Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
12


__ADS_3

Mata Celina langsung bertemu dengan mata Leo begitu dia terjaga. Anehnya, dia sama sekali tak terkejut ataupun salah tingkah. Dia terlalu terpaku karena sejak bertemu kembali mereka hanya sibuk saling menghindar, atau lebih tepatnya Leo yang selalu menghindarinya.


Cukup lama mereka saling mengunci pandangan hingga Leo bereaksi duluan.


"Tanganku pegal." gumam Leo, pelan. Sangat pelan.


"Hah?"


"Tanganku." Leo sedikit menggerakkan tangannya yang tertindih kepala Celina.


"Oh, benar. Maaf!" Celina gelagapan dan langsung mengangkat kepalanya. Dia berdiri tegak, salah tingkah.


"Aww!!" Leo memekik tertahan saat mengangkat tangannya yang tadi dipakai sebagai banyal oleh Celina.


"Aduh! Sakit banget, ya?" Celina hendak memegang tangan Leo tapi Leo menariknya membuat suasana menjadi canggung. Sebenarnya Leo tak bermaksud menghindar, tapi entah kenapa dia reflek seperti itu.


Hening beberapa saat..


"A,,aku ke toilet dulu!" Celina bangkit menyambar tasnya dan dengan cepat berjalan ke toilet.


Celina menarik nafas dalam saat sudah di dalam.


"Bagaimana bisa kau tidur seperti itu!" Celina berbicara pada pantulan dirinya di cermin.


"Memalukan sekali!"


Celina mencuci wajahnya lalu membuka tasnya untuk memperbaiki riasannya.


"Ayo Celina, kau harus memulainya lagi dari awal! Kau pasti bisa mendapatkan kembali perhatian dan cintanya Leo." ujarnya lagi sembari terus merias wajahnya.Meski ia tak tau apa alasan Leo bersikap seperti sekarang, tapi Celina yakin dia bisa mengembalikan semuanya.


Setelah dirasa cukup, Celina kembali menghela nafas kemudian mengepalkan kedua tangannya di depan.


"Semangat!"


Celina lebih dahulu memunculkan kepalanya untuk melihat situasi dan lagi-lagi matanya bertemu dengan mata Leo.


"Ekhemm.." Celina berdehem untuk menutupi kegugupannya. Dulu dia bisa begitu binal di depan Leo, tapi sekarang hanya bertatapan saja bisa membuatnya salah tingkah. Jarak yang Leo buat ternyata bisa membuatnya jadi seperti ini.


"Apa kau lapar? ingin makan sesuatu?"


"Tidak." jawab Leo tanpa melihat Celina.


Celina duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Pulanglah!" ucap Leo setelah beberapa saat.


"Hah?" Celina yang sedang melamun tak mendengar ucapan Leo.


"Kau, pulanglah!" ulang Leo.


"Kalo aku pulang siapa yang akan menjagamu?"


"Ada banyak perawat di sini. Lagipula kenapa kau peduli!"


"Tentu saja aku peduli, aku bukan orang yang tak punya hati yang meninggalkan kekasihnya saat dia sakit!" sentak Celina penuh sindiran.


Kening Leo berkerut.


"Sudah kubilang kita tidak pernah menjadi kekasih."


"Benarkah? Lalu, semua yang kita lalui dua tahun lalu itu apa artinya?" dada Celina naik turun.


"Entahlah, tanyakan saja pada dirimu sendiri. Bukankah itu hal yang biasa bagimu?" Leo menatap Celina sambil tersenyum remeh.


"Apa maksudmu?" tanya Celina, bingung.


"Tidak usah pura-pura lugu. Kau melakukannya dengan banyak pria, kenapa sekarang meributkan hal kecil seperti itu."


"Apa yang kau maksud dengan melakukannya dengan banyak pria? Kau pikir aku wanita yang mudah?"


"Bukankah begitu? Kau ingat saat pertama kali kita melakukannya? Kau yang menuntunku, kau yang lebih berpengalaman."

