Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Kamis


__ADS_3

Leo telah kembali dari Singapura, tapi dia tidak pergi ke kantor. Dia pergi menemui seseorang yang selama ini memberikan informasi padanya.


"Ada apa?" Leo langsung bertanya begitu ia duduk.


"Aku punya sesuatu untukmu." Dion menyerahkan laptop yang menyala pada Leo.


"Apa ini?"


"Bukti, yang mungkin dapat memudahkan kasus Devan dan setelah kau melihat itu, tinggal keputusanmu yang menentukan."


"Apa maksudmu?"


Dion mengangkat bahu sebagai jawaban. Kemudian Leo mengklik video yang ada di laptop tersebut. Dan betapa terkejutnya dia bahwa itu adalah rekaman cctv yang telah lama ia cari. Rekaman yang menunjukan Celina masuk ke apartemen Devan beberapa jam sebelum kejadian.


"Dari mana kau dapat?"


"Kau tidak perlu tau." ucap Dion santai lalu menyeruput kopinya.


"Lalu kenapa kau berikan padaku? Bukannya kau sangat melindungi Celina? bahkan kau menawarkan diri untuk memata-matai Celina agar aku tak menyewa orang untuk mengawasinya." Leo heran karena Dion bahkan bersikeras kalo bukan Celina pelakunya saat Leo mencurigai Celina.


"Aku hanya tidak ingin Celina semakin terjerumus, jika memang dia pelakunya dia harus bertanggung jawab."


Leo memandang curiga tapi tak mengatakan apapun.


"Akan kubawa ini."


"Hm."


Sorot mata Dion berubah saat memandang Leo pergi. Dia kembali teringat dengan kejadian satu bulan lalu yang membuatnya memutuskan untuk menyerahkan rekaman itu.


"Aku mencintaimu, Celina." Dion mengatakan itu saat mereka tengah makan malam di sebuah restoran.


"Kau gila. Kau tau kan aku hanya mencintai Leo."


"Tapi bukankah dia sudah mencampakkanmu? Dia bahkan tidak menghubungimu selama kau di sini."


"Dia hanya sibuk."


"Cih, jika benar dia mencintaimu sesibuk apapun dia akan menghubungimu. Kau hanya dia jadikan cinta sesaat Celina."


PLAK.. Celina menampar Dion dengan sangat keras, membuat pengunjung lain menoleh ke arah mereka.


"Akan kuanggap malam ini tidak terjadi apapun, jadi sebaiknya kau jangan mengatakan apapun lagi." kemudian Celina pergi.


Dan benar setelah malam itu Celina bertingkah seperti biasanya seperti tak ada yang terjadi dan itu membuat Dion tak membahasnya lagi.


"Kau yang memulai sayang." gumam Dion dengan seringaian.


***


Mia menatap layar komputernya dengan seksama. Matanya meneliti setiap foto dari data pegawai seluruh Astra Group. Ya, sejak kemarin Mia tengah mencari wajah yang sama persis dengan Arka. Dia mencari data pegawai lima tahun terakhir. Menjadi sekretaris CEO membuatnya mudah mengakses data tersebut.


"Kamu harus makan dulu, Mia. Ini sudah waktunya makan siang."


"Nanti saja, aku belum lapar." Mia menjawab Arka tanpa menoleh.


"Aku tau kamu mau bantu aku, tapi aku gak mau kamu nyiksa diri kamu sendiri." Arka tidak tega melihat Mia yang sejak kemarin setiap ada waktu luang selalu mencari data dirinya. Bahkan sampai lupa makan dan hanya tidur sebentar.


"Aku lakuin ini bukan cuma buat kamu, tapi karna aku juga penasaran." ucap Mia menatap Arka, lalu kembali pada komputernya.


"Tapi tetap saja kamu harus makan."


Mia menghela nafas.


"Oke, aku akan pesan makanan." Mia mengeluarkan ponselnya kemudian memesan makanan lewat jasa pesan-antar.


"Udah, bentar lagi makanannya datang."


***


"Temui aku di restoran X." Celina begitu gembira mendapat pesan dari Leo. Celina bergegas mandi dan berdandan.

__ADS_1


"Mau kemana?" Dion melihat Celina begitu terburu-buru menuruni tangga dengan wajah sumringah.


"Aku akan menemui teman." Celina mencoba menormalkan raut wajahnya.


"Aku antar."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Oke."


Celina kembali berjalan dengan cepat. Dia tak sabar untuk menemui kekasih hatinya. Terakhir kali, Leo tak memperdulikannya tapi sekarang Leo sendiri yang meminta bertemu.


"Mau kemana dia?" Alex muncul mengejutkan Dion.


"Dia bilang ingin menemui teman, Mister."


"Kenapa tidak kau antar?"


"Dia melarangku."


Alex mengangguk.


"Ada yang ingin kubicarakan." Alex berlalu ke ruang kerjanya diikuti oleh Dion.


"Duduklah."


Dion duduk di depan Alex.


"Apa kau tau hubungan Celina dengan Leo?"


