
"Jadi ini urusanmu yang sangat mendesak itu?"
"Kris.."
"Seharusnya kau bilang kalo mau kesini, jadi kita bisa bareng. Toh aku juga pulang ke sini." terlihat sekali sorot mata Kris menunjukan kekecewaan, tapi Celina tak punya waktu untuk itu.
"Aku minta maaf, tapi sekarang aku benar-benar buru-buru. Aku duluan!" Celina berjalan cepat menuju lift dan seperti tadi, Kris hanya bisa memandangnya sampai Celina menghilang masuk ke dalam lift.
"Ternyata aku masih bukan apa-apa, ya?" gumam Kris pada dirinya sendiri, lalu masuk ke apartemennya.
***
Sampainya di rumah sakit Leo langsung dibawa ke IGD, dia langsung ditangani oleh dokter jaga. Sementara Adam dia pergi untuk melakukan tugasnya.
Kini, Leo sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP. Celina yang memesan kamarnya agar lebih leluasa merawat Leo. Dia kini belum sadar sama sekali. Kata dokter, Leo akan sadar dalam satu jam.
Celina duduk di samping ranjang, memperhatikan Leo. Dia belum pernah melihat Leo selemah ini, Leo sama sekali tak pernah sakit. Justru dialah yang sering sakit dan membuat Leo merawatnya.
"Aku tidak tau harus merasakan apa sekarang? Sedih karna kau terbaring sakit? Atau senang karna aku orang pertama yang kau hubungi? meski aku tau kau tak bermaksud menghubungiku."
Celina menarik nafas dalam. Sepertinya dia harus merasa senang karena sekarang dia memiliki alasan untuk terus berada dekat Leo, toh sakitnya tidak parah jadi dia tak perlu sesedih itu. Dia belum ingin menghubungi Devan, satu-satunya orang yang Leo anggap keluarga. Dia ingin menikmati momen ini dulu. Lagipula ini akhir pekan, jadi dia tak ingin mengganggu waktunya.
Karena terlalu lema menunggu, tanpa sadar Celina terlelap dengan posisi kepala terlungkup di atas tangan Leo.
***
Leo terjaga dengan kepala berat. Hal yang pertama dia sadari adalah kini dia berada di rumah sakit. Terasa dari indera penciumannya yang menangkap aroma steril khas tempat itu.
Kemudian Leo menoleh ke arah tangannya yang terasa berat saat ia ingin menggerakkannya. Dia baru sadar ada kepala yang menindihnya. Anehnya, dia tau itu siapa. Karena dari terakhir yang dia ingat, dia memang salah menghubungi Celina.
Perlahan, Leo mengangkat tangannya yang dipasangi jarum infusan. Dengan lembut, Leo mengusap rambut Celina. Disatu sisi dia begitu merindukan gadis ini, namun di sisi lain rasa kecewa yang dia dapatkan juga tak main-main.
......*dua tahun lalu*......
Leo telah beberapa jam duduk di pesawat tujuan Amerika. Dia akan menemui Celina yang beberapa bulan ini menjalani rehabilitasi di sana. Selain itu dia juga ingin memberitahukan kabar bahagia dari Devan dan Mia yang akan menikah minggu depan.
Senyumnya terus merekah membayangkan reaksi Celina nanti mendapat kejutan darinya. Dia yakin akan langsung mendapat pelukan dan ciuman hangat dari kekasihnya itu.
Celina memang tidak tau tentang kunjungannya, sudah hampir dua minggu Celina tak dapat dihubungi. Namun, dia tak mempermasalahkannya, karena mungkin itu salah satu metode rehabilitasinya. Dan dari yang dia tau, dua hari kedepan adalah masa istirahatnya Celina, jadi dia akan langsung ke rumah Celina begitu dia sampai.
__ADS_1
Namun, hal yang tak terduga malah terjadi. Pagi-pagi, ketika Leo menginjakkan kaki di bandara internasional Amerika, seseorang menghubunginya.
"Halo?"
"Kau sudah sampai?" tanya seseorang disebrang sana.
"Mr.Alex?"
"Ya, ini aku."
"Bagaimana anda tau saya berada di Amerika?"
"Itu tidak penting. Temui aku di restoran sekarang, akan aku kirimkan alamatnya." Tut. Panggilan ditutup sebelum Leo sempat menjawab.
Tak lama kemudian sebuah pesan yang berisi alamat sebuah restoran pun muncul. Mau tak mau Leo harus menunda pertemuannya dengan Celina. Leo segera menyetop taksi dan pergi ke alamat tersebut.
