
Selama perjalanan ke rumah Joshua, Celina diam sambil menatap ke luar jendela. Dia memikirkan ekspresi Leo tadi saat melihatnya keluar dari apartemen Kris. Tadi, Celina seperti melihat sorot kecewa di mata Leo meski sekilas. Entah dia salah lihat atau tidak, Celina berharap itu benar. Setidaknya jika itu benar Leo masih merasa sakit ketika melihatnya bersama pria lain, artinya Leo masih memiliki perasaan padanya meski hanya setitik.
Kris terus saja melirik ke arah Celina. Sejak tadi Celina melamun, dan dia tau apa yang Celina pikirkan. Celina pasti tengah memikirkan Leo. Sedalam itukah cintanya pada Leo? Adakah kesempatan untuk dirinya?
***
Tepat sebelum jam makan siang, ponsel Leo berdering, ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Leo menjawabnya, takut itu adalah telpon penting.
"Halo?"
"Halo. Benar ini Leo?"
Dahi Leo semakin berkerut, dia tak mengenali suara si penelpon.
"Ya, benar. Dengan siapa ini?"
"Aku, Kris."
"Kris?"
"Ya, putra Maso kau ingat?"
Leo diam sesaat.
"Ada perlu apa?"
"Maaf jika aku kurang sopan, tapi bisakah kita bertemu siang ini?"
"..."
"Ada hal yang harus aku bicarakan." lanjut Kris ketika tak mendapat sahutan dari Leo.
"Baiklah, temui aku di restoran depan gedung Astra nanti pada jam makan siang."
"Oke, sampai ketemu di sana."
Klik. Leo menutup panggilan itu.
"Siapa?" Devan mendengar percakapan Leo barusan jadi penasaran.
"Christian Santoso." jawab Leo malas.
"Anak Tuan Mario Santoso?"
"Hem." Leo menggerakkan dagunya.
"Ada hubungan apa lo sama dia?"
"Gak ada." Leo mengingat kejadian tadi pagi, tapi dia merasa itu tak membuatnya berhubungan dengan Kris.
"Terus ada urusan apa dia ngajak lo ketemu?"
__ADS_1
"Gue juga gak tau." Leo mengangkat bahunya.
Sedangkan Devan matanya memicing, merasa kalau Leo menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kenapa gue ngerasa lo semakin banyak nyimpen rahasia dari gue?"
"Tck, curigaan banget sih lo! Kayak cewek lagi kasmaran."
"Sialan lo!"
"Gue cabut dulu!" Leo bengkit dari kursinya dan berjalan menuju keluar.
"Nanti cerita ya sama gue!" seru Devan.
"Bukan urusan lo!" balas Leo sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Devan yang semula terkekeh merubah raut wajahnya jadi serius. Dia benar-benar merasa Leo telah berubah, hampir sama seperti dulu saat pertama mereka bertemu. Dingin, datar, dan tak banyak bicara. Dan dia yakin ini ada hubungannya dengan Celina.
***
Leo sampai lebih dulu di restoran karena memang lokasinya dekat dan hanya butuh 10 menit dengan berjalan kaki. Dia lebih dulu memesan makanan favoritnya yaitu nasi goreng beef. Mungkin dia memang penasaran dengan apa yang akan Kris bicarakan, tapi perutnya perlu diisi karena sejak kemarin dia tak makan sama sekali.
"Maaf, aku terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?" Kris datang dengan senyum ramahnya. Dia datang setelah Leo menghabiskan setengah porsi makanannya.
"Kau bisa lihat sendiri." jawab Leo dengan penuh sindiran. Dia menyudahi makannya karena tiba-tiba saja jadi tak berselera karena mengingat kejadian tadi pagi.
Kris mempertahankan senyumnya, merasa bersalah karena dia yang mengajak bertemu tapi dia juga yang terlambat.
"Langsung saja ke intinya!"
