisnya di rumah karena dia pulang lebih awal? Rasanya tidak tepat, apalagi aku punya asisten.
Harusnya aku mengajaknya kenalan langsung saat aku pertama kali melihatnya. Bukan malah berperan sebagai penggemar rahasia atau lebih tepatnya penguntit yang datang ke setiap tempat di mana dia bekerja. Mungkin hubunganku dengannya kini sudah memasuki tahap yang lebih serius dibanding sekarang yang belum apa-apa.
Entah kenapa dulu aku begitu tidak percaya diri untuk sekedar mengajaknya berkenalan. Aku malah bertindak bodoh dengan mencari semua informasi tentangnya layaknya seorang CEO di dalam cerita fiksi. Bahkan aku memimpikan kisah cinta romantis yang seperti itu.
"Leo, tanyakan keadaan Mia dan pastikan besok Mia masuk kerja!" Setelah mengatakan itu aku langsung mematikan ponselku tanpa menunggu jawabannya.
Tidak sopan? Biarkan saja, aku bosnya.
***
*Author*
Suara nyaring dering ponsel membangunkan Mia.
"Ya?"
"Kau baik-baik saja Mia?"
"Hmmm, aku baik."
"Suaramu aneh, benar baik-baik saja?"
"Aku lagi tidur,"
"Oh begitu. Besok kamu masuk kan?"
"Hmmm, tenang saja."
"Oke kalo gitu, sampai jumpa besok Mia. Good nite!"
Tut..
"Apa ini? apa dia sedang perhatian?"
Mia melihat jam di ponselnya.
"Hah? sudah selama itu aku tidur!"
Mia bangkit dan peegi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan ganti baju. Walaupun ingin sekali melanjutkan tidurnya, tapi dia tidak ingin kulitnya rusak gara-gara tidur malam dengan make up.
***
Devan sampai di ruangannya sebelum Leo. Dia benar-benar exited untuk bertemu Mia kembali. Jika dulu dia sering mengatai Celina yang begitu terobsesi dengan Leo, ternyata dia sendiri lebih dulu merasakan itu.
Ceklek, pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang. Devan memandang tak sabar ke arah pintu, ingin melihat siapa yang datang, dan benar saja orang yang dia tunggu masuk dan menutup pintu dari dalam. Dia belum sadar bahwa ada Devan di sana.
"Kau datang pagi sekali!"
Mia menjingkat saking terkejutnya mendengar sapaan Devan.
"Tuan Devan, anda bahkan lebih pagi dari saya." Mia menjawab dengan tenang setelah menetralkan keterkejutannya.
__ADS_1
Dia sudah memutuskan untuk bersikap biasa saja di depan Devan. Tentu saja, memang apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin kan kalau dia mengatakan pernah berpacaran dengan arwah bosnya itu. Yang ada dia akan dianggap gila.
"Bagaimana keadaanmu?"
Mia mengerutkan dahi, kemudian dia ingat kemarin minta izin pulang lebih awal.
"Saya baik-baik saja, tuan. Maaf kemarin saya pulang begitu saja meninggalkan tanggung jawab saya." Mia menunduk meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Jika sakit, memang harus istirahat." Devan tersenyum, senyum yang sama dengan Arka. Bedanya ini terasa lebih nyata.
Mia hanya membalas dengan anggukkan, kemudian menyalakan komputernya.
"Kau tidak mengenaliku?" tanya Devan tiba-tiba.
Pertanyaan itu mampu membuat Mia membeku. Apa maksudnya?
"Aku sering melihatmu bekerja di beberapa restoran dan kafe jika aku tak salah ingat." Devan menmbahkan melihat kebingungan di wajah Mia.
Mia menatap Devan, mengingat-ingat.
"Apa anda adalah pelanggan yang selalu meminta saya untuk melayani anda?"
"Ya, itu aku."
Mia mengangguk.
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa anda selalu memanggil saya ketika anda berkunjung?"
"Itu karena aku..."
Ceklek, pintu terbuka. Masuklah Leo dengan wajah datarnya.
"Dev, gue udah bilang kalo kita berangkat bareng. Kenapa lo duluan? Dokter kan bilang kalo masih bahaya buat lo nyetir duluan. Bisa aja ada gejala pasca koma." Leo mengomeli Devan tanpa peduli di sana ada Mia.
Mendengar itu Leo mengangguk lalu duduk di kursinya.
"Pagi, Mia!" Leo menyapa seperti biasanya.
