Hantu CEO Nakal

Hantu CEO Nakal
Clear


__ADS_3

Devan begitu terbakar cemburu ketika melihat Mia menaiki mobil Reyhan. Niat hati kembali ke kantor setelah meeting untuk mengajak Mia berbaikan. Dia telah menyadari bahwa kata-katanya tadi sudah keterlaluan, tapi dia malah disuguhi pemandangan yang benar-benar membuatnya kebakaran di dada dan otak.


Melihat mobil Reyhan sudah melaju, Devan mengikutinya perlahan. Ingin rasanya dia menyalip dan menghentikan mobil itu saat ini juga. Tapi dia memikirkan keselamatan Mia, dia tak ingin kekasihnya celaka gara-gara kecerobohannya.


"Awas kau, Reyhan. Akan kupindahkan kau ke tempat yang tak memungkinkan untuk bertemu Mia lagi." Devan menggerutu sepanjang jalan.


Mobil Reyhan berhenti di sebuah restoran Korea. Tempat yang terkenal dengan rasanya yang enak juga harga yang ramah di kantong hingga tempat itu terlihat ramai.


"Cih, kau bahkan membawa Miaku ke tempat murahan seperti ini." Devan masih saja menggerutu.


Mia tampak tersenyum pada Reyhan yang membukakan pintu untuknya.


"Apa itu? Kenapa Mia tampak baik-baik saja?"


Devan keluar dari mobilnya setelah melihat mereka masuk. Mengintip dari pintu kaca, dia melihat Mia dan Reyhan duduk di tengah-tengah ruangan.


"Maaf mas, mejanya sudah penuh. Kalo mau mas bisa mengantri." ucap seorang pelayan yang ada di depan pintu. Devan terdiam sesaat, kemudian sebuah ide terbersit di kepalanya.


"Tidak, saya sudah ditunggu di dalam."


"Kalo begitu silakan, mas."


Devan masuk, lalu menghampiri meja Mia dan Reyhan.


"Saya duduk di sini." ucapnya pada pelayan lalu duduk di samping Mia.


Keduanya begitu terkejut dengan kedatangan Devan.


"Tuan Devan?"


"Aku sangat ingin makan di sini tapi mejanya penuh dan kebetulan aku melihat kalian, bolehkan aku duduk di sini?" jelas Devan datar.


Reyhan memandang Mia, ada secercah kekesalan di matanya karena mengganggu kencannya dengan Mia. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin mengusir bos besarnya bukan?


"Silakan, tuan."


"Oke, sebagai gantinya aku akan mentraktir kalian. Kalian sudah memesan? Aku pesan sekarang."


Mia memutar bola matanya melihat tingkah Devan, tapi dalam waktu bersamaan dia juga merasa lucu.


Mereka makan dalam diam, rasa canggung begitu kental menyelimuti meja mereka. Walau sebenarnya hanya Reyhan yang merasa canggung. Bagaimana bisa santai jika harus makan dengan bosnya yabg berwajah dingin itu.


Sedangkan Devan, tangannya kini sedang mencuri-curi kesempatan untuk memegang tangan Mia di bawah meja. Lama kelamaan itu membuat Mia risih dan memilih menyimpan tangannya di atas meja.


"Ada berkas yang harus kau kerjakan malam ini juga, Mia. Aku butuh itu besok." Devan memecah keheningan.


Reyhan dan Mia serentak menatap Devan dengan pandangan berbeda. Reyhan menatap kesal karena itu berarti dia harus berpisah dengan Mia setelah ini. Sedang Mia dia menatap curiga karena dia merasa sudah mengerjakan semuanya.


"Tapi aku sudah menyimpan semuanya di meja anda, Tuan." Mia menekankan kata 'tuan'.


"Materinya baru aku bawa tadi sore setelah meeting, jadi itu belum masuk list kamu." Devan mengangkat alisnya.


"Baiklah." Mia pasrah.


"Oke, kalo begitu kita pergi sekarang sebelum terlalu larut." Devan berdiri kemudian memanggil pelayan untuk membayar.


"Saya ikut anda?"


"Tentu, materinya ada padaku."

__ADS_1


"Kenapa tidak tuan serahkan saja materinya dan akan saya pastikan besok selesai."


"Tidak bisa, karena mereka ada di sini." Devan mengetuk kepalanya.


Reyhan hanya menyimak perdebatan mereka. Atasannya sama sekali tidak terlihat dingin dan kejam seperti yang dia tau.


"Baiklah kalo begitu. Maaf, kak aku harus ikut dengan Tuan Devan sekarang." Mia tak enak hati.


"Tidak apa-apa Mia, kita bisa pergi lagi lain kali." Reyhan mencoba tersenyum meski sedikit kecewa.


"Lihat saja, tidak akan ada lain kali." batin Devan dengan seringaian di wajahnya. Memikirkan ke negara mana dia akan mengirim Reyhan si ketua tim.


"Sudahkan? Ayo!" Devan melenggang pergi lalu diikuti oleh Mia.


Devan membukakan pintu mobil untuk Mia, Mia masuk dengan wajah cemberut.


