
"Kenapa kau sangat terkejut? Apa itu benar?" Andi menyandarkan punggungnya dengan santai.
"Enak saja. Tentu saja tidak benar." Devan sewot mendapat tuduhan seperti itu.
"Kalo memang tidak benar, harusnya kau tidak perlu marah."
"Aku tidak marah!" Entah kenapa Devan memilih meladeni anak ini, padahal biasanya dia tidak akan bicara sedikit pun.
"Yasudah kalo begitu." Andi kembali memainkan ponselnya mengacuhkan Devan yang masih mengeluarkan kepulan asap dari kepalanya.
Tak lama Mia datang ke ruang tamu dengan ayah ibunya.
"Maaf menunggu lama."
Devan bangkit sambil memaksakan senyum saat hatinya masih merasa kesal pada Andi. Dia menjabat tangan kedua orang tua Mia satu persatu.
"Nama saya Devan, pak, bu."
"Oh, iya. Silakan duduk." Ibu tersenyum ramah pada Devan. Lalu setelah itu mereka duduk, Mia diapit ayah ibunya duduk berhadapan dengan Devan.
"Kalo boleh tau, nak Devan ini ada hubungan apa dengan anak kami?" Ayah bertanya meski dia sudah dihubungi oleh Mia semalam.
"Devan pacar Mia, yah." Mia mewakili Devan karenaDevan tampak sungkan untuk mengatakannya.
"Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar Mia secara resmi kepada bapak dan ibu. Saya ingin memperistri Mia." Devan mengatakannya dengan mantap.
Ayah dan Ibu tampak terkejut. Semalam Mia hanya memberitau akan membawa kekasihnya saja, bukan langsung melamar seperti ini.
"Apa nak Devan sudah yakin?"
"Ya, saya sangat yakin. Saya sebenarnya sudah melamar Mia secara pribadi, karna itu saya ingin secara resmi mendapat restu dari orang tua Mia." Devan menatap Mia tersenyum.
Orang tua Mia menoleh pada Mia, lalu turun ke jari Mia yang tersemat cincin.
"Kau sudah menerimanya, Mia?" Ibu bertanya pada Mia.
Mia mengangguk.
"Kamu yakin mau menikah dengan nak Devan?" Kali ini Ayah yang bertanya.
Mia kembali mengangguk.
"Mia sudah yakin, yah."
Ayah kembali menatap Devan.
"Kalo boleh tau, kenapa nak Devan tidak melamar bersama orang tua nak Devan?"
Devan tersenyum, sudah pasti akan ada pertanyaan ini.
"Ibu saya sudah meninggal 15 tahun yang lalu, lalu ayah saya pun meninggal beberapa tahun setelahnya."
"Oh, YaTuhan, kami turut berduka cita." Ibu menutup mulutnya merasa iba.
"Terimakasih. Itu sudah lama sekali."
Sesaat mereka hanya diam.
"Kalo begitu, ayah terima lamaran kamu."
Perkataan Ayah membuat Devan bernafas lega.
__ADS_1
"Kok gampang banget sih, yah! Harusnya ada tes dulu." Andi tampak tak setuju dengan keputusan Ayah.
"Huss! Kamu ini masih kecil, gak usah ikut campur. Meski kita baru jetemu sekali tapi kamu harus yakin sama penilaian kakak kamu." Ibu menepuk paha Andi.
"Ishh.." Andi pergi dari ruang tamu dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
"Maaf ya nak Devan, Andi memang seperti ini anaknya." Ibu tersenyum meminta maaf pada Devan.
"Tidak apa-apa, bu. Terimakasih Ayah dan Ibu sudah menerima lamaran saya. Ini sebagai tanda saya sudah mengikat Mia." Devan menyodorkan sebuah kotak perhiasan dari dalam jasnya. Di dalamnya terdapat seperangkat perhiasan berlian, mulai dari anting, cincin, kalung, gelang, juga gelang kaki.
"Terimakasih. Kami terima dengan sangat.."
"Kalo begitu ayo kita makan siang! Tadi ibu sudah masak untuk kalian." Ibu berdiri diikuti oleh semuanya. Tak lupa Ibu memanggil Andi yang tadi merajuk di kamarnya.
***
Suasana ruang makan begitu hangat. Mereka makan dibarengi dengan obrolan tentang Devan. Terlihat sangat orang tua Mia ingin mengenal calon suami anaknya lebih jauh. Sesekali Andi menimpali obrolan mereka dengan ketus, taoi sama sekali tak dianggap serius oleh Devan. Dia malah tertawa lucu melihat wajah sinis Andi yang begitu mirip dengan Mia.
"Ohya, gimana kalau tanggal pernikahan kalian sama dengan tanggal jadian kalian." Tiba-tiba Ibu mencetuskan sebuah ide.
Mia dan Devan saling pandang.
"Saya rasa itu terlalu lama, bu. Saya ingin menikahi Mia dalam waktu dekat, sekitar 1 atau 2 bulan lagi."
"APA??" Mia dan Andi serempak berteriak saking kagetnya.
"Kenapa kakak ikutan kaget? Bukannya itu rencana kalian?" Andi menoleh pada Mia.
"Kakak juga baru tau sekarang." Mia dan Andi lagi-lagi serempak menatap tajam pada Devan, meminta penjelasan.
