Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Bab 38


__ADS_3

Leo mengajak Dion bertemu di sebuah restoran dengan room private. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi untuk mencari tau alasan dia memberi Celina narkoba.


"Akhirnya kau datang juga."


Dion berjalan santai masuk ke ruangan itu, lalu duduk di sebrang Leo. Leo langsung mebyodorkan sebuah kertas dan botol pil yang dia ambil dari Celina. Dion mengangkat alisnya.


"Apa ini?"


"Harusnya aku yang bertanya, apa maksud semua ini?"


Dion mengambil kertas itu dan membaca isinya. Dia sama sekali tidak terkejut.


"Apa yang ingin kau tau?"


"Kenapa kau berikan Celina obat seperti itu?"


"Seperti apa? Ini obat dari psikiaternya."


"Itu narkoba, sialan! Jangan coba-coba berkelit lagi." Leo bangkit dan menarik kerah kemeja Dion.


"Well, apa yang harus kujelaskan jika kau sudah tau." Dion sama sekali tak terintimidasi.


"Kenapa? Kenapa kau berikan itu pada Celina?"


"Karna aku menyayanginya. Kau tau? sebelum dia minum obat ini Celina sering sekali tak bisa mengontrol emosinya. Tapi setelah aku berikan ini Celina kembali menjadi gadia ceria seperti dulu."


Leo melepaskan tangannya lalu kembali duduk. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Dion.


"Jangan pernah kau berikan lagi obat itu atau kulaporkan kau ke polisi."


"Laporkan saja, dengan begitu Celina pun akan ikut terseret karena dia minum itu secara sadar."


"Itu karna dia tidak tau, brengsek!"


"Benar. Tapi, aku juga akan menyerahkan rekaman cctv itu dan kasus keracunan Devan akan langsung menemukan tersangkanya. Seorang pecandu meracuni sahabat kekasihnya karena cemburu, terdengar bagus bukan untuk menjadi headline di berita."


"Sialan kau!"


Bugh..bugh..


Leo memukulnya tapi Dion sama sekali tak melawan atau menghindar. Dia hanya menyeringai membuat Leo tambah geram. Tapi Leo memilih pergi dari sana dengan membawa kertas dan pil yang tadi.


Sorot mata Dion berubah tajam menakutkan menatap kepergian Leo.

__ADS_1


***


Leo datang ke kantor dengan wajah dingin seperti biasa, tapi di matanya ada iemarahan yang membara.


"Dari mana aja lo?" Devan bertanya karena Leo tak memberitaunya akan telat.


Leo tak menjawab, dia lekas duduk dan menghidupkan komputernya.


"Lo nemuin Dion?" tebak Devan.


Leo mengeluarkan sebuah pena kemudian menekan kepala pena tersebut. Terdengarlah suara percakapan antara Leo dan Dion tadi di restoran. Devan mendengarkan dengan seksama, begitupun Mia.


"Sial, dia benar-benar sudah gila. Dia dengan mudah mengatakan sayang pada Celina."


"Tapi kenapa lo gak langsung kasih ke polisi?"


"Seperti yang lo dengar, dia akan kasih rekaman cctv itu ke polisi dan akhirnya Celina akan dijadikan tersangka. Kita gak bisa nyerahin ini ke polisi sebelum kita menemukan bukti kalo Dion yang ngeracunin lo." Leo mengatakannya dengan emosi.


"Lo yakin Dion pelakunya?"


"Apa maksud lo?"


"Lo tau kita gak punya bukti apapun yang mengarah pada Dion, semuanya mengarah pada Celina."


"Apa yang lo coba katakan hah? Lo mau bilang kalo Celina yang benar-benar naruh racun itu di minuman lo?"


"Tapi bisa aja Celina ngelakuin itu di bawah pengaruh halusinogen yang dia minum."


Mia panik melihat Leo hendak memukul Devan. Dia cepat-cepat menahan tangan Leo yang sudah terangkat.


"Lepasin, Leo! Ini di kantor." Leo menghentakkan Devan.


"Gimana bisa kalian bahas ini di kantor? Gimana kalo ada yang dengar dan liat kalian kayak gini?" Ucapan Mia bisa membuat Leo dan Devan kembali ke kursinya masing-masing.


Mia berjalan ke lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut dan mengambil dua minuman kaleng, lalu memberikannya pda Leo dan Devan masing-masing satu.


"Kalian bisa bahas ini lagi nanti setelah jam kantor selesai."


Devan mengambil minuman itu.


"Makasih." Lalu menenggaknya.


"Leo!" Mia menegur Leo yang diam saja, terlihat masih sangat emosi.

__ADS_1


"Hmm." kemudian Leo juga menyambar minuman kaleng itu, membukanya lalu menenggaknya sampai habis. Kalengnya dia remas sampai penyok lalu dilemparnya dengan keras ke tong sampah dekat mejanya.


"Lo harus ucapin makasih sama Mia." celetik Devan.


"Dev!" Mia menegur Devan karena masih sempat-sempatnya dia menggoda Leo.


"Cih." Leo bangkit dari kursinya. "Gue izin gak masuk hari ini." Kemudian melenggang pergi.


"Heh lo pikir lo bisa datang dan pergi seenaknya. Ini kantor gue, bangsat!!" Devan meneriakki Leo tapi tak ditanggapi sama sekali. Tapi, sebelum benar-benar keluar ruangan itu Leo menoleh.


"Lagipula gue udah dianggap bolos, jadi lo bisa potong gaji gue hari ini."


Bugh.. Leo menutup pintu lumayan keras.


"Lihat kelakuan dia, Mia. Dia sama sekali gak menghormati aku sebagai atasannya." Devan seperti seorang anak yang sedang mengadu pada ibunya.


"Aku melihatnya. Tapi sebaiknya kau jangan mengatakan hal itu lagi pada Leo. Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama jika aku yang dituduh, seperti kau menuduh Celina."


"Tapi aku hanya mengatakan fakta yang ada di depan mata."


"Iya aku tau. Tapi sebaiknya berikan kesempatan pada Leo untuk membuktikan dugaannya. Jika memang tidak terbukti, baru kau bisa ajukan laporan pada polisi." Mia mengatakannya sambil mengusap punggung Devan.


"Tapi..."


"Bukankah kau sudah berjanji akan lebih berbesar hati? Lakukan itu sekarang, lakukan pada orang terdekatmu untuk pertama kalinya. Bukankah Leo hubungan kalian bukan hanya sekedar atasan dan bawahan"


"Ya, dia sahabatku yang sudah kuanggap seperti sodaraku."


"Aku yakin Leo pun merasakan hal yang sama. Dia tidak mungkin akan membiarkan orang yang telah meracuni sahabatnya berkeliaran bebas. Dia tidak akan menghianatimu."


"Ya, kau benar. Aku harus mempercayainya."


Mia tersenyum.


"Terimakasih, Mia. Kau memang bijak. Betapa beruntungnya aku memilikimu."


Devan memeluk Mia erat, Mia pun membalasnya. Dia senang bisa membuat Devan tenang lewat kata-katanya.


***


bersambung...


Nangis banget level turun gara-gara gak update dua hari😭. Kemarin bed rest banget gak bisa mikir karna sakit😔.

__ADS_1


__ADS_2