Sesampainya di sana, dia dituntun oleh seorang pelayan yang sepertinya telah menunggunya. Kopernya disimpan oleh satu pelayan lainnya. Leo dibawa ke sebuah ruangan di restoran tersebut.
Tok Tok..
Pelayan itu mengetuk pintu lalu membukanya.
Mr.Alex menggerakan jarinya dan pelayan itu mempersilakan Leo masuk. Leo duduk beehadapan dengan Alex.
"Kau datang ke sini untuk menemui putriku?"
"Ya."
"Kau melanggar janjimu."
"Janji?"
"Ya, janji untuk tidak menemui Celina sebelum dia sembuh." Suara Alex naik.
"Sepertinya anda salah paham, saya tidak pernah berjanji seperti itu." Leo menjawabnya dengan tenang.
"Kau!" tunjuk Alex dengan penuh amarah, tapi kemudian dia kembali tenang.
"Kau tidak perlu menemui Celina karena dia sudah memiliki kekasih baru."
__ADS_1
"Apa maksud anda?"
"Tebakanku benar selama ini, dia tidak mencintaimu, dia hanya terobsesi denganmu. Dia ingin terus bersamamu karena penyakitnya dan juga obat-obatan dari si Dion sialan itu." Alex mengatakannya dengan seringaian lebar.
Kedua tangan Leo mengepal kuat, amarahnya meningkat. Entah itu nyata atau hanya sebuah provokasi, tapi Leo benar-benar terpancing.
"Kau bisa menemui dia di rumah liburan kami. Kurasa kau tau alamatnya."
Leo bangkit saat itu juga. "Saya permisi!" Leo segera keluar dari ruangan itu, dan sebelum keluar restoran dia tak lupa meminta kopernya kembali.
***
Taksi yang Leo naikki kini berhenti di sebrang sebuah rumah besar nan mewah. Leo segera menuntun kopernya menuju gerbang rumah itu.
Melihat gerbang yang tidak terkunci juga tanpa penjaga, Leo masuk saja.
Dari kejauhan Leo melihat Celina keluar dari pintu rumah tersebut. Dengan perasaan bahagia Leo mengangkat tangannya hendak melambai pada Celina, namun dia urungkan ketika seorang laki-laki juga keluar setelah Celina. Matanya memicing, Leo mencoba menahan dadanya yang bergemuruh. Siapa tau itu hanya temannya atau seseorang yang berkepentingan, Leo tetap berpikir positif sambil terus mengawasi. Dan pikiran positif itu lenyap seketika, saat matanya melihat Celina memeluk pria tersebut dengan erat yang juga dibalas tak kalah erat. Bahkan kini pria tersebut mengecup puncak kepala Celina berkali-kali. Apa dia kakaknya? Tidak, Celina pernah bercerita kalau dia tak punya saudara laki-laki, bahkan semua sepupunya adalah perempuan.
Hancur sudah hati Leo melihatnya. Wajahnya memerah saking marahnya. Ingin sekali Leo mendatangi Celina dan menariknya dari pelukan pria itu, tapi kata-kata Alex tadi tiba-tiba terlintas.
"Dia tidak mencintaimu. Dia hanya terobsesi. Dia ingin bersamamu karena pengaruh obat."
Sebuah suara terus meneriakkan kata-kata itu. Hingga akhirnya Leo memilih berbalik dan pergi dari sana. Dan ketika Leo sudah berjalan sekitar 10 menit, sebuah mobil melintas melewatinya dan terlihat jelas kalau itu Celina dan pria tadi.
Ponselnya berdering menyadarkan Leo dari keterpakuannya memandang mobil yang ditumpangi Celina. Nomor yang sama seperti tadi pagi.
"Halo." sapa Leo malas.
"Kau sudah melihatnya?"
"...."
"Kau sudah melihatnya." Alex mengubah pertanyaannya menjadi pernyataan.
"...."
"Dia sudah hampir sembuh dan hampir melupakanmu. Aku mohon kau tidak lagi menemui Celina." suara Alex terdengar benar-benar tulus memohon.
"Tidak akan." Tut, Leo memutuskan panggilan itu. Dia segera memesan tiket pesawat dengan penerbangan saat itu juga. Dia bahkan belum ada 4 jam di sini, tapi hatinya sudah hancur sampai tidak memberi kesempatan dirinya untuk sekedar menikmati udara musim panas Amerika. Dia pulang dengan pakaian yang sama, dengan koper yang bahkan belum dia bongkar, namun dengan perasaan yang telah porak poranda.
__ADS_1