"Kenapa kamu gak pernah bilang mau nikah secepat itu?" Mata Mia menyipit.
"Kau memaksa kakakku?" Mata Andi ikut menyipit.
"Huss, kalian ini bisa tenang tidak!" Ibu menegur kakak beradik itu."
"Pertama, maaf sebelumnya Mia aku gak oernah bilang tentang ini. Tapi menurutku, kita sudah mengenal cukup lama, apalagi kamu sudah menerima lamaranku, jadi mau apa lagi kalo tidak menikah. Jadi, saya harap Ayah dan Ibu bisa menginzinkan kami menikah dalam waktu dekat. Saya benar-benar ingin menjaga Mia sepenuhnya." Baru kali ini Mia mendengar Devan berbicara panjang lebar.
Ayah tampak menghela nafas sebelum berbicara.
"Ayah menyerahkan semuanya pada Mia. Kami tak akan melarang maupun menyuruh Mia."
Semua mata sekarang tertuju pda Mia.
"Kau yakin mau menikah dengan dia?" Andi menunjuk Devan. "Dia lebih cocok menjadi pamanmu, menurutku." Andi melirik sinis pada calon kakak iparnya itu.
Jika bukan karna aku mencintai Mia, pasti sudah ku remas mulutnya.
"Andi! Ibu tak oernah mengajarkanmu sopan santun seperti itu!" Lagi-lagi Ibu menegur anak bungsunya.
"Kenapa? Aku hanya berpendapat, boleh, kan?" Andi menoleh, menaikkan sebelah natanya ke arah Devan.
"Tentu saja. Semua bebas berpendapat." Devan tersenyum terpaksa sambil menipiskan bibirnya menahan kekesalan pada Andi. Mia hanya menggelengkan kepala tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Jadi gimana Mia?" Ibu kembali menagih jawaban Mia.
"Hmmm,, Aku mau." Mia tersenyum pada Devan, senyum yang sangat manis untuk Devan.
"Terimakasih." Devan membalas senyuman itu, kemudian tangannya menggenggam tangan Mia yang ada di atas meja.
"Ekhem!" Andi berdehem membuat Devan dan Mia terlonjak dan melepaskan tangan mereka. Semuanya tertawa melihat dua sejoli yang salah tingkah bersemu merah.
__ADS_1
***
Kini di ruang tamu, hanya tinggal Mia dan Devan berdua. Orang tua Mia memberikan privasi untuk mereka, meski awalnya Andi ingin ikut bergabung dengan alasan masih kangen kakaknya, padahal mungkin itu hanya alasannya untuk mengganggu. Untungnya ibu langsung menarik Andi dari sana.
Tangan Mia masih dalam genggaman Devan sejak 30 menit yang lalu mereka duduk di sana. Mia mulai merasakan keringat di tangannya. Entah karna gugup atau karna terlalu lama digenggam erat.
"Apa gak bosen dari tadi liatin aku terus?"
"Enggak. Seumur hidup aku gak akan bosen."
"Jangan yakin dulu."
"Kenapa? kamu gak percaya sama aku?" Devan melepaskan tangannya.
"Eh gak gitu." Mia jadi merasa tak enak.
"Jangan pernah ngeraguin perasaan aku ke kamu." Devan berbalik menatap Mia dalam.
"Aku gak pernah merasa seperti itu. Karna perasaan aku juga sama seperti kamu." Mia menggenggam kembali tangan Devan yang tadi sempat terlepas. Pelukan pun tak terhindarkan. Mereka saling mendekap dengan erat.
"Gerah sekali." Sebuah suara mengintrupsi pelukan hangat mereka, hingga pelukan itu terlepas.
"Andi, ngapain kamu?" Mia melawan rasa malunya.
"Mau cari angin, di sini terlalu panas." Andi melenggang begitu saja melewati Devan menuju ke luar.
"Apa dia selalu seperti itu?" Devan akhirnya bertanya tentang Andi.
"Seperti apa?"
"Sinis sama semua laki-laki yang deketin kamu."
Mia tersenyum, Devan merajuk ternyata.
"Enggak, biasanya gak kayak gitu."
"Benarkah? Apa dia gak suka ya sama aku?"
"Gak tau juga."
Devan mendelik mendengar jawaban Mia, rasa kesalnya jadi bertambah.
"Soalnya belum pernah ada laki-laki yang main ke rumah. Jadi aku gak tau gimana reaksi dia."
Dahi Devan mengerut mendengarnya, apalagi Mia mengatakannya dengan senyuman. Setelah dicerna dengan baik, akhirnya dia paham maksud Mia.
"Jadi aku laki-laki pertama yang kamu ajak ke rumah?" Senyim Devan melebar.
"Hmm." Mia mengangguk.
Tapi senyum lebar Devan tak bertahan lama.
"Lalu berapa laki-laki yang pernah kau pacari di luar rumah?" Devan kembali menatap Mia dengan tajam.
Mendapat tatapan horor dari Devan, Mia gelagapan.
"Bener kata Andi di sini gerah. Aku nyusul dia dulu ya!" Mia bangkit lalu kabur ke luar rumah.
"Mia!"
Mia tak menghiraukan Devan yang memanggilnya.
__ADS_1
****