"Pagi, Leo!" Mia pun membalas seperti biasa.
Ada rasa sesak saat melihat Leo dan Mia saling menyapa dengan akrab seperti itu. Nanti aku akan mengatakannya saat waktunya tepat, batin Devan.
***
Waktu makan siang telah tiba, Leo dan Devan berdiri untuk mengisi perutmya. Sedangkan Mia masih setia menatap monitornya.
"Kami makan siang dulu, Mia." seru Leo.
"Oke!"
"Kamu gak makan Mia?"
Mia kembali mengangkat wajahnya.
"Dia selalu makan saat waktu istirahat hampir habis." Leo menjawab mewakili Mia.
"Aku tau. Aku hanya ingin mengajak makan siang bersama, agar kita bisa lebih akrab."
Leo mengerutkan keningnya "Dari mana dia tau?" tapi pertanyaan itu hanya tertahan di kepalanya.
"Bagaimana Mia? kita makan siang bersama, supaya kita bisa lebih nyaman bekerja."
Mia melirik Leo sesaat untuk meminta bantuan, tapi sepertinya pria itu tidak peka.
__ADS_1
"Baiklah, saya matikan ini dulu." Mau tak mau dia mengiyakan.
"Oke, kami tunggu di luar."
Mia mengangguk, kemudian menghembuskan nafas kasar saat mereka berdua sudah keluar.
"Bagaimana bisa yang nyata lebih agresif." Mia menggelengkan kepala tak habis pikir.
***
Mereka memilih makan di kantin kantor karena mereka berdua, tepatnya Devan menyerahkan pilihan tempat kepada Mia.
Mia yang bingung langsung memilih kantin saja, dan sepertinya kantin adalah pilihan yang buruk. Karena sejak mereka bertiga masuk, banyak karyawan yang saling berbisik dan menatap Mia tidak suka. Meskipun sejak awal memang banyak yang tidak suka pada Mia. Itulah alasan kenapa Mia lebih suka makan setelah yang lain bubar atau pesan antar.
Mereka duduk setelah mendapat makanan masing-masing. Ini pertama kalinya Devan mengambil makanan sendiri, biasanya akan ada yang melayani jika Devan makan di kantin meski itu jarang.
"Jadi, kamu sudah bekerja berapa lama di sini?" Devan bertanya pada Mia setelah menelan beberapa suap makanannya.
Leo mencebik tanpa terlihat mendengar pertanyaan basa-basi dari Devan. Oh iya, posisi duduk mereka adalah Mia dan Devan bersebrangan sedangkan Leo di samping Mia.
"Hampir empat bulan, tuan." Mia tidak suka suasana ini.
"Aku rasa kamu bisa bicara santai padaku. Tidak perlu memanggil tuan. Panggil namaku seperti kamu memanggil Leo."
"Maaf?" Mia tidak salah dengar kan?
"Ya. Panggil aku Devan saja."
"Tidak, tuan. Anda adalah atasan saya. Dan bukankah semua pegawai memanggil anda tuan? Akan terasa aneh jika saya memanggil anda nama.".
"Kalo begitu aku akan menyuruh seluruh pegawai ini memanggil namaku."
"Lo gila." Leo menahan Devan yang hendak berdiri.
"Maaf, tuan saya sudah selesai." Mia segera berdiri dan pergi membawa makanannya.
"Lo bisa bikin dia takut, Dev!!"
Devan menghela nafas kasar.
"Kenapa dia jadi sedingin itu." gumam Devan tak menghiraukan ucapan Leo.
***
"Dasar gila! Kurasa arwahnya lebih baik daripada aslinya."
Mia bisa gila jika harus dihadapkan terus dengan wajah orang yang dia cintai, tapi sifat yang sama sekali berbeda. Jika Arka selalu bersikap lembut dan dewasa, Devan adalah kebalikannya. Dia sepertinya pemaksa dan kekanakan. Meski keduanya sama-sama agresif.
Leo telah kembali dari makan siangnya, tapi Mia tak melihat Devan.
"Aku akan menemani Devan meeting di luar dan tidak akan kembali ke kantor. Jadi kau bisa pulang setelah mengerjakan dokumen ini."
"Oke."
"Mia,"
"Ya?"
"Apa kau tidak nyaman dengan sikap Devan?"
"Emmm, sedikit."
"Akan ku beritau dia agar melakukannya dengan lebih baik."
"Apa maksudmu?"
Leo melenggang pergi tanpa menjawab.
__ADS_1
***
bersambung....