Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
04


__ADS_3

Mentari bersinar terik, namun awan bergulung di bawahnya seolah memayungi orang-orang yang sedang beraktivitas siang ini.


Celina masih bergulung selimut di kamarnya. Panasnya cuaca di luar sama sekali tak terasa karena pendingin udara kamarnya bekerja sempurna.


Suara ponsel membhat Celina mau tak mau terjaga. Dia memunculkan kepalanya dari dalam selimut untuk melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya. Dahinya berkerut melihat sederet nomor tak dikenal. Celina mengeluarkan satu tangannya lalu menekan mode diam pada ponselnya agar tak mengganggu lagi. Namun, baru beberapa menit dia kembali terlelap, suara ketukan pintu kembali mengganngu tidurnya.


"Diaam!!" Celina berteriak kesal karena pintu tak henti-hentinya diketuk. Dia lalu bangkit dari tempat tidurnya, berjalan membuka pintu. Wajah bantalnya terlihat kentara dengan mata setengah terbuka.


"Ada apa?" ketus Celina.


"Maaf, nona, Mr.Alex berpesan kalau rapat dengan Astra Group akan diadakan pukul 08.30."


"Oh. Sekarang jam berapa?"


"Sekarang pukul 8 nona."


"Apa??" Mata Celina langsung terbuka lebar.


"Kenapa baru bilang sekarang?"


"Maaf, tapi sejak tadi saya...-"


BUGH...


Celina langsung membating pintu tanpa mendengar kelanjutan ucapan pelayannya. Dia cepat-cepat masuk kamar mandi dan menyalakan shower. Tak ada waktu untuk berlulur atau berendam. Dia harus ekstra cepat, mandi yang biasanya menghabiskan waktu 30 menit pebih sekarang ia singkat jadi 5 menit.


Berjalan ke walk in closet, dia mencari pakaian yang pantas. Baju yang bisa menampilkan sisi elegan, seksi, tapi juga berwibawa sebagai perwakilan Giant Family.


Kalau rapat dengan Devan saja dia pasti akan memakai baju apa saja tanpa pikir panjang, tapi di sana ada Leo, jadi bukan tanpa alasan dia ingin tampil 'wah'.


15 menit dia habiskan untuk berdandan, yang itu artinya 20 menit sudah waktunya terpakai. Untung saja dia sudah terampil dalam merias wajah jadi tidak memakan waktu lama, juga rambutnya yang pendek membuatnya tidak perlu bersusah payah menatanya.


Setelah sekali lagi dia memastikan penampilannya di depan cermin, buru-buru dia turun tangga, mobil sudah siap di depan pintu. Dia langsung meluncur dengan kecepatan tinggi menuju sebuah kafe yang Devan kirim lokasinya beberapa menit lalu.


***


Leo menunggu kedatangan Celina sekitar 10 menit. Dia menunggu Devan yang seharusnya rapat di sini. Tapi tadi Devan mengatakan akan datang ke kantor terlambat karena Mia kembali mengalami morning sickness. Entah memang begitu atau alasannya saja agar dia dan Celina bisa berduaan. Karena sejak Celina kembali, Devan terus menerus menyuruh Leo untuk berbaikan dengan Celina, padahal dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi selalu menyalahkannya.


Pintu geser ruangan, Leo menoleh. Matanya langsung terpaku dengan kehadiran Celina yang begitu anggun tapi juga seksi. Sungguh mengusik jiwa lelakinya yang memang sangat merindukannya. Leo baru tersadar ketika Celina sudah duduk di depannya.


"Dimana Devan?" Celina basa-basi, tentu saja dia sudah tau dari Devan yang mengiriminya pesan saat tadi mengirim alamat kafe ini.


"Mia sakit, jadi dia menyuruhku untuk menggantikannya."


"Benarkah? Hmm, aku jadi takut untuk hamil jika seperti itu."


Leo mengangkat alisnya mendengar kata-kata Celina. Hamil? Dia sudah berpikir kesana, dengan siapa?


"Kau tidak keberatan bukan jika aku ingin childfree?"


"Apa maksudmu?" Leo semakin mengeluarkan aura dingin.

__ADS_1


"Ah sudahlah aku hanya asal bicara. Kita mulai saja rapatnya."


Leo mengangguk lalu membuka berkas yang dia bawa. Selanjutnya, mereka hanya membahas bisnis. Celina tak lagi mengungkit tentang hubungan mereka. Dia akan mencari tau sendiri apa penyebab Leo seperti ini.


***


Leo kembali ke kantor setelah menyelesaikan rapatnya dengan Celina. Kali ini Celina tampak tenang, tidak lagi menuntut penjelasan padanya. Mungkin dia memutuskan untuk move on. Hah, tentu saja, dia bahkan sudah dekat dengan pewaris Maso Machine.


Leo masuk ke ruangannya dan tak mendapati Devan di sana. Itu artinya, dia akan bekerja sendirian hari ini. Dia menarik nafas dalam, setidaknya itu akan mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang Celina.


