
Celina keluar dari rumah dengan langkah riang. Dia akan pergi ke apartemen kekasih hatinya. Beberapa hari tidak bertemu rasa rindunya sudah tak tertahankan.
"Mau ke mana?" Alex baru keluar dari ruang kerjanya.
"Aku mau keluar sebentar, dad."
"Dion?"
"Sendiri."
"Kenapa?"
"Ayolah, dad! Aku tidak pergi ke tempat yang berbahaya jadi tidak perlu ditemani." Celina sedikit kesal dengan Alex yang menurutnya over protectif.
"Bagiku semua tempat bahaya untukmu." Alex tetap kekeh. Dia khawatir putrinya akan kambuh sewatu-waktu karena banyaknya gangguan mental yang diidapnya.
"Dad, jika memang seperti itu kenapa tidak sejak kecil aku didampingi bodyguard? Kenapa harus sekarang setelah aku dewasa? Oh aku mengerti, kau takut aku bertemu salah satu wanitamu lalu aku menggila dan mencelakai mereka."
Memang, Celina awal mula Celina menderita gangguan mental adalah ketika dia tau daddy yang begitu dia puja ternyata menghianati mommynya. Sampai pada puncaknya, Lola hamil dan itu membuat sang mommy bunuh diri. Kejadian itu begitu mengguncang Celina sampai harus di rawat beberapa minggu di rumah sakit jiwa.
"Cukup! daddy tidak mau membahasnya. Sekarang katakan padaku, mau kemana?"
"Aku akan menemui Leo."
"Kau masih menemuinya?"
"Tentu saja."
"Harusnya kau mengencani Devan, bukan asisten itu!"
"Kenapa? Memangnya kenapa kalau dia hanya seorang asisten?"
"Dia tidak sepadan dengan kita! apalagi aaal usulnya tidak jelas."
"Cih, bukankah dulu kau juga sering meniduri wanita rendahan yang melemparkan tubuhnya demi uang? Kau bahkan menghamili wanita kampung itu dan membuat mommyku mati! Lalu kenapa sekarang kau mempermasalahkan status kekasihku? Setidaknya laki-laki itu tidak biadab sepertimu."
Celina pergi setelah mengatakan itu. Dia duduk sebentar sebelum menyalakan mobilnya. Nafasnya memburu karena emosi. Setelah tenang dia segera meluncur menuju tempat Leo.
***
"Gue belum nemuin bukti apapun lagi, selain rekaman cctv ini." Leo sedang memperlihatkan rekaman cctv kejadian hari itu.
__ADS_1
"Lo yakin Celina yang ngelakuin itu?"
"Gue gak tau." Leo sebenarnya tak percaya bahwa gadis periang itu yang melakukannya. Celina memang termasuk gadis yang pemberani dan frontal. Tapi, untuk meracuni orang karena cemburu rasanya tidak dapat dipercaya. Yang membuat Leo ragu adalah karena beberapa gangguan mental yang diderita Celina.
"Lo gak harus ngejauhin Celina hanya karna dugaan ini. Nikmati aja dulu perasaan lo saat ini. Tapi kalo memang terbukti dia bersalah, lo harus rela buat dia mempertanggungjawabkan perbuatannya." Devan menepuk bahu Leo. Dia bisa merasakan kegundahan sahabatnya itu.
Leo mengangguk.
"Ohya, gue mau ngomong tentang Mia."
"Apa?"
"Lo harus lebih santai deketin dia, jangan terlalu nunjukkin kalo lo lagi deketin dia. Bisa-bisa dia gak nyaman dan malah ilfeel sama lo."
"Gitu ya?"
"Iyalah, dia kenal lo aja baru kemaren. Jangan karna lo udah ngikutin dia dari lama, lo jadi nganggap dia kenal lo juga."
"Tapi, gue kira dia udah ngenal gue lebih dari cukup."
"Maksud lo?"
Ting.. Sebuah pesan masuk di ponsel Leo.
"Gue rasa lo harus balik ke tempat lo." Devan tau arti senyuman itu.
Leo menaikkan alisnya angkuh.
"Gue rasa kalopun bukti itu ada, lo bakal setengah mati belain dia."
Leo berhenti melangkah kemudian berbalik.
"Gue bakal pastiin kalo bukan dia pelakunya." ucapnya mantap lalu keluar dari sana.
***
"Welcome sayang!"
Celina menyambut Leo dengan berbaring menyamping di atas tempat tidur dengan pakaian ala honeymoon. Rambut panjang yang dicurly menambah kesan seksi pada Celina. Wajah dengan make up natural itu memandang lugu pada Leo. Berbanding terbalik dengan apa yang ia kenakan.
"Kenapa lama sekali?" Celina bertanya dengan suara manja yang hanya ia tunjukkan pada Leo.
__ADS_1
Leo menarik nafas dalam. Nafasnya tiba-tiba terasa berat. Apa ini gejala yang sama dengan yang Devan rasakan saat meminum racun itu? Bedanya, nafas Leo berat karena gairah.
"Aku membahas pekerjaan dengan Devan." jawab Leo dengan susah payah. Kakinya tak bergerak sama sekali.
"Hah, selalu saja." wajah cantiknya cemberut, dan itu menambah kadar kecantikan gadis itu.
"A..aku mandi dulu." Leo memalingkan wajahnya, hendak ke kamar mandi.
"Kau yakin?" Celina duduk lalu menurunkan tali gaun malamnya.
"Tidak!" seru Leo.
Dalam satu langkah dia langsung menyerang Celina. Bibir Leo mendarat di pundak polos Celina. Mengecup seringan kupu-kupu membuat Celina merasakan desiran berkali-kali.
"Leoo.."
"Hmmm.." Leo masih setia mengecupi leher dan pundak gadisnya. Kali ini sedikit meninggalkan jejak yang memebuat bahu itu terlihat semakin menggoda.
Celina menarik wajah Leo agar berhadapan dengan wajahnya. Kemudian menciumnya dengan dalam. Kedua pasang bibir itu saling menyesap, saling melu-mat, saling memberikan rang-sangan satu sama lain.
Tangan Leo tak tinggal diam, dia mendaratkannya di dada Celina yang tanpa penutup.
Leo menurunkan ciumannya menuju ke dada Celina dan bermain di sana.
Kamar Leo kini penuh dengan de-sahan keduanya yang saling memberi ke-pua-san.
***
Dorr..Dorr..Dor..
Suara tembakan bergema dikeheningan malam. Membuat siapapun yang mendengar akan terkejut dan takut. Sayangnya, satu-satunya orang yang takut sekaligus terkejut itu sudah terkapar bersimbah darah. Matanya melotot dengan tiga peluru menancap di keningnya.
Si penembak pergi begitu saja setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa. Sebelum menaiki mobil mewahnya, dia mengelap sepatunya dulu karena terkena percikan darah korbannya.
"Cuih!! Menjijikan." umpat lelaki tersebut lalu masuk ke mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
Esoknya, berita tentang matinya seorang bandar narkoba yang sudah lama diburu polisi menjadi headline di setiap media masa. Pemuda itu ditemukan tewas dengan tiga peluru menancap di kepalanya oleh seorang tukang angkut sampah.
"Bukti lainnya sudah hilang. Dan sekarang satu-satunya bukti itu adalah aku sendiri."
***
__ADS_1
bersambung..
Jangan lupa tekan favorit dan like ya🥰🥰 Respon kalian bakal bikin aku semakin semangat buat nulis☺☺ love youu😚😚