
Mia bangun pukul 7 pagi. Dia harus segera bersiap agar saat Devan tiba dia tak perlu menunggu. Pertama, dia mandi tanpa keramas karena semalam dia sudah melakukannya. Semalam dia juga sudah memakai perawatan wajah ekstra agar kulitnya bagus dan bersinar.
Mia mulai merias wajahnya, terakhir kali dia full make up adalah di hari wisudanya. Untuk ke kantor biasanya dia hanya mengoles tipis agar tak terlihat pucat.
Hampir dua jam Mia berkutat dengan make up serta tatanan rambut, akhirnya selesai juga. Tepat saat itu, suara klakson mobil Devan terdengar. Mia membuka pintu sebelum Devan mengetuknya.
Devan melihat Mia keluar dari rumahnya. Persis seperti bayangannya, gaun warna soft pink yang dia pilih sangat cocok di kulit putih Mia. Potongan kimono di bagian atas dan mengembang jatuh di bawahnya menambah kesan manis pada tubuh mungil Mia. Rambut pendek berponinya dibuat bergelombang, juga riasan wajah yang baru pertama kali Devan lihat. Dan jangan lupakan high heels berwana silver yang membingkai indah kaki jenjangnya. Sempurna sudah penampilan Mia di mata Devan.
"Apa aku terlihat aneh?" Mia memandangi dirinya sendiri, karena sejak Mia keluar rumah bahkan sampai dia sampai di hadapannya pun Devan masih belum berkedip.
Devan tergagap.
"Hah?? Kau sangat cantik." Mia tersipu mendengarnya. Devan juga sangat mempesona dengan setelan jas warna putih dengan kemeja soft pink senada dengan gaunnya.
"Ayo berangkat!" Devan membukakan pintu mobil untuk Mia. Mia pun tersenyum sebelum masuk.
Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 40 menit. Mereka sampai di depan sebuah villa mewah bergaya eropa. Namun, Mia merasa aneh dengan suasana di sana. Rasanya terlalu sepi untuk sebuah acara pernikahan. Dia hanya melihat satu mobil terparkir di samping mobil yang mereka tumpangi.
Devan keluar lebih dulu, Mia tak sadar karena terlalu asyik memperhatikan sekeliling, sampai Devan membuka pintu di sampingnya dia baru sadar dan keluar dari mobil.
"Kenapa sepi sekali? Apa yang lain belum datang?" Mia tak bisa menahan rasa penasarannya. Namun dia tak mendapat jawaban dari Devan, karena pria itu hanya tersenyum kemudian mengamit lengan Mia, mengajaknya masuk ke dalam.
Mia menurut saja. Mereka melewati pintu utama yang sudah terbuka sepenuhnya, kemudian melewati ruangan yang Mia tebak adalah ruang tamu. Devan terus membawa Mia sampai menaikki anak tangga.
Barulah ketika sampai di lantai dua, Mia melihat ruangan luas yang di dekor sangat cantik. Banyak bunga-bunga cantik yang bahkan baru pertama kali dia lihat. Sangat cocok untuk dijadikan tempat pesta sebuah pernikahan. Tapi, kemana semua orang? Apa mereka tiba terlalu awal hingga yang lain belum datang? Banyak pertanyaan yang beterbangan di kepala Mia. Dia menatap Devan mencari jawaban. Tapi lagi-lagi Devan hanya tersenyum, lalu menariknya ke satu-satunya set meja di sana, menarik kursi untuk Mia, sebelum akhirnya dia pun duduk di hadapan Mia.
Suara alat musik mulai terdengar, Mia tebak itu adalah suara biola dan piano. Dan dia benar, sebuah tirai di depan mereka terbuka menampilkan dua musisi yang sedang memainkan alat musiknya masing-masing.
Alunan lembut nan romantis seketika menghanyutkan Mia. Devan berdiri di hadapan Mia, merendahkan punggungnya sambil mengulurkan tangan layaknya pangeran.
Mia awalnya bingung tapi kemudian menerima uluran tangan Devan. Mereka mulai berdansa. Mia menaruh tangan kirinya di pundak Devan sedang tangan kanannya bertaut dengan tangan kanan Devan. Sedang satu tangan lagi, Devan menaruhnya di pinggang Mia, membuat tubuh mereka saling menempel.
__ADS_1
Keduanya berdansa mengikuti alunan musik, meski Mia sebenarnya belum pernah berdansa. Mata keduanya saling terpaut, saling terpana dengan pesona masing-masing. Cukup lama mereka berdansa akhirnya musik pun berhenti.