***


Celina pergi ke mall untuk mencari beberapa pakaian. Saat mencari pakaian untuk rapat tadi, dia sadar kalau pakaiannya sudah ketinggalan jaman. Dia ingin mencari yang baru, yang lebih modis dan seksi tentunya. Entah kenapa, meski sedikit sakit hati dengan sikap Leo tapi dia tak bisa berhenti mencintai Leo. Jadi, apapun alasan Leo bersikap dingin padanya, dia akan terus mengejar dan mendapatkan Leo agar kembali seperti dulu.


Pertama dia masuk ke sebuah toko pakaian bermerk dan tentu hanya kalangan atas saja yang bisa membeli pakaian di sini. Dia melihat-lihat pakaian yang terpajang di sana. Lalu ada satu gaun yang menarik di matanya. Sebuah gaun hitam sepaha dengan tali spageti dan terbuka dibagian punggung.


"Cocok sekali untuk minum dengan Leo." Tanpa mencoba dia langsung memasukkannya ke dalam tas yang disediakan ditoko ini. Kemudian dia kembali mencari yang lain. Lalu matanya tertuju pada one set yang semi formal warna hijau army, dia pun mengambilnya. Sekitar lima potong yang dia beli di toko tersebut.


Keluar dari sana, Celina masuk ke sebuah toko lagi. Kali ini dia masuk ke toko yang lebih mengutamakan tema kasual. Dia membeli bebrapa celana dan rok pendek, tanktop, juga atasan croptop. Semuanya dia ambil berdasarkan kira-kira saja, dia sudah tau bentuk tubuhnya jadi tak perlu mencobanya dulu.


Kini dia keluar dengan tangan yang penuh dengan paper bag. Dia duduk di sebuah bangku yang tersedia di sana. Berbelanja sendiri nyatanya menguras tenaganya. Biasanya dia akan ditemani seorang pelayan, tapi hari ini entah kenapa dia malas.


Celina memijat-mijat betisnya yang putih jenjang. Ternyata sudah 2 jam dia berkeliling membeli pakaian.


"Butuh bantuan?" Suara seseorang memasuki indera pendengaran Celina. Dia melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Celina menaikkan pandangannya untuk melihat siapa pemilik kaki tersebut.


"Kris?"


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Celina.


"Aku selesai menghadiri sebuah rapat di sini."


"Rapat? di mall?"


"Ya." jawab Kris singkat, nampak tidak ingin membahas lebih jauh dan Celina mengerti itu. Lagipula dia juga tak ingin tau. Jadi dia kembali memijit kakinya.


"Sudah makan siang?"


"Belum."


"Mau makan siang bersama?"


Celina tampak berpikir kemudian mengangguk.


"Baiklah."


"Ayo!" Kris mengambil semua paper bag Celina.


"Biar aku saja." Kris tersenyum.


"Hmm, thanks."

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan. Bagi orang yang melihat sekilas, mereka tampak seperti sepasang kekasih.


"Kau makan makanan Jepang?" Mereka berhenti di depan sebuah restoran Jepang.


"Ya, apapun."


"Oke."


Kris masuk duluan dengan tangan yang masih setia menenteng belanjaan Celina. Celina memilih meja di bagian pinggir agar lebih leluasa. Kris menyimpan paper bag itu di sampingnya.


"Apa kau selalu belanja sebanyak ini?" ujar Kris setelah mendudukan dirinya.


"Tidak. Biasanya lebih banyak."


"Wah!" Kris melongo mendengar jawaban Celina.


"Kenapa? Kukira kau sudah sering menemani wanita belanja, melihat tadi kau langsung sigap membawa belanjaanku."


"Tidak, ini pertama kalinya."


Celina menangguk lalu fokus pada buku menu.


"Aku pesan ini dan ini." Celina menunjuk makanan yang ada di menu. "Minumnya air mineral."


"Baik. Tuan?"


"Aku ini saja."


"Baik, mohon ditunggu." Pelayan itu pun pergi.


"Bagaimana hubunganmu dengan Leo?"


"Kau yakin ingin membahas ini?" Celina malah balik tanya.


"Aku hanya ingin tau. Jadi, aku bisa tau apa langkahku selanjutnya."


"Langkah?" Celina mengerutkan alisnya.


"Ya, jika kau dan Leo kembali bersama aku akan mundur. Tapi jika tidak, aku akan terus berjuang. Aku kira kau sudah tau bagaimana perasaanku."


"Aku tidak tau bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Leo, tapi yang jelas aku masih sangat mengharapkannya dan akan kembali mendekatinya."


Makanan yang mereka pesan datang. Celina mengambil sumpitnya, lalu makan perlahan begitu pun Kris.


"Jika kau ingin terus mengejar Leo, maka aku pun akan mengejarmu."


"Kau yakin? Besar kemungkinan kau akan patah hati di kemudian hari."


"Siapa yang tau, mungkin nanti kau malah takluk padaku." Kris tersenyum menggoda.


Cekina terkekeh, lalu mengangkat bahunya. "Kalo begitu kita lihat nanti."

__ADS_1


Kris pun semakin melebarkan senyumnya, kata-kata Celina barusan menjadi pertanda kalau Celina tidak menolaknya.


__ADS_2