"Oke. Pertama aku ingin menjelaskan tentang apa yang kau lihat tadi pagi. Semalam aku menelpon Celina dan ternyata dia sedang berada di club malam. Aku langsung ke sana dan Celina menangis saat mabuk. Aku ingin mengantarnya pulang tapi dia bilang tidak ingin pulang ke rumah jadi aku membawanya ke apartemenku. Asal kau tau, kami tidak melakukan apapun." Kris bicara seperti kereta api tanpa rem.
"Kau tidak perlu menjelaskannya padaku."
"Aku menceritakan ini karena aku takut kau salah paham pada Celina."
"Aku dan dia tak ada hubungan apa-apa. Jadi tidak akan ada salah paham."
"Benarkah?"
"Apa?"
"Benarkah kau dan Celina tak memiliki hubungan apapun?"
"Ya."Leo berkata dengan tegas dan sorot mata tajam.
"Kalo begitu aku akan mengejarnya."
"..." Leo merasa dadanya terbakar, tapi dia tetap diam dengan wajah dinginnya.
"Aku tau hubunganmu dengan Celina dulu."
__ADS_1
"..."Leo tetap diam.
"Aku harap kau serius dengan ucapanmu barusan. Dan kelak, jangan kau coba-coba menarik kembali kata-kata itu."
Mereka sama-sama diam, saling melempar tatapan membunuh.
"Kau sudah selesai bukan? Aku permisi." Leo berdiri kemudian melangkah pergi, tapi dia berhenti tepat satu langkah di belakang Kris.
"Lain kali kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, karena itu bukan urusanku sama sekali." setelah mengatakan itu, Leo melanjutkan langkahnya dan pergi dari restoran dengan tangan yang terkepal.
Kris masih diam di tempatnya memandang secangkir kopi yang masih mengepul. Baru saja seorang pelayan menyajikannya.
"Aahh, aku hebat sekali ternyata, hampir saja aku akan berkedip tadi." Kris tertawa kecil mengingat perang tatapan barusan. Dia menyeruput kopinya sedikit demi sedikit.
***
Celina tengah berada di sebuah tempat spa ternama. Kalau dulu saat frustasi dan marah dia akan merusak apapun yang ada di dekatnya, sekarang dia memilih menenangkan diri dengan memanjakan dirinya dengan perawatan.
Dia ingin semakin bersinar untuk membuat Leo menyesal karena telah menyia-nyiakan dirinya. Atau mungkin dia ingin menggoda Leo lagi agar mau kembali padanya. Celina tersenyum memikirkan itu.
Rasa nyaman mulai ia rasakan. Pijatan lembut sekaligus kuat tangan profesional ini membuatnya semakin terbuai menuju alam mimpi. Tapi, ketika pintu alam mimpi itu hendak terbuka suara nyaring ponsel mengejutkannya dan membuat dia terperanjat.
"Sial!" umpat Celina dengan jantung yang berdebar. Dia mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya, kemudian memasang earphone yang dia bawa.
"Ya?" suara Celina kesal kentara sekali.
"Apa aku mengganggu?" Mendengar suara Kris membuat Celina semakin kesal.
"Sangat!" Celina semakin sewot.
"Maaf, maaf. Apa aku tutup saja telponnya?"
"Tanggung. Ada apa?"
"Aku mau mengajakmu makan malam, malam ini." Kris langsung saja karena tak ingin semakin membuat Celina kesal, dipikirnya Celina masih keaal karena tadi pagi.
"Tidak bisa. Nanti malam aku akan makan dengan daddy."
"Benarkah? Oke, kalo begitu."
"Hmm."
"Kapan kau bisa?"
"Entahlah."
"Baiklah, aku tutup dulu."
"Hm."
Panggilan pun terputus, Celina melepaskan earphone-nya, meresapi kembali pijatan-pijatan itu hingga dia kembali terbuai dan terbang ke alam mimpi. Sementara Kris, dia tampak murung. Dia bingung memikirkan cara agar Celina perlahan melupakan Leo.
__ADS_1