__ADS_1


Celina terhenyak sesaat.


"Memang benar, dulu sebelum bersamamu aku bisa dekat dengan siapa saja! Tapi kenapa kau ungkit itu sekarang?" Dada Celina naik turun saking emosinya.


"Kau yakin saat aku tidak ada kau tidak pernah bermain api?"


"Tentu saja, apa yang sebenarnya kau bicarakan Leo!!"


Celina menarik nafas dalam sebelum melanjutkan.


"Saat di Amerika pun aku setengah mati merindukanmu! Aku begitu bersungguh-sungguh menjalani rehabilitasi agar bisa cepat-cepat kembali padamu meski kau tak pernah mengunjungiku barang sekalipun. Tapi apa yang kudapat? Kau malah mengabaikanku dan bahkan mengatakan hal-hal menyakitkan seperti ini!" Air matanya sudah tak tertahankan lagi.


"Kau bahkan langsung menginap di rumah seorang pria setelah berkata kau merindukanku. Jadi bagaimana aku bisa percaya kalau selama di sana kau tak punya teman tidur."


Celina mencoba menahan tangisannya. Dia menghapus air mata di pipinya, bahkan mengucek matanya agar air matanya tak keluar lagi meski itu sia-sia.


"Aku tidak tau apa yang membuatmu menjadi seperti ini. Tapi, satu hal yang harus kau tau, aku tidak pernah menghianatimu barang sekali pun."


"Aku pergi! Semoga kau cepat sembuh!"


Celina pergi dengan wajah merah dan masih penuh air mata. Dia bahkan membanting pintu ruang rawat Leo.


"Setidaknya jika kau jujur, mungkin aku akan bisa memaafkanmu. Tapi ternyata kau tetap menyangkalnya hingga akhir." gumam Leo, menatap nanar pintu yang dibanting Celina.


***


Pada akhirnya Leo menghubungi Devan karena besok dia mungkin belum bisa masuk kerja. Satu jam setelah dihubungi, Devan pun datang bersama Mia.


"Gue kira lo udah bukan manusia saking udah lamanya lo gak pernah sakit." itulah kata-kata yang Devan ucapkan begitu masuk ke ruangan Leo yang sontak membuat lengannya mendapat geplakan dari sang istri.


"Apa yang dokter katakan, Leo?" tanya Mia duduk di kursi sebelah ranjang.


"Katanya aku hanya kurang istirahat dan kurang makan."


"Astaga, jangan sampe ada yang tau kalo lo itu asisten gue. Bisa-bisa gue di cap sebagai bos kejam yang nyiksa karyawannya." Devan memijit kepalanya dengan dramatis.


"Kau ini dalam situasi seperti ini pun masih bercanda." tegur Mia pada suaminya yang dibalas dengan cengiran.


"Hati-hati, sayang! Jangan sampai pisau tajam itu melukai jarimu yang mungil."


Leo membuang muka mendengar ucapan Devan.


"Kau berlebihan, Dev! Duduklah, apa tidak lelah berdiri terus?"


Devan menurut, dia duduk di sofa.


"Perutmu sudah mulai terlihat membesar." komentar Leo melihat perut Mia yang sedikit membuncit.


"Ya, sudah memasuki empat bulan."


Mia menyodorkan satu potong apel pada Leo.


"Tidak ada garpu, kau makan dengan tangan saja."


"Terimakasih." Leo menerimanya lalu mulai memakannya.


"Kau mau?" tawar Mia pada Devan.


Devan mengangguk dengan sumringah dan langsung mengambil apel yang disodorkan Mia.


"Oh iya, kau datang ke sini dengan siapa?" tanya Mia seraya melanjutkan mengupas apel.


Leo tak langsung menjawab, dia bahkan berhenti mengunyah.


"Leo?"


"Celina. Dia yang membawaku ke sini."


"Kalian sedang bersama?" ada nada gembira dalam suara Mia.


