
"Jadi, dia doktermu?" tanya Mia setelah Celina selesai bercerita.
"Ya, sepertinya memang dia. Karena itu pertama dan terakhir kalinya aku ke rumah liburan."
"Jadi Leo salah paham tentang kau dan pria itu."
"Mungkin. Andai waktu itu Leo mendatangiku langsung mungkin aku akan sangat senang karena itu adalah salah satu masa-masa terberatku." Celina berubah sendu mengingatnya.
"Kau harus jelaskan semuanya pada Leo." ujar Devan.
"Untuk apa?"
Supaya Leo tidak salah paham lagi padamu dan kalian bersama lagi."
"Tidak perlu. Jika memang menginginkan penjelasan, sejak awal dia akan memintanya. Tapi, sampai saat ini yang dia lakukan hanya menghindar dan mendorongku menjauh. Mungkin cintanya memang tak sedalam itu padaku."
"Tidak, Celina. Dia sangat mencintaimu." Mia bicara dengan lembut, berharap Celina mau menjelaskannya pada Leo.
"Sudahlah, aku pergi saja. Jangan pernah hubungi aku lagi jika itu tentang Leo..--"
"Kenapa?" Sebuah suara menyahut dari belakang Celina. Itu Leo, dia mendekat dan duduk di samping Celina.
"Kenapa kau tidak mau lagi membahas tentang aku?" Leo bertanya sambil menatap tepat ke mata Celina yang terbelalak kaget.
"Hm?" Leo mendekatkan wajahnya karena Celina tak merespon. Devan dan Mia saling berpandangan kemudian pergi karena tak ingin lagi ikut campur, biar mereka selesaikan sendiri. Meski sebenarnya mereka penasaran, kenapa Leo bisa ada di sana, padahal tadi pagi masih di rumah sakit.
"Apa yang kau lakukan!" Celina memalingkan wajahnya yang memerah. Dia berdiri dan pergi dari sana, meninggalkan Leo yang tersenyum melihat kekesalan Celina. Tak lama, dia pun menyusulnya.
Celina masuk ke dalam mobilnya, Leo pun ikut masuk dan duduk di samping kemudi.
"Apa yang kau lakukan!?" sentak Celina.
"Aku akan ikut denganmu."
"Keluar!"
"Tidak."
"Kau!" Celina kehabisan kata-kata.
"Aku tidak akan keluar sebelum kau mendengarkan aku."
"Kau pikir sejak tadi aku tuli? Hah?"
"Tidak bukan begitu. Aku minta maaf." ucap Leo.
"For what?"
"Untuk semua kesalahanku."
__ADS_1
"Memangnya apa salahmu?"
"Itu..aku mendengar semuanya. Percakapan kau dengan Mia dan Devan."
"Terus kenapa? Tidak akan ada yang berubah."
"Tapi.."
"Sudahlah, Leo! Aku lelah sekarang. Aku tak ingin membahas apapun. Sekarang kau keluar!"
"Celina.."
"KELUAR!!" teriak Celina.
Leo akhirnya menyerah. Dia tak ingin memancing Celina untuk kembali histeris. Dia akan mencari waktu lain setelah dia tenang.
Sedangkan Celina, dia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Leo kembali ke apartemennya dengan lesu. Selain karena kondisinya yang memang masih lemah, dia juga lesu karena kenyataan yang baru dia ketahui.
Dia merasa bodoh karena waktu itu dia tidak langsung meminta penjelasan pada Celina. Dia juga menyesal karena menyakiti Celina berulang kali dengan kata-katanya. Dan dia juga kesal karena percaya begitu saja pada semua ucapan Alex, padahal jelas-jelas sejak dulu Alex tak pernah merestui mereka.
"Apa sekarang saatnya aku yang mengemis padanya?" Leo tersenyum pada pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Dia akan mandi air hangat untuk menenangkan pikirannya.