"Iya, Mister."


"Kenapa tidak memberi tauku?" nada suara Alex sedikit naik.


"Maaf, saya pikir harus Celina sendiri yang menceritakannya."


"Kau ku perintahkan untuk mengawasinya untukku, tapi kau malah menyembunyikan fakta sepenting ini!"


"Maaf, mister."


Dion tak menjawab.


"Seharusnya aku sudah curiga saat dia memutuskan kembali ke Paris dengan alasan Devan mencampakannya. Harusnya aku tau Celina takkan jika Devan benar-benar melakukan itu, Celina tak akan melepaskannya begitu saja."


"Maaf, mister." hanya itu yang bisa Dion katakan.


"Sekarang beritau aku, kenapa hari itu Celina mendadak pergi."


Dion diam sejenak, tak langsung menjawab.


"Sebelumnya anda harus tau kalo Tuan Devan Arkadiana saat ini tengah koma sejak tiga bulan lalu."


"Apa??"


"Apa yang kau katakan."


"Ada orang yang menaruh racun di semua minuman di apartemennya."


Alex mendengarkan dengan seksama.


"Dan anda tau siapa yang menyiapkan itu?"


Alex menggeleng mendengar tebakan di kepalanya sendiri.


"Celina."


Gelengan kepala Alex semakin kuat ketika Dion mengatakan nama putrinya.


"Tidak. Tidak mungkin."


"Kau bersamanya hari itu."

__ADS_1


"Aku hanya mengantar sampai basement karna disuruh mengawasi orang suruhan anda. Jadi aku tidak tau apa yang Celina lakukan selama di dalam apartemen tuan Devan."


"Celina takut polisi, jadi setelah mendengar kabar tuan Devan koma dari Leo, Celina segera kembali ke Paris setelah menyuruh saya untuk menghapus rekaman cctv di gedung itu."


"Itu hanya dugaan bukan? Celina tidak punya motif untuk melakukan itu. Mereka tampak akrab setiap bertemu."


"Celina sering mengeluh cemburu karna Leo selalu mengutamakan tuan Devan, meskipun sedang bersamanya. Anda tau obsesinya begitu tinggi."


Alex benar-benar tak percaya mendengar penjelasan Dion. Dia tau putrinya mengalami gangguan mental setelah ibunya meninggal karena bunuh diri, tapi dia tidak percaya putrinya melakukan tindak kriminal.


"Itu semua yang saya tau, mister."


***


"Hai sayang, sudah lama menunggu?"


"Duduklah kita harus bicara."


Celina duduk di samping Leo dengan sedikit menggeser kursinya agar lebih dekat.


"Kau bisa duduk di sana." Leo membuat jarak.


"Tidak, aku rindu padamu." Celina memeluk Leo dengan agresif.


Leo membuka laptopnya dengan membiarkan Celina memeluknya. Tentu saja Celina senang karena tak mendapat penolakan.


"Aku tau kau juga merindukanku." Celina mulai mengendus leher Leo, menghirup aroma yang selama ini ia rindukan. Untung saja ini adalah private room, jadi tak akan ada yang menegur.


"Lihat ini." Leo mengarahkan laptopnya ke hadapan Celina. Celina yang mulanya tidak peduli, kini melepaskan pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke layar.


"Apa ini Leo?"


"Justru aku yang ingin bertanya. Kenapa kau menyuruh Dion menghapus rekaman ini?" Apa yang kau sembunyikan?" Leo menatap Celina dengan sorot tajam.


"Aku tidak melakukannya. Sumpah Leo, aku tidak melakukannya." suara dan badan Celina sedikit gemetar.


"Melakukan apa? Menghapus rekaman cctv atau sesuatu yang lain?"


Celina semakin gugup. Tatapannya menjadi tak fokus.


"Celina jawab aku." Leo menahan diri agar tak membentak, biar bagaimanapun Celina masih menjadi pemilik hatinya..


"Bukan aku Leo, aku tidak melakukannya."


"Melakukan apa? bicara padaku, dan aku akan memaafkanmu karna meninggalkanku tiga bulan lalu."


Celina menatap Leo dengan tatapan berharap.


"Benarkah?"


Leo mengangguk dalam.


"Aku.."


Leo menunggu.


"...ingin."


Mata Leo memicing bingung, tapi kemudian mengerti saat Celina perlahan mendekatkan wajahnya.


Leo tak menolak ketika bibir Celina mendarat di bibirnya. Melu-mat lembut bibirnya yang terbuka. Matanya ikut tertutup mulai menikmati ciuman itu. Jujur saja, dia juga rindu pada gadis ini.


Leo merasa ciuman ini semakin membuatnya hilang akal, dan dia tersadar saat tangan Celina mere-mas pusat tubuhnya.


"Sssttt.. Jangan di sini." Leo menjauhkan wajah Celina dari wajahnya.


Kemudian Leo menggandeng tangan Celina untuk keluar dari sana. Dalam benaknya, Celina akan lebih jujur dan tenang setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.


***


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2