"Tidak. Aku salah menghubunginya, tadinya aku ingin menelpon Devan, tapi entah kenapa malah nomor dia yang aku hubungi."

__ADS_1


"Ohh.. Lalu di mana dia sekarang?"


"Dia sudah pulang."


"Dia ninggalin lo yang lagi sakit?" tanya Devan tak percaya.


"Gue yang usir dia." Leo melanjutkan makannya. Sedangkan Mia dan Devan mengerutkan dahinya, keheranan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun lalu pas lo ke Amerika?"


"Gak..-"


"Jangan coba-coba bilang gak ada apa-apa lagi sama gue. Lo berubah sejak lo pulang dari Amerika, Leo!"


Suasana menjadi sedikit tegang karena Devan menaikkan suaranya.


"Dev!" tegur Mia.


"Lo harus cerita kalo lo masih anggap gue sebagai sahabat dan sodara lo!"


"Gue liat dia sama laki-laki lain waktu di Amerika!" sentak Leo akhirnya, membuat Devan maupun Mia terperangah tak percaya.


"Apa? Gak mungkin!" sangkal Devan. "Gue tau secinta apa Celina sama lo!"


"Gimana kalo ternyata cintanya dua tahun lalu itu cuma sekedar obsesi? atau bahkan cuma karena pengaruh obat-obatan yang dikasih Dion?"


"Apa maksud lo! Dia cinta sama lo!"


"Lo gak inget, setiap kali dia histeris selalu gue yang bisa nenangin dia. Kemana pun gue dia pasti harus selalu tau dan kapan pun dia pengen ketemu gue harus selalu nurutin."


"Tapi, setelah beberapa bulan dia rehab di Amerika, dia gak pernah nyari gue meski seminggu gue gak ngabarin. Dia bahkan nginep sama laki-laki di rumah liburan setelah berminggu-minggu gak ngehubungin gue!"


"Itu udah jelas karena penyakit dan efek obat-obatannya udah mulai keangkat. Dan ternyata itu juga sedikit demi sedikit ngilangin gue dari ingatan dia."


Leo mengeluarkan uneg-unegnya dengan lemah.


Devan dan Mia tak bisa berkata-kata setelah mendengar ungkapan hati Leo yang selama ini dia tahan.


"Kamu yakin dia dan laki-laki yang kamu lihat punya hubungan seperti itu? Siapa tau dia sodaranya?"


"Celina tak punya sodara laki-laki." Devan menjawab pertanyaan Mia untuk Leo.


"Kau tidak meminta penjelasan saat itu?" tanya Mia lagi.


Leo menggeleng. "Aku langsung pergi setelah melihat mereka berpelukan, bahkan pria itu menciumnya."


Mia tak tau harus bagaimana, dia menarik nafas dalam, ikut merasakan sesak yang Leo rasakan.


"Gue bakal tanya langsung sama Celina!" Devan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Celina, tapi ternyata ponselnya tidak aktif.


"Sudahlah, mungkin saja saat ini dia sedang bersama si putra Maso itu."


"Apa maksud lo?"


"Belum lama ini, setelah dia ke apartemen gue dia langsung menginap di apartemen putranya Maso. Apartemen bekas lo dulu. Mungkin aja sekarang juga begitu."


Devan menghembuskan nafas kasar. Tak ada yang bicara lagi setelah itu. Leo memejamkan matanya, lelah.


"Gue harus pulang, gak baik buat Mia kalo lama-lama di rumah sakit." ujar Devan pada Leo. Dia tau Leo tak benar-benar tidur.


"Hmm, pulanglah!"


"Gua bakal sewa perawat buat stand by di sini 24 jam."


Leo mengangguk.


"Ayo, sayang!" Devan meraih tangan Mia.


"Kami pulang dulu, Leo. Cepatlah sembuh!"


"Hmm, terimakasih sudah kemari."

__ADS_1


Devan dan Mia keluar dan Leo kembali memejamkan matanya.


__ADS_2