Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Bab 46


__ADS_3

Devan akhirnya menginap dan tidur di kamar Mia dengan Mia yang tidur bersama Ibu. Tadinya, dia berniat langsung pulang, tapi Ayah dan Ibu memaksanya untuk menginap dan pulang besok pagi. Jadi, Mia mengusulkan agar Devan tidur di kamarnya saja.


"Kamu ngapain di sini?"


Mia terjingkat mendengar suara Devan yang tiba-tiba.


"Kamu ngagetin aja." Mia masih mengusap-usap dadanya karena kaget. "Aku gak bisa tidur."


Devan duduk di samping Mia. Kini mereka sedang berada di halaman belakang rumah Mia. Di depan mereka, adalah kebun tanaman palawija yang sedang hijau-hijaunya. Langit malam begitu indah dengan taburan bintang. Ini adalah hal baru bagi Devan, karna biasanya yang dia lihat adalah kerlap-kerlip lampu gedung dan jalanan, terlalu terang untuk sang bintang memamerkan sinarnya.


"Kamu juga kok gak tidur?" Mia bertanya balik.


"Hmm, aku juga gak bisa tidur."


"Maaf kalo tempatku kurang nyaman dibanding punyamu."


"Bukan gitu. Mungkin aku terlalu gelisah karna ini pertama kalinya aku tidur di rumah calon mertua." Devan menyelipkan kekehan dalam suaranya membuat Mia ikut tersenyum.


"Aku gak tau kalo kamu bisa gugup juga. Biasanya kan kamu dingin dan percaya diri."


"Aku juga manusia. Dan yang aku hadapi itu orang tua kamu, bukan klien. Mana mungkin aku nunjukkin aku yang di kantor."


Mia mengangguk-angguk mengerti. Untuk sesaat mereka hanya diam, memandang hamparan sayuran yang tertanam di sana. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya saling bersautan. Begitu damai dan menenangkan.


"Boleh aku tinggal beberapa hari di sini?" Mia memecah keheningan.


Devan menoleh. "Tentu saja. Aku akan memberimu libur satu minggu, apa cukup?"


"Makasih, itu udah cukup kok. Tapi kamu?"


"Aku sebenarnya ingin lebih lama di sini." Mata Devan kembali menatap langit. "Tapi, aku punya tanggung jawab yang gak mungkin aku tinggal seenaknya."


Mia mengangguk. Devan tiba-tiba mendekati Mia kemudian berbisik, "Nanti aja sekalian aku cutinya pas bulan madu."


Mia tersipu mendengarnya. Bagaimana bisa Devan sudah memikirkan bulan madu.


"Udah malem, udaranya makin dingin." Mia berdiri, "Ayo masuk!" Mia setengah berlari meninggalkan Devan yang terkekeh senang karena berhasil menggoda Mia. Dasar mesum! umpat Devan pada dirinya sendiri.


***


Devan kembali ke aktivitasnya di kantor. Dia agak lesu karena hampir seminggu tidak bertemu Mia, meski setiap malam mereka pasti melakukan panggilan video tapi rasanya tidak sama. Tapi dia selalu menyemangati dirinya sendiri, cuma berapa hari lagi, nanti Mia juga ke sini lagi.

__ADS_1


Hari ini dia benar-benar sibuk, rapat sana-sini dengan beberapa klien yang sedikit rewel tapi menjanjikan. Untung saja semuanya berhasil Devan dan Leo tangani.


"Hari ini gak perlu lembur, gue udah cape banget mau pulang." Devan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Oke kalo gitu. Berarti dokumen yang ini buat besok aja?" Leo memahami kondisi Devan, karena dia pun sama apalagi dia sudah ada sebulan tak bertemu Celina.


"Oh iya, gimana sidang Dion?" Devan memang tak pernah hadir di persidangan, dia mempercayakan semuanya kepada Leo dan pengacaranya.


"Dia divonis 20 tahun penjara, itu udah yang paling maksimal."


"Oke, gue harap itu udah bikin dia jera." Devan berdiri. "Gue pulang dulu."


"Hm.."


***


Devan membuka pintu apartemennya dengan ogah-ogahan. Rasanya energinya sudah terkuras habis tak bersisa. Tapi, begitu memasuki ruang tengah dia mencium bau yang familiar. Wangi vanila choco yang selama ini membuatnya mabuk kepayang.


Devan segera bergerak cepat mencari sumber wangi ini berasal. Dia melihat ke kamar tamu, tidak ada. Kemudian dia ke dapur dan benar saja, Mia terlihat tengah mengaduk secangkir teh.