"Kita ke tempatku sekarang." ujar Devan.


Mia tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya ke samping, memandang jalanan malam yang masih sangat ramai.


Begitu sampai di apartemen Devan, Mia duduk di ruang tamu.


"Aku akan mandi, tunggu saja di sini." Devan meletakan sebotol jus di meja.


"Atau kau bisa menyusulku nanti, kamarku di atas." Devan mengerlingkan matanya, sedangkan Mia dia melayangkan tatapan tajam pada Devan.


Mia mengelilingkan padangannya ke seluruh ruangan yang menurutnya sangat mewah. Ini bahkan bukan sebuah penthouse tapi sudah semewah ini. Atau dirinya saja yang terlalu norak? Mia menertawakan dirinya sendiri.


"Dia begitu bergelimang harta, apa pantas aku bersanding dengannya?" Mia bertanya pada dirinya sendiri.


Meskipun di kampung keluarganya termasuk keluarga berada, tapi jika dibandingkan dengan kehidupan di ibu kota, kekayaan keluarganya tidak ada apa-apanya, mungkin hanya setara mereka yang hidup sederhana di sini.


"Jika semuanya diukur berdasarkan harta, bagaimana keadilan di dunia ini akan terwujud."


Mia tersenyum mendengarnya. Devan terlihat lebih tampan dengan penampilannya sekarang. Kaos polos dipadukan dengan celana jeans pendek, juga rambut basah yang acak-acakan melipat gandakan ketampanannya.


"Apa aku setampan itu?" Devan menjentikkan jarinya di depan wajah Mia yang terus menatap dirinya tanpa kedip.


"Isshh.." Mia memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut membuat Devan mengacak rambut Mia, gemas.


"Sekarang mana materinya, biar aku kerjain sekarang."


Mia membuka laptop di depannya.


"Materi apa?"


"Materi yang tadi kamu bilang."


"Gak ada materi apa-apa."


"Terus tadi kamu bilang?"


"Itu cuma alasan aku biar kamu mau ikut sama aku." Devan mengatakannya dengan santai tanpa rasa bersalah. Berbeda dengan Mia yang mendengarnya, kepulan asap langsung jeluar dari kepalanya.


"Dev, kamu apa-apaan sih! keterlaluan banget."


"Mia, aku ngelakuin ini karna aku gak suka liat kamu sama dia. Aku cemburu, aku frustasi liat kamu ketawa sama dia dengan bebas tanpa dihantui rasa takut ketauan seperti yang kamu rasakan sama aku."


"Tapi tetep aja kamu keterlaluan. Dia itu senior aku di SMA, kita sekampung halaman. Jadi, gak ada yang perlu kamu cemburuin."

__ADS_1


"Aku tetep gak suka. Aku laki-laki Mia, aku tau mana yang cuma berteman mana yang punya niat lain."


"Maksud kamu apa sih, aku gak ngerti."


"Reyhan itu suka sama kamu, masa kamu gak ngerasain sih. Aku aja yang baru liat dua kali bisa langsung tau."


"Masa sih?" tanya Mia dengan wajah polosnya.


"Emmmmm..." Devan mencubit hidung Mia, gemas. Bagaimana bisa kekasihnya sepolos ini.


"Ihhhhh, sakit Devan." dia mengusap hidungnya yang memerah.


"Aku minta maaf." ucap Devan kemudian.


"Iya, lain kali jangan keras-keras. Sakit tau."


"Iya, tapi maksud aku bukan itu."


"Terus?"


"Aku minta maaf soal kata-kata aku tadi siang. Aku terlalu emosi. Aku tau kalo aku udah keterlaluan." Mia menggenggam tangan Mia dengan rasa bersalah.


Mia menghela nafas.


"Aku udah maafin, kok. Aku juga minta maaf karna tadi bentak-bentak kamu."


"Gak apa-apa. Jadi kita udah clear kan?"


Mia mengangguk.


"Kalo gitu aku punya satu permintaan."


"Apa?" Dahi Mia mengerut waspada.


"Aku gak mau kamu deket-deket lagi sama dia."


"Aku kan emang gak deket sama kak Reyhan."


"Please, jangan sebut nama dia."


"Oke, tapi gak mungkin kan aku langsung menjauh gitu aja."


"Kamu bisa jaga jarak dikit-dikit."


Mia tampak berpikir, membuat Devan kesal menyangka Mia keberatan dengan permintaannya.


"Kalo kamu gak mau, aku bakal umumin ke seluruh kantor kalo kamu itu pacara aku. Biar gak ada yang berani deketin kamu."


"Eh jangan dong! Oke oke, aku bakal jaga jarak sama Kak Reyhan."


"Bagus." Devan menggeser duduknya mendekati Mia, kemudian menyondongkan tubuhnya.


"Ma..mau apa kamu?" gugup Mia.


"Aku cuma mau lakuin apa yang biasa dilakukan orang pacaran." Devan tersenyum licik sambil terus mendekatkan wajahnya. Dan Mia hanya bisa pasrah menutup mata karena badannya telah dikunci oleh tangan kokoh Devan.


****


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2