Devan melepaskan pelukannya membuat Mia bingung, dia mundur beberapa langkah kemudian berlutut dengan satu kaki. Musik kembali mengalun lembut.
"Dev, apa yang kamu lakukan?"
Devan tersenyum, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru gelap, membukanya lalu mengarahkan pada Mia.
Mia spontan menutup mulut dengan tangan mungilnya. Tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Devan menyodorkan sebuah kotak berisi cincin berlian yang sangat cantik. Tidak besar namun akan membuat siapa saja jatuh cinta dengan desainnya.
"Ini adalah cincin yang kakek berikan pada nenekku. Kemudian diwariskan pada ayahku untuk melamar ibuku. Sekarang, aku ingin kau yang jadi pemilik selanjutnya."
Mata Mia tiba-tiba berkabut, rasa haru menyeruak dalam dadanya.
"Kau yakin akan memberikannya padaku?" Mia bertanya dengan suara serak.
"Ya, jika kau bersedia menikah denganku."
Mata Mia kembali melebar mendengar penuturan Devan. Air matanya masih coba dia tahan.
Devan berdiri, melangkah mendekat lalu mengambil cincin itu dari kotaknya. Tangan satunya mengambil tangan kiri Mia. Mia merasakan cincin itu perlahan mulai tersemat di jari manisnya. Bersamaan dengan itu air mata yang sudah sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Devan yang melihat itu langsung menarik Mia ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis." bisik Devan. Tapi air mata Mia malah semakin deras. Devan meregangkan pelukannya. Menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Mia.
"Terimakasih, sudah menerimaku." Dia membawa kedua tangan Mia ke bibirnya lalu mengecupnya.
"Terimakasih sudah memintaku." Mia kembali memeluk Devan dengan erat. Impiannya dilamar orang yang dia cintai kini tercapai.
"Wah wah wah, kalian mencuri startku." Leo datang sambil bertepuk tangan mengalihkan fokus keduanya. Musik pun berhenti.
"Selamat, Mia!" Leo mengulurkan tangannya dan Mia menjabatnya.
__ADS_1
Leo kemudian beralih menatap Devan.
"Selamat, bro! Akhirnya lo diterima sama gadis impian lo selama ini." Leo dan Devan berpelukan dan saling menepuk bahu.
***
Mia dan Devan masih di sana. Saling duduk berhadapan dengan satu tangan yang bertautan. Tak henti-hentinya Devan mengecup tangan Mia yang sudah dia semati cincin keluarganya.
Kini hanya tinggal mereka berdua, para musisi dan juga Leo sudah meninggalkan tempat ini sejak tadi. Mungkin hanya ada satu pelayan di tangga yang akan siap siaga jika dibutuhkan.
"Makanlah, ini sudah masuk waktu makan siang." Devan menyodorkan steak yang sudah dia potong kecil-kecil ke hadapan Mia.
"Makasih." Mia tersipu lagi, entah kenapa sejak tadi Mia jadi lebih banyak tersipu.
Mereka makan dalam diam, sesekali Mia melirik Devan yang juga sedang menatapnya. Hal itu membuat Mia kembali salah tingkah.
"Aku akan segera menemui orang tuamu agar bisa cepat menikah denganmu." Kata-kata Devan mampu membuat Mia menghentikan kunyahannya.
Mendengar kata orang tua membuat dadanya sesak. Dia begitu merindukan mereka. Memang, seminggu sekali Mia selalu menghubungi mereka, tapi respon mereka tak pernah baik. Selalu saja mengungkit apa yang dia lakukan 4 tahun yang lalu. Selalu mengungkit anak tetangga yang sekarang sudah menikah dengan seorang PNS atau tentara.
"Kenapa?" Devan melihat perubahan raut wajah Mia.
"Tidak apa-apa."
"Bolehkan aku menemui mereka?"
"Tentu saja."
"Baiklah, nanti kita atur jadwalnya."
Mia mengangguk dan melanjutkan makannya. Dia berpikir mungkin orang tuanya akan setuju akan hubungannya dengan Devan karena Devan adalah seorang CEO. Bukan dia memandang buruk orang tuanya yang menginginkan menantu kaya, tapi setidaknya mungkin orang tuanya tidak akan terlalu mempermasalahkan tindakannya dulu jika dia pulang membawa gelar serta pekerjaan dengan gaji tinggi, juga membawa calon menantu yang kaya raya.
__ADS_1
***
bersambung...