"Kamu di sini?" Devan mendekati Mia dengan sorot mata yang sarat akan rindu.


Mia tersenyum, sangat manis bagi Devan. "Ya, aku baru sampe, dan langsung ke sini."


"Naik bus."


"Kenapa gak kasih tau aku? Kan aku bisa jemput kamu di terminal." Kini Devan sudah berada tepat di hadapan Mia.


"Kalo aku bilang, namanya bukan kejutan." gumam Mia.


Greb.. Devan menarik Mia dalam pelukannya. Mia awalnya kaget, tapi kemudian membalas pelukan Devan.


"Kita harus cepet nikah, aku gak mau jauh-jauh dari kamu. Yah? Kamu nikah ya sama aku?" Devan terus bergumam dalam pelukannya.


"Udah pasti kita bakal nikah. Aku udah terima lamaran kamu." Mia sedikit merasa lucu mendengar ucapan Devan.


Devan melepaskan pelukannya.


"Kamu minum dulu teh ini, habis itu mandi ganti baju." Mia menyodorkan secangkir teh yang tadi dia buat. Devan menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit.


"Aku mandi dulu, kamu jangan kemana-mana."

__ADS_1


"Aku akan nonton tv sambil nungguin kamu."


Devan mengangguk kemudian melenggang ke kamarnya dengan tergesa. Mia menggelengkan kepalanya, Devan seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya.


Mia duduk sambil menonton tv, seperti janjinya pada Devan. Menonton kartun adalah kesukaannya. Dia tak terlalu menyukai drama seperti gadis-gadis seumurannya.


Sekitar setengah jam berlalu, suara langkah kaki Devan yang tergesa mulai terdengar. Mia menoleh ke arah suara. Aroma segar menyeruak di seluruh ruangan begitu Devan menginjakkan kaki di ruang itu.


"Apa kau menunggu lama?" Devan duduk di samping Mia, tangannya terulur merangkul bahu Mia, membuat Mia merasa akan mabuk saking harumnya Devan.


"Enggak, kok." Semburat merah menghiasi wajah Mia. Bagaimana pun dia masih belum terbiasa dengan sentuhan Devan.


"Apa si kepala botak itu lebih menarik dari pada aku?" Devan menunjuk kartun yang sedang ditonton Mia. Dia merajuk karena sejak tadi Mia tak menatapnya.


Mia menoleh. "Tidak. Kau lebih dari menarik." Mia mengatakannya dengan serius dan tatapan dalam. Devan saja sampai terpaku mendengarnya. Baru kali ini dia mendengar Mia mengatakan hal seperti itu. Dan itu sukses membuat Devan memerah untuk pertama kalinya.


Cup.. Belum habis keterkejutannya akan kata-kata Mia, kini dia dikejutkan kembali dengan Mia yang tiba-tiba mengecup pipinya. Tangannya spontan memegang pipi yang Mia cium.


"Kenapa? Bukannya kamu mau aku nunjukkin ketertarikan aku sama kamu. Kenapa malah bengong?"


Mia heran dengan sikap Devan yang malah seperti anak remaja yang baru pertama kali bersentuhan dengan lawan jenis. Mia kembali fokus pada kartunnya.


Butuh beberapa detik untuk Devan kembali sadar dari keterpakuannya. Devan langsung meraih pundak Mia agar kembali menghadapnya. Matanya langsung bertemu dengan mata elang Devan. Sorot mata yang sama-sama memancarkan cinta.


"Mau apa kamu?" Mia menyadari wajah Devan perlahan maju.


"Apa lagi kalo bukan melanjutkan yang kamu mulai."


"Me..memangnya aku melakukan apa?" Mia gugup setengah mati.


"Menurutmu?" Devan menaikkan satu alisnya, kini dia sudah kembali mendominasi setelah tadi sempat hilang sesaat.


Devan menempelkan bibirnya tanpa gerakkan. Menciptakan debaran jantung yang seakan mengalun dalam suasana yang sunyi. Lambat laun ******* lembut mulai tercipta. Entah siapa yang memulai, tapi deru nafas mereka mulai memburu karena asupan udara yang menipis.


Mia yang lebih dulu meregangkan wajahnya. Meraup banyak-banyak oksigen dengan tak melepaskan tatapannya dari Devan.


"Tidurlah denganku." Matanya melebar saat Devan mengatakan itu.


"Hanya tidur." ucap Mia.


"Aku janji, hanya tidur." janji Devan.

__ADS_1


****


__ADS_2