Keesokan paginya, saat akan berangkat kerja Leo berpapasan dengan Kris yang juga baru keluar dari apartemennya. Leo menunjukkan wajah datarnya seperti biasa saat tak sengaja bersitatap, tapi Kris juga melakukan hal yang sama. Jika biasanya Kris akan menyapanya dengan ramah, sekarang Kris hanya memalingkan wajahnya dan berjalan mendahuluinya. Leo bahkan bisa melihat sorot kekesalan di mata Kris, tapi dia tak mau memusingkan hal itu. Tidak penting juga baginya.
Memikirkan kisah Devan dan Mia yang sudah bahagia, membuatnya kembali memikirkan Celina. Bagaimana caranya meluluhkan kembali Celina? Benarkah Celina sudah terlalu kecewa padanya karena dia sudah melukainya dengan kata-kata menyakitkan? Ingin sekali dia mendatangi Celina, tapi sudah pasti Alex tak akan mengizinkannya bertemu Celina. Sayang sekali dia tak bisa menerobos ke rumah Celina seperti yang selalu Celina lakukan.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Leo mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, ini aku Leo."
"..."
"Aku ingin kau mengawasi seseorang."
"..."
"Tidak, kau awasi saja dia, lalu jika dia keluar rumah ikuti dia dan kabari aku ke mana dia pergi."
"..."
"Oke, aku akan mengirim alamat rumah dan juga poto orangnya."
"..."
"Oke, Terimakasih." Leo menutup ponselnya. Yang dia hubungi adalah Rio, teman satu gengnya dulu. Geng itu sudah lama bubar, dan baru-baru ini dia kembali terhubung dengan salah satu anggota yang baik padanya. Yang dulu membantunya kabur dari kejaran mereka, hingga akhirnya dia beetemu dengan Dirga, ayah Devan.
__ADS_1
"Jika aku tak bisa datang ke rumahmu, maka kita pasti akan bertemu di mana pun kau pergi." Leo tersenyum licik membayangkannya. Mungkin ini terlihat egois, setelah apa yang Leo lakukan pada Celina, tapi Leo benar- benar menyesal dan ingin mendapat pengampunan dari Celina.
"Lo udah masuk!" Devan datang membuyarkan lamunan Leo.
"Hm."
"Lo udah tau kebenarannya tapi kenapa masih bersikap dingin kayak gitu."
"Bukannya dari dulu gue juga gini." sergah Leo.
"Oh, jadi belum kelar ya kemarin?"
"Dia gak mau ngomong sama gue."
"Ya wajar sih, lo udah nyakitin dia."
Leo hanya menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Devan.
"Tapi Leo, gue masih belum habis pikir, kenapa lo dulu bisa bego banget pergi gitu aja pas liat Celina sama cowok? Kayak bukan lo sumpah!"
"Itu gue juga nyesel banget." Lagi-lagi dalam hati Leo memaki dirinya yang dengan mudahnya percaya pada ucapan Alex.
"Jadi, sekarang apa langkah lo selanjutnya? Gue yakin Celina masih cinta sama lo, dia cuma sakit hati."
"Gue tau. Gue bakal terus ngejar dia sampe dia maafin gue dan mau balik sama gue."
"Harus balik sama lo lagi?"
Leo mengerutkan dahinya. "Apa maksud lo?"
"Gak, gue cuma gak mau lo maksa dia."
"Gak akan. Gue bakal kejar sampe dia benar-benar luluh lagi sama gue dan gak ada sama sekali rasa terpaksa."
"Bagus kalo gitu."
"Iya, lo tenang aja."
"Yah, gue ngomong gini karena gue sayang sama lo berdua. Lo udah gue anggap sebagai sodara gue dan Celina adalah sahabat gue satu-satunya. Jadi, gue mau kalian berdua bahagia."
"Pasti."
Devan tersenyum melihat kesungguhan Leo.
"Ohya, tadi lo bilang udah anggap gue sodara kan?"
"Kenapa?"
"Itu artinya lo bisa ngasih gue kelonggaran buat pergi kapan pun dari kantor tiap gue ada kesempatan buat ketemu sama Celina." Leo menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Gak. Kerja tetep kerja, dan kalo lo tetap mau pergi seenaknya, gaji lo gue potong sesuai aturan."
"Cih," Leo mencebik.